NovelToon NovelToon
Taurus Di Antariksa

Taurus Di Antariksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:101.4k
Nilai: 5
Nama Author: bung Kus

Dyah Alfah Antariksa.
Menemukan dirinya terjebak dalam kehidupan fresh graduate yang penuh tekanan. orangtua yang menuntut untuk segera mendapat pekerjaan mapan, juga soal perjodohan. rasanya kehidupan sesak, oleh tuntutan lingkungan.
Taurus Eka Pradipta cowok ganteng, yang konyol dan sembrono. Menjadi tulang punggung keluarga setelah ditinggalkan Sang Ayah. Jalan hidupnya terjal, namun dia selalu ceria.

Bagaimana jika mereka berdua ditemukan oleh takdir??

Tulisan pertama genre Romance
Nggak tahu bakalan asyik atau nggak
coba saja dulu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh

Sepulang dari pantai, Dyah mengurung diri di kamar. Bahkan aroma masakan Bunda nya yang semerbak di udara dihiraukan. Bukankah seharusnya rumah adalah tempat yang nyaman untuk pulang? Tapi akhir-akhir ini Dyah malah merasa tak betah berada di rumah. Baginya sekarang, rumah hanyalah bangunan yang telah kehilangan fungsinya.

Terdengar suara kaca jendela diketuk dari luar. Dyah beranjak dari duduknya di sudut ranjang. Rasa penasaran timbul, ingin tahu siapa gerangan yang mengetuk-ngetuk kaca buram di tengah dinding tepat di hadapannya itu.

Perlahan Dyah menyingkap kelambu. Terlihat bayangan jari-jari runcing seolah menggaruk kaca yang sudah belasan tahun terpasang. Dyah menghela nafas perlahan. Kemudian dengan gerakan tiba-tiba dia membuka jendela.

Sosok perempuan terjungkal di hadapan Dyah. Sosok itu adalah Ayudisa, adik Dyah. Gadis puber itu tersenyum masam ke arah Mbak Yu nya.

"Ngapain?" tanya Dyah sewot.

"He he, aku khawatir padamu Mbak. Pulang plesir kok mengurung diri di kamar," jawab Ayu cengengesan.

"Heleehh. Bunda sama Bapak komen apa? Atau jangan-jangan mereka nggak peduli padaku?" gumam Dyah kembali duduk di sudut ranjang, membiarkan jendela kamar terbuka. Semilir angin bertiup, menghembuskan udara malam yang dingin.

"Tau tuh si Ngaimah. Tadi cuma ngomel-ngomel masakannya nggak Mbak sentuh," jawab Ayu ikut duduk di sebelah Mbak Yu nya.

"Ngaimah Ngaimah! Dosa kamu, manggil Bunda kayak gitu," hardik Dyah sembari melempar sebuah bantal. Ayu tertawa renyah.

"Ngomong-ngomong, oleh-olehnya mana niihh?" Ayu memainkan alisnya naik turun.

"Ohhh, jadi kamu tadi kesini bukan karena khawatir sama Mbak kan? Tapi pengen oleh-olehnya," tuduh Dyah sembari memicingkan mata.

Ayu hanya tersenyum cengengesan. Dyah meraih ransel di bawah dipan kemudian mengambil sebuah kaos berwarna putih yang terbungkus plastik.

"Nih, kaos. Sudah tak pilihin yang paling mahal bahan halus, nggak kayak saringan tahu," ucap Dyah meletakkan kaos di pangkuan Ayu.

"Horeee!" Ayu terlonjak girang. Dengan terburu-buru membuka kaos pemberian Dyah dan segera memakainya.

Kaos putih yang terasa pas di badan Ayu. Dyah tidak berbohong. Bahan kaosnya memang adem dan cukup tebal. Di bagian depan terdapat sablonan bertuliskan 'Patah hati? Yuk ke pantai'.

"Bagus sih Mbak, tapi kenapa tulisannya kayak gini?" protes Ayu.

"Emang kenapa? Font tulisannya aku suka. Warna tulisan dengan gradasi pink dan ungu kurasa juga cocok," sahut Dyah manggut-manggut.

