Andaikan waktu bisa kuputar kembali, aku ingin bertemu denganmu di saat yang tepat dan di waktu yang tepat untuk bisa mencintaimu sebagai manusia seutuhnya dan bukan hanya sekedar menjadi bayanganmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senajudifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Mimpi
"Sekarang begini aja, jika ibu, bapak dan mbak Rani hanya datang untung membuat keributan di sini, maka tujuan kalian salah...saya bukan Sena yang sepuluh tahun yang lalu diam saja dihujat oleh kalian, pengalaman yang telah mengajarkan pada saya untuk berusaha menjadi lebih kuat dan tangguh terutama menghadapi orang-orang seperti kalian!!" jawabku sambil tersenyum tenang.
"Maafkan kami nak!!" kata bapak.
Bapak sejak dulu memang orangnya netral, bapak tak mau mencampuri rumah tangga anak-anaknya.
"Sebenarnya ada apa sih pak, mengapa kalian marah-marah datang kemari, kan kalian tau saya bukan lagi menantu kalian, jika ada apa-apa pada Rama itu sudah bukan menjadi tanggung jawab saya lagi kalian berembuk saja dengan istrinya Rama yang sekarang, bukan pada saya." Kata Sena.
"Rama dan istrinya sudah berpisah lima tahun yang lalu, Sena!!" kata bapak.
"Rama sekarang hanya bisa duduk di kursi roda!!" kata bapak.
"Lalu istrinya Rama kemana pak, kok malah saya yang dipersalahkan?? mestinya si istri Rama lah yang harus merawat suaminya!!" kata Sena.
Sementara mbak Rani dan ibunya Rama hanya mendengus mendengar perkataan Sena.
"Lima tahun lalu Rama mengalami kecelakaan dan mengharuskan kedua kakinya diamputasi dan istrinya membawa putri mereka pergi meninggalkan Rama!!" kata bapaknya Rama.
Sena hanya mengangguk-angguk saja.
"Terus maksud kalian datang kesini itu kenapa ya??" tanya Sena.
"Kamu ini bodoh atau bego sih??" kata ibunya Rama.
"Kami ingin kamulah yang merawat suami kamu!!" katanya dengan mata melotot.
"Nggak mau ah...kok masih senangnya saya diabaikan sudah cacatnya kok saya yang direpotkan, kok malah jadi beban saya!!" kata Sena menolak tegas.
"maaf ya bu, pak, saya dan Rama sudah tidak saling berkomunikasi lagi sejak kami bercerai, bahkan saya harus berjuang sendiri pada saat semua wanita yang akan melahirkan di dampingi oleh keluarga terutama oleh suaminya tetapi saya berjuang sendiri untuk hidup lalu mengapa sekarang setelah cacat kok kalian semua datang kemari?? maaf saya mau tidur lagi, selamat pagi." Lalu aku berbalik meninggalkan mereka yang seperti tertohok dengan ucapanku tadi.
"Sombong sekali mantan istrinya Rama ini!!" kata bu Ayu ibunya Rama dan Rani.
"Tapi iya juga sih bu, dulu saat dia kesusahan kita semua meninggalkan dia berjuang sendirian, dan sekarang di saat kita yang kesusahan kok kita malah merepotkan dia?? secara sekarang dia bukan apa-apa kita lagi!!" kata suami ibu Ayu.
"Siapa sih mak??" tanya Dini dan Juan.
"Kok datang nggak sopan banget, masih pagi sudah ribut di pintu rumah orang, sudah pada tua tapi pada nggak punya sopan santun!!" kata Dini.
Lupakan saja Din, sekarang mamak pengen istirahat dulu ya...mamak capek banget!!" kataku pada ketiga anak-anakku.
Sementara itu.
Sepasang mata menatap sendu dari dalam mobi menatap keributan yang terjadi pagi itu.
Yah...dia Rama!! sepasang kakinya terpaksa harus diamputasi karena sebuah kecelakaan kerja lima tahun yang lalu.
Lisa istri keduanya meninggalkan dia dengan membawa putri mereka pergi saat mengetahui suaminya kini hanyalah seorang laki-laki cacat.
Dia mendengar semua yang diutarakan oleh Sena tadi dan hatinya benar-benar terpukul.
Dia sudah melarang keluarganya menemui mantan istrinya itu karena tak ada satu orang pun setelah disakiti dan dicampakan masih mau berbaik hati untuk dimintai pertolongan, apalagi caranya meminta tolong seperti cara ibu dan kakak perempuannya tadi meminta, mana mungkin Sena mau!!
