NovelToon NovelToon
Jadi Istri Pak Bos

Jadi Istri Pak Bos

Status: tamat
Genre:CEO / Romansa / Rumah Tangga / Romantis / Tamat
Popularitas:345k
Nilai: 4.9
Nama Author: Gledekzz

(NOVEL INI DALAM PERBAIKAN.)

Zahra Aneska, 28 tahun, telah lama memutuskan untuk tidak menikah. Hidupnya sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan pasangan, terlebih keluarganya selalu menentang setiap pilihan yang ia ambil.
Namun hidup sering kali berjalan di luar rencana. Suatu hari sepulang kerja, ia dikejutkan oleh kenyataan yang sulit dipercaya dengan status lajang yang selama ini ia pertahankan tiba-tiba berubah. Ia resmi menjadi istri dari atasannya sendiri.
Pernikahan itu penuh tanda tanya. Apakah pria itu juga berada dalam situasi yang sama? Ataukah ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan?
Menjalani rumah tangga tersebut jelas bukan hal mudah. Konflik, tekanan, dan berbagai rahasia perlahan mulai terungkap. Di tengah semua itu mampukah cinta tumbuh di antara mereka, atau justru ini menjadi awal dari masalah yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Halaman ~

...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...

“Ayah Abyan.” teriak kedua anak kecil beda jenis kelamin secara bersamaan.

Zahra sontak menoleh. Dua anak kembar itu berlari menghampiri Abyan yang berdiri tak jauh darinya. Lelaki itu langsung tersenyum lebar, merentangkan tangan, lalu menyambut mereka dengan penuh kehangatan.

Zahra hanya bisa diam di tempatnya. Pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan yang terasa semakin tidak masuk akal.

Di sisi lain Falisha terlihat memainkan alisnya sambil tersenyum penuh arti, jelas menikmati kebingungan Zahra.

Zahra menatap sahabatnya itu dengan kesal, tetapi tidak sempat berkata apa-apa.

Sementara itu salah satu anak perempuan kecil sudah duduk di pangkuan Abyan. Tatapannya polos saat memandang Zahra. “Ayah kok tadi malam nggak pulang?” tanyanya lugu.

“Biasanya Ayah pulang, dan siapa lagi aunty ini Ayah?” sambung anak laki-lakinya sambil menatap Zahra dengan rasa penasaran yang tidak disembunyikan.

Zahra semakin kaku. Dalam sekejap pikirannya langsung menarik kesimpulan sendiri, mungkin saja kedua anak itu adalah anak Abyan dari pernikahan sebelumnya.

Dugaan itu membuat dadanya terasa tertekan. Ia mulai merasa bahwa lelaki itu telah berbohong.

Namun Abyan tetap terlihat tenang. “Ayah kan kemarin nikah sama aunty Zahra, masa kalian berdua lupa?” jawabnya santai.

Ucapan itu justru membuat Zahra semakin bingung.

Belum sempat ia mencerna semuanya, suara perempuan lain tiba-tiba terdengar dari arah pintu. “Maaf saya terlambat.”

Semua kepala menoleh bersamaan.

Seorang perempuan muda masuk dengan langkah anggun. Penampilannya rapi dan wajahnya cantik, membuat Zahra kembali tertegun. Sekilas Zahra langsung menarik kesimpulan lain, bahwa perempuan ini pasti istri pertama Abyan.

Perempuan itu mendekat dengan senyum ramah. “Kenalkan, saya istri pertama mas Abyan, Hanum.”

Zahra langsung terdiam. Dugaan yang sejak tadi berputar di kepalanya terasa seperti mendapat pembenaran.

“Hanum, jangan cari masalah,” ucap Abyan dengan suara menahan.

Falisha tiba-tiba tertawa lepas, suaranya pecah memenuhi ruangan. Sementara yang lain hanya tersenyum, berusaha menahan tawa.

Zahra semakin kebingungan, tetapi tetap mempertahankan sikapnya. “Saya teman pak Abyan.” ucap Zahra tegas.

Falisha semakin terpingkal-pingkal, bahkan sampai memegangi perutnya.

“Zahra!” suara Abyan meninggi membuat semua orang sedikit terkejut.

Namun Zahra tetap menatap Abyan tanpa rasa bersalah.

“Kalian berdua sudah gila ya?” tanya Abyan kesal.

Zahra menghela napas pelan. Emosinya mulai naik, tetapi ia berusaha menahannya.

“Emang salahnya dimana, Mas?” Hanum terlihat benar-benar bingung.

Zahra sedikit merasa lega, setidaknya ada yang mewakili perasaannya.

“Kalau lo istri pertama Mas Abyan, gue istri keduanya dong?” Falisha kembali tertawa tanpa henti.

Saat itulah Zahra mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Semua orang tertawa, kecuali Abyan yang masih terlihat kesal.

