NovelToon NovelToon
Kakak Ipar, I Love You But I Hate You

Kakak Ipar, I Love You But I Hate You

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Ibu Pengganti / Dijodohkan Orang Tua / Konflik etika / Tamat
Popularitas:112.2k
Nilai: 5
Nama Author: Teriablackwhite

Selamat membaca ...!

Navian Narendra Devandra seorang pengusaha sukses di bidang property, kehidupannya begitu sempurna, dia memiliki seorang istri yang cantik jelita seorang model papan atas, tetapi semua itu berakhir begitu saja, ketika istrinya Vianna Dewi memutuskan bercerai setelah melahirkan anaknya karena tidak ingin karirnya hancur karena tubuhnya menjadi jelek.

Dalam kekalutan, Navian dipaksa untuk menikah lagi dengan adik dari mantan istrinya yang bernama Tiara Dewi Violina, demi anaknya yang baru lahir tujuh bulan.

Apakah pernikahan mereka akan berujung cinta, atau malah kebencian yang akan terbangun?

Saksikan kisahnya hanya di sini, jika membaca tinggalkan jejak ya ges 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7

This is just fiction.

••••••••••••••••••••••••••

    Di balik kebisuan parameter malam, gelombang angin yang berpuntal-puntal di udara, riak angin berbisik di telinga Navian dan menarik pria bertubuh kekar itu untuk keluar dari area pagar tinggi rumahnya dalam keadaan yang berantakan.

    Empat kancing kemeja yang dia kenakan tanpa menggunakan kaos polos dalamnya, rambut yang berantakan karena dia sendiri yang membuat kekacauan dalam penampilannya, Navian menyibuk ke antara pagar dan jalanan beraspal yang sunyi.

     Sorotnya melesat pada punggung seorang gadis yang tampah lasat jauh di depannya, tepat di hadapan pohon besar yang dedaunannya berjatuhan karena angin yang bergelombang kencang di area sana.

    "Siapa itu? Tiara?" seru Navian mempertanyakan sosok siapa yang ada di sana. "Bukankah Tiara sudah pulang tadi," sambungnya lagi, kali ini pria itu berkacak pinggang dengan kokoh menarik tubuhnya untuk menyapa jalan beraspal di depannya.

    Tak lama dari itu sopir pribadi yang dia perintah untuk mengantar Tiara datang menghampiri Navian, wajahnya tertekuk, seperti sedang ada yang mengusik kenyamanan pria yang berprofesi sebagai sopir itu.

    "Maaf Pak Navian, nona Tiara menolak untuk diantarkan pulang tadi, katanya dia masih ada urusan yang harus diurus, jadi tadi dia masuk lagi ke dalam rumah dan setelah nyonya Vianna keluar, nona Tiara pun keluar, dia berlari keluar," jelas sopir tersebut, membuat wajah Navian membuntang, dahinya mengkerut.

    Wajahnya terlempar kasar ke arah sosok gadis yang menurutnya sangat mirip Tiara jauh di depannya, di sana sosok gadis tertelan gelap masih terduduk lemah di bawah, dan kini gadis itu mulai berdiri, dengan sempoyongan dia berjalan ke depan.

    "Tiara?"

    Tanpa menunggu lama, Navian berayun menganyam langkahnya hingga jaraknya terkikis ke dekat sosok gadis itu, belum habis dia menganyam langkahnya, gadis itu terlihat kembali terjatuh, dia meringis dan tertatih berusaha berdiri dengan kakinya sendiri.

    "Kamu tidak apa-apa?" tanya Navian yang masih meraba-raba siapa yang gadis itu.

    "Tidak apa-apa," sahut Tiara, dia memalingkan wajahnya.

    Gadis bermata kecoklatan itu tentu saja mengenali suara siapa itu, dia tak ingin Navian melihatnya dalam keadaan kacau dan payah seperti saat ini, Tiara berusaha melepaskan genggaman tangan Navian pada pinggangnya.

    "Tiara ...," panggil Navian lembut.

