Selama tiga tahun bekerja di perusahaan advertising ternama milik keluarga Mahardika Group, hidup Naura Azzahra nyaris seperti neraka. Semua gara-gara atasannya: Arkan Mahendra, direktur muda yang tampan, perfeksionis, dingin, dan hobi menghancurkan harga diri karyawan dengan satu tatapan.
Naura sudah berkali-kali berniat resign. Namun gaji besar dan cicilan rumah membuatnya bertahan.
Sampai malam presentasi besar itu datang.
Di depan seluruh direksi, Arkan tanpa ampun mengkritik konsep Naura habis-habisan. Bukan cuma mempermalukannya, pria itu juga menyebut Naura “tidak cukup kompeten untuk berada di perusahaan ini.”
Malu bercampur marah membuat Naura meledak.
Untuk pertama kalinya, ia membalas semua omongan Arkan—bahkan menyebut pria itu manusia paling menyebalkan yang mungkin akan mati sendirian karena tak punya hati.
Lalu ia resign malam itu juga.
Naura merasa hidupnya akhirnya tenang… sampai ibunya memaksanya datang ke acara makan malam keluarga seminggu kemudian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eunoia Fashion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Jadi..." Aku sengaja menjeda kalimatku, melangkah maju dua langkah sambil melipat tangan di dada. Aku melemparkan pandangan mata yang paling meremehkan ke arah Dimas. "Bagaimana, Pak Dimas? Ternyata barang sampel kita yang berharga miliaran itu tidak tersasar ke Bandung tuh. Wah, untung saja Pak CEO kita ini jauh lebih pintar dan sigap daripada perkiraan Anda, ya?"
Dimas berdehem kaku, tangannya bergerak gelisah merapikan dasinya yang sebenarnya sudah sangat rapi. "Ah... itu... baguslah kalau begitu. Aku... aku hanya khawatir karena mendapat laporan yang keliru dari bagian logistik. Ya, benar, Valerie yang memberiku informasi yang salah tadi! Sebagai wakil direktur, wajar kan kalau aku panik demi keselamatan aset perusahaan?"
*Dih, dasar laki-laki tidak tahu malu!* batin atau pikirku gemas. Begitu rencananya gagal total, dia langsung melempar seluruh kesalahan pada rekan sekongkolnya sendiri tanpa kedip.
Valerie langsung menoleh ke arah Dimas dengan tatapan mata tidak percaya, namun dia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri
Arkan mengambil satu langkah maju. Dia menatap Dimas dengan pandangan mata yang begitu tajam, seolah-olah bisa melubangi jidat sepupunya itu saat itu juga.
"Dimas," suara bariton Arkan terdengar sangat rendah namun bergetar penuh ancaman. "Urusan kelalaian asisten logistik ini akan diselesaikan secara resmi oleh bagian personalia besok pagi. Dan untukmu... sebaiknya kamu kembali ke ruanganmu sekarang sebelum aku kehilangan kesabaranku dan mencoret namamu dari daftar pembicara di acara peluncuran proyek besok."
Tanpa menunggu aba-aba kedua kalinya, Dimas langsung berbalik badan dan melangkah pergi keluar dari ruanganku dengan langkah seribu. Valerie yang ketakutan setengah mati langsung mengekor di belakangnya seperti anak ayam yang kehilangan induknya, hampir saja tersandung keset pintu karena terlalu terburu-buru.
"Rini, kembali ke mejamu. Dan pastikan tidak ada satu pun karyawan yang membahas masalah ini sampai acara besok pagi selesai," perintah Arkan dengan nada ketus andalannya.
"Siap, Pak Bos!" Rini memberi hormat dengan ceria sebelum akhirnya berjalan keluar, meninggalkan aku dan Arkan berdua saja di dalam ruangan yang kembali sunyi.
