NovelToon NovelToon
Aku Bukan Actor Genius

Aku Bukan Actor Genius

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem
Popularitas:23.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rohid Firmansyah

Apa anda serius?...... AKU BENAR BENAR HANYA INGIN MENJADI PENULIS NOVEL, Mengapa sistem ini Memaksaku untuk Menjadi Aktor ?........

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rohid Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

paruh waktu

motel Cactus Oasis

yang jaraknya cukup jauh dari kampus dan perkotaan, motel itu benar benar hampir ujung dari kota sacramento, dimana di ujung sungai adalah perbatasan dari sacramento barat(west).

mungkin di perbatasan bukan tempat yang baik, karena banyak pemabuk dan tempat prostitusi terjadi , tapi yang terpenting bagi james di dunia adalah murah , itu saja. dan motel yang akan ia gunakan sebagai hunian sementara ini seharga 10 dollar permalam.

itu harga murah untuk pusat kota california seperti sacramento.

dan james santai saja, karena pelayan terkesan sangat pertama kali ia ingin booking selama 1 minggu kedepan, sebelum karena james juga akan mencari kerja sebelum satu minggu itu.

memang tidak mengharapkan apapun pada acting, dan dia memang tidak fokus pada itu.

kali ini di kamar sempitnya dengan kamar mandi sempit serta dapur yang dapat dilihat ketika dia bangun tidur , james santai saja sembari menulis novel dan terus mempelajari hal baru.

drop out Bukan berarti jadi tidak perlu belajar lagi untuknya.

'hmm, forum cari kerja benar benar sialan, apa tidak ada lowongan untuk setidaknya paruh waktu jadi pelayan , untuk orang asia apa' kesal james melihat forum pencari kerja yang syaratnya cukup rasis.

sedari kecil dia selalu diajari oleh orang tua di panti jompo dan juga ayahnya yang menjadi role modelnya , bahwa kalau ingin bekerja jangan lihat bayarannya jangan menganggap dirimu eksklusif , harus sadar diri dan tahu jika kau mencoba membuat dirimu paling tinggi dan tidak pantas bekerja hal hal yang menurut ego hina maka selamanya kau akan nganggur .

'itulah katanya... ih apa sih si bangsat sistem nih!' kesal nya melihat panel menghalanginya mencari kerjaan.

hingga akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan kafe di kawasan yang cukup dekat dengan tempatnya sekarang , syaratnya sederhana dan pekerjaanya tidak membuat otak gila .

"hehe baru ngeluh dah dapet,.... hedeh dasar mulut sialan " menampar mulutnya sendiri karena mengeluh.

segera setelah mendapatkan itu, dengan segera james menelepon nomor yang tertera di lowongan tersebut , yang langsung mengarahkannya ke manajer serta pemilik cafe atau restoran .

"hallo apa benar ini dari restoran redwood?" james menelepon langsung.

- oh hallo ini benar saya sendiri manajernya \, ada yang bisa saya bantu ?". seorang pemilik dari restoran yang terdengar cukup dewasa .

"ini saya mendapatkan iklan lowongan kerja di situs xxx apakah benar pak, dan apakah posisi tersebut masih ada?" tanya james yang penasaran , karena takut penipuan , karena amerika penipuannya tinggi juga.

- ah ahhh benar \, kami membutuhkannya dan betul saya iklan di situs tersebut\, sebanarnya kami membutuhkan 1 pelayan lagi karena pelayan lama keluar \, benar pak saya butuh pegawai\, begini saja saya juga sedang buru buru\, anda datang saja ke restoran saya \, dan akan saya ajarkan dan beri pertanyaan bagaimana ?" tanyanya langsung pada james .

tentu mendengar itu james senang, karena dia bisa mendapatkan uang untuk menghidupi kebutuhan sehari harinya juga membayar sewa tempat tinggal untuk beberapa bulan kedepan. tentu james mengiyakannya tanpa pikir panjang .

jika ada yang bicaara jadi pelayan itu melelahkan, james tidak peduli, toh semua pekerjaan melelahkan yang tidak melelahkan ya tidur dan berhubungan suami istri (itu pun masih sih).