    Pria itu masih belum yakin jika gadis itu adalah adik iparnya, tentu saja jantung Tiara berdebaran, hatinya terkelu, sungguh dia tidak ingin Navian mengetahuinya, tetapi tubuhnya yang lemah tak bisa melakukan apapun selain menyembunyikan wajahnya.

    Tiara mendorong Navian menjauh darinya. "Bukan!" tegas Tiara, suara paraunya bergetar pilu.

    "Bohong! Tiara, lihat aku sini, apa yang terjadi?" tepis Navian yang tentunya mengenali suara Tiara, walau suara gadis itu sedikit berbeda karena suara paraunya mendominasi.

    "Tidak," tangkis Tiara, dia seret langkahnya dengan lemah, langkannya mendayu pilu.

    Navian Berlari sampai dia menjegal langkah Tiara, dada telanjangnya membuat Tiara tak bisa menunduk, lantas dia tertadah dan menatapi paras Navian yang mengkerut, sontak saja wajah Navian mengembang, dia terbelangah dengan tatapan yang melebar.

    "Tiara ...," seru Navian tak menyangka wajah gadis cantik itu begitu menyedihkan, memar biru dan bercak darah segar telah menguasai paras cantik Tiara, "kamu kenapa? Apa yang terjadi? Katakan Tiara!" paksa Navian rahangnya mengeras sembari mencengkeram lembut kedua lengan Tiara.

    Seketika tatapan Tiara kabur, samar-samar dia membaca setiap untaian kata yang terakit di mulut Navian, tetapi tidak ada yang bisa dia artikan dari semua perkataan Navian barusan, tubuhnya yang lemah telah merampas kesadarannya.

    Tiara kehilangan kesadarannya sesaat Navian menyelesaikan pertanyaannya, gadis itu terkulai lemas di dada Navian, membuat pria bermata kecil itu dilanda kelimpungan. "Tiara, Tiara bangun, Tiara ...." Navian menepuk pipi Tiara dengan rasa panik yang mencekalnya.

    "Tiara ...." Sekali lagi Navian berusaha membangunkan Tiara dari pingsannya.

    Namun, tubuh gadis cantik itu semakin lemah, dayanya lenyap bersamaan dengan kesadaran Tiara yang menghilang begitu saja, pria berparas rupawan itu panik, tanpa segan dia menaikkan tubuh sang adik ipar ke atas kedua lengan kekarnya.

    Navian berlari begitu tersera-sera membawa Tiara kembali ke rumahnya, pikirannya yang kalut karena masalah Vianna membuat jiwa Navian dilanda kepanikan yang benar-benar membuncah.

    "Panggilkan dokter cepat ...!" titah Navian setibanya dia di dalam rumah.

    Di dalam rumah itu ada sekitar tiga asisten rumah tangga yang bertugas membersihkan dan membereskan rumah serta menyiapkan makanan, serta dua satpam yang menjaga keamanan rumah itu kala siang bertandang hingga malam berganti dengan siang kembali.

    "Baik Tuan," sahut salah satu asisten rumah tangga yang berdiri di sudut ruang tengah.

    Sementara Navian terus mengayuh langkahnya dengan kecepatan yang dia mampu sampai dia tiba di salah satu kamar yang masih kosong, gegas dia terjunkan Tiara di atas ranjang di dalam kamar itu dengan lembut.

    "Tiara ... Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu," kernyit Navian gusar, dia menyugar rambutnya dengan frustasi seraya dia menggigit bibirnya berulang kali, napasnya terbuang kasar.

    Navian melangkah menggelintar di depan Tiara yang terbaring lemah, kemudian tangannya terjatuh ke bawah dan menggantung di pinggangnya, dia tarik kemejanya sampai kancing kemeja nomor limanya lepas dan terlempar terseret gravitasi masuk ke bawah kasur.

     Dalam keadaan panik, Navian keluar dari kamar di mana Tiara terbaring, dia menepi di koridor rumahnya, tubuhnya condong ke depan bersandar pada pembatas lantai di sana. "Cepat ambilkan air hangat dan seka Tiara, cepat ...!" titah Navian lagi.

    "Baik Tuan ...."

