kisah seorang gadis yang harus menikah diusia muda dengan seorang CEO muda yang dengan sikap datar dan dinginnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliyana.s, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Satu bulan sudah usia pernikahan Senja juga Langit. Namun tidak ada perubahan dalam diri Langit yang masih saja dingin juga membenci gadis itu tanpa Senja tau alasannya. tapi gadis itu tetap diam, meski dalam diamnya dia selalu menangis akan takdir yang ia jalani ini. apalagi tidak ada David maupun Devi disisinya. Ya, pasangan suami istri paruh baya itu belum juga kembali setelah satu bulan. mereka masih melakukan perjalanan bisnis dari satu negara ke negara lainnya.
Tok! Tok! Tok!
"Ck, siapa sih malam malam begini ketuk ketuk pintu." decak Langit. Ia baru saja membaringkan tubuhnya diatas Kasur king size miliknya, tiba tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya.
Senja yang dari tadi berada disofa dengan memangku laptopnya langsung berdiri untuk membuka pintunya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Ceklek
"Ada apa Mbak Siska?" Tanya Senja setelah mengetahui kalau yang mengetuk pintu adalah Siska, salah satu pelayan di mansion ini.
"Maaf Nona, malam malam mengganggu, ini ada telpon dari teman Nona." Siska menyodorkan ponsel miliknya pada Senja. Ya, semenjak kejadian di mobil Langit satu bulan lalu, ponsel Senja benar benar hancur dan tidak bisa diperbaiki. Alhasil, Senja memberikan nomor ponsel Siska pada 3 sahabatnya jika ingin menghubunginya itupun sudah atas izin dari sang pemilik ponsel.
kenapa tidak membeli ponsel lagi? jawabannya ya karena gadis itu belum memiliki cukup uang untuk membelinya.
"Ada apa?" ketika Senja ingin menerima ponsel Siska untuk berbicara pada orang yang menelponnya, ia dikagetkan dengan suara bass yang berasal dari belakangnya. Senja tidak berani menoleh, ia menundukkan kepalanya takut menatap pria itu.
itulah yang selalu dilakukan oleh gadis itu, selalu menunduk saat bertemu Langit. bahkan jika bisa menghindar, dia akan menghindar.
"Maaf Tuan muda, ini Nona Senja dapat telepon dari Temannya." Jawab Siska. ia sebenarnya juga takut pada Langit. Tapi ia sudah terbiasa dengan sikap tuan mudanya itu.
"kenapa harus lewat ponselmu?" Tanya pria itu lagi.
Siska tidak menjawabnya, dia malah menatap kearah Senja. Siska ingin menjawab, tapi takut salah dan berakhir Senja yang dimarahi Langit. Siska tidak Setega itu, Dia terlalu menyayangi Nona mudanya itu. bahkan sebenarnya Siska juga tau, kalau diamnya itu juga akan menjadi kemarahan bagi pria dingin itu. benar benar seperti buah simalakama.
"Siska, kamu boleh pergi dan bawa ponselmu. katakan pada sipenelpon, orangnya sudah tidur." Tegas Langit. Siska melirik kearah Senja. melihat kebingungan Siska yang harus mengikuti Langit atau tidak, Senja tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya pada Pelayan itu pertanda ia boleh pergi.
Setelah melihatnya, Siska langsung pergi meninggalkan dua majikan mudanya itu.
"Masuk." Perintah Langit pada Senja setelah kepergian Siska. tanpa ba-bi-bu, gadis itu menuruti ucapan suaminya.
"Duduk." Lagi, Langit memerintahkan Istrinya untuk duduk disofa tempat Senja biasanya tidur dimalam hari. Senja menurut, ia pun duduk dengan kepala yang terus tertunduk diikuti Langit yang kini duduk disofa single.
"Ponselmu kemana?" rupanya pria itu masih penasaran dengan keberadaan ponsel istrinya itu. wajar sih kalau Langit tidak tau jika Senja tak menggunakan ponsel selama satu bulan ini, karena pria itu tak pernah menghubungi istrinya sedetikpun.
bagaimana dengan kedua orang tua Langit? mereka tetap berhubungan dengan Senja melalui Siska maupun Bik Sumi. tapi ya harus dengan berbagai alasan agar dua pria paruh baya itu tidak menyalahkan Langit.
"R…rusak Kak."
"sejak kapan."
"Sa...satu b...bulan lalu."
"kenapa bisa ruasak?" Nah kan, ini Langit lupa apa pura pura lupa ya? mari kita ingatkan.
"J...jatuh dimo...bil K...kakak waktu itu." jawab Senja ragu. ia benar benar takut jika kembali disalahkan oleh Langit.
