UPDATE SESUAI WAKTU SENGGANG HANA
Ziva adalah gadis berusia 16 tahun yang memiliki trauma pada laki-laki. Karena suatu alasan, membuatnya rela untuk bersekolah di Sekolah biasa yang penuh dengan laki-laki.
Namun, ibunya melakukan perjanjian menikah untuknya dan sayangnya, ia menerimanya karena salah paham.
Pernikahannya pun terjadi, dan penculikan langsung dialaminya, ibunya dibunuh. Suatu keanehan ditemukannya setelah pernikahan, yang belum pernah diketahuinya sejak dahulu.
Apakah Ziva akan mencaritahu semua keanehan ini? Apakah ia akan sembuh dari traumanya? Dan, apakah ia bisa mencintai suami yang dinikahinya karena salah paham?
Atau ia malah membencinya?
Ingin tahu kelanjutan ceritanya? Ikuti terus cerita Halo Tunder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HANA NH. asuna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. TEGAR
"Iya, Ziva. Bersediakah kamu untuk menikah?" ulang Alya Humairoh. Sementara Kania Azzahra hanya menatap dan menunggu apa jawaban adik kecil mereka.
"Ha?" Ziva sungguh bingung.
Kedua kakaknya terus menunggu apa jawaban dari adik kecil mereka. Ziva sungguh ingin menampik hal ini dan berfikir kalau kakaknya sedang bercanda. Namun, kak Alya Humairoh itu jarang bercanda. Ia sungguh menerapkan sikapnya sebagai kakak tertua. Dan kedua kakaknya itu bukanlah pengangguran yang tidak punya kerjaan di luar daerah sana. Kak Alya Humairoh merupakan koki dan kak Kania Azzahra merupakan perawat.
Mereka jarang mendapatkan waktu senggang, dan kini mereka berdua ada di hadapannya. Jadi, ini tidak mungkin hanya semacam bercandaan tak bermakna.
"Bisa tolong dijelaskan lebih rinci, Kak. Kalau kakak hanya mengatakannya sebatas pernyataan, Ziva gak akan bisa menerimanya dengan lapang dada. Jadi, tolong kakak jelaskan," ucapnya tegas dan jelas. Tidak ada keraguan diwajahnya.
Ia sedang menerka-nerka, kalau ibunya kekurangan biaya. Dan kedua kakaknya juga sedang dalam masalah keuangan, sehingga pernikahan bisa terjadi sebagai jalan pintas perekonomian mereka. Tiba-tiba, Ziva tidak ingin mendengar penjelasan lain. Ia seperti sudah tahu apa inti dari permasalahannya sehingga bisa terjadi pernikahan.
"Kak, tidak usah dijelaskan. Ziva sudah paham," ucapnya sembari menelan ludah akibat tidak yakin atas apa yang hendak dikatakannya.
"Ziva... bersedia," ucapnya begitu tenang. Entah dari mana muncul keberaniannya itu. Biasanya ia selalu gentar sebelum menghadapi kenyataan, namun kali ini ia benar-benar siap seakan sudah mengetahui bahwa hal ini akan terjadi.
Mungkin, akibat apa yang terjadi padanya tadi pagi. Ia belum pernah berada dalam ketakutan yang amat sangat setelah 8 tahun silam. Tadi pagi merupakan puncak dari ketakutannya. Dan tiba-tiba, ia mendengar sebuah permintaan maaf yang ternyata sangat dibutuhkannya saat itu. Serta wejangan dari Lissa. Benar, kedua orangtuanya telah berkorban terlalu banyak untuknya. Ia terlalu payah. Ia tidak bisa menjadi sekuat ibu dan kakak-kakaknya. Walau ia tidak sekuat ibunya, ia ingin setidaknya bisa meringankan beban keuangan ibu dan ayahnya.
Mungkin juga, pernikahan ini adalah upaya politik dan ekonomi yang sering di tontonnya dalam drama korea. Setidaknya ketika menikah nanti, ia sudah punya setidaknya tabungan pengetahuan apa yang harus dilakukannya sebagai seorang perempuan yang kuat.
Setidaknya, pernikahan ini bisa membantu ibu dan ayahnya dalam keuangan. Dan mungkin juga dengan pernikahan ini ayahnya bisa mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan tambahan biaya hari tua mereka. Ia sungguh tidak kuat melihat kedua orangtuanya yang sudah mulai menua terus bekerja deminya. Demi kesembuhannya, demi pendidikannya, dan demi kesehatan, kedua orangtuanya terus bekerja tanpa lelah.
