aku terlahir kembali...tapi apa ini?! seorang bayi biasa?!
(light novel indonesia)
-------
Update 2 hari sekali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seraph rein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman
Terlahir Kembali sebagai gadis biasa-- Teman
***
Aku sedang memperhatikan Anne dan Tika yang bermain boneka barbie. Mereka berdua adalah anak tetangga yang seumuran denganku. tapi aku sejujurnya batu kali ini bertemu dengan mereka.
Boneka Barbie di dunia ini bisa bertindak dan berbicara sendiri, begitu juha dengan boneka lainnya. meskipun tindakan dan ucapan mereka sesuai dengan yang diinginkan si pemilik boneka. Ya, ini sebabnya aku tidak punya boneka dirumah. bukankah memiliki boneka yang bisa bergerak sendiri itu mengerikan?
Aku mengembungkan pipiku, Aku kesini karena saran dari Mamah. Begini katanya: "Zeirlyn kan sudah besar, mamah ajak kamu berkenalan dengan anak-anak tetangga yang seumuran untuk bermain, ya."
Padahal dirumah saja, sudah ada kakak-kakak yang bisa diajak bermain. meskipun mereka terkadang sibuk dengan urusan masing-masing yang tidak jelas, sih.
Lagian, teman-teman baruku sekarang ini, aku merasa tidak cocok dengan mereka. Aku tiba-tiba mengingat memoriku dari kehidupan sebelumnya. sebuah kilasan yang intinya Aku mengingat bahwa aku tidak menyukai anak-anak. Tapi aku tidak tahu kenapa, tidak begitu jelas. Dan aku juga hanya memiliki sedikit teman. Kurasa bahkan dulu pun aku bukan ornag ynag suka bersosialisasi. tapi aku mengingat aku sangat tertarik kepada hubungan pertemanan dan percintaan orang lain.
Wah, ini pertama kalinya bagiku mendapatkan memori baru tentang kehidupan sebelumnya! Apa di lain waktu aku akan mendapatkannya lagi? sejujurnya, aku agak penasaran dan ingin mencari tahu tentang kehidupan ku sebelumnya tali aku tidak tahu bagaimana caranya. aku mendapatkan informasi dari dunia ini melalui membaca buku dan bertanya pada keluargaku. hal yang smaa tidak mungkin kulakukan untuk mendapatkan memori masa laluku.
"Zein, Kau kenapa?" Anne bertanya padaku. Dia pasti bingung melihat mukaku yang tiba-tiba melongo dan terkejut padahal tadi aku hanya memperhatikan mereka.
Ugh, apakah sesulit itu untuk mengucapkan Zeirlyn? Aku bisa mengucapkan Zeirlyn meski masih berusia tiga tahun, kenapa mereka terus memelesatkannya menjadi Zein? Jangan sembarangan mengubah nama orang, dong.
"Aku tidak papa kok, hehe." Aku tersenyum lebar, "Hanya saja boneka kalian cantik-cantik sekali. apa boleh aku meminjamnya?" Ucapku yang tidka terllau memikirkan ucapan saking berusahanya berbohong. Tiba-tiba aku menyadari ada bekas air liur di salah satu kaki boneka itu. Aku jadi menyesal mengatakannya. sangat
"Em, Cilakan..."
Boneka Barbie milik Tika berjalan kearahku. Itu adalah boneka Barbie dengan air liur di kakinya. Matanya bulat besar dan selalu terbuka, menatap ke apapun yang ada di depannya, dan rambutnya yabg berwarna ungu diurau dan ada beberapa bekas kusut di rambutnya. "Hiih!" Aku menjerit tanpa sadar. "Jangan...!" Ucapku tertahan. Tidak, kumohon menjauhlah dariku!
"Zei, apa kau tidak apa-apa?" Mamah yang tadi mengobrol dengan para tetangga, segera menghampiriku dengan khawatir.
Mamah, tolong aku!!!
"Ennn, Zei sakit perut! Mamah Zei mau pulang!" Aku berucap dengan pura-pura menangis. hanya mengekuarkan suara tangisan dan menutupi wajahku agar tidak jelas ada tidaknya air mata di pipiku.
Mamah segera mengambilku dan menggendongku. Dia tersenyum kecil pada temannya, dan tertawa canggung, "Maaf, ya. anaku sepertinya harus segera pulang."
"Tidak apa. pulanglah. cepat sembuh ya, Zei!" Ucao salah seorang ibu-ibu yang merupakan teman dari ibuku. dia menatapku perihatin dan mebgelus puncak kepalaku.