“Maaf ya Mbak! Saya sebenarnya adik Mas Abyan yang paling bungsu,” tambah Hanum sambil menahan tawa.

Zahra terdiam sejenak untuk mencerna ucapan itu. “Adik atau istri?” balas Zahra, kali ini mulai terbawa suasana.

“Tepatnya pembantu,” celetuk Falisha sambil terus tertawa.

Hanum langsung melirik kesal ke arah Falisha.

“Saudarinya Abyan, Ra. Yang terakhir. Bunda punya anak tiga,” jelas Sari dengan suara lembut, mencoba menenangkan suasana.

Zahra akhirnya mengangguk pelan. Kini semuanya mulai jelas. Seluruh dugaan yang sempat memenuhi pikirannya ternyata keliru. Perasaan lega perlahan muncul, meski rasa malu ikut menyusul.

“Saya Zahra Aneska, Mbak.”

“Aduh, panggil aja aku Hanum.” Hanum langsung memeluk Zahra dengan hangat. “Selamat datang di keluarga kami ya Mbak. Usiaku masih dua puluh enam tahun, udah melangkahi dua saudara saya duluan.” ucapnya sambil melepas pelukan. “Ayo kita duduk dulu Mbak,” ajaknya ramah.

Zahra mengangguk pelan dan mengikuti langkah Hanum menuju ruang duduk. Meski berusaha terlihat tenang, perasaannya masih belum sepenuhnya stabil.

Rasa lega karena kesalahpahaman yang terurai bercampur Dengan malu atas prasangkanya sendiri barusan. Ia sempat menunduk sejenak, mengatur ekspresi sebelum kembali mengangkat wajahnya.

Belum sempat suasana benar-benar tenang, suara Falisha kembali menyelip di antara mereka.

“Ngomong aja udah kebelet mau kawin.” Falisha menyindir sambil menyeringai santai.

Mereka semua duduk bersamaan.

“Bunda nggak kayak gitu kok Aunty!” anak perempuan kecil itu langsung membela dengan penuh semangat.

“Eh, anak kecil mana tau,” balas Falisha santai.

“Taulah! Kami kan si kembar pintar,” jawab anak laki-laki itu sambil menggandeng tangan saudara kembarnya.

Zahra memperhatikan mereka berdua. Kekompakan anak kembar itu terlihat begitu alami dan menggemaskan.

“Bunda Hanum menjemput kami ke dunia,” ucap si anak perempuan dengan polos.

“Terserah kalian aja, pusing kepala gue.” Falisha mengangkat bahunya masih dengan ekspresi santai.

“Ini, kenalkan anak saya Mbak. Yang lelaki namanya Tama, adiknya Amel. Mereka kembar, usia baru lima tahun, baru masuk sekolah. Ayo salaman sama aunty Zahra,” ucapnya lembut.

Namun Amel langsung menggeleng. “Nggak mau Bunda, aunty udah ambil Ayah Abyan dari kami,” ucapnya dengan ekspresi serius.

Zahra terdiam sejenak, menahan reaksi. Kepolosan anak itu justru terasa menggelitik sekaligus membuatnya canggung.

“Nggak boleh begitu Amel.” suara laki-laki tiba-tiba terdengar dari arah belakang.

Semua menoleh.

Seorang lelaki dewasa mendekat dengan langkah tenang. Penampilannya rapi dan wajahnya tampak tegas, namun sorot matanya hangat.

“Perkenalkan, ini suami saya mas Darman.” Hanum memperkenalkan dengan bangga.

“Saya Darman, suaminya Hanum,” ucapnya sambil mengulurkan tangan.

“Saya Zahra Aneska,” balas Zahra sopan.

“Maaf ya Mbak. Tadi anak saya kayak begitu. Kami udah sering arahin mereka supaya panggil Om Abyan, tapi mereka masih panggil Ayah Abyan.” Darman terlihat sedikit tidak enakan.

“Nggak apa-apa Pak.” jawab Zahra tenang.

“Jangan panggil pak dong, kayak kurang akrab. Panggil Mas aja.” sela Hanum sambil tersenyum. “Ayo duduk,” ajaknya.

Darman kemudian menoleh ke arah kedua anaknya. “Minta maaf sama aunty,” ucapnya tegas.

“Iya Ayah.” jawab Tama dan Amel bersamaan dengan patuh.

Keduanya kemudian mendekat ke arah Zahra, menyalaminya dan bahkan mencium pipinya.

“Maaf ya Aunty.” Amel menatap Zahra dengan wajah bersalah.

“Aku juga minta maaf ya aunty.” Tama ikut menambahkan.

Zahra tersenyum lembut. “Kalian nggak salah kok, kenapa harus minta maaf?” ucapnya sambil memegang bahu kedua anak itu dengan hangat.

