Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: Konfrontasi di Perpustakaan Tua
Siang hari itu, Kota Qingyun diguncang oleh ledakan keras di pasar utama. Asap hitam pekat membumbung tinggi, disertai teriakan panik warga. Penjaga kota dan pasukan Clan Lin segera dikerahkan ke lokasi untuk memadamkan kerusuhan dan menangkap pelaku.
Di tengah kekacauan itu, seorang sosok berpakaian hitam meluncur cepat di atas atap-atap rumah, bergerak berlawanan arah dengan arus kerumunan. Lin Fan.
Dengan bantuan Teknik Langkah Bayangan yang baru ia pelajari, gerakannya hampir tak terlihat. Ia meninggalkan bayangan samar setiap kali berbelok, membuat mustahil bagi siapa pun yang tidak fokus penuh untuk mengikutinya.
Tujuannya jelas: Kediaman Clan Lin, sayap timur, Perpustakaan Tua.
Lin Fan mendarat dengan hening di balkon perpustakaan. Jendela terbuka sedikit, seolah-olah menunggu kedatangannya. Ini adalah undangan. Atau jebakan.
Lin Fan tidak ragu. Ia masuk ke dalam ruangan yang remang-remang itu. Bau kertas tua dan debu menyambutnya. Rak-rak buku menjulang tinggi hingga ke langit-langit, menciptakan labirin pengetahuan yang gelap.
Di ujung ruangan, di balik meja kayu besar yang dipenuhi tumpukan naskah kuno, duduk seorang pria tua.
Elder Mo.
Dia tidak menoleh. Tangannya terus membalik halaman sebuah buku tebal bersampul kulit hitam.
"Kau terlambat tiga menit," kata Elder Mo tenang. "Aku sudah menghitung waktu tempuhmu dari gerbang kota."
Lin Fan berhenti melangkah, menjaga jarak aman sekitar sepuluh meter. Tangannya siap di samping tubuh, Qi mengalir lancar di meridiannya.
"Anda mengharapkan saya?" tanya Lin Fan.
"Aku selalu mengharapkan murid terbaikku," jawab Elder Mo, akhirnya menoleh. Matanya tajam, menembus kegelapan ruangan. "Dan kau telah melampaui ekspektasiku. Membersihkan namamu, mendapatkan dukungan Clan Zhao, dan bahkan menemukan warisan Sekte Es Langit. Mengesankan."
"Anda tahu tentang warisan itu," ujar Lin Fan, bukan bertanya.
"Tentu saja," senyum Elder Mo tipis. "Mo Han adalah leluhurku. Darah es mengalir di veins kami. Ketika aku merasakan aura dingin yang murni dari dirimu saat pertama kali kau meminjam buku alkimia dasar, aku tahu. Kau adalah wadah yang sempurna."
"Wadah?" Lin Fan mengerutkan kening. "Untuk apa?"
Elder Mo berdiri perlahan. Aura-nya meledak, menekan udara di ruangan menjadi berat. Level kultivasinya terungkap: Tahap Fondasi Akhir. Hampir menyentuh ambang Tahap Inti Emas. Kekuatan yang jauh di atas Lin Fan.
"Untuk membuka Segel Naga Es," kata Elder Mo. "Warisan Mo Han bukan hanya teknik kultivasi. Itu adalah kunci untuk membangkitkan Roh Naga Es yang tertidur di bawah gunung utara. Tapi segel itu membutuhkan darah keturunan Mo dan energi Yin murni dari Manik Giok untuk dibuka. Aku memiliki darahnya, tapi aku kehilangan Manik Giok keluarga kami ratusan tahun lalu. Dan kau... kau menemukannya."
Lin Fan merasa dingin menjalar di punggungnya. Jadi, semua ini—bantuan, perlindungan, bahkan membiarkannya hidup—hanya karena Lin Fan adalah kunci untuk membuka kekuatan terlarang?
"Jika saya menolak?" tanya Lin Fan dingin.
"Maka kau akan mati," jawab Elder Mo sederhana. "Dan aku akan mengambil Manik Giok itu dari mayatmu. Mungkin agak rusak, tapi masih bisa digunakan."
Lin Fan tertawa pahit. "Jadi, tidak ada negosiasi?"
"Tidak ada," kata Elder Mo. Ia mengangkat tangannya. Udara di sekitarnya mulai membeku. Kristal es kecil terbentuk di lantai, merayap menuju kaki Lin Fan seperti ular putih. "Serahkan Manik Giok itu, dan aku akan memberimu kematian yang cepat dan tanpa rasa sakit. Sebagai penghormatan terakhir pada murid kesayanganku."
Lin Fan tidak menjawab. Dia mengaktifkan Teknik Langkah Bayangan. Tubuhnya menghilang dari pandangan, muncul kembali di sisi kiri Elder Mo, tinjunya yang dilapisi es melayang menyerang leher tua itu.
Cepat!
Tapi Elder Mo bahkan tidak menoleh. Dia hanya mengibaskan lengan bajunya.
Bam!
Gelombang angin dingin yang padat menghantam Lin Fan, melemparkannya mundur menabrak rak buku. Buku-buku berjatuhan, debu beterbangan.
Lin Fan terbatuk, merasakan tulang rusuknya retak lagi. Perbedaan kekuatan antara Level 7 dan Fondasi Akhir terlalu besar. Serangan fisik langsung hampir tidak berguna.
"Kecepatanmu bagus," komentar Elder Mo sambil berjalan mendekat. "Tapi kecepatan tanpa kekuatan hanyalah ilusi."
