NovelToon NovelToon
I Want To Meet My Parents

I Want To Meet My Parents

Status: tamat
Genre:Romantis / Chicklit / Tamat
Popularitas:74.4k
Nilai: 5
Nama Author: Winona R. D nsy

JANGAN DIBACA DULU! MASIH TAHAP REVISI, ENTAR KALIAN GA NGERTI LAGI.

(Prolog - bab 16 SELESAI DIREVISI)

"Nina, kamu harus mencari keluargamu."

"Nina janji. Nina akan menemukan keluargaku."

Aku tahu ini sulit, tapi aku akan berusaha. Namun, janjiku terpenuhi keesokan harinya. Bukankah ini terlalu cepat?

"Tuan Van... gadis kecil ini...?"

"Anakku. Dia adalah anakku."

Aku menemukan ayah angkat yang sangat hebat!!

Lalu setelah itu, seorang wanita muda mendatangiku.

"Putriku.... Ini Ibu, Nak."

"Ibu...? Ibu...?"

Ternyata aku punya seorang ibu yang sangat cantik!

Aku sudah menemukan keluargaku, jadi haruskah aku meninggalkan keluarga angkatku?

Ibu sangat baik, Ayah juga sangat baik!

Kalau begitu, ayo jodohkan mereka!

―――――――――――――

•Update: slow update.
•Cover dari Pinterest.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winona R. D nsy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Keluarga Baru

Nina memandang sesuatu yang ada di balik kaca jendela mobil bagian depan sambil tersenyum.

Dari kejauhan, rumah ayah angkatnya menyerupai istana. Kemegahan rumah itu menandakan bahwa sang pemilik rumah bukanlah orang biasa. Saat mobil hendak memasuki pekarangan rumah, gerbang besar yang tertutup dengan otomatis terbuka.

Ketika mobil memasuki pekarangan rumah, Nina berpikir bahwa mobil yang ditumpanginya akan sampai di depan pintu yang tampak seperti istana, namun ternyata pemikirannya salah.

Mobil yang dikendarai oleh Asisten Fai melewati jalanan yang sangat panjang.

"Ini adalah halaman rumahku," ucap Lyon secara tiba-tiba.

Nina lantas memandangnya dengan tatapan terkejut ketika ayah angkatnya mengatakan bahwa 'Ini adalah halaman rumahku'.

'Woah! Keren! Ternyata jalanan yang begitu panjang ini adalah halaman rumah ayah angkatku!!' 

"Luas sekali!" balas Nina dengan semangat, lalu bergumam pada dirinya sendiri, "Kalau saja rumahku sebesar ini, aku bisa bermain sepuasnya."

Lyon yang mendengar kata-kata Nina pun membalas, "Sekarang aku adalah ayahmu, jadi rumahku juga rumahmu."

"Su-sungguh?" tanya Nina dengan tidak percaya.

'Ru-rumah ini... juga rumahku?!'

"Iya."

Mendengar jawaban Lyon, Nina tersenyum lebar dan berseru, "Yeeeyyy!"

Lalu dia memeluk Lyon dan menggosok wajahnya di dada bidang pria itu.

"Makasih, Ayah!"

Sementara itu, Lyon, yang tiba-tiba dipeluk, menegang dengan mata terkejut. Dia hanya menatap sosok kecil yang memeluknya tanpa mengatakan apa pun. Sekarang dia benar-benar seperti patung; tidak bergerak dan tidak berbicara.

Asisten Fai yang melihat reaksi hebat dari tuannya ketika dipeluk oleh anak angkatnya pun menutup mulutnya erat-erat agar tidak tertawa. Dia benar-benar menyaksikan berbagai macam ekspresi tuannya hari ini, seperti orang normal pada umumnya.

'Kerja bagus, Nona Muda!'

Dia memuji Nina di dalam hatinya sambil terkikik kecil.

...↬°↫...

Setibanya di depan pintu utama, Asisten Fai membukakan pintu mobil untuk Lyon dan Nina. Kemudian ia mengetuk pintu beberapa kali, setelah itu membukanya.