Tama dan Amel saling pandang, lalu tersenyum manis. “Terima kasih Aunty.” ucap mereka bersamaan.

“Sama-sama,” jawab Zahra.

Tak lama kemudian, kedua anak itu memeluk Zahra dengan spontan, membuat suasana yang sempat canggung perlahan berubah menjadi hangat dan penuh keakraban.

“Halo semua.” suara seorang perempuan terdengar dari arah ruangan lain.

Zahra dan kedua anak yang tadi masih berpelukan langsung melepaskan diri.

Semua perhatian tertuju pada sosok perempuan paruh baya yang baru saja masuk. Penampilannya modis dan terawat, meskipun usianya terlihat lebih tua dari Dameer dan Sari. Aura elegan yang ia miliki membuatnya tampak berwibawa.

“Halo,” jawab Falisha dan Hanum hampir bersamaan.

Abyan sedikit mendekat ke arah Zahra dan berbisik pelan, “Itu Oma Farra.”

Zahra mengangguk kecil, kemudian berdiri melangkah maju dengan sopan. Ia menundukkan kepala sedikit sebelum mengulurkan tangan. “Selamat siang Oma, saya Zahra Aneska.”

“Siang,” jawab perempuan itu singkat. Tangannya hanya menyentuh sekilas sebelum segera dilepaskan. “Saya Farra,” lanjutnya dengan datar. “Duduklah.”

“Iya Oma.” Zahra mengangguk kemudian kembali ke tempat duduknya dengan perasaan yang sedikit canggung.

Hanum pun memanggil seseorang. “Bi Tanti, Bi.”

“Iya Non.” seorang perempuan paruh baya datang dengan langkah cepat dari arah dalam.

“Bawa Amel sama Tama ke kamar mereka,” perintah Hanum lembut.

“Bunda kami di sini aja.” Amel langsung merayu.

“Iya nih, kami mau sama ayah Abyan. Kami juga baru ketemu.” Tama menambahkan sambil memeluk Abyan erat.

Abyan tersenyum sembari mengusap kepala kedua anak itu dengan lembut. “Nanti kita main kayak biasa, Ayah janji.” Ia mengangkat jari kelingkingnya.

“Janji.” Tama dan Amel langsung menyambut, mengaitkan jari kelingking mereka satu persatu.

Abyan mengangguk. “Janji.”

“Hore.” seru keduanya bersamaan, lalu berlari kecil mengikuti Tanti menuju kamar mereka.

“Ooh, ini dia mantu kamu, Ri?” tanya Farra sembari menatap Zahra dari atas hingga bawah.

“Cantikkan, Ma.” Sari langsung memuji Zahra dengan senyum lebar, mencoba mencairkan suasana.

Namun Farra hanya melirik sekilas dengan malas. “Yah lumayanlah. Eh Zahra, Oma mau tanya. Kamu pake jurus apa sih agar Abyan suka sama kamu?” tanyanya sambil mengangkat alis.

“Ma. Oma.” suara beberapa orang langsung terdengar bersamaan, mencoba menghentikan ucapan itu.

“Kalian kenapa? Enggak suka ya?” balas Farra semakin sinis.

Zahra terdiam. Pertanyaan itu jelas membuatnya tidak nyaman, tetapi sorot mata Farra seakan tidak memberinya pilihan untuk menghindar.

“Jawab Zahra?” bentak Farra tiba-tiba.

“Kenapa Oma ngomong kayak begitu?” Abyan langsung menyela.

“Kenapa bertanya pada cucu mama kayak begitu? Seharusnya Mama bersyukur Abyan telah menikah." Sari ikut membela dengan tegas.

“Iya nih Oma, nggak ada pertanyaan lain apa?” Falisha menimpali, ia begitu kesal.

“Oma nggak mau apa, Mas Abyan menikah?” Hanum ikut bersuara dengan suasana semakin memanas.

“Aku bersyukur kalau dapat mantu yang ingin ku jodohkan kemarin, bukan dia,” jawab Farra tanpa ragu.

Sari berdiri. “Mana orang yang ingin Mama kenalkan? Dari dulu wujudnya aja nggak ada. Apalagi orangnya nggak jelas?”

Abyan melirik Zahra sekilas, sementara Dameer segera menahan tangan istrinya agar tidak semakin terpancing emosi.

Sari kembali duduk meski wajahnya masih menunjukkan kekesalan.

“Diam kamu Sari. Aku bertanya pada cucu baruku. Jodoh yang kemarin sangat jelas, hanya belum aja sempat bertemu,” ucap Farra tegas.

“Mana Ma, nggak adakan? Mama aja nggak bertemu dengan penulis itu.”

Zahra sempat tertegun mendengar kata penulis, namun situasi tidak memberinya banyak waktu untuk mencerna.

“Kamu belum jawab?” tanya Farra lagi, kali ini menatap langsung ke arah Zahra.