"Maafkan mas ya Sen, mungkin inilah karma yang harus mas terima karena menelantarkan anak dan istri, dan gadis kecil tadi?? mungkinkah itu anak yang aku tinggalkan pada saat Sena mengandungnya dan dengan tega aku menceraikannya dulu??" gumam Rama lirih.
Ibu dan kakak perempuan serta bapaknya kembali ke mobil.
"Dasar perempuan sombong...berani-beraninya dia menolak permintaan kita!!" kata ibu Ayu menggerutu.
"Ibu itu tadi bukan meminta, tapi memaksa!!" jawab bapak Rama.
"Kan Rama sudah bilang ke ibu dan mbak Rani, mana mungkin Sena mau merawat Rama, kita dulu sudsh jahat padanya bu...sekarang kita datang meminta padanya, bukannya meminta dengan baik-baik malah meminta dengan memaksa, sebenarnya Rama sangat malu bu, malu dengan segala perbuatan Rama dulu pada Sena dan anak-anak...bayangkan saja Rama menceraikannya saat Dini dan Juan masih sangat kecil dan ternyata Sena sedang mengandung anak bungsu Rama yang sampai kini Rama tidak tau siapa namanya!!" Rama meneteskan air mata kesedihannya.
Ibu Ayu terdiam melihat penderitaan putra bungsunya. Dialah dulu yang sangat mendukung perselingkuhan Rama dan Aida serta mendukung Rama untuk menceraikan Sena hanya karena Sena anak yatim piatu....dan kini menantu pilihannya itu malah meninggalkan Rama saat putranya itu terpuruk seperti sekarang ini.
Dia melihat betapa beraninya sekarang Sena menentangnya dan berani menatap matanya saat berbicara, padahal dulu dia sama sekali tak berani menatap apalagi menentang perkataan ibu mertua dan kakak iparnya itu.
Rama masih menatap gadis cilik yang sedang bermain di teras itu. Dia yakin itu putri bungsunya karena wajah gadis cilik itu sangat mirip dengannya.
**************
"Kejar anak kompeni itu...bunuh dia!!" teriak Baron memberi aba-aba pada centeng bawahannya.
Tampak Anthony lari tunggang langgang ketakutan.
Beberapa ekor anjing dan centeng Baron dikerahkan untuk mengejar dan membunuhnya.
Anthony hanya bisa lari dan lari, tujuannya hanya satu lari menyelamatkan diri.
Sena hanya bisa berteriak-teriak memberi peringatan pada Anthony sampai suaranya serak dan habis tetapi percuma, Anthony tidak bisa mendengarkan teriakannya.
Pemuda blasteran China Belanda itu terus berlari menerobos pekatnya malam sampai dia pun tak tau kemana arah larinya yang ada dia sudah berada ditepi jurang yang terjal menghadang di depannya.
Sena juga merasa napasnya tersengal-sengal karena dia ikut berlari mengejar Anthony tetapi Anthony sama sekali tidak mendengarkan teriakannya.
"Mak...mamak...bangun....!!" Juan membangunkan Sena yang napasnya sudah tersengal-sengal.
"Mak ada apa??" tanya Juan terlihat sangat panik.
Sena terbangun dengan butiran keringat sebesar biji jagung mengalir deras di dahinya.
"Mimpi itu lagi...lagi-lagi aku bermimpi melihat kilas balik tentang kematian Anthony.
"Minumlah mak...!!" Juan menyodorkan segelas air putih padaku.
"Apakah mamak mimpi menyeramkan lagi??" tanya Juan.
Perasaan mamak sering bermimpi buruk semenjak pindah tugas di ruangan yang baru itu!!" kata Dini lalu duduk ditepi pembaringanku.
"Mamak hari ini nggak narik ojek??" tanya Dini.
"Nggak nak, mamak capek sekali!!" jawabku.
"Kita pergi kepantai aja yuk mak...mumpung kita libur!!" ajak Juan.
Aku tersenyum menatap kedua anakku.
"Baiklah...kita akan pergi, tapi mamak mandi dulu ya!!" kataku.
"Hore...." teriak mereka berdua kegirangan!!
*
*
***Bersambung...
Jangan lupa mampir, like, komen, vote, favorit dan rate nya ya reader🙏🙏