Ahimsa Radeya Sanjaya adalah kandidat Presdir dari kerajaan bisnis milik kakeknya. Salah satu syarat yang harus dia penuhi sebelum menjadi seorang Presdir pilihan adalah menikahi perempuan pilihan kakeknya. Sevim Zehra Mahveen adalah perempuan yang harus dia nikahi.
Awalnya Ahimsa menyetujui syarat tersebut hanya untuk mendapatkan posisi sebagai Presdir. Namun, akhirnya dia jatuh cinta kepada Sevim. Sayangnya, meskipun saling mencintai, tapi mereka seringkali dibuat salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pp_poethree, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian
Sevim masih berkutat di depan cermin, padahal sudah satu jam yang lalu dia berada disana. Apakah selama itu dia harus berdandan untuk menyambut kedatangan calon suaminya yang pagi ini akan menjemputnya? Tidak. Sevim hanya sedikit kesulitan memoles make up yang dia gunakan untuk menutupi matanya yang bengkak karena semalaman menangis. Dia masih belum terima dengan keputusan orang tuanya yang menjodohkan dengan Ahimsa. Sevim berhak bahagia.
" Vim..Aa' udah jemput tuh.."
" Idih , mama..., ikut-ikutan tante Anin ",
" Ya nggak apa-apa. Calonmu ganteng loh Vim.."
" Ganteng, tapi kalo Sevim nggak cinta buat apa ma?"
" Sayang, mama kan uda bilang. Coba kenal dulu , cinta ada karena terbiasa..",
" Kalo Sevim cinta tapi Aa'nya nggak cinta gimana mah? Klo Aa'nya cinta Sevim nggak cinta apa harus dipaksain juga?"
" Mama punya feeling bagus kali ini, mama yakin kamu sama Himsa pasti bahagia sayang, percaya sama mama.."
" Nggak ada kesempatan untuk Sevim menolak perjodohan ini ma?"
" Ini sudah final.., Mama tunggu dibawah sama calon kamu. Mau manjain mata lihat calon mantu mamah yang ganteng.."
" Mamah, Sevim aduin ke papa lho..",
Mamanya hanya tertawa, sedangkan Sevim memanyunkan bibirnya. Yang mau jadi istrinya Himsa kan Sevim, bukan mamanya. Kenapa malah mamanya yang tampak antusias?
Setelah selesai bersiap-siap, Sevim turun untuk menemui Himsa yang menunggunya di ruang tengah bersama Papa dan Mamanya. Terlihat, papanya sedang berbincang ringan sedangkan mamanya fokus melihat Himsa. Mamanya terlihat sangat menyukai pemuda itu, terbukti dengan senyuman mamanya yang mengembang ketika memandang calon menantunya.
" Nah, ini Sevim..",
" Se..kita berangkat sekarang aja ya"
" Kamu nggak mau sarapan bareng sama kita Him?", tanya papa.
" Iya A'..kita sarapan dulu ya. Tante uda siapin lho.."
" Terima kasih tante, om..nanti Himsa sama Sevim sarapan diluar saja "
" Ya udah, hati-hati ya kalian..", ucap mama.
" Pa..Ma..Sevim pergi berangkat dulu ya"
" Himsa permisi, om..tante..", pamit Himsa saat menyalami kedua orang tua Sevim.
Kini keduanya berada di mobil dalam perjalanan menuju perusahaan Sanjaya grup. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut mereka baik Himsa atau Sevim. Canggung, mungkin itu yang mereka rasakan.
" Kita sarapan dulu ya Se..", Himsa menghentikkan mobilnya di depan Cafe yang tidak jauh dari kantor.
" Iya..",
Keduanya duduk berhadapan. Sedari tadi Himsa terus menatap Sevim yang tengah menikmati sarapannya. Sedangkan yang ditatap, tidak peduli. Dia asyik menikmati makanan yang ada dihadapannya. Sepertinya Himsa mencari waktu yang tepat untuk memulai obrolan dengan calon istrinya.
" Mau nambah Se..?"
" Kamu kira perut aku karung.., ini masih pagi. Mana mungkin bisa makan banyak",
" Ya aku kan cuma nanya..",
" Udah yuk, kita ke kantor. Sebentar lagi udah waktunya jam masuk kantor ",
"Se..",
" Namaku Sevim..",
" Iya Sevim, aku suka manggilnya Se..,"
" Hmmm ",
" Biar beda sama yang lain..",
" Iya terserah kamu aja..",
" Duduk dulu, aku mau ngomong.."
Sevim menurut , dia kembali duduk di posisinya semula.
" Kamu terima perjodohan ini kan?", tanya Himsa.
" Nggak,, aku masih berharap kamu berubah pikiran.."
" Kenapa?"
" Aku nggak cinta sama kamu..",
" Kamu pikir, aku cinta sama kamu? ",
" Jadi kamu menolak juga kan?", tanya Sevim antusias dengan wajah putihnya yang berbinar.
" Sayangnya, aku setuju Se.."
Sevim menghirup nafasnya dalam. Sepertinya kesempatan untuk menghindari perjodohan ini benar-benar tertutup.