    Tak lama dari itu, salah satu asisten rumah tangga Navian berlari ke lantai dua dan mendekati Navian, dengan isyarat wajahnya Navian mengelokkan dagunya sebagai isyarat mempersilakan asisten rumah tangganya itu masuk ke dalam kamar Tiara.

    Gegas sang asisten rumah tangga itu berlari masuk ke dalam kamar di mana pintu kamar itu pintunya terbuka lebar, setelah wanita berumur itu masuk ke dalam kamar, gegas Navian menyelukkan salah satu tangannya ke dalam saku celana.

    "Halo Pa," sapa Navian yang ternyata melakukan panggilan telepon dengan ayah mertuanya.

    "Iya Nav, kenapa? Ada apa dengan Vianna?" jawab Ridzwan yang nampaknya terdengar tengah berada di luar, suara-suara mesin kendaraan saling bersahutan.

    "Itu juga yang ingin aku bicarakan dengan papa, mama, Vianna dan papi, mami juga, tapi ini bukan masalah itu, ini soal Tiara," balas Navian, napasnya terengah-engah.

    "Hah? Kenapa dengan Tiara?"

    "Aku menemukan Tiara di luar rumah dalam keadaan memar, lalu dia pingsan, sekarang aku sedang menunggu dokter untuk memeriksanya," jelas Navian masih dirundung kepanikan.

    "Memar? Ini pasti ulah Vianna lagi? Dan kenapa Tiara ada di dekat rumah kamu?"

    "Nanti aku jelaskan di rumah pa, papa ke rumah aja, Vianna tidak ada di rumah, dia pergi dari rumah, sepertinya dia pulang ke rumah." Napas Navian mulai mereda, dadanya yang berdebaran perlahan kembali normal.

    "Kenapa lagi itu anak, ya ampun ... Maafkan anak papa ya Nav, Vianna ini memang manja, beda dengan Tiara yang mandiri dan lebih dewasa."

    "Iya pa."

    Panggilan telepon terputus.

    Aroma malam semakin mencuat, dingin yang mengusik Navian memudar saat gelora kekhawatiran Navian semakin menggebu-gebu. Saat-saat seperti itu akhirnya dokter pribadi keluarga Devandra tiba, sang dokter berlari membaca setiap undakan yang dia pijaki dan berhenti kala bertemu dengan Navian.

    "Siapa yang sakit Pak Navian?" tanya dokter itu, napasnya terengah-engah.

    "Adik ipar saya, tolong periksa secepatnya," jawab Navian lega melihat kedatangan sang dokter.

    "Baik Pak," sahut dokter tersebut.

    Sang dokter terbenam masuk ke dalam kamar di mana Tiara terbaring lemah di atas ranjang, di sana asisten rumah tangga Navian baru saja menyelesaikan tugasnya, sorot Navian bermain di udara sebagai isyarat memerintah asisten rumah tangganya itu untuk keluar dari kamar Tiara.

    Gegas wanita yang diperkiran lebih tua dari Navian itu berlari keluar meninggalkan kamar Tiara, sang dokter segera menempatkan dirinya di samping Tiara, dia mulai memeriksa keadaan gadis bermata pipih itu, sementara Navian berada di belakang sang dokter memantau.

    Belum selesai dokter itu menyelesaikan pemeriksaan, derap langkah seseorang kembali mengusik perhatian Navian, pria berparas rupawan itu menyeret langkahnya keluar untuk memastikan siapa yang datang ke rumahnya.

    "Papa," seru Navian saat dia melihat Ridwan memijaki kakinya di atas keramik-keramik putih rumahnya.

    Tanpa berlama-lama lagi, pria bertubuh tegap itu menyusuri undakan, sedikit berlari mendekati Ridzwan yang masih berpenampilan rapi dengan jas dan dasinya, dengan napas yang tercekal Navian mengecup punggung tangan Ridzwan.

    "Assalamu'alaikum Pa," sapa Navian sopan.