Lin Fan bangkit, menghapus darah dari sudut mulutnya. Otaknya bekerja cepat. Dia tidak bisa menang dalam pertarungan kekuatan murni. Dia harus menggunakan lingkungan. Dan dia harus menggunakan kelemahan Elder Mo.
Elder Mo arogan. Dia percaya diri dengan kekuatannya. Dan dia obsesif dengan Manik Giok.
Lin Fan tersenyum, meski sakit. "Anda benar, Guru. Kecepatan tanpa kekuatan adalah ilusi. Tapi ilusi bisa membunuh jika korban percaya padanya."
Lin Fan melemparkan tiga bola asap ke lantai. Ruangan langsung dipenuhi kabut tebal berwarna ungu—racun halus yang ia buat dari sisa bahan kimia gudang obat, dicampur dengan serbuk besi untuk mengganggu indra sihir.
Elder Mo menggeram, mengibaskan tangannya untuk membersihkan kabut. "Trik murahan!"
Tapi di dalam kabut, Lin Fan tidak menyerang Elder Mo. Dia menyerang rak buku.
Dengan Tinju Embun Beku yang diperkuat oleh Qi maksimal, Lin Fan menghantam pilar penyangga utama rak buku raksasa di sebelah Elder Mo.
Runtuh!
Ratusan buku berat dan rak kayu jatuh menimpa Elder Mo, menguburnya sementara di bawah tumpukan pengetahuan.
Ini tidak akan membunuh Elder Mo. Tapi ini akan memberinya waktu beberapa detik.
Lin Fan tidak lari keluar. Dia lari lebih dalam ke perpustakaan, menuju bagian paling belakang: Ruang Arsip Terlarang.
Jika Elder Mo ingin Manik Giok, Lin Fan akan memberinya sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berbahaya.
Di Ruang Arsip Terlarang, terdapat sebuah altar kecil dengan sebuah pedang tua berkarat yang tertancap di batu. Pedang itu memancarkan aura kebencian dan kemarahan yang murni. Ini adalah Pedang Kutukan, artefak terkutuk yang dilarang digunakan oleh Clan Lin karena bisa memakan jiwa penggunanya.
Lin Fan tahu ini karena ia pernah membaca tentangnya di buku sejarah tadi.
Dia mendekati pedang itu. Auranya mencoba memasuki pikirannya, membisikkan janji kekuasaan dan pembunuhan.
Lin Fan menutup matanya, memfokuskan Manik Giok. Energi murni putih dari Manik Giok membentuk perisai mental, menahan bisikan jahat pedang itu.
"Aku tidak butuh kutukanmu," gumam Lin Fan. "Aku butuh kekuatanmu."
Ia mencabut pedang itu dari batu.
SREEET!
Suara logam berdecit panjang. Aura hitam pekat meledak dari pedang, memenuhi ruangan.
Di luar, tumpukan buku bergeser. Elder Mo muncul, wajahnya marah besar, jubahnya kotor debu.
"Kau berani—"
Kalimatnya terhenti saat ia melihat Lin Fan memegang Pedang Kutukan. Mata Elder Mo membelalak.
"Gila! Lepaskan itu! Itu akan menghancurkan jiwamu!" teriak Elder Mo, untuk pertama kalinya terdengar panik.
Lin Fan tersenyum dingin. Matanya bersinar putih, kontras dengan aura hitam pedang di tangannya.
"Anda menginginkan Manik Giok, Guru?" kata Lin Fan. "Ambillah. Jika Anda bisa mendekat tanpa terpotong oleh kutukan ini."
Lin Fan mengayunkan pedang itu. Bukan ke arah Elder Mo, tapi ke arah dinding pemisah antara Ruang Arsip dan ruang utama.
Duar!
Dinding batu hancur berkeping-keping. Energi kutukan bercampur dengan energi es Lin Fan, menciptakan badai chaos yang tidak stabil.
Elder Mo terpaksa mundur, membentuk perisai Qi tebal untuk melindungi dirinya dari serpihan batu dan aura negatif yang menyengat.
Dalam kekacauan itu, Lin Fan melemparkan Pedang Kutukan itu ke arah Elder Mo, lalu berbalik dan melompat melalui jendela belakang perpustakaan, jatuh ke taman belakang yang sepi.
Dia tidak menunggu untuk melihat apakah Elder Mo menangkap pedang itu atau tidak. Yang penting, Elder Mo sibuk menangani artefak terkutuk yang bisa meledak kapan saja.
Lin Fan mendarat di tanah, berguling, dan segera berlari menuju tembok belakang kediaman.
Dia berhasil lolos lagi. Tapi kali ini, dia telah menyatakan perang terbuka. Dia telah merusak properti klan, mencuri artefak terlarang (secara teknis), dan mempermalukan Elder Mo di rumahnya sendiri.
Tidak ada jalan kembali.
Lin Fan melompati tembok, jatuh ke selokan kering di luar kota, dan menghilang ke dalam hutan sekali lagi.
Di belakangnya, terdengar ledakan energi besar dari dalam perpustakaan. Cahaya hitam dan biru bercampur, menerangi langit siang yang mendung.
Elder Mo akan marah. Sangat marah. Dan sekarang, dia tidak akan lagi bermain-main. Dia akan mengerahkan seluruh sumber daya Clan Lin untuk memburu Lin Fan.
Lin Fan berlari lebih cepat daripada sebelumnya. Napasnya tersengal-sengal, tapi matanya bersinar dengan tekad baja.