Sheeva terpaksa menerima perjodohan yang direncanakan kedua orang tuanya. Suatu hari, dia memergoki Amaar tengah bercumbu mesra dengan seorang perempuan yang tak lain adalah sekretaris calon tunangannya itu. Merasa terhina, dia melabrak mereka dan mengancam akan memberitahu Damian bahwa pria pilihannya itu adalah lelaki berengsek. Namun, Amaar bersikap santai seakan tak merasa takut sebab tahu jika Damian tidak mudah percaya begitu saja tanpa ada bukti nyata.
Sheeva yang kesal pergi meninggalkan ruangan CEO dan meluapkan keluh kesahnya itu kepada Azam, sopir pribadi gadis itu. Akibat sering bertemu membuat benih cinta muncul di hati keduanya. Hingga akhirnya mereka memutuskan menjalin kasih di belakang orang tua dan calon tunangan Sheeva.
Lalu, bagaimana perjalanan cinta mereka? Akankah berakhir bahagia walau banyak ujian datang menghadang? Apakah orang tua Sheeva setuju saat mengetahui bahwa putri mereka menjalin kasih dengan seorang sopir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pasangan Tak Tahu Malu
"Ini terakhir kalinya saya melihat kalian berdua ribut di depan umum. Jangan sampai ada kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya. Kalau sampai terjadi jangan salahkan saya bila berbuat sesuatu terhadap kalian. Paham?" ucap Pak Imam sedikit mengancam kedua artisnya. Dia terpaksa menggertak Sheeva dan Renata sebab tak tahu harus dengan cara apa lagi menegur mereka.
Ketidakharmonisan hubungan Sheeva dan Renata sudah berlangsung sejak sepuluh tahun lalu. Semua berawal dari Renata yang merasa sakit hati karena posisinya sebagai anak emas dari salah satu agency tergantikan oleh kehadiran Sheeva, bintang baru di dunia entertainment. Banyak tawaran iklan, main sinetron dan foto model datang kepada Sheeva dan itu membuat Renata iri hati hingga membenci rekan satu agency-nya itu.
Mengetahui bagaimana tempremantental pak Imam, Sheeva dan Renata tak banyak bicara. Mereka memilih mengunci rapat mulutnya daripada berdebat dengan pria paruh baya itu. Kepala mengangguk patuh agar semua masalah cepat selesai.
"Ya sudah, sekarang kalian berdua bisa meninggalkan tempat ini. Kita istirahat selama tiga puluh menit, setelah itu kembali shooting. Saya harap saat shooting nanti aura ketegangan antara kalian berdua hilang," tandas Pak Imam sebelum kedua gadis itu beranjak pergi dari tenda yang dibangun khusus untuk sutradara.
Dengan patuh Sheeva dan Renata menjawab, "Baik, Pak. Kalau begitu kami permisi dulu." Lalu keduanya bangkit kemudian meninggalkan pak Imam yang masih duduk di kursi.
Azam segera mendekati Sheeva saat melihat majikannya itu telah keluar dari tenda. Berjalan cepat lalu berdiri di hadapan sang gadis.
"Mbak Sheeva, gimana? Apa Mbak kena tegur Pak Sutradara? Apa Pak Sutradara memarahi Mbak habis-habisan? Maaf ya, kalau gara-gara saya Mbak jadi kena omel beliau." Azam terus mencecar Sheeva dengan berbagai pertanyaan.
Sheeva mengulum senyum di bibir melihat betapa paniknya wajah Azam. "Alhamdulillah, udah clear. Tadi cuma dapat sedikit wejangan dari Pak Imam. Selebihnya aman. Udah ah, enggak perlu dibahas lagi. Ke depannya kalau ada yang menghina Mas Azam, bilang sama aku. Akan kulabrak orang itu meski di tempat umum sekalipun." Sengaja meninggikan nada suara berharap Renata mendengarnya.
Mencibir dan memutar bola mata malas. "Bacot!" ujar Renata sambil menabrak bahu Sheeva dengan keras hingga tubuh sang rival sedikit terhuyung ke samping kiri.
***
Beberapa hari kemudian, Sheeva telah merampungkan pekerjaannya. Hari ini dia serta kru FTV yang terlibat dalam pembuatan sinetron sedang makan siang bersama sebelum kembali ke rumah masing-masing. Pak Imam sengaja memesan catering terenak yang ada di kota Bogor sebagai ungkapan terima kasih karena semua orang telah berusaha keras selama shooting berlangsung.
"Va, hari ini lo sibuk enggak? Rencananya gue mau ketemuan sama Tasya di cafe sekitaran Senayan. Kalau mau, lo bisa gabung kita. Udah lama juga 'kan kita enggak hang out bareng Tasya," ajak Rizky.
Sheeva menggeleng kepala cepat dan menjawab, "Lain kali aja deh, Bang. Hari ini gue ada PR dari Pak produser untuk nonton film horor yang baru aja launching. Gue disuruh banyak nonton film horor sebelum shooting dimulai. Next time aja ya, kita jalan bareng."
"Ya udah enggak apa. Tapi beneran ya kalau kita kumpul lagi lo harus gabung," sahut Rizky sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut. Sheeva mengangkat ibu jari ke udara sambil tersenyum kepada Rizky.