Ketika pintu terbuka, tak ada seorang pun yang memberi penghormatan atas kepulangan anak tunggal keluarga Van, seperti yang biasanya dilakukan para pelayan ketika majikan mereka kembali ke rumah. Ini karena nyonya pemilik rumah, alias ibunya Lyon, sedang berpura-pura sakit. Alasan dia melakukan hal itu adalah karena putranya belum juga memberikannya seorang menantu dan cucu.

"Nyonya, Tuan datang dengan membawa seorang anak kecil! Turunlah ke bawah dan temui cucu Anda!" teriak Asisten Fai dengan semangat membara.

Lyon yang mendengar teriakan asistennya segera menatapnya dengan tajam dan dingin, namun Asisten Fai tidak takut dan kembali mengulangi teriakannya.

"Saya tidak berbohong, Nyonya! Sekarang keluarga Van punya seorang nona muda!"

Sang nyonya rumah, Van Lien, membuka pintu kamarnya dengan kencang, kemudian menuruni tangga dengan cepat bagai sekelebatan bayangan sambil berteriak girang, "Benarkaaah? Di mana?!"

"Di sini, Nyonya!" jawab Asisten Fai seraya menunjuk Nina yang memandang sekelilingnya dengan tatapan penasaran.

"Kyaaa! Cucuku!"

Lien memeluk Nina dengan erat sambil menangis terharu.

"Oh, astaga, ini adalah cucuku!"

Nina membalas pelukan wanita tua itu sambil tersenyum. Rona kemerahan terlihat di pipinya.

"Nenekku...?"

Lien melepas pelukannya dan menjawab dengan cepat, "Tentu saja!" sambil mengangguk bahagia dan penuh semangat.

Nina menatap wanita tua di depannya dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan memiliki keluarga angkat yang sangat menyayanginya.

"Sayang~ Sini-sini."

Lien menggandengan tangan Nina ke sebuah sofa dan memangkunya.

"Apa cucuku ini merasa lapar? Kamu ingin makan apa, hm?" tanyanya dengan lembut.

"Apa... boleh?"

"Hohoho, tentu saja! Makanlah apa yang kamu inginkan sepuasnya!"

Ekspresi Nina menjadi cerah. Ia menjawab dengan girang, "Nina ingin makan es krim, Nek! Nina juga mau kue cokelat!"

"Imutnya!"

Lien menutupi pipinya dengan wajah merona, seolah-olah baru saja melihat sesuatu yang menggemaskan. Lalu ia memandang asisten putranya.

"Asisten Fai, telepon perusahaan es krim dan kue cokelat terkenal di Kota Kyoxx. Beritahu mereka bahwa Van Lien ingin mereka mengirimkan satu truk es krim dan kue cokelat ke rumah. Secepatnya!"

Nina memandang nenek barunya dengan tampang berbinar, seolah-olah ada kilauan bintang besar di sana.

'Gak nyangka kalau aku bakal makan es krim dan kue cokelat tiap hari! Kyahaaa!'

Dia berseru riang di dalam hatinya, setelah itu seseorang bertanya padanya.

"Oh, ya. Namamu Nina, ya?"

"Ya, Nek," jawab Nina sambil mengangguk, tak lupa dengan senyuman manis di wajahnya.

"Nama belakangmu apa?"

"Ste―"

"Van," potong Lyon.

Ia memotong ucapan putri angkatnya tanpa memedulikan apa nama belakang Nina.

"Van?" tanya Lien sekali lagi dengan tampang seperti orang bodoh.

"...."

Lyon terdiam dengan ekspresi konyol di wajahnya, sedangkan Lien yang dipandang seperti itu menjadi kesal.

"Apa-apaan dengan ekspresimu itu! Hmp!"

Ia mendengkus dengan kasar, sedangkan Asisten Fai yang melihat adegan itu menggelengkan kepalanya tidak berdaya.

"Bukankah tadi Ibu yang bilang bahwa dia adalah cucumu, berarti marganya adalah Van, 'kan?"