" Kenapa?"
" Kakek, akan memilihku sebagai Presdir kalau aku menikah sama kamu.."
" Itu alasannya?"
" Kalau aku nolak, berarti kamu nggak akan jadi Presdir pilihan kakek?"
" Iya..,"
" Jadi, kamu anggep pernikahan kita nanti itu permainan ?"
" Bukan Se..tapi itu satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang seharusnya jadi milik aku . Please Se.., bantu aku..",
" Tapi, aku berprinsip kalau pernikahan ku nanti, hanya akan terjadi sekali seumur hidupku..,"
" Please Se..bantu aku. Kamu hanya perlu menjadi istri hitam di atas putih. Aku janji selama menikah, nggak akan apa-apain kamu. Apapun yang kamu mau, akan aku turuti. Rumah,mobil, perhiasan, apapun yang kamu pengen aku akan memenuhinya. Asalkan kamu bantu aku untuk jadi Presdir"
" Kalau aku bersedia, lalu kapan kamu akan melepaskanku?"
" Aku akan memberimu kebebasan Se.., asal kamu tetap jadi istri aku. Sampai kakek dan keluarga kita merelakan perpisahan kita",
Sevim diam, mungkin inilah jalannya untuk bisa mewujudkan cita-citanya. Siapa tau, Himsa-lah yang memang ditakdirkan untuk membantunya. Simbiosis mutualisme, Sevim membantu Himsa begitu pula sebaliknya. Relationship with benefit.
" Apapun yang aku mau, kamu pasti turutin?"
" Iya..apapun"
" Kamu nggak akan mengingkari?"
" Nggak akan. Kamu bisa membuat sendiri perjanjian pra nikah kita nanti. Kamu mau apa?"
" Aku tidak ingin mobil, rumah atau apapun Tapi tolong bantu aku untuk mewujudkan cita-citaku menjadi desainer. Aku ingin melanjutkan pendidikan ku di London",
" Desainer? London? Cuma itu keinginan kamu?"
" Iya.., kamu keberatan?"
" Sama sekali..aku akan bantu kamu. Dan kamu bantu aku, deal?" ucapnya dengan mengulurkan tangannya.
" Deal..", Sevim menjawabnya dengan menyambut uluran tangan Himsa.
" Terima kasih Se..",
" Sama-sama, kita balik ke kantor sekarang. Astaga, kita sudah terlambat ",
" Kamu tenang aja, aku tadi sudah izin sama kakek. Habis ini kita ketemu kakek, beliau ingin mendengar langsung jawaban dari kita"
Suasana tidak canggung seperti tadi, Himsa bahkan sudah berani mengajak Sevim bicara saat mereka di dalam mobil.
" Se.., kamu punya cita-cita jadi desainer. Tapi kenapa kamu ngambil jurusan bisnis?"
" Semua karena Papa Mama. Kamu tau kan, kita dijodohkan bahkan sebelum kita ada di perut ibu kita. Kata mama, aku sudah dipersiapkan menjadi pendamping hidup calon penerus Sanjaya grup. Kamu tau, bahkan aku nggak punya satu pun teman. Mereka takut, kemana-kemana selalu ada bodyguard yang jagain aku"
" Sampe segitunya? Kamu nggak punya temen ? Pacar maksud kamu?"
" Temen..aku nggak punya temen sekalipun temen perempuan. Apalagi pacar,, hidupku sudah dibatasi dari dulu. Aku nggak pernah membantah perkataan Mama Papa.."
" Kamu nggak punya pacar? Secantik kamu nggak punya pacar ?" Himsa tidak sengaja memuji kecantikan Sevim.
" Nggak punya, aku sama sekali belum pernah pacaran. Kamu sendiri, gimana? Pacar kamu mau dikemanakan kalau kita nikah nanti"
" Pernikahan kita hanya sebatas hitam di atas putih. Aku masih bisa berhubungan dengan dia, asalkan dia juga bisa menjaga rahasia. Kamu, kalau mau berhubungan dengan laki-laki, juga nggak masalah. Asalkan bisa jaga rahasia. Aku nggak akan ikut campur urusan pribadi kamu",
" Aku nggak pernah menyangka, nasibku bisa seperti ini. Tapi, demi cita-citaku aku rela menjalani.."
" Kamu pasti merasa nggak adilkan? Sama aku juga. Tapi, aku juga sama kayak kamu. Nggak pernah bisa membantah ucapan seorang Adiguna Sanjaya. Kakek nggak pernah main-main dengan ucapannya",
Lagi-lagi Sevim menghirup nafasnya dalam. Dia tidak sendiri, Himsa juga sama sepertinya. Meskipun Sevim tidak bisa menghindar perjodohan ini, namun Himsa memberikan penawaran yang sangat menarik untuknya. Pernikahannya nanti hanya sekedar status, sah dimata agama dan negara saja. Sevim dan Himsa nantinya akan menikah atas dasar kesepakatan dan perjanjian yang mereka buat.
semoga ad kelanjutan season 2nya
Selamat ya Sevim untuk kelahiran baby girl