lahir sebagai wanita bukanlah pilihan seseorang, menjadi kuat juga bukanlah pilihan seorang wanita, kebahagiaan adalah harapan bagi seorang anak perempuan yang di dipersunting lelaki pilihan hati.
kisah ini menceritakan kehidupan rumah tangga empat saudara perempuan, yang punya banyak impian menikah adalah kebahagiaan, namun kisah pernikahan jauh dari ekspektasi air mata selalu hadir dalam setiap permasalahan, jatuh bangun ke empat saudara ini mempertahankan rumah tangganya, ada begitu banyak harapan dalam setiap air mata yang menetes dalam doa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAKIT HATI IRNA
Setelah selesai membersihkan badan, Novi langsung memasak untuk makan siang suaminya.
Lagi dan lagi, Erwin menghisap obat itu, kali ini Ia benar-benar melakukan hal itu di depan matanya tanpa harus bersembunyi lagi seperti dulu, sungguh rasa hati ingin menangis melihat suaminya tak pernah ada usaha untuk berhenti mengkonsumsi obat itu.
"A.. Makan dulu"
"Ya, sebentar lagi"
Saat telah selesai dengan obat itu, Erwin mendatangi meja makan baru saja ingin duduk Erwin menghentikan langkahnya lalu berkata,
"Telur lagi, ya ampun Novi, kenapa Kamu selalu memberiku telur saja, Kamu beli ayam kek, atau ikan begitu"
"A.. Aku kan kesiangan maaf Aku tidak sempat cari sayur, ini juga sudah siang"
"Makanya lain kali pasang alarm, Aku tidak mau makan ini, sudahlah buatkan saja Aku mie instan"
Kesal sekali rasanya padahal Ia sudah bersusah payah memasak untuk suaminya, namun Erwin sama sekali tak menghargai usahanya.
Novi segera membuatkan mie instan untuk suaminya, tak membutuhkan waktu lama, mie instan pun jadi, Novi menaruh mie itu di atas meja makan, saat Erwin sedang memakan mie itu, Novi merasa ada yang aneh pada Erwin, ketika di perhatikan ternyata Erwin tak memegang handphone dari semalam, Novi pun bertanya,
"A.. handphone A Erwin kemana, kok Aku gak lihat?"
"Oh.. Handphone nya rusak, sedang ku servis"
"Rusak, karena apa A..?"
Erwin merasa terganggu akan pertanyaan dari Novi.
"Ya gak tahu touch screen nya sudah rusak"
Novi seperti tak percaya akan ucapan suaminya, karena waktu itu Erwin pernah menjual handphone milik Novi dengan alasan rusak dan di bawa servis ternyata semua itu hanya alasannya saja untuk menutupi kesalahannya.
"Handphone itu gak A Erwin jual kan?"
Karena banyak bertanya, Erwin murka dan membentak Novi dengan nada tinggi.
"Dasar istri ga tahu diri, bisa diam tidak suami Kamu mau makan"
"Aku kan hanya...."
Belum saja selesai Novi bicara, Erwin menyiram mie yang baru saja Novi masak ke tubuh Novi.
"Aaaaa... panas..."
Novi meringis kesakitan lengan juga lehernya yang terkena kuah mie instan memerah akibat dari hawa panas.
"Ya Allah A... Kamu tega banget sama Aku"
Novi berbicara dengan suara ingin menangis.
"Diam berisik, Kamu cuma bisa tanya-tanya terus, kalau sudah ku bilang handphone itu rusak ya sudah jangan Kamu tanyakan lagi"
"A... kenapa Kamu kasar sekarang, Kamu mau membunuh Aku A.. Iya... bunuh A.. Bunuh sekalian, biar Kamu puas"
Erwin terlihat semakin marah mendengar kata-kata dari Novi, dengan sekuat tenaga, Erwin menampar pipi Novi dengan kencang hingga ujung bibirnya berdarah sedikit.
Novi menangis dan meringis kesakitan, Ia menatap wajah suaminya dengan rasa pilu, kini suaminya sudah berubah menjadi monster yang mengerikan.