    "Wa'alaikumussalam Nav," jawab Ridzwan, netranya mengedar dengan panik mencari sosok yang menjadi topik pembicaraannya tadi. "Di mana Tiara?" tanyanya kemudian seraya dia menghela napasnya.

    "Ada di kamar lain Pa, sedang diperiksa sama dokter," jelas Navian.

    Ridzwan mengangguk, kemudian dia menoleh pada Navian, melucuti penampilan Navian dari ujung kepala hingga ujung kaki, kancing kemeja yang terbuka dan satu bagian ada yang hilang, serta rambut kusut yang berantakan.

     "Kenapa kamu?" tanya Ridzwan heran, tak biasanya menantunya itu berpenampilan berantakan itu.

    "Hah?" gumam Navian, wajahnya memuncak dan mempertemukan sorotnya dengan tatapan Ridzwan.

    "Aku baru pulang Pa," jawab Navian menyugar rambutnya hingga rambut yang kusut menjadi sedikit rapi.

    Ridzwan kembali mengangguk. "Oh iya, kenapa Tiara ada di dekat sini, Tiara kan ngajar di TK area barat, kenapa bisa ke area timur sampai ke rumah kamu," tanya Ridzwan lagi penasaran seraya dia memijakkan kakinya di atas undakan yang membawanya langsung ke lantai dua.

...See you next part....

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
SemestaBernyanyi
mohon diperhatikann pemilihan katanya ya. "sekujur tubuhku sampai kehilangan nyawa" artinya dia sudah mati, padahal belum. kata "sampai" bisa diganti "hampir" atau bisa juga dipakai kata seolah-olah kehilangan nyawa
Teriablackwhite: Ah iya, sebenarnya itu sebuah kata kiasan, bukan kata sebenarnya, nanti aku revisi, terima kasih atas sarannya 🥰
total 1 replies
SemestaBernyanyi
apa maksudnya tersungku? apakah yang dimaksud tersungkur? jika benar tersungkur, maka tidak tepat jika dikatakan tersungkur ke belakang karena tersungkur artinya terjerembap dengan muka mengenai tanah
Teriablackwhite: Sekali lagi terima kasih kakk 🙏🙏🙏🥺
total 1 replies
SemestaBernyanyi
alangkah baiknya jika menidurkan/merebahkan bayi atau seseorang di tempat tidur jangan ditulis "menjatuhkan" karena konotasinya berbeda. lebih baik ditulis merebahkan atau meletakkan saja jika tidak ingin menyebut kata menidurkan.
Teriablackwhite: Oke kakk, terima kasih koreksiannya 🥰
total 1 replies
ANTU BELAU
+
Teriablackwhite: Terima kasih telah mampir membaca 😉 maaf, aku baru bisa buka akun ini lagi
total 1 replies
avfgh nnnnm bcxxc
ceritanya bagus bgt
Teriablackwhite: Terima kasih telah membaca hingga akhir 🥳🥰
total 1 replies
Amelia
aku mampir ya ❤️❤️
Bilqies
sampai sini dulu yaa Kaka, nanti lanjut lagi
Bilqies
aku mampir lagi kaak
mampir juga di karyaku yaa
Bilqies
hai kak aku mampir yaa

yuk mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"
Jangan lupa like, komen dan subscribe
Teriablackwhite: Terima kasih sudah mampir 😉
total 1 replies
NurKarni
ceritanya bagus hanya yang baca sedikit, mungkin outhornya kurang promosi
Teriablackwhite: makasih kak ... memang, aku kurang promosi, mau coba promosi lagi nanti, makasih, yaaa
total 1 replies
muhammad affar
semoga kandungannya baik2 saja thor
muhammad affar
kenapa sih semua kok kurang tegas sama viana dan emaknya
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
doubel up thor
Reni Anjarwani
doubel up
Teriablackwhite: okkeyy 😉
total 1 replies
Reni Anjarwani
doubel up thor
Mamah Kekey
mampir kk
Reni Anjarwani
doubel up
Reni Anjarwani
doubel up thor
desember
sdah ku duga navian akan menyadarinya
Teriablackwhite: Yups, kalau gak sadar, nih cowok hatinya agak bebal berarti
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!