NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Percakapan Nathaniel dan Aurelia

Hai haii manusia baik. Maaf aku kemarin malam gak sempet update karena ada halangan.

Sekarang update satu bab. Semoga cerita ini bisa kalian terima dengan hati senang.

Babay✋

...****************...

"Aku sebut dia pria bajingan."

Sarah mendengar itu tertawa puas, ia mendudukkan dirinya kembali dihadapan Aurelia. Dengan tawa yang mulai menghilang, ia kembali menatap Aurelia serius.

"Lalu setelah ini kamu mau apa?" Tanya Sarah sesaat setelah mengambil secangkir kopi di atas meja.

Aurelia tak langsung menjawab, matanya memperhatikan Sarah yang mulai bergerak meminum kopi secara perlahan seolah sangat menikmati.

Tangan Aurelia bergerak memainkan tali tasnya di atas meja. "Aku akan tetap fokus pada pekerjaan. Aku tidak ingin memikirkan pria terlebih dahulu." Ucapnya masih memainkan tali tas.

"Termasuk memikirkan Nathaniel?"

Aurelia langsung menoleh, alisnya mengerut, matanya menyipit seolah bingung dengan kalimat yang baru saja ia dengar.

"Kenapa tiba-tiba membawa nama dia?" Aurelia menarik tangannya dari tas, ia letakkan kembali di atas kedua pahanya yang berjajar rapih.

Sarah terkekeh kecil melihat ekspresi Aurelia. "Aku hanya bertanya. Tapi saranku, jangan berhenti memikirkan Nathaniel, ya. Tidak masalah jika isi pikiranmu penuh dengan Nathaniel." Senyum jahil perlahan terukir di wajah Sarah. Ia mengangkat kedua alisnya beberapa kali.

Aurelia menggelengkan kepalanya pelan, "Kamu ini berambisi sekali dengan kelanjutan hubungan aku dan tuan Nathaniel." Aurelia benar-benar tidak habis pikir mengenai jalan pikiran Sarah saat ini. Wanita itu benar-benar terlihat ingin sekali hubungan mereka lebih dari biasanya. Tapi Aurelia tidak bisa memaksakan diri. Ia benar-benar tidak ingin memulai hubungan lagi. Kecuali.... Tidak ada pilihan lain karena janji pada Giovani, bahwa ia akan memberi keputusan besok malam.

Aurelia menghela napas panjang, jemarinya perlahan bergerak memijat pelipisnya pelan mengingat obrolan dengan Papanya.

"Aku serius, Aurel." Senyum Sarah perlahan menghilang. Ia mengubah posisi duduknya hingga menghadap Aurelia sepenuhnya.

Mereka saling menatap satu sama lain.

"Nathaniel bukan pria yang akan tega menyakiti seorang wanita..." Sarah menjeda kalimatnya sesaat, bibirnya terlihat mengukir senyum tipis.

"Dia bahkan sangat menghargai aku sebagai seorang kakak." Lanjut Sarah.

"Dia memang terlihat kaku dan tidak peduli.... Tapi sebenarnya, dia diam-diam memperhatikan orang-orang disekitarnya...."

"Mungkin termasuk kamu, Aurel."

Aurelia masih memperhatikan Sarah yang berbicara. Ia tidak sedang melihat raut becanda dari sahabatnya. Suasana ini berubah seolah sedang menceritakan obrolan yang lebih berbobot.

Tidak ada reaksi apapun dari Aurelia. Wanita itu memilih diam dan duduk dengan tenang.

Sarah beranjak perlahan dan mendudukkan dirinya di sebelah Aurelia. Tangannya bergerak perlahan menyentuh lengan sahabanya.

"Terima dia, dan luluhkan hatinya."

Pikiran Aurelia justru berkelana pada pertemuan pertama mereka. Ia mengingat bagaimana aura kepempimpinan Nathaniel yang selalu mendominasi. Ia terlihat tenang, tapi tatapannya mampu membuat Aurelia seakan terintimidasi.

Aurelia bergerak menepuk-nepuk pelan punggung tangan Sarah yang masih memegangnya.

"Terimakasih karena selalu memikirkan kebahagiaanku." Aurelia tersenyum tipis.

"Aku akan pikirkan itu." ucapnya dengan raut tenang.

Sarah menyipitkan mata dengan senyum penuh arti, seolah sudah mengetahui sesuatu yang belum Aurelia sadari.

"Jadi... Kamu mau memikirkan Nathaniel?"

Aurelia melebarkan pupilnya, ia buru-buru menggelengkan kepalanya cepat.

"Bukan itu maksudku..." ucapnya sedikit panik.

Sarah tertawa. Ia menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa dengan ekspresi puas.

"Kakak."

Mereka berdua menoleh pada Nathaniel yang baru saja datang dari balik tembok. Pria itu berdiri disana, mengenakan kaos putih yang terlihat ketat hingga tubuhnya dapat tercetak jelas, dengan perpaduan celana hitam.

Untuk pertama kalinya, Aurelia melihat Nathaniel dengan pakaian santainya. Pria itu jauh lebih terlihat normal, tidak seperti biasanya yang sangat kentara bahwa ia seorang pemilik dari perusahaan besar.

"Lilia memanggil namamu."

Sarah melirik Aurelia sekilas sebelum merespon Nathaniel.

