NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Ulang Tahun Rangga

Seminggu setelah Om Bram menanyakan identitas Rangga dua kali, aku menghadiri ulang tahunnya di Restoran Bunga Rampai.

"Datang satu jam, makan gratis, lalu pulang," kata Dinda ketika membujukku. "Kamu butuh membuktikan bisa berteman tanpa membuat hidup jadi drama."

"Hidupku nggak pernah drama sebelum kamu jadi teman dekatku."

"Fitnah. Saya cuma penonton yang rajin beli tiket."

Kami tiba pukul tujuh malam. Rangga memesan ruang privat yang terhubung dengan teras terbuka. Belasan teman kampus sudah berkumpul. Tidak ada dekorasi berlebihan, hanya kue, beberapa rangkaian bunga, dan tumpukan hadiah di sudut.

Om Bram tahu aku datang. Aku sendiri yang mengirim alamat restoran dan mengatakan akan pulang pukul sepuluh. Dia menjawab akan menjemput karena kebetulan ada pertemuan tidak jauh dari Menteng.

Aku mengizinkannya.

Hal kecil itu terasa seperti bukti bahwa kami sedang belajar bertemu di langkah kelima. Aku memberi kabar bukan karena diperintah, dan dia menawarkan jemputan tanpa menuntut aku pulang lebih awal.

Rangga menyambut kami di pintu.

"Terima kasih sudah datang, Kar. Din."

Dinda menyerahkan hadiah bersama dari kami. "Jangan berharap mahal. Isinya doa dan diskon toko buku."

"Doanya yang penting. Diskonnya bonus."

Suasana makan malam ringan. Rangga berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, memastikan semua orang mendapat makanan. Dia tidak duduk khusus di sampingku dan tidak melakukan apa pun yang membuatku tidak nyaman.

Itu sebabnya aku tidak menyadari arah malam tersebut sampai lilin ditiup.

Seorang teman laki-laki berdiri sambil mengetuk gelas dengan sendok.

"Pidato ulang tahun sudah biasa. Sekarang waktunya Rangga mengaku siapa orang yang dia suka!"

Ruangan langsung dipenuhi sorakan.

Rangga mengangkat kedua tangan. "Nggak ada acara begitu."

"Bohong! Dari semester lalu semua orang tahu."

Beberapa orang menyebut nama secara bergantian. Aku ikut tertawa sampai suara-suara itu perlahan beralih ke arah meja kami.

"Sekar!"

Tawaku berhenti.

Dinda menoleh kepadaku dengan mata lebar. "Saya sumpah nggak tahu."

Rangga berdiri di dekat kue. Wajahnya memerah, tetapi tatapannya tidak menghindar. Dia meminta teman-temannya tenang, lalu berjalan ke hadapanku.

"Maaf kalau caranya jadi begini," katanya. "Saya sebenarnya mau bicara berdua."

Ruangan masih riuh oleh bisikan dan tawa tertahan.

"Rangga..."

"Aku suka kamu dari dulu, Kar. Mau nggak kasih aku kesempatan?"

Beberapa orang bertepuk tangan. Yang lain bersiul. Semua mata mengarah kepadaku, membuat jawaban sederhana terasa seperti pertunjukan.

Rangga adalah laki-laki baik. Dia sebaya denganku, punya keluarga yang dihormati, dan tidak pernah memakai kebaikan sebagai utang. Jika hidupku berbeda, mungkin aku bisa mempertimbangkannya.

Namun hatiku sudah memilih seseorang yang bahkan masih meminta waktu untuk mengakui pilihannya sendiri.

Aku berdiri.

"Rangga, terima kasih, tapi..."

Pintu ruang privat terbuka.

Om Bram masuk dengan setelan kerja berwarna gelap. Wajahnya tenang, tetapi langkahnya langsung menuju tempatku berdiri. Suara dalam ruangan mengecil sedikit demi sedikit.

Dia berhenti di sisiku.

"Maaf mengganggu," katanya kepada seluruh ruangan. "Saya jemput Sekar."

Dinda menunduk pada ponselnya. Aku melihat layar masih terbuka pada percakapan dengan Om Bram.

`Datang sekarang. Situasi gawat.`

Aku melotot kepadanya. Dinda membalas dengan ekspresi tidak bersalah.

Bisikan muncul dari meja belakang.

"Itu Pak Bramantyo, bos Adiwangsa, kan?"

"Hubungannya sama Sekar apa?"

"Katanya ayah angkat."

"Tapi kenapa datang pas ada yang nembak?"

