Syahira Nazira gadis berusia 21 tahun dijodohkan dengan anak pemilik pondok tempat dia menuntut ilmu agama tanpa sepengetahuan darinya.
Namun, dia tetap menjalankan perjodohan tersebut karena tidak mau durhaka dengan orang tuanya. Syahira yang berniat menikah dengan orang yang dia cintai harus menguburkan harapan itu dan mencoba menerima apa yang orang tuanya pilihkan untuknya.
Zaidan pria berusia 28 tahun, juga ikut berkorban untuk bisa melihat orang tuanya bahagia. Zaidan yang baru kembali dari Mesir harus mengorbankan perasaannya sendiri dan menerima permintaan kedua orangtuanya.
Menikah tanpa ada rasa cinta sama sekali bahkan tidak saling kenal satu sama lain. Bagaimana sikap keduanya setelah menikah?.
Ikuti terus!!!
Dukung terus karya remahan author.
berupa! Like, komen, vote, gift, and start. sebagai motivasi dan juga dukungan dari kalian semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umul khaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
Keesokan paginya sesuai dengan apa yang Syahira mau, setelah sarapan mereka akan pulang ke pondok Kiyai Ahmad.
Pagi ini juga semua keluarga Syahira sudah berkumpul termasuk Usman yang datang pagi-pagi, rencananya mereka juga akan pergi mengantar Syahira ke pondok.
Syahira satu mobil bersama dengan suaminya dan keluarga Syahira pergi dengan mobil yang dikendarai oleh Usman.
Sepanjang perjalanan tidak banyak yang dibicarakan kedua pasangan halal itu, mereka sibuk dalam pikiran mereka masing-masing. Perjalanan yang cukup panjang membuat Syahira mengantuk dalam mobil.
"Sayang, udah sampai bangun ya!" Ucap Zaidan membangunkan Syahira yang masih lelap dalam tidurnya.
Setelah dibangunkan tapi Syahira tidak kunjung bangun membuat Zaidan berinisiatif menggendong Syahira kedalam rumah.
Orang tua Syahira yang melihat hal itu merasa sangat bahagia, ada perasaan lega di hati mereka melihat anak perempuan satu-satunya diperlakukan dengan baik oleh suaminya meskipun mereka baru saling mengenal satu sama lain. Zaidan yang begitu perhatian kepada Syahira, begitu juga dengan kedua orang tua Zaidan yang ikut senang melihat hal itu, orang tua mana yang tidak senang ketika melihat anak-anak mereka saling menjaga dan saling menyayangi satu sama lain.
"Sekarang kamu percaya kan sama Abah, Abah tidak akan membuat adik kamu jatuh pada laki-laki yang tidak baik"sindir abah Mansyur pada Usman yang protes sebelumnya karena menikahkan Syahira begitu cepat dengan laki-laki yang tidak mereka kenali.
"Maaf, Bah" balas Usman tersenyum.
"Assalamualaikum, Abah, Ummi" ucap Zaidan kepada orang tuanya yang menyambut kedatangan mereka.
Usman yang melihat betapa repot-nya Zaidan menggendong adiknya tidak tega dengan adik iparnya, inilah yang membuat Usman akan kangen dengan adik satu-satunya, sikap manja Syahira ada rasa iri dengan Zaidan karena berhasil menggantikan perannya menjaga Syahira. Tapi, dibalik semua itu Usman mersa lega karena Zaidan sangat lembut memperlakukan adiknya.
Usman mendekat untuk membangunkan Syahira karena tidak enak dengan kiyai Ahmad, namun dicegah oleh Zaidan tidak mau mengganggu sang istri tidur.
"Nggak papa,Bang. Aku bawa ke kamar aja, mungkin Syahira kelelahan apalagi tadi jalanan lumayan macet" ucap Zaidan pada Usman.
Saat Zaidan membawa Syahira ke kamarnya,para orang tua merasa sangat bahagia karena kedua pasangan yang mereka jodohkan sam-sama menerima satu sama lain.
"Alhamdulillah, mereka sudah saling menerima satu sama lain. Semoga secepatnya kita bisa menggendong cucu" ucap kiyai Ahmad dan disetujui oleh orang tua Syahira tidak terkecuali Usman yang juga ikut bahagia melihat adiknya begitu banyak yang sayang.
"Aamiin"sahut semuanya.
Di dalam kamar yang berdenominasi warna putih bersih, Zaidan meletakkan pelan Syahira di atas kasur miliknya yang sudah lama tidak dia tempati, Zaidan sudah tiba di tanah air beberapa hari sebelum di minta untuk datang ke rumah Syahira tapi, ia menginap di hotel karena ada beberapa kerjaan yang harus dia selesaikan juga.
Selama ini Zaidan memeng berada di Mesir tapi ia mempunyai usaha di tanah air yang dia kelola sebelum pergi meraih gelar di sama, aidan sudah mandiri sejak ia sekolah SMA, bahkan sudah berkecimpung d dunia bisnis yang ia bangun bersama sahabatnya.
Dan hari ini adalah pertama kalinya ia kembali masuk tapi bukan seorang diri, ada perempuan yang sudah halal dan menjadi tanggung jawabnya di hadapan Allah SWT. Bukan saja untuk membuat orang tuanya bahagia.