Begitu yakin kalau Rini sudah benar-benar pergi dan tidak ada orang lain di koridor luar, aku langsung melepaskan desahan napas lega yang panjang. Aku berjalan menuju sofa kecil di sudut ruangan lalu menjatuhkan tubuhku di sana dengan lemas. Otot-otot wajahku rasanya mau kram karena sejak pagi harus terus-terusan berakting cemberut, sedih, dan marah.
Arkan tidak langsung mendekat. Dia berdiri di dekat jendelaku, memandangi pemandangan jalanan kota dari lantai atas dengan gaya sok keren yang membuatku ingin melemparnya pakai sepatu hak tinggiku.
"Gimana? Aktingku tadi bagus banget, kan?" tanyaku sambil menaikkan kedua alis, mencoba memancing pujian dari bibir kaku suamiku itu. "Kalau tidak ada aku yang pura-pura syok dan memancing Dimas untuk mengeluarkan semua argumen bodohnya, rencana jebakan batu batamu itu tidak akan terlihat sedramatis ini, tahu!"
Arkan membalikkan tubuhnya perlahan, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana bahan kerjaku dengan santai. Wajah tripleknya masih terpasang kokoh tanpa retak sedikit pun.
"Biasa saja," jawab Arkan dengan nada suara yang sangat menyebalkan. "Tanpa akting syokmu yang berlebihan itu pun, data dari Hadi sudah lebih dari cukup untuk membungkam Dimas. Kamu tadi malah terlihat seperti ibu-ibu yang histeris karena kehilangan kupon diskon minyak goreng di supermarket."
Aku langsung mengambil bantal sofa kecil di sampingku lalu melemparnya tepat ke arah dadanya. Dengan cekatan, tangan kanan Arkan menangkap bantal itu sebelum sempat mengenai wajah tampannya. Sebuah senyuman miring yang sangat tipis—tipis sekali sampai-sampai kalau berkedip aku pasti akan melewatkannya—muncul di sudut bibirnya.
"Arkan Mahendra! Bilang saja 'Terima kasih, Naura sayang, kamu hebat sekali hari ini', apa susahnya sih?!" seruku kesal sambil mengerucutkan bibirku panjang-panjang.
"Memuji orang lain secara berlebihan di lingkungan kerja tidak ada di dalam buku panduan operasional perusahaan," kilas Arkan dengan wajah lempeng, berjalan mendekat lalu meletakkan kembali bantal sofa itu di sampingku. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit, berbisik tepat di dekat telingaku, "Tapi... aku akui, wajah marahmu tadi terlihat... agak lumayan. Setidaknya membuatku tidak bosan selama berdiri di sini."
Jantungku langsung memberikan reaksi melompat yang tidak keruan hanya karena bisikan sialan itu. Sebelum aku sempat membalas ucapannya, Arkan sudah menegakkan kembali tubuhnya, melirik jam tangan mewahnya dengan kaku.
"Sekarang sudah jam lima sore. Cepat bereskan barang-barangmu. Kita pulang terpisah seperti biasa untuk menjaga jarak aman sandiwara kita. Aku tunggu di basement lantai tiga dalam waktu lima belas menit. Jangan terlambat satu detik pun, atau aku akan meninggalkanmu," ucapnya dengan ketat, lalu berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah tegap seolah-olah dia baru saja menyelesaikan rapat kenegaraan yang sangat penting.
Aku menatap pintu ruanganku yang tertutup dengan perasaan campur aduk antara gemas, kesal, tapi juga ada rasa manis yang menyelinap halus di dalam dada. Pria itu benar-benar pangeran gengsi tingkat dewa.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah duduk manis di dalam mobil sedan hitam milik Arkan yang terparkir di pojokan basement lantai tiga yang agak remang-remang. Sengaja aku memilih duduk di kursi belakang, murni untuk memperpanjang akting musuhan kami, sekaligus untuk mengerjai suamiku yang sekarang terpaksa bertindak seperti sopir pribadiku.
Arkan masuk ke dalam mobil, melirikku dari kaca spion tengah dengan tatapan mata yang sangat tidak bersahabat.