"Kamu jahat A.. pulangkan saja Aku A.. pulangkan dari pada Aku Kamu siksa"
Semakin banyak bicara Erwin semakin marah, Erwin menarik rambut Novi, dan menjawab,
"Jangan sekali-kali Kamu melapor sama keluarga Kamu, sekali ku dengar Lihat, Aku bisa lebih kejam dari ini!!"
Setelah selesai Erwin melepaskan rambut Novi dan mendorong Novi, lalu Erwin pergi seperti biasanya jika sudah marah dan menyiksa Novi, Ia akan pergi entah kemana.
Sedangkan Novi menangis hingga tersedu-sedu membuat rindu akan ibunya.
"Ibu... Aku ingin pulang"
Novi berbicara sambil menangis duduk di kursi meja makan dan meratapi nasib hidupnya.
Disisi lain Irna saat ini sedang menyiapkan suguhan karena sang mertua akan datang hari ini ke rumahnya.
"Assalamualaikum"
Irna menjawab ucapan sang Mertua, lalu Ia menyalami tangan keduanya dan menanyai kabar mertuanya.
"Alhamdulillah Kami baik dan sehat"
"Alhamdulillah"
"Irna Ami senang sekali Kamu sekarang sudah mau berkerudung dan memakai syar'i"
"Iya Ami, Aku ingin jadi istri yang berbakti untuk suaminya, dengan menuruti perkataan suami"
Lalu Ibu mertuanya memulai obrolan tentang, pernikahan poligami.
"Ami, tidak adakah cara lain selain menikahi wanita itu"
"Irna Ami tahu Kamu pasti marah, dan tidak terima, tapi mau bagaimana, Kamu sampai saat ini belum juga hamil"
"Tapi Ami, ini bukan kehendak Irna, Allah hanya belum memberi kepercayaan pada Irna, irna sehat dan bisa hamil suatu saat nanti"
"Kapan Irna, harus menunggu beberapa tahun lagi?, Ami dan Abi Ilham semakin tua, apa Kamu tega melihat Ami dan Abi mati dalam penasaran karena Kami ingin menimang cucu"
Irna tidak dapat membantah lagi ucapan Ibu mertuanya, kemudian muncullah Arif yang telah selesai melaksanakan shalat Dzuhur.
"Ami, Abi sejak kapan datang?"
"Kami baru sampai"
"Arif mari bicara soal pernikahan kedua Kamu"
Arif melihat wajah istrinya, hatinya tak pernah menginginkan pernikahan poligami itu, namun ini permintaan kedua orangtuanya, mau tidak mau Arif harus melakukannya.
"Ami, jadi kapan pernikahan itu di laksanakan?"
"Sekitar satu Minggu lagi, Umi dan Abi sudah menyiapkan semuanya".
Irna pun bangkit dari duduknya, dan Ia berjalan ke dapur untuk mengambil makanan yang sudah Ia siapkan.
"Ami, Aku tidak sanggup menyakiti hati Irna"
Ucap kejujuran Arif di hadapan ibunya.
"Arif, Kamu menikahi Aliyah tujuannya baik untuk memiliki keturunan, bukan hal lain"
"Tapi bagaimana dengan Irna, selama ini Irna sudah menjadi istri yang baik, dan Solehah Ami"
"Tapi Kami menginginkan cucu Arif, Ami dan Abi harus menunggu Irna berapa lama lagi supaya hamil, tidak ada jaminan Arif, punya istri lebih dari satu siapa tahu istri kedua Kamu nanti bisa cepat hamil"
Permintaan yang cukup sulit bagi Arif, Irna mendengar semua perkataan Ibu mertuanya di balik dinding, betapa sakit hatinya hanya karena belum bisa hamil, namun keluarga Arif meminta suaminya untuk menikah lagi dengan tujuan mendapatkan keturunan.
Irna segera mengusap air matanya, dan Ia memberikan suguhan itu di atas meja.
"Di makan ya Ami Abi seadanya"
Kemudian Abi Ilham berbicara pada Irna yang bunyinya.
