Aisyah, seorang gadis yang memilih berhijrah dan menutup wajah nya dengan selembar kain (cadar) semenjak SMA. Gadis yang membuat banyak laki-laki ingin menikahi nya, namun lagi-lagi ditolak oleh nya.
Kemudian, hatinya terperangkap oleh seorang pemuda bernama Fatih, yang ternyata adalah dosen baru di Kampusnya. Meneguk manisnya rumah tangga, hingga akhirnya harus berpisah dengan Fatih suaminya dengan cara yang sangat menyakitkan.
Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di novel "MADU" ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Kegiatan perkuliahan tambahan bahasa arab berjalan lancar. Tidak berisik seperti biasanya. Ini karena mahasiswi pada fokus melihat ustadz Fatih namanya, dosen yang sedang menjelaskan matakuliah tambahan bahasa arab. Mereka tidak fokus dengan apa yang diajarkan oleh ustadz Fatih. Melainkan mereka fokus dengan ketampanan wajah ustadz Fatih. Maklum, dikelas paling banyak mahasiswinya dari pada dengan mahasiswanya.
"... Syah... gue masih shock,". Bisik Azizah.
"Kamu kenapa si Zah?. Lihat ustadz Fatih seperti lihat buronan saja,". Ujarku.
"Bukan begitu Syah, gue belum sempat cerita ke elu. Tadinya gue mau cerita kejadian dipasar jajan kemarin sore sama elu. Tapi gue lihat, dari pagi elu ngelamun terus. Gue jadi ikut lupa,". Jelasnya.
"... Kejadian?. Kejadian apa si Zah?. Perasaan kemarin sore biasa saja. Ngga ada masalah atau kejadian apapun,". Jawabku bingung.
"... Syah, waktu gue antri beli jajanan, gue kan suruh elu buat duduk dan nungguin gue. Nah dari kejauhan gue liat itu si bapak, lagi memperhatikan elu dari jauh,". Jelasnya sambil bisik-bisik.
".. Kamu tuh sukanya ngarang aja Zah. Lagian ngapain ustadz Fatih memperhatikan aku. Kenal aku juga engga. Ketemu juga baru sekarang Zah. Kamu hanya salah liat orang. Kalaupun bener ustadz Fatih yang kamu liat kemarin sore di pasar jajan, mungkin bukan aku yang sedang di perhatikan sama dia ..,". Jelasku pada Azizah yang masih melongo.
"... Tapi gue berani sumpah Syah, yang gue liat bener pak Fatih, kedua kalinya dia itu beneran memperhatikan elu dari jauh. Elu nya aja ga nyadar karena terlalu asyik duduk sambil ngelamun,". Jawab Azizah meyakinkan aku yang sedari tadi masih tidak percaya.
"Tapi dia tampan sekali Syah.. MasyaAlloh, indahnya ciptaan-Mu ya Allah...,". Gumam Azizah melanjutkan ucapannya.
Aku hanya geleng-geleng kepala dengan apa yang dilakukan Azizah. Termasuk dengan apa yang baru saja dia ceritakan padaku. Aku masih tak percaya, dan tidak menganggap serius.
Namun aku sesekali menyelidik dengan melirik kearah ustadz Fatih. Kalau dari jauh dia memerhatikanku, seharusnya dikelas dia lebih sering memperhatikanku, karena jarak yang sangat dekat dan terjangkau. Tapi ternyata, dia sama sekali tidak memerhatikanku. Dia seperti dosen lainnya. Tidak ada yang mencurigakan seperti yang Azizah ceritakan padaku.
Aku merutuki diri sendiri. Kenapa harus menyelediki segala. Astaghfirullah. Aku mencoba untuk fokus dengan apa yang di ajarkan oleh ustadz Fatih.
Pukul 14:30, perkuliahan bahasa arab selesai. Ustadz Fatih mengedarkan pandangan ke semua Mahasiswa, setelah berhenti pada tempatku, aku langsung menunduk. Entah kenapa sangat malu.
"Zah... Kekantin lagi yuk. Aku lapar,". Tawarku.
"Hahaha... Sejak kapan kamu jadi suka lapar begini ukhtyku....,". Ledeknya.
"Serius ini, aku lapar bangat. Aku pengen makan mie nyemek bu Yati,". Jawabku sambil nyengir.
"Yaudah ayok,".
#
"... Gue mengantar Aisyah untuk makan di kantin, dalam hati gue bertanya-tanya. Kenapa tadi si bapak Fatih sama sekali tidak memperhatikan Aisyah seperti yang waktu di pasar jajan?. Aneh, dari jauh memerhatikan, giliran dekat malah cuek. Atau dia belum menyadari kalo itu perempuan yang dia perhatikan?. Tapi ngga mungkin, kan ada gue. Pasti tau lah kalo itu Aisyah ...,". Pikirku.
".... Zah, kamu kenapa melamun?. Ayok pesan makan juga,". Sergah Aisyah.
".. Engga ah, gue minum aja. Pesenin gue es cappucino ya Syah. Gantian elu yang pesenin gue. Gue pengen duduk duluan. Ueheh,".
"Serius ga mau makan?, enak loh,". Tawarnya lagi.
"Serius lah Syah, gue tunggu ditempat tadi yah, dimeja dekat pohon itu,". Ucap gue pada Aisyah. Gue lantas pergi meninggalkan dia untuk memesan makanan.