.....

Ketika ia melangkah keluar, udara sore yang sejuk membelai wajahnya. Meskipun suasana di sekitar motel tidak terlalu bersahabat, James berusaha tetap tenang. 'ini mah suasana benar benar tidak beda jauh di tempatku di indonesia ' gumamnya

Redwood Café akhirnya terlihat di kejauhan, sebuah bangunan kecil dengan papan nama yang terlihat cukup sederhana namun bersih. James menghela napas lega saat melihatnya. Saat dia masuk ke dalam, aroma kopi segar dan makanan ringan menyambutnya, memberikan sedikit kehangatan di tengah kesederhanaan tempat tersebut.

Seorang pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih menyambutnya dengan senyuman tipis. "Kamu pasti James," katanya sambil mengulurkan tangan.

"Ya, saya James. Terima kasih sudah memberi saya kesempatan ini," balas James sambil berjabat tangan.

"Nama saya Richard, pemilik sekaligus manajer di sini. Langsung saja, saya akan tunjukkan apa yang perlu kamu lakukan," kata Richard dengan nada yang langsung. Tanpa banyak basa-basi, dia membawa James berkeliling kafe, menunjukkan tempat-tempat penting seperti dapur, area pelayanan, dan ruang penyimpanan.

richard juga mengatakan bahwa james memiliki rekan pelayan , sepertinya dia belum datang , karena restoran dibuka waktu malam yang memang jam yang bagus untuk membuka kafe itu, yang satu satunya restoran yang memiliki menu luar biasa banyak karena chefnya ahli.

setelah berkeliling dan mengatakan apa saja tugas nya, james bertemu chef yang berjumlah dua orang yang merupakan wanita berkepala empat yang dapat memasak masakan apapun karena memiliki pengalaman di restoran. dia wanita yang manis dan ramah .

"hahaha aishh imutnya, salam kenal ya nak" mencubit pipi james .

"ba baik tante"

"ishh apa sih anggap saja aku sebagai ibu kamu , haha benar benar anak tampan sekali, jika aku muda lagi aku akan langsung menikahimu hahaha" bercandanya pada james , yang menyukai mereka karena bersahabat dan santai .

Setelah berkenalan dengan para chef, James merasa suasana di Redwood Café cukup hangat, meski sederhana. Tak lama setelah ia selesai berbincang dengan para chef, pintu kafe terbuka, dan seorang wanita muda dengan gaya tomboy masuk. Rambutnya pendek, diwarnai dengan sedikit ungu di ujungnya, dan ia mengenakan jaket kulit yang terlihat sedikit usang tapi tetap keren.

“Hey, kamu pasti James, ya?” katanya dengan senyum lebar. Namun, sebelum James sempat menjawab, ia tiba-tiba berhenti dan wajahnya berubah merah. “Ah, sial!” ujarnya sambil cepat-cepat menutupi hidungnya yang tiba-tiba mimisan.

"hey ada apa apa kau baik baik saja" james segera panik ketika melihat wanita itu yang mengeluarkan darah di hidungnya , dia memegang tubuh wanita itu yang seperti kaku setelah melihatnya . "a a aku tidak apa apa sialan" ucapnya memalingkan wajahnya dari james yang memanganya karena khawatir pada wanita itu.

di dapur , wanita tua itu tertawa terbahak bahak dengan temannya karena melihat reaksi dari wanita itu yang mereka kenal. baru kali ini dia melihat seorang wanita melihat pria sampai mimisan begitu.

'apaan ini sih , mengapa gua bisa mimisan dan kenapa dada gua sakit ' pikirnya baru merasakan perasaan itu pertama kali dalam hidupnya . sebelum mereka bisa melanjutkan drama itu, bel tanda ada pelanggan membuat mereka tiba tiba buru buru berdiri memakai pakaian untuk pelayan.

sebagai pegawai baru james cukup tahu akibat menyimak dari richard.

dia sudah tahu apa yang dipakai dan lakukan , 'benar benar wanita aktif' melihat wanita yang masih tidak ia ketahui namanya itu , melayani pelanggan , sembari menutupi hidungnya dengan tisu . james yang menunggu di dapur , mendengar pembicaraan dan cara wanita itu melayani pelanggan.

hingga ia mendengar nama dari wanita itu yang cukup dikenali oleh pelanggan.

