NovelToon NovelToon
The Last Survivors

The Last Survivors

Status: sedang berlangsung
Genre:Zombie / Hari Kiamat / Horor
Popularitas:122
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Wabah misterius meluluhlantakkan peradaban dalam semalam, mengubah manusia menjadi makhluk haus darah yang tak kenal lelah. Di tengah kota yang sunyi dan penuh mayat hidup, sekelompok orang yang tak saling kenal terpaksa bersatu. Mereka bukan hanya harus bertahan dari serangan para mayat hidup, tapi juga menghadapi pengkhianatan, kelaparan, dan kenyataan pahit bahwa mereka mungkin adalah sisa-sisa manusia terakhir di muka bumi. Antara harapan dan keputusasaan, mereka harus memilih: bertahan hidup sendiri, atau mati bersama sebagai satu-satunya harapan umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Perjalanan Menanjak

Mobil melaju pelan membelah jalanan yang mulai sepi dari hiruk-pikuk manusia, namun jejak kekacauan masih terlihat jelas di mana-mana. Reruntuhan kaca, kendaraan yang terbengkalai miring, hingga noda gelap yang mengering di aspal menjadi saksi bisu betapa mengerikannya kejadian semalam. Natalia memegang setir dengan tangan mantap, matanya tak lepas memindai setiap bayangan di pinggir jalan, sementara Mega duduk di sebelahnya dengan senjata siap di tangan.

Di barisan depan, Danu dan Aldo memimpin jalan, memberi isyarat lewat radio genggam agar tetap menjaga jarak aman. Sesekali mereka berpapasan dengan makhluk yang berjalan terhuyung di kejauhan, namun Danu memerintahkan untuk tidak menembak kecuali terpaksa—suara ledakan peluru hanya akan memanggil bahaya yang lebih besar.

Saat mereka mulai memasuki jalur tanjakan menuju Puncak, kabut tipis mulai turun menyelimuti pepohonan rindang di sisi jalan. Suasana semakin mencekam, hening, seolah alam pun ikut berduka atas apa yang telah terjadi.

"Jalan di depan terhalang tumpukan mobil yang menabrak satu sama lain," terdengar suara Danu lewat radio, tegang namun tenang. "Kita harus turun dan memeriksa apakah masih ada celah untuk dilewati."

Mereka semua segera turun dengan sigap, membentuk barisan pertahanan. Pemandangan di hadapan mereka sungguh memilukan: deretan mobil penumpang, bus, hingga truk terjepit rapat satu sama lain, pintu-pintu terbuka lebar, dan tak ada satu pun penumpang yang tersisa—hanya barang-barang pribadi yang berserakan dan jejak darah yang mengarah ke dalam semak belukar.

"Berhati-hati," bisik Aldo. "Mereka mungkin masih bersembunyi di sekitar sini."

Saat mereka mulai memeriksa celah di antara tumpukan kendaraan, tiba-tiba terdengar geraman rendah dari dalam bus yang kacanya gelap. Perlahan namun pasti, pintu bus itu terdorong dari dalam, dan belasan sosok berjalan keluar dengan tatapan kosong haus darah, menghadang jalan mereka sepenuhnya.

Rafli segera menarik tali busur sekuat tenaga, matanya memicing membidik tepat di kening makhluk yang paling depan. Wusss! Anak panah melesat cepat, menembus pelipis mayat hidup itu hingga ia ambruk seketika tanpa suara.

Tanpa menunggu lama, Jodie langsung melepaskan tembakan beruntun. Dor! Dor! Setiap peluru yang melesat tak pernah meleset, merobek kepala mereka yang mulai bergerak mendekat dengan langkah berat. Namun jumlah mereka tak berkurang banyak, makin lama makin banyak yang muncul dari balik tumpukan mobil dan semak belukar.

Natalia menarik pelatuk senapannya sekali lagi—namun hanya terdengar bunyi kosong. Peluru habis.

Dengan cepat ia meletakkan senjata itu, matanya berputar liar mencari apa saja yang bisa digunakan. Ia melihat sebilah linggis yang tergeletak di dekat ban mobil yang terlepas, tak jauh dari sana ada potongan besi berkarat yang ujungnya runcing. Tanpa pikir panjang, ia menyambar potongan besi itu erat-erat.

Napasnya memburu, tangannya berkeringat dingin, namun tekadnya tak goyah sedikit pun. Saat satu sosok hampir menerjang Mega dari samping, Natalia melompat maju, dan dengan sekuat tenaga ia menghantamkan besi itu tepat ke pelipis makhluk itu hingga ia tersungkur.

"Kita harus mundur perlahan!" teriak Danu di tengah kekacauan. "Jangan biarkan mereka mengepung kita!"

Rombongan itu mundur perlahan, punggung saling bertemu punggung, tak membiarkan satu celah pun terbuka. Langkah kaki mereka hati-hati, sebisa mungkin tak menimbulkan suara, menjauhi gerombolan mayat hidup yang terus bergerak maju tanpa henti.

Rafli bergerak sigap di samping Mega dan Natalia, melindungi mereka dari arah samping yang rawan. Ia mendekatkan mulutnya tepat di telinga keduanya, berbisik pelan namun tegas agar tak terdengar yang lain:

"Jangan gunakan senjata api kecuali terpaksa sekali. Suara ledakan itu seperti panggilan makan siang bagi mereka. Semakin keras suaranya, semakin banyak yang akan berdatangan dari segala penjuru."

Danu yang mendengar samar kalimat itu seketika mengangguk paham. Selama ini ia bertanya-tanya, mengapa jumlah mereka tak pernah berkurang meski sudah ditembaki berkali-kali—ternyata setiap tembakan yang dilepaskan justru memanggil ribuan makhluk lain yang tadinya tersembunyi.

"Benar kata Rafli!" perintah Danu lantang namun rendah. "Gunakan senjata tumpul, panah, atau apa saja yang tak bersuara! Kita harus diam sepenuhnya!"

Mereka pun bergerak semakin hati-hati, mengandalkan kekuatan fisik dan ketangkasan untuk melumpuhkan siapa saja yang terlalu dekat, tanpa suara, tanpa menarik perhatian lebih banyak maut yang mengintai di balik kabut dan rerimbunan pepohonan.

Bersambung

1
Abyyasdemons
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!