"Okee,". Jawab Aisyah.
Sambil nunggu Aisyah, gue buka game favorit. Ngilangin bosen dan penat. Lumayan refreshing simpel dan mudah. Tanpa keluar banyak duit pastinya.
"Zah..., fokus amat main game nya,". Aisyah datang mengagetkan ku.
"Haha... diem ih, gue lagi fokus. Nanti kalah lagi,". Jawabku.
"Yaudah, aku makan duluan ya. Itu es cappucino kamu,".
"Iya sok, selamat makan. Iya nanti gue minum Syah. Tengkyuh yah,". Jawabku padanya.
"He'em sama-sama,". Jawab nya.
Heran, Aisyah sama sekali ngga memikirkan tentang pak Fatih. Dia asyik makan gitu aja. Gue malah jadi kepikiran terus. Hadehh..., kurang kerjaan banget gue. Aisyah emang paling cuek masalah laki-laki. Dibilang nggak normal, dia normal. Dibilang normal tapi kaya nggak normal. Hmmm...
"Syah... lu ga ada niatan buat buka amplop tadi?,". Tanyaku penasaran, berharap dia mau buka. Gue lumayan kepo juga sama isinya.
"Hah?, surat? surat yang mana zah?,".
"Ya ampun, yang tadi gue kasih ke elu Syahh. yang dikasih dari kaka kelas fakultas agama itu loh, pas elu ke koperasi,". Jelas gue mengingatkan. Heran gue bertambah, baru tadi Aisyah sudah lupa aja.
"Oh iya iya aku inget. Heheh... maaf-maaf aku beneran lupa,". Jawab Aisyah sambil cengengesan.
"Jadi?, ga mau dibuka?,". Tanyaku lagi.
"Bentar, aku ambil dari tas,".
"Oke,". Jawabku.
"Nih surat nya, kamu buka aja Zah. Aku mau lanjut makan lagi. Hehehe,". Asiyah menyodorkan amplop coklat besar, gitu aja ke gue. Serasa dia tidak ada penasarannya sama sekali dengan isi amplop itu, atau karena ini udah kesekian kalinya dia dapat amplop dari laki-laki yang tidak di kenal?. Entah...
"Buset... elu ga pengen buka Syah?, ga pengen tau isinya?, dan ga penasaran gitu?,". Gue bertanya banyak padanya. Berharap dapat jawaban yang memuaskan darinya.
"Engga, biasa aja,". Derrr....., rasanya fix ini anak satu emang konyol dan super aneh.
"Haha.. gausah bingung gitu mukanya Zah. Biasa aja kali. Gue jadi merasa kaya orang aneh, udah buka aja, dan kasih tau ke aku ya isinya apa. Hahaha,".
Seperti nya Aisyah menangkap gelagat aneh dan heran dari wajahku. Sesuai perintah dan komando dari dia. Aku langsung membuka amplop besar warna coklat itu. Ku lepas ikatan tali pengikatnya. Dan pelan-pelan mulai menarik beberapa lembar kertas didalamnya.
Betapa terkejutnya aku, isinya adalah biodata ta'aruf lengkap dengan foto, dan surat lainnya.
"Syah.... dia ngajak elu kenalan, ngajak elu nikah. Gilaa.....,". Gue shock.
"Hah?, apaan si Zah? emang apa isinya?,".
"Isinya tuh, elu liat sendiri, biodata ta'aruf, foto lengkap dengan surat lainnya Syah,". Gue sodorkan surat-surat itu padanya.
"Oh yaudah. Taruh lagi aja Zah ke amplopnya,".
"Hah?, elu sama sekali ngga terkejut Syah?. Kok elu biasa aja si, ngga penasaran gitu?,". Tanya gue penuh dengan rasa heran.
"Engga Zah. Udah biasa aja kali ah,". Jawabnya datar.
"Ya ampun Zah, dia ngajakin nikah. Gue aja ga pernah ada yang ngajak nikah. Andai saja yang kirim amplop itu mas Dani buat gue. Auto teriak dan loncat-loncat gue, atau mungkin bakal lari-lari keliling lapangan kalo gue,".
"Haha... yaudah itu buat kamu aja. Kali aja cocok dan jodoh,".
"Enak aja, dia kan maunya elu. Bukan gue. Lagi pula gue masih menunggu keajaiban-Nya mendatangkan mas Dani buat gue. Hhahaha,".
Aisyah dan gue tertawa bersama. Banyak sekali kejadian kocak hari ini. Aku sampai lupa belum meminum es cappucino yang tadi aku pesan lewat Aisyah.
"Kok elu ngga ngingetin gue buat minum es cappucino gue si Syah. Kan jadi mencair gini,". Protesku padanya.
"Yah.. malah nyalahin aku. Orang dari tadi aku udah nawarin kamu,". Bela nya.
"Hehe...., iya juga si. Yaudah deh, gue minum aja. Sayang kalau ga di minum,".
"Yahh ... minum lah,". Jawab Aisyah enteng.
#
Pukul 16:40 tepat, aku dan Aisyah berpisah. Karena aku mau ada urusan dengan teman lamaku yang sengaja datang ke Solo untuk menemuiku.
author semangat menulis dan readers semangat membaca./Smug/
kata ibu mertua, harus poligami
dasar novel, bikin greget.
lanjut aku baca