"ah nama dia lily , benar benar tidak nyambung sama sekali" gumam james melihat ke kaca yang mengarah ke meja pelanggan.

lily yang selesai mencatat pesanan, akan ke dapur. lalu mendapati james yang memperhatikannya , seketika membuat dadanya berdetak semakin cepat dari sebelumnya . 'apaan sih dia melihatku? sialan ini menyiksaku' pikirnya sembari perlahan berjalan ke pintu .

"hey ce cepat pelanggan semakin banyak , bekerja lah" memalingkan wajahnya masuk ke dapur dari melihat james yang kebingungan setengah mati dibuat oleh sikapnya .

'apa salahku sih' herannya yang segera keluar untuk melayani para pelanggan.

di dapur para chef yang melihat itu hanya dibuat bahan candaan pada lily mereka yang tomboy berubah jadi wanita pemalu yang penuh ketakutan di dekat james , pelayan baru.

.....

Saat giliran James melayani pelanggan untuk pertama kalinya, dia merasa sedikit gugup namun berusaha tetap tenang. Pelanggan pertama yang dia layani adalah pasangan muda yang terlihat sedang menikmati malam mereka di Redwood Café. Sang wanita, yang terlihat elegan dengan gaun sederhana, tersenyum ramah ketika James mendekat dengan buku catatan di tangan.

"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" James menyapa dengan senyum sopan.

Namun, saat wanita itu menatap wajah James lebih dekat, ekspresinya berubah menjadi sedikit bingung, seolah-olah sedang mencoba memahami sesuatu. Tatapannya terkunci pada mata James, dan kemudian, wajahnya tiba-tiba memerah. Sang pria yang bersama wanita itu memperhatikan perubahan pada pasangannya dan bertanya dengan khawatir, "Kamu baik-baik saja?"

Wanita itu menutup mulutnya dengan cepat, namun tak lama kemudian, darah mulai mengalir dari hidungnya. "Oh, tidak! Apa yang terjadi?" James terkejut, berusaha menolong wanita itu dengan memberikan tisu yang ada di dekatnya.

Pria di sebelahnya tampak bingung, namun James tetap tenang dan membantu wanita itu membersihkan mimisannya. “Maaf, mungkin saya terlalu banyak minum kopi tadi,” wanita itu berusaha tertawa, walaupun jelas ada sesuatu yang lebih dari sekadar terlalu banyak kafein.

Sementara itu, pelanggan lain di sekitar meja mereka mulai memperhatikan apa yang terjadi. Beberapa dari mereka, terutama wanita, mulai berbisik-bisik sambil menatap James dengan mata lebar. James, yang masih baru dalam pekerjaan ini, mencoba untuk tetap profesional, meskipun situasinya terasa semakin aneh.

Tidak lama kemudian, seorang wanita muda lain yang duduk di meja sebelahnya, tampak juga mengalami hal yang sama. Saat James mendekat untuk mengambil pesanan, wanita itu tiba-tiba merasa pusing dan juga mimisan. "Oh, Tuhan! Aku baik-baik saja, sungguh..." katanya terbata-bata sambil mencoba menghentikan aliran darah dengan tangannya.

Richard yang menyaksikan dari kejauhan tertawa kecil, meskipun berusaha menyembunyikan tawanya. “James, kamu benar-benar membawa suasana baru ke kafe ini,” gumamnya sambil menggelengkan kepala.

Setelah beberapa saat, Lily datang membantu James. Meski ia masih merasa gugup di dekat James, Lily berusaha profesional. Ia mendekati James dan berbisik, “Kau harus lebih hati-hati dengan senyummu. Kau bisa bikin kafe ini penuh dengan pelanggan yang mimisan.”

setelah restoran tutup , meskipun ada wanita yang menunggu james di depan restoran untuk melihatnya , dia hanya tersenyum pahit masih tidak faham sebenarnya apa yang terjadi padanya saat ini, situasinya benar benar membingungkan sekali.

setelah membersihkan meja , james di belakang restoran menyalakan rokok , untuk merenungkan apa yang sebenarnya terjadi padanya, "menyerah?" tanya richard membuka pintu untuk ikut merokok dengan james diluar dengan udara malam yang tengah enak sekali.