Om Bram pasti mendengar. Rahangnya mengeras, tetapi dia tidak melihat ke arah pembicara. Perhatiannya justru tertuju pada Rangga.

"Selamat ulang tahun," katanya.

Rangga menelan ludah, lalu mengangguk sopan. "Terima kasih, Pak. Ayah saya sering cerita tentang Bapak."

"Pak Suryo orang baik."

Pujian itu seharusnya ramah. Entah kenapa terdengar seperti penilaian yang belum selesai.

Aku tidak ingin menggunakan kedatangan Om Bram untuk menghindari tanggung jawab menjawab. Aku menatap Rangga langsung.

"Maaf, Rangga, aku nggak bisa. Terima kasih undangannya."

Sorakan menghilang sepenuhnya.

Rangga tersenyum tipis meski kecewa jelas terlihat. "Karena Pak Bram?"

Pertanyaan itu terlalu jujur.

Aku merasakan Om Bram diam di sampingku. Dia tidak menjawab untukku, tidak mengklaim apa pun, dan tidak menyentuhku. Pilihan tetap berada di tanganku.

"Karena aku nggak bisa kasih kesempatan kalau hatiku nggak kosong," jawabku. "Kamu pantas dapat jawaban yang jelas, bukan harapan palsu."

Rangga mengangguk setelah beberapa detik. "Baik. Terima kasih sudah jujur."

"Maaf suasananya jadi begini."

"Teman-teman saya yang berlebihan." Dia menoleh ke mereka. "Acaranya lanjut. Jangan bikin Sekar merasa bersalah."

Sikapnya membuatku semakin yakin telah melakukan hal benar dengan menjawab tegas.

Dinda mengambil tas dan mengantarku ke pintu. "Saya pulang sama teman lain," bisiknya. "Besok kamu boleh marah karena saya panggil beliau."

"Aku pasti marah."

"Tapi sekarang kamu senang."

Aku tidak memberinya kepuasan berupa jawaban.

Tawanya mengikuti kami sampai pintu koridor tertutup dan suara pesta kembali menjauh.

Om Bram berjalan di belakangku sampai koridor restoran. Ketika seorang pelayan membawa nampan besar melewati kami, tangannya menyentuh punggungku untuk mengarahkan ke samping.

Sentuhan itu tetap berada di sana setelah pelayan lewat.

Kami melintasi lobi, menuruni dua anak tangga, dan berjalan menuju mobil. Telapak tangannya hangat di antara tulang belikatku, ringan tetapi terasa seperti pernyataan yang belum berani diucapkan.

"Om datang karena Dinda?" tanyaku.

"Saya sudah dalam perjalanan. Pesannya hanya membuat saya tidak menunggu di mobil."

"Om dengar semuanya?"

"Cukup banyak."

"Termasuk jawabanku?"

"Termasuk."

"Om senang?"

Dia menatap lurus ke depan. "Rangga menerima penolakanmu dengan baik."

"Bukan itu yang kutanya."

"Kita sedang di depan restoran."

"Dan?"

"Ada orang yang mengenali saya. Video di kampus dulu sudah cukup membuatmu menjadi bahan pembicaraan. Saya tidak mau satu ekspresi saya dipotong menjadi judul baru."

Aku melihat pintu kaca restoran. Beberapa teman memang masih mengintip dari balik tirai.

"Jadi Om menjaga ekspresi karena melindungiku?"

"Dan karena saya tidak ingin mempermalukan Rangga pada hari ulang tahunnya. Dia tidak melakukan kesalahan dengan menyukaimu."

Jawaban itu dewasa dan masuk akal, khas Om Bram. Namun ketika dia membuka kunci mobil, aku melihat pantulan wajahnya pada kaca. Sudut bibirnya naik sangat tipis.

"Om senang," kataku.

"Masuk mobil."

"Itu bukan bantahan."

"Sekar."

"Baik."

Aku menyembunyikan senyum. Untuk pertama kalinya, kecemburuannya tidak terasa seperti pagar. Dia tidak melarangku hadir, tidak menjawab atas namaku, dan tidak merendahkan Rangga. Dia hanya datang, berdiri di sisiku, lalu membiarkanku memilih.

Dia membukakan pintu. Baru setelah aku duduk, Om Bram seperti menyadari tangannya masih di punggungku. Dia menariknya perlahan.

Aku menunduk melihat tempat yang baru kehilangan kehangatan itu. Ketika bayanganku muncul di kaca jendela, kedua telingaku sudah merah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!