"Irna sebaik-baiknya seorang istri adalah yang paling baik hatinya yaitu ikhlas dalam menerima setiap takdir"
Irna mengerti akan makna yang di ucapkan oleh Ayah mertuanya, lalu Irna menjawab,
"Aku ikhlas Abi, menerima diriku belum hamil sampai saat ini, justru kalian lah, mohon maaf Irna harus berkata, Kalian lah yang tidak ikhlas menerima Aku yang belum juga hamil"
Ami Annisa menjadi tidak suka akan Irna yang selalu menjawab jika di nasihati dan di beri arahan.
"Irna jangan bicara tidak sopan pada kedua mertua mu ini"
"Tapi benar kan Ami, Abi, Kalian yang belum bisa ikhlas menerima Aku yang belum juga hamil"
Arif yang begitu patuh terhadap kedua orangtuanya, lalu meminta Irna untuk menyudahi perdebatan ini.
"Sudah Irna, sebaiknya Kamu mengalah dan sebaiknya Kamu di dalam kamar saja"
Irma menatap wajah suaminya penuh dengan harap agar Arif menolak untuk di nikahkan lagi.
"Benar, Aku sebaiknya tidak keluar dari kamar"
Irma bergegas berjalan memasuki kamarnya.
Dan kini hampir sore, kedua orangtua Arif berpamitan untuk pulang kembali ke rumah.
"Hati-hati Ami, Abi"
"Ya Arif, beri pengarahan pada istri mu nanti, bahwa di poligami itu tidak seburuk yang ada di pikirannya"
Ucap Abi Ahmad berkata pada putranya.
Setelah kepulangan kedua orang tua Arif, Arif memasuki kamar dan melihat istrinya di dalam.
"Kamu mau tidur?"
"Iya.. Aku cepek dari tadi di dapur terus"
"Ami sayang, Aku tahu Kamu pasti kecewa dengan keputusan ini, Aku mohon Ami mengerti"
Irna tak menjawab apapun perkataan Arif, hanya air mata yang berbicara mewakili hatinya yang tengah bersedih.
Arif pun tahu bahwa Irna pasti tidak akan ingin bicara padanya, akhirnya Arif keluar dari kamar, dan Ia mulai berkerja di ruang kerjanya.
Lalu Asri mengabari kak Mai jika Ia sudah mentransfer hutang yang pernah Ia pinjam.
"Dek.. Ini kan cuma seratus lima puluh"
"Iya Kak, Aku tahu tapi Mas Fery hanya memberikan ku uang segitu katanya sisanya nanti di transfer lagi"
Lalu Mai mengatakan semoga saja suaminya bisa menerima pembayaran hutang setengah ini.
"Kak... terimakasih banyak ya sudah banyak bantu Aku"
"Iya.. Dek.. Ibu bagaimana keadaannya, Kakak bingung.. Kakak ingin sekali menengok ibu, tapi Mas Hasan gak pernah izinkan Kakak untuk pulang"
Asri Terkejut mendengarnya.
"Jadi selama ini masalahnya ada di Mas Hasan yang tidak mengizinkan Kakak pulang?"
"Iya Dek.. tapi Kamu jangan bilang-bilang ibu ya?, Kakak takut ibu nanti kepikiran terus sakit lagi"
"Iya Kak, Aku akan rahasiakan ini"
"Sudah dulu ya Dek, Mas Hasan sudah pulang dari mesjid"
Panggilan pun di akhiri, lalu Mai memberitahukan soal pembayaran hutang adiknya.
"Apa.. Setengah doang, ya ampun adik Kamu tuh bagaimana sih, masa cuma setengah"
"Ya mungkin adanya segini Mas, sudah lah lagi pula yang penting kan niatnya ingin membayar hutang"
"Ya ya ya...Kamu selalu bela keluarga Kamu"
Setelah pembicaraan itu Mai segera pergi dari hadapan sang suami dan memasuki kamarnya.
Erwin, hrsnya terus terang dg Novi ttg Citra. dan janji gk akan mengulang. Agar video itu tdk dijadikan Citra sbg alat utk mengancam