"ha ha anda bisa saja pak" james melihat langit.

melihat pemuda itu yang terlihat seperti berumur 40 tahunan sikapnya , santai dan penuh rencana , richard tersenyum . "kau berasal dimana nak" tanyanya.

"aku dari indonesia , sebuah negara di asia tenggara, mungkin negaranya kurang dikenal , tapi tak apa . " ucapnya.

kemudian pembicaraan mulai mengalir hingga dapat bercerita diri masing masing, entah mengapa richard seperti bicara dengan lelaki yang begitu dewasa sekali, padahal ketika ditanya umurnya baru 20 tahunan saja . lelaki tua itu mendengar cerita tentang james yang di drop out karena alasan yang menurutnya sepele.

tapi dia tidak melihat ada kesedihan diwajah james, 'kurasa aku salah, tenyata dalam generasi yang kacau ini masih ada yang memiliki mental sekeras baja sepertinya'.

setelah mendapatkan bayaran dari richard tua seberas 25 dollar per malam itu, james akan membereskan barangnya , dia dikagetkan oleh sistem yang muncul setelah situasi selesai , dan ketika james membutuhkan penjelasan beberapa jam lalu dia tidak muncul.

[Hallo pemain]

[saya merasakan anda penasaran bagaimana bisa semua orang melihat anda kagum dan bahkan ada yang mengeluarkan darah mereka]

[apa anda ingin tahu?]

melihat itu di locker pegawai, james menahan amarahnya sekuat mungkin , 'YA' walaupun suaranya marah .

[Kesalahan sistem]

[item hadiah anda seharusnya tidak diminum seluruhnya, karena kami lupa memberikan intruksi bahwa penggunaan Ramuan tingkat RARE hanya satu tetes penggunaan, ]

[Peringatan: Tidak dianjurkan meminum semuanya]

melihat itu , james benar benar akan mati karena , di hadiah sebelumnya bahkan tidak ada peringatan atau efek samping apapun dari ramuan ajaib itu .

'motherfuc*er' pasrah james melihat panel merah di depannya .

lily menunggu james pulang duluan di balik pintu.

1
ADYER 07
oy thorr up ngakkkk?
Hari Sptra
authornya kemana dah nih di tinggal bae
Kiki Ginanjar
lanjut dong ini bagus
Kiki Ginanjar
kenapa gak di lanjut padahal seru loh
Fadli
up dong
Kiki Ginanjar
kenapa gak up lagi/Grin/
Baday ys
bague
Baday ys
mantab...up up
ADYER 07
walau penjabaran nya bertele² tapi alurnya lumayan bagus.
Hr⁰ⁿ
yang bener *arghhh bikin orng khawatir saja*
Hr⁰ⁿ
maaf Thor kritik dikit,
saya baru baca dan kosa katanya masih agak berantakan,ayo Thor smngt untuk memperbaiki tulisannya
Go Anang
Luar biasa
Farah Umaiha
thor gak up??🤔
RidhoNaruto RidhoNaruto
up
Farah Umaiha
bentar lagi hp Arthur mati itu(meledak) 🤣🤭
Farah Umaiha
bagus
Farah Umaiha
bangus banget😀👍👍👍
Was pray
kok james gak tahu nominal uang dlm kontrak kerjanya? emang gitu ya dlm dunia perfilman ya thor? aktor gak tahu apa2 isi kontrak kerjanya?
Smeliy: dia sahabat James mereka sudah seperti saudara, Dan Arthur akan jadi orang paling berpengaruh pada cerita
total 4 replies
Farah Umaiha
ceritanya seru banget thor🤣😂😂😭😭💪💪
RidhoNaruto RidhoNaruto
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!