Langit mengernyitkan alisnya mencoba mengingat. "Laptop itu?" tanya Langit, pandangannya mengarah pada sebuah laptop yang tadi di gunakan Senja. ia tidak lagi menanyakan ponsel Senja, bahkan wajahnya tak terlihat merasa bersalah sedikitpun.
"Itu punya teman Senja kak, Senja pinjam buat belajar." Setelah memdengar jawabam dari Senja, Langit pergi meninggalkan gadis itu tanpa sepatah katapun. Ia kembali membaringkan tubuhnya diatas kasur king size nya.
Senja menghela napas lega setelah beberapa menit merasa sesak karena berhadapan dengan suami dinginnya itu.
...****************...
"Dylan, kamu langsung ikut saya keruangan saya." perintah Langit, saat ia keluar dari lift bersama asisten pribadinya. Dylan dengan patuh mengikuti langkah Langit memasuki ruangannya.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya Dylan. sebelum menjawab, Langit mendudukkan dirinya terlebih dahulu dikursi kekuasaannya.
"belikan gadis itu ponsel juga laptop." mendengar perinta dari Tuan nya, Dylan sedikit terkejut juga bingung, sejak kapan Tuannya perduli pada gadis itu.
"maksud Tuan Nona Senja?" tanya Dylan, mencoba meyakinkan dirinya kalau gadis yang dimakaud Tuannya adalah Senja istri Langit.
"Hm." Langit hanya berdehem sembari manganggukkan kepalanya sekali.
tanpa Langit sadari, Dylan tersenyum. ini adalah sebuah keajaiban menurutnya, seorang Langit Anderson William, Pria dingin dan tak tersentuh oleh wanita selama beberapa tahun ini kembali memperhatikan sikap perhatiannya, dan itu ia lakukan pada istri kecilnya. itulah yang Dylan pikirkan, entah dengan pemikiran Langit.
"Baik Tuan, akan Saya lakukan sekarang." patuh Dylan.
"kamu cari ponsel keluaran terbaru. dan ya, buatkan dia kartu kredit juga." tambah Langit. Dylan mengangguk lalu pergi meninggalkan Tuannya.
Di sisi lain, Seorang gadis yang baru saja turun dari angkot berlari kecil menuju gedung besar yang tak lain adalah SMA WILLIAM SCHOOL, tempat ia menempuh pendidikannya selama 3 tahun ini.
"Senja..." panggil seseorang dari arah parkiran. Senja menghentikan langkahnya lalu menoleh kearah sumber suara.
"Daniel, ada apa?" Ya, yang memanggil Senja tadi adalah Daniel Anantara, laki laki yang menyukai Senja, namun selalu mendapat penolakan gadis itu dengan alasan ingin belajar dengan serius.
"nggak ada, pengen masuk kelas bareng lo aja." jawab Daniel, tanpa melunturkan senyum diwajahnya.
"tapi kan kelas kita beda." jawab gadis itu. apa adanya sekali ya, wkwk
"nggak papa, dari sini kan bisa masuk bareng." ucap Daniel. Senja hanya mengedikkan bahunya kemudian melangkahkan kakinya kembali tanpa memperdulikan Daniel. Daniel pun mengikuti langkah Senja. Namun, baru beberapa langkah, terdengar seseorang kembali memanggil gadis itu.
"Nona Senja." panggilan itu menghentikan langkah Senja juga Daniel. Senja menoleh kearah gerbang sekolah, terlihat seseorang yang tadi memanggilnya berdiri tegap.
Senja membelalakkan matanya terkejut mengetahui siapa pria memanggilnya dan kini tengah berjalan menghampirinya. Bagaimana Senja tak mengenalinya? pria itu seringkali datang ke mansion untuk sebuah pekerjaan atau bahkan mengantar jemput suaminya saat bekerja. Senja juga tau kalau dia adalah Dylan, asisten pribadi Langit. dia bahkan sering ngobrol bersama Dylan.
"D...Daniel, lo duluan aja. Gue ada perlu sama dia." Peringat Senja pada laki laki yang masih berdiri disampingnya menatap bingung pada Dylan.
"Dia siapa Nja? kenapa dia kenal Lo? dan penggila nya ke lo?" bukannya segera pergi, Daniel malah memberikan pertanyaan beruntun pada gadis itu.
"Itu bukan urusan lon Niel, jadi mending sekarang lo duluan aja." suruh Senja. Ia jadi gugup karena kedatangan Dylan yang tiba tiba itu.
"Tapi Nja...."
"Niel, please... ngertiin gue, kali ini aja." pinta Senja. Gadis itu sampai mengatupkan kedua tangannya memohon pada laki laki itu. dengan pasrah akhirnya Daniel pergi meninggalkan Senja bersama pria yang tak dikenalnya.
Bersambung....