Siapa yang tidak kenal dengan nama besarnya? Oh, tentu ini bukan sekedar sombong dan omong kosong, seorang Presdir wanita yang sangat terkenal itu kini tengah di lilit masalah besar, namanya Kiana.
Seorang bandar organ tubuh manusia kini menculik putri kesayangannya, Kiana yang super dingin dan sudah masuk mode iblisnya itu memerintahkan seluruh anak buahnya untuk mencari keberadaan putrinya.
Hingga sebuah kejadian mengharuskan Kiana bersabar, ayah biologis dari putrinya kini menemukan sang anak.
Ah, gila saja! Selama ini Kiana susah payah menyembunyikan anak itu dari umum dan pindah Negara demi menutupi semuanya.
Wah, ada apa sebenarnya dengan Presdir cantik ini ya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Melarikan Diri
"Kenapa kau selalu bertanya nama dulu si? Aku akan memberi tahumu, tapi...." Rachel mengangkat telunjuknya ke arah Aksen.
"Tapi..?" Beo Aksen, Rachel tersenyum dan melipat tangannya di dada.
"Kau harus menyebutkan nama itu di depan penghulu, kau bersedia?" Plak, ingin rasanya Aksen tepuk jidat. Gadis ini sangat mirip dengan Kiana.
"Tidak perlu, bila nama ibu mu bukan Kiana. Aku tidak akan mengatakan itu di depan penghulu." Aksen menyilangkan tangannya di dada. Berbeda dengan Aksen, Rachel justru tertegun dan menatap Aksen lekat-lekat.
"Kenapa? Kau melongo begitu, awas nyamuk masuk tuh ke mulut." Aksen terkekeh dan mengembalikan liontin itu pada Rachel.
"Mana cincinnya?" Pinta Rachel yang melihat Aksen justru mengambil cincin miliknya, Aksen nampak tidak perduli dan mengangkat pundaknya.
"Hei kembalikan!" Rachel memasang bogemnya, Aksen tersenyum penuh arti dia mengambil selimut dan memutarnya hingga membalut tubuh Rachel.
"Percuma kalo jago bela diri, tapi gak bisa gerak!" Ungkap Aksen tertawa setelahnya, Rachel tentu saja murka.
Dengan gerakan lincah, Rachel melepaskan diri dan menerjang tubuh Aksen. Keduanya terjatuh di atas karpet bulu dan tertawa bersamaan.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara pintu kamar Aksen terdengar di ketuk, Rachel dan Aksen saling bersitatap melempar kode. Aksen membuka pintu, nampak anak buahnya yang memasang tampang serius.
"Tuan, kami mendapatkan panggilan darurat dari Negara I. Tuan Aksan melaporkan bila terjadi kebocoran data penangkapan dan beberapa bukti menghilang. Selain itu, Rumah sakit tempat anda praktek kini mengalami beberapa masalah darurat." Ucap anak buahnya itu dengan penuh kekhawatiran.
"Aku mau ikut!" Teriak Rachel penuh semangat, Aksen tersenyum tulus dan menatap anak buahnya lagi.
"Aku akan menghubunginya langsung, siapkan keberangkatan kita malam ini juga." Perintah Aksen, anak buahnya mengangguk setuju dan menundukkan tubuhnya untuk pamit.
"Paman, aku mau ikut!" Rachel merengek dan memohon dengan sangat.
"Tidak, ini bukan untuk bertarung kok. Ini hanya di perlukan beberapa keahlian saja di bidang IT. Sebaiknya Rachel pulang saja, nanti bawahan ku yang akan mengantarkan mu." Ucap Aksen, Rachel menggelengkan kepalanya.
"Kenapa kamu kerasa kepala begini? Aduh, aku tidak mau bila di katakan menculik anak orang." Aksen akhirnya menunduk melihat mata Rachel yang berkaca-kaca, tidak tega memang. Tapi, Aksen juga tidak ingin melupakan tugasnya di Negara I.
"Bagaimana bila kamu meminta izin dulu sama Momy mu? Bila dia memberi izin, Rachel akan ikut denganku." Ucap Aksen lagi, Rachel menggelengkan kepalanya.
"Momy gak akan kasih izin! Dulu aku ingin ikut dengan Kakek saja dia tidak memberi izin. Aku mohon, wanita bernama Kiana itu sangat keras kepala Paman." Ungkap Rachel, mata Aksen membulat seketika.
"Siapa tadi?" Tanya lagi Aksen, Rachel menelan salivanya melihat wajah serius Aksen yang nampak sangat menakutkan.
"Kiana, itu nama Momy ku." Cicit Rachel, Aksen tersenyum penuh arti.
"Berapa usia mu?" Tanya lagi Aksen, Rachel akhirnya dapat tersenyum dan memeluk Aksen yang nampak di matanya di penuhi ketulusan.