"Oh iya! Benar juga, ya. Kenapa Ibu tidak kepikiran, ya?"

Tersadar berkat ucapan putranya, Lien menggaruk kepalanya, lalu dia memandang putranya.

"Ya sudah. Yang terpenting, akhirnya kamu memberikan Ibu cucu. Tapi!!"

Mata birunya yang lebih gelap dari Lyon berkaca-kaca, lalu meteskan air mata palsu yang setiap saat dilakukannya agar putranya bersedia menikah.

"Tapi... kenapa kamu tidak memberikan Ibu seorang menantu? Waaahhh!"

Dan dia pun mulai menangis kencang seperti anak kecil.

"...."

"...."

"...."

Baik Nina, Lyon, maupun Asisten Fai tidak bisa berkata-kata ketika melihat wanita yang sudah berumur tua itu menangis kencang.

Beberapa saat kemudian, Lyon memandang asistennya.

"Jaga ibuku. Aku ingin istirahat di kamar," ucapnya, lalu berjalan menuju kamarnya.

"Baik, Tuan."

Sementara itu, Nina memandang neneknya, kemudian ia mengusap air mata palsu yang keluar dari kelopak mata neneknya.

"Cup, cup, nenekku sayang. Jangan menangis. Oh iya Nek, Nina ingin mengobrol dengan Nenek."

Lien yang terpesona akan keimutan Nina saat menghiburnya pun segera memasang tampang baik-baik saja, seolah-olah tidak pernah menangis. Sejujurnya dia tadi memang tidak menangis, sih....

"Iya, sayang. Kamu mau ngomong apa?"

"Kalau Nina adalah cucu Nenek, berarti Nenek harus adopsi Nina, dong? Terus beritahu suster panti, biar suster kasih dokumen-dokumen adopsi anak ke Nenek," ucap Nina.

Lien tampak berpikir, kemudian mengangguk setuju.

"Iya juga, ya. Oh, Asisten Fai, bisakah kamu urus dokumen adopsi Nina?"

Asisten Fai mengangguk mantap sambil tertawa lebar.

"Siap, Nyonya Besar."

Nina tersenyum senang. Akhirnya dia memiliki keluarga yang menerima dan menyayanginya. Meskipun mereka bukanlah keluarga aslinya, tetapi tidak masalah kalau dia menyayangi mereka seperti keluarganya sendiri, bukan?

'Oh iya!'

Nina tiba-tiba tersadar akan sesuatu.

Ia pun memanggil Asisten Fai, "Paman, saat tiba di panti nanti, tolong katakan pada suster kalau Nina ingin mengambil kunci kalung liontin Nina. Tolong juga bilang kalau Nina minta maaf karena gak bisa kasih salam perpisahan sama semua orang yang ada di panti."

Asisten Fai mengangguk.

"Baiklah, Nona Muda. Kalau begitu, saya permisi dulu."

Setelah kepergian Asisten Fai, Lien, yang statusnya saat ini adalah nenek Nina, menuntun Nina menuju kamar barunya.

Kamar yang akan ditempati Nina adalah kamar yang satu bulan lalu sudah ada atas permintaan sang nyonya rumah.

Lien membuka pintu kamar, kemudian memandang Nina yang terpukau dengan senyum lebar.

"Nenek tidak tahu kapan anak itu akan memberikan Nenek cucu. Jadi Nenek menyuruh para pekerja untuk membuat kamar ini, agar suatu saat nanti, cucu Nenek dapat tidur di kamar ini dengan nyaman," ucapnya dengan lembut. "Dan ternyata Nenek mendapat cucu yang cantik dan imut!"

"Nenek...."

Nina menatap Lien dengan mata berkaca-kaca. Dia sudah siap menangis sekarang.

'Padahal... kamar ini bukan untukku, tapi Nenek memberikan kamar ini padaku... dengan ramah....'

Lien, yang melihat mata berair Nina ditunjukkan padanya, berjongkok dan memeluk malaikat kecil itu.