"Apa ada bi Darsih?" tanya Sarah, ia tidak enak hati jika harus meninggalkan obrolannya dengan Aurelia.

"Tidak ada. Bi Darsih sudah di kamarnya."

Sarah menghembuskan napas panjang, ia beralih menatap Aurelia.

"Aku akan menemui Lilia dulu."

Aurelia tersenyum dan menganggukkan kepalanya kecil.

"Silahkan, Sarah."

Sarah mengangguk dan beranjak berdiri. Ia berjalan, tapi sebelum meninggalkan ruangan, ia menghentikan langkahnya di samping Nathaniel.

Ujung bibirnya terangkat, memperlihatkan ekspresi yang jelas-jelas sedang menahan godaan. Tangannya bergerak perlahan menarik lengan Nathaniel.

"Kamu temani Aurelia sebentar." Sarah menepuk pelan pundak Nathaniel dan berlalu dari sana tanpa menunggu persetujuan.

Nathaniel masih terdiam setelah melihat kepergian Sarah. Ia kemudian beralih menatap Aurelia yang masih duduk tenang di sofa. Mereka saling berpandangan selama beberapa detik tapi Aurelie lebih dulu memutuskannya dan meminum cangkir teh di meja.

Nathaniel memasukkan kedua tangannya di kantong celana, berdehem pelan dan berjalan menuju sofa. Pria itu mendudukkan dirinya sesuai perintah Sarah. Kini mereka duduk saling berhadapan. Mata Nathaniel melirik pada Aurel yang mulai meminum tehnya.

Ia mengamati setiap pergerakan wanita itu sampai Aurelia kembali meletakkan cangkirnya.

"Apa anda datang kesini bersama Tyana, nona Aurelia?" Tanya Nathaniel dengan posisi duduk kedua kaki yang di lebarkan, kedua tangannya saling bertautan dan ia letakkan di antara paha yang terbuka.

Aurelia menggelengkan kepalanya kecil, "aku datang kesini sendiri." jawabnya dengan nada rendah. Ia tidak pernah menduga akan berhadapan secara langsung dengan klien bisnisnya tapi bukan dalam konteks kerja.

Nathaniel terlihat diam, namun tangannya bergerak memindahkannya posisi gelas kopi milik Sarah.

"Kenapa tidak bersama supir pribadi?"

Nada bicaranya terdengar santai di telinga Aurelia. Tapi atmosfer yang terasa tetap saja seakan sedang menginginkan.

"Saya sedang ingin pergi sendiri, tuan Nathaniel." Jawab Aurelia dengan dada yang tiba-tiba saja bergemuruh entah kenapa. Matanya menangkap otot-otot lengan Nathaniel yang sangat kentara dibalik kaos ketatnya.

Nathaniel mengangguk kecil sebagai tanda memahami perkataan Aurelia. Matanya melirik sekilas pada jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam.

"Kalau begitu, kalau anda akan pulang di antar oleh Attar." Tatapannya kembali tertuju pada Aurelia tanpa banyak bergerak.

Aurelia dengan cepat menggeleng.

"Terimakasih atas perhatiannya, tuan Nathaniel. Tapi saya tidak ingin merepotkan orang lain."

Nathaniel terdiam sesaat. "Saya memang tidak suka direpotkan...." ia menggantung kalimatnya.

Aurelia meneguk salivanya perlahan. Ia sedikit tidak suka dengan ucapan Nathaniel barusan, seakan ia benar-benar merepotkan.

Pandangan Nathaniel beralih pada Aurelia, lalu berhenti beberapa detik sebelum akhirnya ia melanjutkan kalimatnya.

"Tapi lebih tidak suka lagi, jika melihat wanita pulang sendirian tengah malam." Tatapan Nathaniel tertahan sedikit lebih lama pada wajah Aurelia.

Ia mengangkat pandangan untuk menatap Nathaniel, lalu mengalihkannya ketika menyadari pria itu masih memperhatikannya. Baginya... Di pandang oleh Nathaniel tidak lebih baik daripada dipandang dosen killer.

Aurelia terdiam untuk mencari jawaban yang tepat. Sebenarnya datang kesini tengah malam saat ada Nathaniel membuatnya tidak enak hati. Tapi semua ini salah Sarah. Aurelia berniat berkunjung menemui Sarah sebagai seorang sahabat, wajar saja kalau dia lupa waktu. Ia tidak tahu kalau ini adalah vila tempat tinggal Nathaniel.

Aurelia menghela napas sebentar sebelum menjawab Nathaniel.

"Iya, baiklah. Terimakasih." Ia menyunggingkan senyum tipis.

Kedua tangan yang berada di atas paha perlahan meremas celananya tanpa ia sadar. Aurelia menahan satu pertanyaan yang sejak kemarin mengganjal di hatinya. Tapi, dengan keberaniannya penuh, ia menatap Nathania sejelas itu.

"Apa saya boleh menanyakan satu hal?" Tanya Aurelia dengan suara yang berusaha terdengar tenang.

Nathaniel menurunkan pandangan pada gelas di meja, kemudian kembali menatap Aurelia.

"Silahkan." Ucapnya seraya menatap bola mata Aurelia dengan lekat.

"Apa anda keberatan dengan perjodohan yang dilakukan Sarah?"

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!