"Kenapa kamu duduk di belakang?" tanya Arkan dengan suara dingin. "Kamu mengira aku ini sopir taksi?"
"Lho, kan kita ceritanya sedang perang dingin, Pak CEO," jawabku dengan nada suara yang sengaja dilembut-lembutkan seperti seorang pelayan hotel berbintang. "Kalau ada karyawan yang tidak sengaja melihat saya duduk di depan samping Anda, nanti mereka mikir kita sudah baikan. Tolong jalankan mobilnya ya, Pak. Saya mau ke apartemen jalan Anggrek."
Arkan mendengus keras, tangannya mencengkeram setir mobil dengan kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Dia tidak membalas ucapanku lagi dan langsung menginjak pedal gas dengan agak kasar, membuat tubuhku sempat terjungkal sedikit ke depan.
"Aduh! Arkan, pelan-pelan dong! Kalau kepalaku benjol gimana?!" protesku sambil memegangi jok depan.
"Ini adalah kecepatan standar operasional dalam berkendara, Manajer Naura," sahut Arkan tanpa menoleh sedikit pun ke belakang, matanya fokus menatap jalanan raya yang mulai padat oleh kendaraan orang-orang yang pulang kerja. "Kalau Anda merasa tidak nyaman, silakan turun dan naik angkutan umum di luar."
Aku cemberut, melipat tangan di dada sambil memandangi punggung lebarnya dari belakang. Biarpun mulutnya ketus seperti cabai rawit, aku bisa melihat dari kaca spion kalau matanya sesekali terus memantau kondisiku di belakang melalui pantulan kaca, memastikan kalau aku tidak pusing atau mual akibat guncangan mobil tadi. Dasar pria bermuka dua!
***
Sesampainya di apartemen kami, suasana kaku itu masih belum mencair sepenuhnya. Begitu pintu depan terbuka, makhluk berbulu abu-abu gemuk berkaki pendek yang kami panggil Si Bulat langsung berlari ceria mendekat. Kucing gembrot itu langsung mengosok-gosokkan badannya ke kaki celanaku sambil mengeong manja, sementara saat Arkan mencoba mendekat untuk mengelusnya, Si Bulat langsung berbalik arah dan berjalan pergi dengan ekor yang tegak lurus seolah-olah Arkan adalah makhluk asing yang tidak penting.
"Lihat tuh, kucing saja tahu mana orang yang tulus dan mana orang yang modal gengsi doang," ejekku sambil menggendong Si Bulat masuk ke dalam kamar untuk mengganti baju kerjaku dengan pakaian rumah yang lebih santai.
Dari arah dapur, aku bisa mendengar suara dentuman wajan dan spatula yang saling beradu dengan cukup heboh. Saat aku keluar kamar dengan kaus oblong longgar dan celana kulot, aku dibuat melongo melihat pemandangan di depan area masak.
Arkan Mahendra, sang CEO tertinggi yang ditakuti ribuan karyawan, sekarang sedang berdiri di depan kompor dengan memakai apron kain berwarna merah jambu bergambar kepala beruang—apron punyaku yang terpaksa dia pakai karena ukurannya yang paling besar. Lengan kemeja putihnya digulung tinggi-tinggi, menampilkan urat-urat lengannya yang kokoh, sementara tangannya sedang memegang sebuah sendok ukur dengan ekspresi wajah yang luar biasa serius, persis seperti profesor kimia yang sedang meracik ramuan pemusnah massal.
"Kamu... sedang berbuat apa, Arkan?" tanyaku dengan menahan tawa yang sudah sampai di tenggorokan.
"Memasak makan malam," jawab Arkan tanpa menoleh, matanya fokus menatap butiran nasi di dalam wajan. "Berdasarkan analisis nutrisi dan tingkat kelelahanmu hari ini, karbohidrat adalah pilihan terbaik. Aku sedang membuat nasi goreng."