"Jangan menangis. Kamu adalah cucuku sekarang, jadi kamar ini punyamu. Oke, sayang?"

"Hiks... iya, Nek, hiksss.... Huwaaaa!"

"Jangan menangis, sayang."

Lien membelai rambut pirang Nina sambil menepuk-nepuk punggung anak perempuan itu dengan lembut. Sudut bibirnya melengkung menjadi senyuman indah.

Dia tidak menyangka bahwa dia akan mendapat seorang cucu yang menggemaskan hari ini. Meskipun Nina bukan anak dari darah daging Lyon, tapi yang terpenting adalah bahwa ia memiliki seorang cucu.

'Meskipun begitu... Nina sangat mirip dengan Lyon. Sangat mirip. Aku harap mereka adalah sepasang ayah dan anak sungguhan,' pikir Lien dengan penuh harapan.

Sebagai seorang ibu, Lien tentu masih mengingat dengan jelas bagaimana rupa putranya ketika masih kecil.

Dan dia berpikir bahwa Lyon dan Nina sangat mirip, hanya saja ada beberapa perbedaan yang menonjol di antara mereka.

Lien mengamati bahwa Nina memiliki rambut pirang yang lebih kuning dari Lyon, dia juga menyadari bahwa sifat mereka berdua sangat bertolak belakang.

Nina seperti matahari kecil yang menarik semua orang untuk mendekatinya, sedangkan Lyon seperti gunung es yang sangat dingin dan indah, tapi tidak mudah didekati.

Tapi perbedaan seperti itu tidak bisa menyangkal fakta bahwa mereka berdua sangat mirip. Siapa pun yang melihat Nina dan Lyon bersama pasti akan mengira bahwa mereka adalah sepasang ayah dan anak.

'Namun, apakah Nina adalah anak Lyon?'

Sekarang Lien berpikir serius, kemudian memandang Nina yang sedang bermain boneka.

Apakah fakta bahwa mereka memiliki kemiripan yang sama mampu membuktikan bahwa Nina adalah anak Lyon?

'Kalau begitu, cara satu-satunya adalah tes darah.'

DNA seseorang bisa membuktikan bahwa orang itu memiliki hubungan darah kekeluargaan dengan orang lain.

'Tapi kalau hasilnya negatif, bagaimana? Aku tidak sanggup membayangkan kalau harapanku tentang mereka berdua hancur.'

Lien memejamkan matanya sejenak, berusaha mengusir isi pikirannya. Lalu ia membuka matanya dan memandang Nina dengan lembut.

'Yah, kalaupun Nina bukan anak Lyon, aku akan tetap menerimanya.'

"Nina sayang, Nenek akan siapkan makan siang. Bisa minta tolong panggilkan Lyon di kamarnya? Kamar ayahmu ada di seberang kamarmu," ucap Lien seraya berjalan menuju dapur.

"Oke, Nek!" balas Nina dengan riang.

Matahari mulai naik lebih tinggi, menandakan bahwa waktu siang hari dimulai dan sudah saatnya makan siang.

Nina berjalan keluar dari kamarnya dan menuju kamar Lyon, ayahnya saat ini. Ia bersenandung riang.

'Hehe... Ayah, ya? Aku punya Ayah! Ini hebat! Aku gak nyangka!'

Mulai dari hari ini hingga seterusnya, Nina resmi menjadi bagian dari anggota keluarga Van, dan tanpa dia sadari bahwa dia menjadi satu-satunya pewaris keluarga Van berikutnya setelah masa pewaris Lyon berakhir.

...↬°↫...

'Ini dia. Kamar Ayah!'

Nina sampai di depan pintu kamar Lyon, kemudian mengetuk pintu beberapa kali.

Tok, tok, tok.

Namun, hening.

"...."

Karena tak mendapat jawaban dari sang pemilik kamar, Nina memberanikan diri untuk memasuki kamar Lyon. Ia membuka pintu dengan hati-hati dan memasuki kamar.

'Uwahhh! Kamar Ayah sangat besar!!'