Sheeva meminta Azam mengantarkannya ke mall karena ingin menonton film sekaligus membeli pakaian, sepatu dan tas keluaran terbaru. Sesampainya di tujuan, mereka berdua segera berjalan beriringan menuju lantai tertinggi dari bangunan tersebut.
"Mas Azam, berhubung aku mau nonton film, sekalian kubelikan satu tiket juga ya untukmu? Daripada Mas Azam berkeliaran enggak jelas di sini lebih baik temenin aku nonton. Ya siapa tahu kehadiran Mas Azam bisa menenangkanku saat pemutaran film berlangsung."
"Kenapa, Mbak Sheeva takut, ya?" goda Azam. Entah mendapat keberanian dari mana pria itu menggoda majikannya.
Sheeva menyeringai karena isi hatinya dapat terbaca oleh Azam. "Sedikit. Ini pertama kalinya aku nonton film horor tanpa ditemani Mama ataupun Kak Daniel. Biasanya mereka menemaniku, tapi karena kesibukan masing-masing, aku segan mengajak pergi bersama. Jadi mumpung ada Mas Azam, kenapa enggak sekalian kuajak aja. Lumayan bisa jadi tamengku kalau setannya tiba-tiba muncul di depan layar."
Sontak keduanya tertawa mendengar perkataan Sheeva. Suasana hangat terjalin di antara mereka. Sheeva memang tak pernah menjaga jarak dengan orang yang status derajatnya berada di bawah. Gadis itu berteman dengan siapa pun tanpa memandang stata sosial hingga membuat orang di sekitar merasa nyaman berada di dekatnya.
"Baiklah, kalau itu mau Mbak Sheeva, saya ngikut." Pasrah, itulah yang dilakukan Azam saat ini. Dia pun berpikir daripada mondar mandir tanpa punya tujuan lebih baik ikut bersama Sheeva menemani majikannya menonton film. Kapan lagi dapat duduk bersebelahan dengan artis terkenal tanah air.
Mengetuk-ngetukan dua buah tiket di telapak tangan. Sheeva melangkah keluar gedung bioskop dengan Azam yang mengekori di belakangnya.
"Nah, tiket udah ada di tangan tinggal nunggu jamnya aja. Berhubung masih ada sisa waktu satu jam sekarang kita ke butik langganan Mamaku dulu yuk, Mas. Aku mau beli baju, sepatu, tas dan skin care mumpung sedang ada di mall biar sekalian. Mas Azam enggak keberatan 'kan temani aku berbelanja?" tanya Sheeva pada sosok pria yang sedari tadi terdiam memperhatikan gerak gerik majikannya itu. Sesekali senyuman samar terlukis di wajahnya yang rupawan.
"Tentu saja tidak. Saya selalu siap menemani ke mana pun Mbak Sheeva pergi."
Wajah nona muda Bagaskara merona merah. Ucapan Azam terdengar begitu lembut di telinga. Ada perasaan bahagia menyelimuti saat mendengar lelaki itu berkata 'selalu siap menemani ke mana pun pergi'. Sheeva merasa dirinya tak lagi sendiri di muka bumi ini karena ada seseorang yang dengan setia menemaninya dalam kondisi apa pun.
Sheeva sedang melihat-lihat koleksi pakaian di salah satu butik ternama di kota Jakarta. Butik tersebut merupakan tempat biasa dia dan sang mama membeli pakaian, sepatu dan tas. Selain koleksinya lengkap, semua pakaian tersebut merupakan rancangan desainer terkenal tanah air sehingga kualitasnya tak perlu diragukan lagi.
"Mas Azam, aku ke fitting room dulu. Kalau Mas Azam nemu pakaian yang disuka, ambil aja nanti aku beliin."
"Silakan, Mbak. Dan ... terima kasih atas niat baik Mbak Sheeva."
Tak sulit bagi Sheeva mencari keberadaan kamar ganti di butik tersebut sebab dia sudah sering keluar masuk toko tersebut tanpa dapat hitung dengan jemari tangan. Membawa dua potong pakaian, gadis itu masuk ke dalam untuk mencoba dress buatan desainer terkenal. Saat sedang sibuk mencoba dua potong pakaian tersebut, suara desahaan aneh terdengar begitu saja.
Sheeva terdiam, menajamkan indera pendengarannya guna memastikan kembali apa yang baru saja didengarnya bukan halusinasi. Semakin lama suara itu semakin terdengar jelas hingga membuat gadis itu emosi dibuatnya.
"Dasar enggak punya otak! Bisa-bisanya mereka bercumbu di tempat umum." Tanpa pikir panjang Sheeva segera memberanikan diri untuk membuka pintu ruang ganti di sebelahnya. Bola mata gadis itu melebar sempurna melihat sepasang kekasih sedang asik berciuman, saling membelit lidah satu sama lain.
Dengan bibir gemetar Sheeva berucap, "K-kalian ...."
...***...
jangan pisahin mereka
biarkan mereka bersatu
bagus ceritanya
Azam bukan orang miskin, sudah
tua berpikir seperti bocah,
nantinya sama amar mau bahwa
sudah berselingkuh dan celap celup
sana sini