Raisya adalah seorang istri yang tidak pernah diberi nafkah lahir maupun batin oleh sang suami. Firman Ramadhan, adalah seorang arsitektur yang menikahi Raisya setelah empat tahun pertunangan mereka. Mereka dijodohkan oleh Nenek Raisya dan Ibu Firman. Selama masa perjodohan tak ada penolakan dari keduanya. Akan tetapi Fir sebutan dari seorang Firman, dia hanya menyembunyikan perasaannya demi sang Ibu. Sehingga akhirnya mereka menikah tanpa rasa cinta. Dalam pernikahannya, tidak ada kasih sayang yang Raisya dapat. Bahkan nafkah pun tidak pernah dia terima dari suaminya. Raisya sejatinya wanita yang kuat dengan komitmennya. Sejak ijab qobul itu dilaksanakan, tentu Raisya mulai belajar menerima dan mencintai Firman. Firman yang memiliki perasaan kepada wanita lain, hanya bisa menyia-nyiakan istrinya. Dan pernikahan mereka hanya seumur jagung, Raisya menjadi janda yang tidak tersentuh. Akankah Raisya menemukan kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Abi
Di rumah ini kami hanya tinggal berdua.Rumahku tidak besar, hanya ada dua kamar, ruang keluarga, satu kamar mandi dan dapur, ada teras rumah yang diisi dengan kursi untuk tamu. Rumah nenek bersebrangan dengan rumahku, jadi aku tidak akan bosan kalaupun harus tinggal sendiri di rumah. Orang tuaku masih ada di rumah nenek, karna mereka belum selesai merapikan perabotan dan lainnya, sisa acara kemarin.
"Ada yang bisa Rai bantu ummi?" aku menghampiri mereka.
"Rai! iya ini cuma angkatin piring aja ke dalam lemari. Jangan kamu pasti capek, suamimu mana?"tanya ummi.
"Kak Firman pulang dulu ke rumah Ibunya ummi, katanya ada perlu",
"Lho naik apa dia? motornya kan belum dibawa, motormu juga masih di rumah kita Rai." Abi menimpali.
"Jalan kaki bi, tadi katanya sekalian olah raga pagi biar sehat. Lagian rumahnya juga lumayan dekat, cuma 200 meter ini bi."
Jawabku sambil tersenyum. Kami melanjutkan acara bersih-bersih.
Jam 10, suamiku datang dengan membawa keponakannya, anak dari kakaknya.
" Zis ayo salim sama bibi."perintahnya kepada Azis keponakannya. Aku pun memberikan tanganku, dan mencubit pipinya gemas.Azis anak kedua dari kakaknya, isinya,sekitar 6 tahun dengan postur tubuh yang gemuk. Suamiku datang membawa sepeda motornya.
"Oh iya dik nanti aku mau anterin Azis lagi ke rumah, paling pulang ke sini sore, karna masih ada keluarga jauh yang belum pulang." .
"Iya kak".
aku tak bertanya lagi untuk ikut ke rumahnya, karna dia tidak mengajakku. Ada sedikit kemajuan, dia mulai memanggilku dik. Ah begitu saja aku sudah senang.
Saat duduk di teras rumah ada Fifi lewat di depan rumah. Fifi ini teman akrabku waktu SD. Kami berteman dari kecil, karna waktu SD aku pernah tinggal bersama nenekku.
"dari mana fi?" sapaku.
"Widih ! pengantin baru, seger nih." Fifi meledekku.
"Ditanya apa, jawabnya apa kamu fi."jawabku.
"Ini Rai beli ikan, hari ini suamiku pingin dimasakin gurame goreng dan sambal tomat."
Fifi memang sudah menikah 1 tahun yang lalu tapi dia belum punya anak, suaminya kerja di perantauan.
"Oh..suamimu kapan datang fi?"
"Kemarin Rai, cuti 2 minggu katanya"
"Fi, nanti sore kalau ada waktu main ke sini ya."
"Ngapain Rai? ntar aku ganggu lagi, haha.."
"Bantuin aku bukain amplop." bisikku ditelinganya
"Ih... siap kalau begitu! InsyaAllah nanti aku kesini."
Fifi pun berpamitan pulang. Sebenarnya itu hanya alasanku kepada Fifi, yang aslinya aku cuma ingin ditemani, karna aku masih merasa canggung dengan suamiku. Fifi juga kenal dengan suamiku, karna mereka bertetangga.
waktu pun berlalu, tiba waktu siang aku tidak makan siang karna menunggu suamiku pulang. Tapi mungkin saja dia makan di rumah Ibunya. Aku shalat dzuhur sendiri. Dengan hati yang masih bingung aku meminta pada Tuhanku.
" Ya Allah tolong jaga hati hamba, tolong jaga gati suami hamba, sesungguhnya Engkau Yang Maha Tahu, tunjukkan segala kebenaran, agar hamba tak berpikir buruk tentang suami hamba, amin."
Aku mencoba untuk memejamkan mata, istirahat siang karna tidak ada yg bisa aku kerjakan selain menunggu suamiku pulang. Kulihat tumpukan kado yang masih belum aku buka. Karna aku memang akan membukanya nanti bersama Fifi.
"Semoga Fifi nanti beneran ke sini." batinku.
Saat hedak tidur siang, orang tuaku datang menemuiku. "Rai ummi, abi, dan dan Sofi pulang dulu ya, abimu sudah rindu menyiram tanamannya" pamit ummi.
"Beres-beresnya udah selesai mi?"
"sudah Rai, kita juga udah pamitan Ibu." Ibu yang dimaksud adalah nenekku.
"Baik Rai gak pa-pa ummi".
"Salam sama suamimu ya, jangan lupa sering-sering ke rumah! Kamu masih anak ummi kok, masih boleh nginep di rumah", ummi berkata dengan tersenyum meledekku.
Jadi pingin mewek dengar pesan ummi.
"jangan sampe aku di buang ummi, hehe..."
Abi menghampiri aku.
"Rai, pesan abi jadilah pakaian yang baik untuk suamimu. Bagaimana pun dia, saat ini Ridhanya yang harus kamu dapat. Abi sudah tidak punya hak atas dirimu nak. Jaga aib suamimu, jaga hartanya. Abi tahu ini pasti berat untukmu. Tapi yakinlah ada Allah yang akan selalu bersamamu." Pesan Abi membuatku terharu, mataku berkaca-kaca.
"Aduh sudah-sudah bi, abi bikin Rai sedih ini. Ayo bi kita pulang. Kamu juga Rai jangan nangis dong, jadi istri tidak boleh cengeng. Ingat ini masih awal." Ummi menimpali.
"Iya Ummi abi, Rai akan ingat pesan kalian." aku mencium punggung tangan mereka sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam mobil.
Akhirnya mereka pulang ke rumah setelah berpamitan kepadaku.
-
see you again kakak🤗
habis lebaran Kakaku d bawa ke RS berangkat Sabtu waktubitu saya ikut pulang lagi karna ada suami dan Kakaku yg lain yg nungguin, seninya saya berangkat lagi sampai RS Kakaku minta pulang terus dan Selasa nya akhirnya pulang selang dua hari hari kamis subuh Kakaku akhirnya pergi untuk selamanya padahal dia baru punya cucu bulan