"Orang galau diminta oleh-oleh ya begini jadinya," balas Ayu kembali duduk di sebelah Mbak nya.

"Siapa yang galau? Yeee," kilah Dyah.

"Hmmm, tahu nggak Mbak?" Ayu terlihat melamun.

"Nggak tahu," sanggah Dyah cepat.

"Yeee, Mbak dengar dulu," ucap Ayu sewot.

"Dari prahara yang Mbak alami saat ini, membuatku takut untuk jadi dewasa. Takut hidupku banyak tekanan. Kerja lah, nikah lah, tambah lagi calon suami harus beginilah begitulah. Hih, ribet." Ayu geleng-geleng kepala.

"Kalau nggak mau jadi kayak Mbak, sekolah yang rajin Yu. Jadi pinter, ketrima kuliah di tempat yang ikatan dinas. Jadi, selepas lulus langsung ada kerja," sambung Dyah menasehati.

"Tapi sebenarnya yang paling penting adalah menjadi diri sendiri. Memperbaiki kualitas diri bukan untuk orang lain melainkan memang untuk pribadi kita sendiri. Hidup ini terlalu singkat jika hanya untuk menuruti kemauan orang," lanjut Dyah. Matanya nyalang menatap langit-langit kamar. Ayu manggut-manggut. Dalam diam tiba-tiba saja terdengar suara perut Dyah, nyaring dan panjang. Hati boleh suntuk, mulut bisa menolak makan, tapi perut punya cara tersendiri untuk minta diperhatikan.

"Mbak lapar?" goda Ayu dengan senyum simpulnya.

"Menurutmuuu," jawab Dyah sewot.

"Hi hi hi. . .Mbak disini saja. Tak ambilin makan," ucap Ayu cengengesan. Gadis SMA itu beranjak dari duduk dan melompat keluar kamar melalui jendela. Dyah ternganga melihatnya.

"Dasar godul, lewat pintu kan bisa. Kuncinya bisa dilepas dari dalam tuh pintu," ujar Dyah sambil geleng-geleng kepala.

Beberapa menit berikutnya Ayu kembali, masih juga melompati jendela kamar. Dia membawa semangkuk bakso lengkap dengan kecap saos dan sambal.

"Lhah kok bakso? Bukannya Bunda masak rawon?" tanya Dyah keheranan.

"Lhoo, bukannya Mbak lagi ngambek. Nggak mau makan masakan Bunda kan? Jadi sengaja tak beliin bakso di warung depan," jawab Ayu dengan senyum yang lebar. Dyah mendengus kesal. Rawon adalah makanan kesukaannya. Dia memang sedang jengkel pada Bu Ngaimah tapi bukan berarti nggak mau mencicipi masakan sang Bunda yang terkenal sedap hingga ke luar galaxy.

Pada akhirnya Dyah tetap menyuapkan bola-bola daging ke dalam mulutnya. Rasa lapar sudah tidak tertahankan. Bahkan bakso yang biasanya terasa biasa-biasa saja bagi Dyah, kini menjadi sangat gurih dan cocok di lidah. Dyah kelepasan bersendawa kencang setelah satu mangkok bergambar jago merah yang terisi penuh bola-bola daging itu tandas tak bersisa.

"Bunda tadi pagi masuk ke kamar ini kan?" tanya Dyah setelah menyelesaikan makannya.

"Iya, ambil ijazahnya Mbak. Karena hari minggu aku kan seharian di rumah saja. Jadi aku tahu, dan sebenarnya sudah kucegah Mbak. Tapi Mbak tahu sendiri kan Bunda gimana? Pemegang tahta tertinggi di rumah ini. Hi hi," ucap Ayu cengengesan.

Dyah manggut-manggut. Namun kemudian dia teringat sesuatu yang menggelitik hatinya.

"Eh, ngomong-ngomong hari minggu tuh kurir pengirim paket nggak libur?" tanya Dyah tiba-tiba. Dahi Ayu nampak mengkerut mendengar pertanyaan Mbak Yu nya yang tidak nyambung dengan obrolan sebelumnya.