Terkagum dengan wajah berbinar, Nina melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa ada seseorang berambut pirang tertidur di sofa dekat jendela.

'Ayah...? Tidur di sofa?'

Nina berkedip bingung, kemudian menghampiri Lyon yang tertidur.

'Sangat bersinar....'

Ia memandang pria itu tanpa berkedip, kemudian memberanikan diri menyentuh pipi Lyon.

'Astaga, sangat lembut~!'

Lalu tanpa menyadarinya, Nina mencubit pipi Lyon dengan gemas sambil tertawa.

"Sangat lembut!"

"Lembut?"

"Iya! Sangat Lembut!"

"Suka, ya?"

"Iya! Nina suk―hik."

Seketika tangan Nina, yang mencubit pipi Lyon, berhenti bergerak.

'Tunggu, tunggu. Tadi siapa yang ngomong?'

Dia akhirnya menyadari bahwa tadi dia tak sengaja mengobrol dengan seseorang. Apalagi suara itu terdengar akrab... seperti dia pernah mendengarnya di suatu tempat....

"Nina."

'Tuh, 'kan. Aku tahu suara siapa ini....'

Menoleh ke arah sumber suara, Nina tersenyum kaku dan membalas, "I-iya... Ayah?"

Di matanya, Lyon, yang sudah bangun dari tidurnya, memandangnya tanpa ekspresi.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Ha... haha... itu...."

Nina tidak tahu harus menjawab dengan jawaban apa, jadi dia hanya tertawa canggung.

――――――――――――――

TBC!

1
N_A
HAI KAK IJIN PROMO YA.
HAI SEMUA MAMPIR YUK KE KARYA
"TERPAKSA BERSAMA" DAN "MAMA APA AKU PUNYA PAPA"
AKU TUNGGU
TERIMA KASIH 🙏
Arya Husni
Update cepat,saya menantikan episode seterusnya.Ceritanya memang 👍👍👍terbaik dn best😃😃^_^^_^^_^
Susi Ana
jempol hadir, mampir ya
IG: gabriella_mgd
Halo thorr 🤗

penulisannyaa rapiih 💕👍👍👍

Like sudah mendarat dengan selamat sampai siniii

Jgn lupa mampir yaa ke ceritaku

Makasihh 🙏🏻😁
Riana Nazwa
ceritanya bagus kak aku suka

bdw mampir juga ya kak di novelku judulnya[cinta segi tiga]
yutantia 10
semangat
salam dari CINTA DIWAKTU YANG SALAH
ditunggu mampir baliknya
yutantia 10
aku mampir thor
Sumarny
lanjuut
Winona Spica: makasih udh baca💗
total 1 replies
Nada
bisa ae lu Thor😂

semangat up ny Thor 😘
Winona Spica: makasih udh baca😆
total 1 replies
Nureti
hai kak 👋
sukses untuk karyanya

jangan lupa mampir di karyaku yang menceritakan cowok letoy yang selalu ditolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.

Terimakasih 🙏
Susi Ana
kereeeennnn...
Kanaya 🐺.
lanjut kak seru heheheheh..........,semangat ya kak aku dukung😁
Winona Spica: makasih dukungannya🤗😆
total 1 replies
Arimbi E.D
next thor ><
Winona Spica: ditunggu ya :D
total 1 replies
pecinta makanan
lanjut Thor
Winona Spica: ditunggu ya, makasih udh baca^^
total 1 replies
Gribelion
bisa luang kan waktu anda untuk membaca novel ku Hidden Feeling 😁✌️
emul
Lanjut thor...semangat
Winona Spica: ditunggu ya^^
total 1 replies
emul
Lanjut thor
Winona Spica: ditunggu ya^^
total 1 replies
emul
MERDEKA...semanagàt thor
Winona Spica: makasi^^ ditunggu ya~
total 1 replies
emul
Lanjut thor
Winona Spica: ditunggu ya~😘
total 1 replies
emul
Lanjut thor' ttp semangat
Winona Spica: oke, tunggu ya~
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!