Sebuah ujian kesulitan hidup, memaksa seorang pria bernama Rudi memilih menempuh jalan yang salah. Sebuah iming-iming kekayaan di depan mata membuatnya gelap mata. Dengan mengikuti sebuah ajakan seseorang, membuatnya terikat dengan perjanjian ghaib. Dimana dia harus rela kehilangan anak-anaknya untuk di jadikan tumbal agar memperoleh kekayaan dengan cara instan. Hingga akhirnya ia juga harus kehilangan istrinya tercinta. Pada akhirnya, sebuah kejahatan sekecil apap pun itu, akan mendapatkan balasan dari apa yang telah di perbuatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Endah puji astuti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surti Hamil
Aku memutuskan untuk jauh lebih berhati-hati agar tak menimbulkan rasa curiga pada Surti.
“Bu, Bapak mau ke gudang dulu.” Pamit ku pada Surti yang tengah sibuk dengan adonan kuenya. Surti memang memiliki hobi untuk membuat aneka menu yang ia contek dari internet.
“Ya, Pak. Jangan sore-sore pulangnya. Ibu mau bikin kue buat Bapak.” Jawabnya membuatku tersenyum bangga.
Surti sudah tak mengungkit kembali suara keributan di gudang. Apalagi sebelumnya aku sempat mengajak Surti untuk membuka gudang dan masuk bersamanya. Tentu saja sebelumnya sudah ku singkirkan terlebih dahulu gentong dan juga peralatan yang ku gunakan untuk proses pesugihan.
“Tuh, kan, Bu. Tidak ada apapun. Pasti tikusnya sudah pergi.” Ucapku pada Surti yang berjalan di belakangku.
“Iya, ya, Pak. Kok sudah tidak ada. Ibu Cuma khawatir kalau nanti tikusnya mati di dalam dan rumah kita jadi bau busuk.” Ucapnya. Untung saja aku berhasil menepis kekhawatiran dari Surti dengan berjanji akan mencari lagi suatu saat jika memang masih ada tikus di dalam gudang. Aku menuruti permintaannya untuk memasang perangkap guna menjebak tikus dengan jebakan jaring kawat.
*
Aku menghisap dalam-dalam rokok yang ku dapat dari salah seorang pemulung yang menyetorkan hasil memulung kepadaku.
“Makasih banyak, Pak.” Ucapku sambil menerima sebatang rokok dari Pak Kardi.
“Sama-sama, Pak. “ jawabnya lalu duduk tak jauh dari tempatku duduk. Meskipun aku berusaha ramah dan membersamai mereka semua, namun para pemulung rupanya masih memiliki rasa enggan untuk berdekatan dengan ku. Katanya takut aku merasa terganggu dengan bau aroma tubuh mereka yang seharian bekerja berkeliling mencari rongsokan di tumpukan sampah.
“Duduk sini saja, Pak Kardi.” Panggilku. Sedangkan Pak Kardi menolak dengan halus.
“Pak, maaf jika saya lancang dan salah.” Tiba-tiba saja Pak Kardi membuka suara.
“Ada apa, Pak?”tanyaku.
“Kemarin saya sempat lihat Bu Surti. Sepertinya lagi hamil, ya?” Tanya Pak Kardi membuatku terperanjat.
“Pak Kardi lihat istri saya di mana?” aku seolah mendapat angin segar mendengar cerita Pak Kardi.
“Di pasar, Pak. Tapi maaf jika saya salah.” Jawabnya dengan wajah yang terlihat tak nyaman.
“Memangnya kenapa kok minta maaf? Saya malah belum tahu kalau istri saya hamil. Coba nanti saya tanyakan.” Aku pun penasaran dengan cerita Pak Kardi. Hatiku merasa berbunga-bunga, seperti mendapat angin segar. Pak Kardi melihatku yang tersenyum setelah mendengar ceritanya.
“Selamat, ya, Pak. Semoga saja benar. “ucap Pak Kardi lagi. Aku mengangguk dan terus tersenyum bahagia.
“Saya tahu bagaimana perasaan, njenenengan.” Ucapnya lagi yang hanya ku jawab dengan ucapan terima kasih Sudah memberikan tahu ku soal kehamilan Surti.
Sudah hampir empat bulan Surti terlihat berbeda. Dia sangat suka makan dan rajin memasak. Apalagi kini Surti terlihat lebih cantik dari biasanya. Kata orang, wanita akan kelihatan lebih cantik jika sedang mengandung anak perempuan.
“Aahhh, mau laki-laki atau pun perempuan aku tidak peduli. Yang pasti, aku akan semakin kaya sebentar lagi.”gumamku sambil bersenandung di sepanjang perjalanan.