"Enam tahun, aku dan adik kembar ku baru saja merayakannya dua bulan lalu." Ucap lagi Rachel, Aksen tersenyum simpul.
"Beri tahu aku apa saja yang kamu tahu tentang Kenzo?" Tanya lagi Aksen, Rachel menangkap amarah di mata Aksen yang sangat menakutkan.
"Aku juga tidak tahu pasti, adik kembarku yang mengetahui semuanya." Ucap lagi Rachel, Aksen tersenyum lembut dan memeluk Rachel dengan hangat.
Aksen kini yakin bila Rachel adalah benih yang dia titipkan pada Kiana saat itu, bila di hitung dengan baik Rachel memanglah putrinya. Namun dia tak habis pikir, bagaimana bisa ada orang lain yang mengatakan bila ada DNA yang sama dengan putrinya?
Semua ini agaknya tidak mudah di atasi, pasti ada sesuatu yang di luar jangkauan Aksen. Jelas bila Aksen tidak ingin membahayakan Kiana atau putra putrinya, tapi dia juga tidak bisa bertindak gegabah.
"Baiklah, ganti semua pakaian mu. Ingat kita adalah ayah dan anak, jangan pernah membiarkan orang lain tahu tentang ini." Ucap Aksen, Rachel mengangkat alisnya tidak mengerti.
"Di bagian tubuhmu sepertinya tidak di pasang alat pelacak bukan?" Tanya Aksen, Rachel mengerutkan keningnya dan dia ingat dengan senjata di bawah sepatunya.
"Sepertinya..." Rachel langsung memperlihatkan senjata miliknya dan Aksen akhirnya tersenyum lembut. Dia mengambil sebuah kaos.
"Buka pakaian mu, pakai ini sementara waktu." Aksen memberikan kaosnya, Rachel seperti orang yang tersihir dengan semua ucapan Aksen. Dia menuruti ucapan Aksen seraya berlari ke kamar mandi.
Aksen melihat ke arah jendela dan menatap ke bagian bawah gedung, nampak Kiana dan dua orang penjaga, serta bocah laki-laki yang sangat mirip dengannya.
Tangan Aksen tiba-tiba terkepal saat tak jauh dari tempat Kiana berada beberapa orang nampak tengah mengawasi wanitanya itu. Aksen sangat ingin memberi sedikit peringatan, tapi dia tidak mau gegabah.
"Begini?" Rachel nampak memakai kaos itu, dia ingin menarik tali sepatu miliknya untuk mengikat bagian perut, namun Aksen melarangnya. Rachel yang memang sudah hidup di dunia modis itu merasa sangat aneh dengan tampilannya saat ini.
Aksen memasukan pakaian Rachel pada sebuah tas sepatu, dia tidak bisa membiarkan hal buruk terjadi. Aksen menyemprotkan sebuah cairan penghilang sidik jari dan mengambil tas besarnya.
"Ayo berangkat!" Ucap Aksen menggenggam tangan putrinya. Rachel yang tidak pernah melakukan hal semacam ini hanya menuruti saja apapun ucapan Aksen.
Mereka keluar dari hotel melalui jalan belakang, Aksen benar-benar menyesal tidak menyiapkan persiapan. Aksen mengendarai salah satu mobil super mewah miliknya, dia melesat menuju ke Bandara.
Sepanjang perjalanan Aksen memberikan banyak intruksi pada anak buahnya yang masih di hotel untuk pergi tanpa di curigai, untunglah mereka tidak menggunakan identitas asli mereka saat melakukan administrasi hotel.
Karena hotel itu milik D'luna group, tentu saja mengorek identitas amat mudah di lakukan Kiana bila dia mau. Aksen juga meminta anak buahnya untuk mengacaukan seluruh cctv di hotel tersebut.
Aksen membuang pakaian Rachel di pinggir jalan dan langsung melesat ke Bandara setelah semuanya beres, Aksen langsung membawa kendaraanya masuk ke dalam sebuah pesawat tempur yang memang sudah di sediakan.
Aksen keluar dari mobilnya dan melesat ke bagian dalam pesawat itu, tangannya tak henti menggenggam tangan Rachel.
Tak berapa lama kemudian seluruh anak buahnya juga datang dan melaporkan situasi yang terjadi di hotel tersebut, di hotel itu terjadi kekacauan.
"Lantas, beberapa orang kami tugaskan untuk melindungi Nyonya Presdir dengan cara yang anda katakan sebelumnya." Ucap anak buah Aksen, Aksen mengangguk dan merekapun berangkat ke kota S di Negara C.
sungguh mantap sekali 👍👍
teruslah berkarya dan sehat selalu 😘😘
makasih kak thor buat cerita nya