"Nggak libur Mbak. Memangnya Mbak mau kirim paket?" tanya Ayu penuh selidik.

"Nggak kok. Cuma penasaran saja," jawab Dyah cepat. Ayu garuk-garuk kepala.

"Mbak, beban hidupmu memang berat, tapi plis jangan jadi aneh. Pikiran harus lurus Mbak. Aku nggak mau kehilangan Mbak yang suka ngasih uang saku 50 ribu setiap malam minggu," ucap Ayu pura-pura menyeka air mata.

"Ihh, punya Adik satu lucu dan ngegemesin yak. Pengen deh nyubit pipi bakpao mu itu pake tang." Dyah melotot, Ayu nyengir.

"Dah, keluar sana! Bawa mangkoknya dan cuci bersih. Mbak capek mau tidur!" usir Dyah sembari menyodorkan mangkok yang terisi setetes kuah bakso. Ayu menurut. Dia kembali melompati jendela untuk keluar dari kamar Mbak Yu nya itu.

"Mbak?" panggil Ayu dari luar kamar.

"Apa?" sahut Dyah.

"Dicari anaknya Pak Sukito. Hiyyaaaa." Ayu berlari sambil tertawa nyaring. Tawa melengking yang terdengar menyeramkan bagi tetangga sebelah rumah.

"Cah edyan!" gerutu Dyah kesal.

Pada saat yang sama handphone di atas kasur bergetar. Sedikit malas, Dyah meraih benda berwarna biru itu. Terdapat satu pesan whatsapp masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Hai cewek yang kesasar. Sudahkah engkau sampai di rumah?

Dyah tersenyum membacanya. Dia kemudian memencet foto profil sang pengirim pesan. Foto laki-laki dengan pose standar. Berdiri di depan pintu usang dengan jari telunjuk dan jari tengah yang diangkat. Senyum kaku menjadi ciri khas.

"Dasar cowok, apa nggak ada gaya lain kalau di foto? Hi hi," gumam Dyah sambil tertawa-tawa kecil. Rasa kesal di hatinya terasa jauh berkurang kini.

Bersambung___

1
kurnia widiastuti
Toooooppp... keren. lucu, haru, bikin baper.
MR mae
hmmmm/Shy/
Rika Iftakul
kapan lanjut lagi
Silma Fitria
kata kata Bapak/Sob/
Andriani
yg ini lanjut gak yaa
Rommy Wasini Khumaidi
ceritanya bagus
Rommy Wasini Khumaidi
aku kalau baca novelnya bung Engkus mesti gk mau direm,sayang banyak novel yang gk tamat...padahal novelnya bagus semua dari yang horor maupun yang romantis
Rommy Wasini Khumaidi: gk tamat,masih bersambung tp gk ada kelanjutane
total 3 replies
Na'imah, SKM
mantappp ihh author nya /Grin/
gasss.. utk semua novelnya /Good/
𝕸𝖆𝖘𝖎𝖙𝖆𝖍 𝕬𝖟𝖟𝖆𝖍𝖗𝖆
Dan kabarnya sampai sekarang mas Ta dan mbak Dyah masih belum beranjak dari tempat yang dipakai untuk akad nikah tersebut 😅😅😅
Andriani
bung mana lanjutan mas Ta nya... tolong ya up lagiii
Andriani: di NT juga kan?? semoga rilis ya thoor
total 2 replies
Andriani
bung... mana upnya nih...
Andriani
loh gak dilanjut lagi??? ini udah 2024,maret bung.... ayok di lanjut
Andriani
semua cerita udah di baca... buat cerita baru lagi ya thoor...
Andriani
🤣🤣🤣🤣🤣, begitu kalo penakut ya.... sama deh....
Netty Herawaty
kpn update ny nih thor???
Covana_Nana
pertama baca karya Bang Kus " Narsih "..jadi ketagihan sampai di karya yang ini.

karya sangat bagus
Siti Dede: jadi ini nggak akan dilanjut?
total 2 replies
Covana_Nana
Luar biasa
Wahyu Puji
keren bgt 😍
Rose_Ni
woah Amel, parah parah
Rose_Ni
The Great Of CCTV Kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!