"Iya!" Aku melambaikan tanganku pada bibi Wina. Lupa dengan kegiatan pura-pura menangisku tadi, sekarang aku malah mengatakannya dengan agak beraemangat.
***
"Kau tidak menyukai mereka, ya?" Mamah bertanya padaku setelah kami smapai di rumah.
uh-oh, ketahuan.
Dia menurunkanku deai gendongannya dan aku berdiri selagi menunggu dia menarik tuas pintu.
"Habisnya..." aku berusaha menjelaskan. tapi tidak ada kalimat lanjutan yang bisa kukatakan.
Mamah menghela napasnya, "Mamah tidak tahu apa yang salah denganmu. Kau selalu bersikap lebih dewasa dari anak seumuranmu. bahkan terkadang lebih dewasa dari pada kakak-kakakmu. Perkembangan mentalmu juga sangat cepat..." Ucao mamah sambil mengernyitkan dahinya dengan Khawatir dia mengelus pipiku.
Aku memegangi lengan baju Mamah yang tangannya masih menempel di mukaku,dan dengan muka sedih aku berkata, "Aku anak normal, kok. Mamah jangan khawatir..."
Mamah tersenyum padaku dan memandangku dengan tatapan bersalah. "Tentu saja kau anak normal. mungkin kau hanya butuh sedikit pengertian."
Yah! itu dia! Jatuhlah pada keimutanku! hehe.
"Mamah.., aku sudah punya mamah, papah, Kak Sean, Kak Neira, Kak Levion, Kak Aury, Kak Kei, dan Kak Karin. Aku tidak butuh teman lainnya..." Ucapku mengabsen satu persatu anghota keluarku dengan menggunakan jari tangan.
Mamah memandangku dengan tatapan kaget dan berkaca-kaca, "Zeirlyn, kamu..." Dia tersedu.
Eh? kenapa malah nangis? aku kan belum selesai bicara.
"Jadi tolong lain kali, tidak usah mengkhawatirkan tentang temanku lagi, ya. Aku sudah punya kalian, kok. Atau, Apa mamah tidak mau menjadi temanku lagi, makanya mamah mencarikanku teman lain?" Aku menatapnya dnegan sedih dan mulut ditekuk ke bawah.
Mamah mengusap air mata yang tumpah dari matanya. "Zeirlyn, jangan mengatakan seperti itu, sayang. Mamah hanya mau kamu mempunyai teman yang seumuran denganmu..."
Dia sekarang menangkup pipiku dengan kedua tangan dan memeluku erat. Tanpa kusadari ternyata ayah sedang ada didepan pintu mendengarkan obrolan kami sejak tadi. Dia langsung menujukan dirinya ketika melihat scene dramatis ini. "Zei.., Putriku." Mata ayah berkaca-kaca seperti Mamah, tapi dia menahan tangisannya. Dia segera berlari ke arahku dan mamah lalu memeluk kami.
Waahhh, ini memalukan sekali. padahal bukan ini niatku. Toloongg...
Dan aku sesak napas... hikk!
"Kami pu-"
Kak Kei dan Kak Lev berdiri didepan pintu. Kak Kei yang akan mengucapkan 'kami pulang,' terhenti dan membeku melihat kami. Sedangkan Kak Lev berjalan begitu saja melewati kami, "Aku tidak peduli," Ucapnya dengan wajah datar.
Kei baru tersadar dari kebingungannya setelah Lev sudah tidak terlihat lagi di ruang tamu. "Eh, ada apa ini? Kenaa kalian saling berpelukan seperti itu? keluarga kita menang undian?"
"Tidak, bodoh." Ayah menarik Kak Kei mendekat dan mengajaknya berpelukan bersama. Karena dia masih agak shock, dia tidak punya kekuatan untuk menolak.
"Apa... apa yang terjadi..? Kak Kei kebingungan
Huhu, ini sungguh memalukan sekali. Kumohon cepat selesaikan ini dan lepaskan aku sebelum yang lainnnya melihat.
"Aku... sesak... napas...." Ucap Kak Kei yabg satu perasaan dneganku. Akhirnya setelah beberapa menit kami saling melepas dan tertawa. Tidak, sebenarnya hanya Ayah dan ibu saja yang tertawa. Kak kei dan aku menatap satu sama lain bingung.
"Tidak. aku tidak tahu." Jawabku sebelum Kak Kei bertanya apapun.
"Baiklah..."
di mana" untuk membekukan air itu pakek elemen es bukan angin ya kan ?
dah lah otak kentangku gak nyampek😓
katanya reinkarnasi tapi bertele2 sdh gitu bodoh lagi🙄🙄🙄