Dan tanpa disadarinya, air matanya mulai menetes diatas pipinya. "Kak, kali ini biarkan Ziva yang berjuang. Ini memang waktunya. Ini sudah waktunya bagi Ziva untuk keluar dari dalam tempurung. Karena itu, tolong bimbing Ziva menjadi istri yang baik bagi orang yang akan menjadi suami Ziva kelak," ucapnya dengan isakan yang tiada hentinya.
Tetapi, ia sungguh wanita yang kuat. Mirip dengan ibu dan kakak-kakaknya. Dengan mudahnya, ia bisa memutuskan akan menikah demi kebaikan kedua orangtuanya.
Mungkin kondisi yang membuatnya menjadi anak yang tahu diuntung. Mungkin juga bencana yang terjadi padanya dahulu merupakan sebuah ujian yang kini membuatnya bisa menjadi lebih kuat. Menjadi perempuan yang menjaga diri. Menjadi perempuan yang terlindung. Menjadi perempuan yang masih suci hati dan tubuhnya. Menjadi perempuan yang baik hati dan jiwanya.
Ziva kembali memeluk kedua kakaknya. Kania Azzahra mulai menangis, dan Alya Humairoh hampir saja menangis. Namun ia tidak ingin membuat dirinya ikutan menangis, karena dirinya merupakan tiang pengokoh untuk ibu dan adik-adiknya. Ibu yang sedang mengintip bersama ayah mereka dari balik tirai juga terharu melihat sikap ketiga putrinya. Ia tidak pernah merasa kecewa dengan putri-putrinya. Mereka sungguh sangat bersyukur memiliki 3 putri yang kuat dan tabah.
Termasuk Ziva. Walau masih begitu kecil dan memiliki trauma, ia rela menikah demi membahagiakan ayah dan ibunya. Sungguh putri yang sangat berharga. Melihat sikap putrinya membuat ayah dan ibunya semakin tidak rela saja untuk melepaskan putri mereka.
Melihat hampir semua putrinya menjadi gadis orang lain, membuat air mata ibu tak tertahankan lagi. Ibu menjatuhkan kepalanya tepat didada ayah yang selalu siap menampung kepala istrinya. Ayah juga tidak kuat melihat penderitaan keluarganya yang selalu mereka jadikan sebuah ujian yang menguatkan iman seseorang.
Ayah pun meneteskan setetes air matanya tanpa jejak. Ia sungguh ingin menangis deras, namun ia juga ingin membuat keluarganya menjadi orang yang kuat dan tak gampang mengucurkan air mata mereka. Ia ingin menjadi contoh bagi keluarganya untuk terus melangkah tanpa memalingkan wajah kebelakang. Terus melangkah dan menatap masa depan. Walau banyak halangan, tak menghalangi mereka untuk terus berdiri tegak.
Kini, tibalah menunggu waktu kedatangan dari Vina Julaiha, Zulkarnain, dan Muhammad Sulthan Assauqi untuk datang dan melamar Ziva. Ziva sudah didandani sedemikian rupa oleh kak Kania Azzahra dan juga kak Alya Humairoh. Ia memakai baju kebaya berenda pink dan berwarna dasar biru. Rok yang dikenakannya berwarna emas. Make up yang dilekatkan Alya Humairoh pada Ziva juga tidak norak.
Ziva dipakaikan lipstik berwarna nute, namun karena bibir Ziva masih original, lipstik yang dipakainya terlihat berwarna pink.
Eye shadow yang dipakaikan juga hanya berwarna putih dengan blink-blink berwarna emas, yang membuat Ziva terkesan anggun. Kini, Ziva sedang duduk ditengah-tengan ibu dan ayahnya.
Sementara kedua kakaknya berada di atas kursi plastik. Vina Julaiha, Zulkarnain, dan juga Muhammad Sulthan Assauqi sedang duduk di sofa ungu bersejarah milik keluarga Ziva.
Ziva tidak berani untuk melemparkan pandangannya pada Sulthan. Sementara ibu dan ayah Ziva masih tersenyum hambar menatap keadatangan momy dan ayah Sulthan secepat ini. Sesungguhnya dalam kalbu mereka, terasa perasaan tidak rela untuk melepaskan putri bungsu mereka secepat ini. Mereka sungguh tidak bisa menebak bagaimana perasaaan Ziva sekarang. Ia sedang tertunduk sembari menggenggam tangan kirinya yang mulai dingin.
Ia sungguh gugup dan takut untuk menghadapi pernikahan yang akan terjadi di hari nanti. Ziva tidak pernah merasakan jatuh cinta, ia juga tidak ingin jatuh cinta. Baginya, lelaki itu masih seperti makhluk mitologi yang tak diketahui bentuknya. Apakah ia akan bisa menjalankan pernikahan yang tidak dilandaskan atas dalil cinta ini? Hanya karena dalil keuangan yang menipis, ia akan segera melepas masa sendirinya dan mengganti nama menjadi istri orang.