Setelah membenarkan posisi tidur sang istri, Zaidan melepas cadar yang digunakan Syahira memandangnya sedikit lama dan tersenyum. Ingin menyentuhnya tapi ia tidak mau dibilang mengambil kesempatan dalam kesempitan meskipun meraka sudah halal.
Sebelum keluar dari dalam kamar, Zaidan menyempatkan membenarkan selimut yang menutupi Syahira dan mencium kening istrinya terlebih dahulu.
Zaidan meninggalkan Syahira sendirian di kamar sementara dirinya bergabung bersama orang tuanya dan mertuanya di bawah.
"Maaf sedikit lama" ucap Zaidan duduk di samping orang tuanya tidak lupa senyum manis yang selalu menghiasi wajah tampannya.
"Nggak papa, Nak. Seharusnya kami yang harus meminta maaf karena Syahira merepotkan nak Zaidan" ucap kiyai Mansyur orang tua Syahira.
"Sama sekali tidak merepotkan, Bah. Sekarang Syahira adalah istri saya, jadi sudah kewajiban saya membuat ia merasa nyaman berada di dekat saya" balas Zaidan tulus.
"Syahira memang seperti itu, dia sangat manja. Tolong jaga Syahira untuk saya, jangan pernah memukulnya kasih tau dengan lembut padanya pasti dia akan mengerti" ucap Usman.
"Bang Usman tenang saja, meskipun kami baru kenal satu sama lain tapi saya akan selalu menjaga amanah yang kalian titipkan kepada saya. Sebisa mungkin saya akan menjaga amanah itu." balas Zaidan sungguh-sungguh dengan ucapannya.
Setelah bercengkrama cukup lama, keluarga Syahira berpamitan pulang. Bersamaan dengan Syahira yang baru bangun dari tidurnya.
"Abah,ummi, abang mau pulang?" Tanya Syahira berada di anak tangga terakhir berlari ke pelukan abahnya,
" Udah bangun, Abah dan yang lain mau pulang dulu. Jaga diri baik-baik jangan ngerepotin suami kamu, kasian tau ia harus gendong kamu" ucap abahnya Syahira membalas pelukan anak perempuannya.
"Udah nggak usah manja lagi, sekarang kamu udah punya suami. Nggak malu apa sama mertua kamu!" Sindir Usman.
Syahira yang baru menyadari hal itu melepaskan pelukannya, menundukkan wajahnya merasa malu dengan kiyai Ahmad pemilik tempatnya menuntut ilmu agama karena ketauan bermanjaan pada abahnya.
"Kami mengerti, wajar saja anak perempuan manja sama ayahnya" balas ummi Aminah orang tua Zaidan.
" Maaf" ucap Syahira begitu sopan.
"Nggak papa, sayang!" ucap ummi Aminah lagi.
Setelah orang tua dari Syahira sudah pulang, Syahira meminta maaf kepada mertuanya karena ketiduran. Setelah itu, Zaidan meminta izin pada orang tuanya untuk ke kamar karena jujur dia juga cukup lelah menyetir.
"Kenapa tadi Abi nggak bangunin aku aja tadi?" Tanya Syahira ketika merak sudah ada di dalam kamar berdua.
"Abi udah bangunin tadi, tapi isti abi ini tidurnya sangat lelap suaminya bangunin aja nggak sadar" balas Zaidan memejamkan mata di tempat tidur.
"Abi jangan tidur lagi, sebentar lagi dhuhur" ujar Syahira mengingatkan Zaidan.
"Kalau begitu ke sini dekat abi, ngapain kamu duduk di sana!" ucap Zaidan di tempat tidur.
Syahira beranjak dari sofa dan duduk di tepi tempat tidur sesuai apa yang dikatakan suaminya. Zaidan tersenyum senang, Syahira yang sangat patuh dan juga lembut membuatnya begitu bahagia dan merasa beruntung bisa menikahi perempuan sebaik istrinya.
Meskipun umur Syahira jauh di bawahnya, tapi bisa bersikap dewasa. Begitu Syahira duduk di tepi tempat tidur, Zaidan mengubah posisi tidurnya berada di pangkuan sang istri. Awalnya, Syahira ingin protes tapi melihat wajah Zaidan yang terlihat kelelahan membuatnya tidak enak.
"Kamu nggak keberatan kan abi tidur di pangkuan kamu?" Tanya Zaidan mendongak menatap wajah cantik Syahira, Syahira hany mengangguk dan memperlihatkan senyuman di wajahnya sebagai tanda tidak keberatan.
Zaidan selalu meminta Syahira untuk melepaskan cadarnya saat meraka hanya berdua saja seperti saat ini.
Perlahan tangan mungil Syahira mengelus pelan rambut Zaidan yang ada di pangkuannya dan Zaidan begitu menikmati sentuhan tangan sang istri yang mengelus kepalanya.
"Sayang, kapan kamu siap menjadi istri Abi sepenuhnya?" Tanya Zaidan.
Zaidan merasa hubungan keduanya sudah cukup baik, di tamba merak sudah menerima satu sama lain. Sebagai pria dewasa Zaidan juga memiliki naf su terhadap lawan jenis apalagi mereka sudah sah.
Syahira merasa bersalah dengan Zaidan yang begitu perhatian dan tidak pernah memaksanya.
"Maaf, tapi Syahira tidak bisa untuk sekarang!" balas Syahira. Syahira bisa mendengar helaan nafas panjang keluar dari suaminya.
"Aku lagi halangan, Bi!" Sambung Syahira tersenyum.