Aku berjalan mendekat, mengintip ke dalam wajan. "Kok baunya agak aneh ya? Itu kamu masukkan bumbu apa saja?"
Arkan berdehem tegak, mengangkat sendok ukurnya tinggi-tinggi. "Aku menggunakan takaran ilmiah yang pasti. Garam tepat tiga gram, kecap manis lima belas mililiter, dan bumbu bubuk siap saji setengah bungkus. Semuanya sudah dihitung secara presisi agar rasanya seimbang dan tidak menimbulkan kegagalan rasa."
"Arkan, memasak nasi goreng itu pakai perasaan dan insting, bukan pakai rumus matematika!" seruku sambil menepuk jidatku sendiri geli. "Sini, biar aku saja yang teruskan."
Baru saja tanganku mau mengambil alih spatula dari genggaman tangannya, Arkan tiba-tiba menahan pergelangan tanganku dengan lembut.
"Duduk saja di meja makan, Naura," ucap Arkan dengan nada suara yang tiba-tiba melunak, tidak ada lagi nada ketus atau kaku seperti di kantor tadi. Mata elangnya menatap lurus ke dalam mataku dengan binar hangat yang sangat manis. "Tanganmu masih agak dingin karena kehujanan semalam. Ini adalah tugas suami untuk memastikan kebutuhan pangan istrinya terpenuhi dengan baik. Jangan mendebat perintah atasanmu di rumah ini."
Wajahku langsung memanas hebat, aku yakin warnanya sudah matang mengalahkan warna tomat di atas meja dapur. Aku buru-buru melepaskan tanganku dari genggamannya dengan canggung, lalu berjalan cepat menuju meja makan dengan jantung yang berdegup seperti sedang menonton konser musik rok.
*Sialan kamu, Arkan Mahendra!* makiku di dalam hati dengan perasaan yang melonjak kegirangan. *Bisa-bisanya kamu membuatku serangan jantung mendadak dengan gaya kaku begitu!*
Sepuluh menit kemudian, dua piring nasi goreng hasil eksperimen ilmiah Arkan sudah tersaji di atas meja. Bentuknya sebenarnya cukup rapi, dengan telur mata sapi yang dicetak bulat sempurna di bagian atasnya.
Aku mengambil satu sendok penuh, lalu memasukkannya ke dalam mulutku dengan ragu-ragu di bawah tatapan mata Arkan yang pura-pura tidak peduli namun sebenarnya sedang menunggu penilaianku dengan sangat tegang.
"Gimana?" tanya Arkan datar, meskipun matanya tidak berkedip menatap reaksimu.
Nasi goreng itu rasanya... agak unik. Asinnya pas karena dihitung pakai timbangan digital tampaknya, tapi ada bagian yang agak hambar karena bumbunya tidak teraduk rata dengan sempurna akibat spatula yang digerakkan secara kaku seperti robot. Namun, rasa hangat yang terselip di balik gengsi besarnya membuat makanan ini terasa jauh lebih nikmat daripada masakan restoran bintang lima mana pun di dunia ini.
Aku tersenyum miring, menatap Arkan dengan pandangan menantang. "Rahasianya... rasanya standar banget, Pak CEO. Masih jauh lebih enak masakan tukang nasi goreng gerobak di depan kompleks apartemen kita."
Arkan langsung mendengus jengkel, mengambil sendoknya sendiri dengan kasar. "Kalau begitu, kembalikan piringmu. Biar aku buang ke tempat sampah."
Saat tangan besarnya mau menarik piringku, aku langsung memeluk piring nasi goreng itu dengan erat seolah-olah itu adalah harta karun paling berharga di dunia.
"Nggak boleh! Biarpun rasanya aneh, ini kan hukuman dari Pak CEO karena kinerjaku buruk hari ini. Jadi harus aku habiskan sampai butiran nasi terakhir!" jawabku sambil menjulurkan lidah ke arahnya, lalu mulai menyuap nasi dengan lahap diiringi tawa kecil yang geli.
pokonya terus semangat author