Ziva menghirup udara yang mulai terasa sumpek. Ia ingin segera mencari udara segar. Ia tidak tahan lagi berada satu ruangan dengan lelaki yang akan menjadi suaminya nanti. Ia bahkan tidak sanggup untuk menatap, bahkan sepatu Sulthan saja tidak berani untuk ditatapnya.
"Mi, Abi, Momy, Ayah,... Bang. Ziva ijin ke kamar mandi," ucap Ziva kemudian langsung meninggalkan ruang tamu tanpa basa-basi.
Sulthan telah menatapi wajahnya sedari tadi dengan senyuman yang tak henti-hentinya dilukiskannya pada wajahnya yang tampan. Sebenarnya apa yang dirasakannya? Apakah Sulthan benar-benar bahagia dengan pernikahan tiba-tiba ini? Dengan wajah Ziva yang tidak terlalu cantik dan dibandingkan dengan ribuan perempuan cantik dan langsing yang ditemuinya di bandara, apakah ia menyukai Ziva yang pas-pasan itu?
Tidak tahu, Sulthan ini sungguh sulit ditebak. Entah apa yang dipikirkannya, tetapi sepertinya ia sama sekali tidak keberatan dengan pernikahan mendadak yang direncanakan habis oleh momynya itu.
Dengan senyumannya, ia menatap Ziva sampai bayangannya pun habis ditelan pintu kamar mandi. Sepertinya ia benar-benar tertarik dengan gadis gendut berwajah normal itu. Apakah Sulthan yakin? Sepertinya ia tidak pernah seyakin ini dalam mengambil keputusan. Berarti ia benar-benar yakin dalam menjaga Ziva seumur hidupnya.
Dalam kamar mandi, Ziva tengah melamun menatap jari manisnya. Di jari itu, nanti akan dilekatkan cincin belah rotan dan itu pun akan dipakaikan oleh momy yang akan menjadi mertuanya nanti.
Sebenarnya, ia masih ragu dengan keputusan yang diambilnya. Apakah ibu dan ayahnya menikahkannya hanya karena masalah perekonomian keluarga atau hal lain? Ia sedikit menyesal karena tidak sempat mendengar habis kata-kata kakaknya sebelum dimulai.
Ziva mulai tenang. Ia telah menenangnya dirinya begitu lama di dalam kamar mandi. Mungkin saja ayah dan ibunya akan khawatir bila ia tidak lekas keluar. Karena ia berfikir ayah dan ibunya akan berfikir bahwa ia sebenarnya tidak ingin menikah dan keputusannya sekarang karena terpaksa.
"Baiklah. Ziva bisa. Ziva kuat. Ziva pasti mampu melalui semua ini. Ya, pasti." Ucapnya.
Mulai dilangkahkannya kakinya keluar kamar mandi. Ditatapinya semua orang yang menunggunya. Tampaknya semua orang sedang menunggu apa jawaban pasti dari Ziva. Sulthan pun tidak berhenti untuk berharap. Malahan ia sangat berharap kalau Ziva akan menjawab ya atas lamaran yang mereka pinta untuk Ziva.
Kali ini, Ziva menatap dalam wajah Sulthan. Hanya sekali untuk memastikan bagaimana wajah calon suaminya. Ternyata wajahnya tidak jahat. Malahan tatapannya sangat lembut. Tatapan seorang abang. Tatapan hangat yang sedang menatap Ziva dengan senyumannya yang tak berhenti bermain pada wajah bulat Ziva. Ziva tak menanggapi senyumannya, Ziva hanya menatap untuk menandainya saja. Mana tahu ada orang yang menyamar sebagai calon suaminya dan ia percaya karena belum pernah melihat wajah calonnya. Ia sangat tak mau hal buruk seperti itu terjadi.
"Ya, Ziva bersedia, Momy." Ucap Ziva tanpa tercampur baur perasaannya yang ingin menolak.
Semuanya tersenyum dengan bahagia. Tak terkecuali diwajah ibu dan ayahnya. Namun, sebenarnya hati mereka sangat kalut. Hati orangtua mana yang tak sedih jika putrinya akan segera menjadi milik orang. Kakak-kakaknya tidak lain, mereka tidak menunjukkan ekspresi senang. Hanya ada sedikit air mata yang masih berada dalam kelopak mata Kania Azzahra. Dan Alya Humairoh, ia tetap berusaha tegar.
...***...