*
Sesuai janjiku pada Surti, hari ini aku memilih untuk pulang lebih awal. Tak lupa. ku telepon istriku untuk menanyakan apa yang ia inginkan untuk ku bawakan pulang sebagai oleh-oleh untuknya.
"Tidak usah, Pak. Ibu sudah buat biskuit dan bolu untuk kita." jawabnya di seberang telepon.
"Baiklah, Bu." bergegas ku lajukan kendaraan ku sedikit lebih cepat. Tak sabar rasanya aku ingin cepat tiba di rumah dan menanyakan sendiri pada Surti tentang kabar yang di berikan oleh Pak Kardi.
Aku menepikan mobilku di sebuah warung bakso langganan Surti. Niatku membelikan bakso untuk kami makan bersama di rumah nanti. Itung-itung sebagai hadiah atas kehamilannya kali ini. Meskipun aku belum pasti benar atau tidaknya berita tersebut, namun setidaknya aku akan berusaha lebih untuk meminta Surti kembali hamil dalam waktu dekat. Selain itu, Surti doyan sekali dengan jajanan mengenyangkan yang satu ini. Seingatku, sudah lumayan lama kami tak makan bakso ini. Biasanya Surti akan merengek padaku agar kami sekeluarga pergi makan di luar meskipun hanya jajan bakso saja.
"Bu." panggilku setelah memarkirkan mobil di garasi rumah.
Aku sudah tan pernah lagi mengucap salam saat pulang maupun pergi dari bepergian. Bahkan aku sudah tak pernah lagi melakukan ibadah pada Tuhanku yang katanya Sang pemberi rejeki itu. Toh selama ini hidupku selalu miskin dan terhina.
"Mbok ya ucap salam dulu, Pak, kalau mau masuk ke rumah." protes Surti saat menyambut ku pulang. Aku hanya tersenyum mendengar ucapan Surti.
"Maaf, Bapak lupa. Saking kangennya sama Ibu di rumah." elakku memberikan alasan.
Akh meletakkan bungkusan yang ku bawa di meja begitu saja. Bergegas ke belakang dan mengambil mangkok serta sendok dan kembali dengan cepat ke ruang tengah. Namun Surti malah berlari ke kamar mandi dan menabrak pundakku yang sedang berjalan.
"Hhoooeeekkk... hooeeekkk... "
Terdengar suara Surti yang sedang memuntahkan sesuatu di kamar mandi. Dengan cepat aku menghampiri dan berniat untuk melihat kondisinya. Sayangnya, pintu kamar mandi di kunci dari dalam.
"Bu." panggilku sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi. Dari dalam, masih terdengar Surti yang berusaha mengeluarkan isi perutnya. Suara gemericik air menyamarkan pendengaranku.
"Bu, kamu sakit?" aku menginterogasi Surti yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak pucat. Surti menggeleng.
"Pak, maaf. Bapak makan saja baksonya. Perut ibu mual." ucapnya sambil menunjuk ke bungkusan bakso yang sudah keluar dari dalam kantong kresek.
"Loh, memangnya kenapa? Ibu sakit? Ayo kita periksa ke Dokter." ajakku berusaha memapah tubuh istriku. Namun di tolak nya.
"Ibu mau istirahat saja di kamar. Nanti ilang sendiri kok, Ibu hanya pening sedikit." ucapnya sambil berlalu ke dalam kamar.
*
"Bu, masih pusing?"
Aku menghampiri Surti yang sedang terbaring di ranjang. Aku yang kekenyangan akibat makan dia porsi bakso hanya duduk di tepi ranjang.
Surti menggeleng. Bibirnya tersenyum, manis sekali. Tak sabar rasanya aku menanyakan kebenaran berita yang di ceritakan oleh Pak Kardi. Namun, aku harus mencari cara agar Surti tak tersinggung dengan pertanyaan ku.
"Pak." panggilnya membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, tersenyum pada Surti dan membelai lembut kepalanya.
"Ayo Bapak antar Ibu ke Dokter." bujuk ku. Siapa tahu dengan membawa Surti ke Dokter makan akan ketahuan apa penyebab Surti mual muntah saat melihat bakso. Apakah Surti ngidam?
Surti menggeleng.
"Ibu baik-baik saja, Pak."
"Ada yang mau Ibu beritahu pada Bapak." ucapnya tiba-tiba. Surti duduk dan bersandar pada tepi ranjang.
"Ada apa, Bu?" tanyaku berusaha menahan degub jantung saat Surti meremas jemariku dan menatapku tajam.
khilaf tp diterusin,cinta tp mendua..
bullshit 😡
🥲 iisshh lama nyaa terungkap ,kasihan buk Surti 🥺