novel modern yang mengangkat legenda ilmu Kanuragan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dunia Luar, Dunia Liar
Taupan merasa harus melakukan sesuatu. Ia merasa sudah selesai dengan ilmu warisan dari leluhurnya itu. Lama ia menatapi setiap sudut gubuknya itu. Tempat kemenyan, ranjang besi, lemari dan segala sesuatu yang sudah bukan lagi jamannya. Terakhir ia menatap satu tas uang tunai. Ia pikir, kalo ia lama-lama di dalam hutan, bisa-bisa uang itu habis dimakan rayap. Taupan pikir, kehidupan di kota sepertinya menarik. Terutama wanita-wanitanya. Itu yang paling Taupan butuhkan sekarang, mungkin karena dorongan usia yang sudah matang. Taupan tidak lagi pikir panjang, ia pun berkemas. Ia memilih apa saja yang pantas ia bawa. Kitab-kitab kuno, sedikit pakaian ia satukan dengan tumpukan uang tunai, sebuah cincin yang kata bapaknya itu peninggalan ibunya dan sebagainya. Ia sudah mantap dan melesat pergi.
Taupan tidak hendak menemui Jamin atau siapapun. Ia putuskan untuk pergi sendiri menuju kota, kota ter-ramai yang pernah ia tahu. Sekeluarnya dari hutan, ia melewati kampung. Hari sudah malam dan tidak ada yang ia takutkan, tidak ada seorangpun yang keluyuran di kampung itu. Kampung yang damai kampung yang sepi dengan backsound derik jangkrik tersembunyi.
Subuh kemudian ia sampai terminal. Taupan bertubuh tinggi dan kekar dengan rambut hitam yang panjang dan gimbal. Ia tampak mencolok diantara penghuni terminal yang lain. Taupan tidak mengenakan sandal apalagi sepatu. Seumur-umur ia belum pernah mengenakan sepatu. Kemeja jeans kusut warna biru dan celana jeans warna hitam ia kenakan. Ia cuek saja menaiki bis. Kehidupan baru siap ia mulai. Dadanya berdebar dan bersemangat.
***
Bis mulai melaju, seiring matahari mulai menampakkan diri dan sinarnya menyentuh wajah Taupan dari balik kaca bus kota. Sinar yang hangat, sinar yang menyiratkan semangat. Se-turunnya dari bus kota Taupan langsung menuju toko pakaian. Mungkin ia merasa risih dengan pandangan orang-orang sejak kedatangannya di terminal itu. Pakaian kusutnya jadi perhatian.
Di dalam toko pakaian itu ia langsung memilih pakaian. Tidak lupa, seorang pelayan memandu dengan ramah tapi dengan tatapan curiga. Pakaian dan rambut panjang Taupan yang acak-acakan jelas menarik perhatian. Taupan cuek saja, bahkan ia menyerahkan pakaian yang ia pilih pada pelayan itu. Mulai dari ****** ***** sampai dasi.
"Gak dicoba dulu Bang?" ucap pelayan itu coba tetap ramah. "Kalo mau dicoba, itu tempatnya," tunjuk pelayan itu pada sebidang tirai pintu di sudut toko.
"Hm, ya, ayo," jawab Taupan lalu mengajak pelayan itu menuju ruang ganti. Sesampainya di ruang ganti, ia mengambil beberapa pakaian yang dipilihnya itu dari pangkuan pelayan itu. Sebuah kaus warna hitam, ****** *****, ikat pinggang dan celana jeans.
Tidak lama kemudian, Taupan keluar dari ruang ganti. Kaus hitam bergambar tengkorak dan celana jeans warna merah ia kenakan.
"Sudah, yang ini langsung saya pake, sisanya bungkusin," ucap Taupan.
"Oh, iya, tentu, mari, bayar di sebelah sini," ucap pelayan itu kegirangan. Ternyata pria kusut yang sepertinya belum mandi itu memborong banyak pakaian.
Selesai melakukan pembayaran, Taupan menggendong tasnya dan kedua tangannya sibuk dengan plastik pakaian. Tapi saat keluar dari toko itu, pelayan tadi baru sadar, ternyata Pelanggan pertamanya di hari itu ternyata tidak mengenakan sandal. Taupan berlalu dengan cueknya dan berhenti di balik kaca salon kecantikan. Mungkin karena ia melihat seorang wanita sedang mencuci rambut, ia juga jadi berpikir perlu melakukan sesuatu untuk rambutnya.
Matahari tepat di atas bumi. Taupan terbangun dari kursi salon kecantikan itu. Perutnya terasa lapar. Rupanya ia ketiduran ketika pelayan seksi itu mencuci dan mengurus rambutnya. Kini Taupan bisa merasakan rambutnya ringan dan wangi. Tidak lupa ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk memanjakan rambut barunya. Taupan senang bukan kepalang dan memberikan kembalian biayanya pada perempuan seksi itu.
Selepas dari salon kecantikan, ia menuju restoran. Tapi alangkah kagetnya, ketika ia hendak masuk restoran seorang penjaga gerbang menahannya.
"Maaf Pak, rupanya sandal bapak hilang yah?"
"Oh, iya, iya, bisa bantu belikan?" jawab Taupan sekenanya sambil merogoh saku. "Atau aku bayarin saja sandal kau itu, ini, kau beli yang baru," lanjut Taupan sambil mengacungkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
Kontan penjaga restoran itu heran. Sultan macam mana ini?
"Bagaimana? udah laper banget nih."
"Oh, iya, ini, ini, silahkan Pak, silahkan," jawab penjaga itu sambil membuka sandal kulit dan meraih uang dari tangan Taupan itu dengan buru-buru. Rejeki datang jangan pikir panjang.
"Silahkan, silahkan Pak." Taupan pun mengenakan sandal kulit yang sudah agak belel itu lalu tersenyum pada penjaga itu dan nyelonong masuk restoran.
up
up