Jantung Zahra berdegup kencang. Semua mata kini tertuju padanya.

“Ini pilihan aku Oma,” Abyan kembali menjawab mencoba mengambil alih.

“Oma tanya pada Zahra, bukan kamu,” potong Farra tegas.

Zahra menarik napas pelan. Ia tahu tidak ada jalan untuk menghindar.

“Maaf Oma sebelumnya. Aku aja juga bingung ingin menjawab apa? Tapi bisa disingkat, aku bertemu Pak Abyan baru kemarin siang.”

“Apa?” Farra terkejut.

“Aku menghabiskan hidup di rumah sakit kemarin. Pas hari ijab kabul aku lembur dua hari dua malam. Jadi aku nggak tau kalau balik ke rumah telah menjadi istri Pak Abyan.”

“Jelaskan Abyan,” perintah Farra tanpa mengalihkan pandangan.

“Pak, kita bercerai aja.”

Sebelum Abyan sempat menjawab, Zahra lebih dulu bersuara. Namun ucapan itu membuat semua orang tersentak, kecuali Abyan yang hanya menatap Zahra dalam diam.

“Jaga ucapan kamu Zahra yang meminta cerai. Semua itu nggak bisa diganggu gugat. Baru kali ini ada yang menolak cucu ku. Biasanya para perempuan akan melemparkan badannya ke Abyan, agar bisa mendapatkannya, sedangkan kamu malah meminta pisah semudah itu,” ucap Farra.

Zahra menahan diri, meski dalam hatinya mulai berkecamuk.

“Oma hanya bercanda tadi,” lanjut Farra tiba-tiba dengan santai. “Tapi masih jauh dirimu mendapatkan restuku kayak Sari.”

Ucapan itu justru terasa semakin membingungkan.

“Oma, di sini aku yang menikah. Kenapa harus meminta restu dari Oma?” tanya Abyan tegas.

“Kamu cucu laki-laki satu-satunya Abyan. Istri kamu harus dididik dulu. Apalagi kamu direktur perusahaan besar,” jawab Farra.

“Terus apa hubungannya dengan restu Oma?” balas Abyan tidak kalah tegas.

Farra terdiam sesaat.

“Sudahlah Abyan. Oma hanya bercanda tadi,” Sari kembali menengahi.

“Jadi kalian akan memberiku cicit kapan?” tanya Farra tiba-tiba untuk mengendalikan keadaan.

Zahra langsung terdiam, tidak menyangka arah pembicaraan berubah secepat itu.

“Dengan keadaan kalian sekarang? Jangan ngomong tadi malam kalian nggak membuatnya,” tambah Farra dengan menyelidik.

“Kami memutuskan untuk pendekatan dulu Oma,” jawab Abyan tenang.

“Kalian berdua itu ternyata banyak alasannya,” balas Farra.

“Udah, Oma. Lebih baik kita bahas yang lain aja ya." Sari segera mengalihkan topik. “Bagaimana mau Nak Zahra, setelah menikah sama Abyan, masih mau kerja atau di rumah aja? Besok kalian kan bakal ngadain pesta di hotel.”

Zahra terkejut mendengar rencana itu.

“Zahra berhenti kerja Bun,” jawab Abyan tanpa ragu.

Zahra langsung menoleh. “Nggaklah Pak, kontrak saya masih panjang.”

“Iya sudah satu bulan.”

“Kontraknya satu tahun Pak, bukan satu bulan,” jawab Zahra tegas.

“Ya sudah berhenti sekarang.”

Zahra menarik napas dalam. “Tiga bulan Pak.”

Abyan menyipitkan mata sembari menatap Zahra dalam.

“Kamu nggak masalah besok acara dilihat banyak orang loh Ra?” tanya Sari.

“Pake cadar Bun.”

“Tap—”

“Saya mohon Pak, beri saya privasi.”

Abyan menghembuskan napas kasar, jelas menahan emosi, namun tidak membalas.

“Bagaimana Abyan?” tanya Sari.

“Iya Bun,” jawabnya singkat.

“Mas, perasaan dari tadi panggilan kalian kayak atasan sama bawahan terus. Bukannya kalian sudah menikah ya?” tanya Hanum sambil tersenyum.

“Iya nih, panggil yang lainlah. Kalian juga udah nikah. Kaku banget,” sambung Falisha.

Zahra ragu sejenak lalu mencoba agar pertemuan mereka cepat selesai, tanpa adu debat lagi.

“Ma—s.”

“Iya Ay,” jawab Abyan dengan tiba-tiba jauh lebih lembut.

Sontak beberapa orang tersenyum melihat perubahan itu.

“Ay itu siapa Pak? Eh, Mas,” tanya Zahra pura-pura polos.

“Ayang Mbak,” jawab Falisha santai.

Zahra dan Falisha saling bertatapan sejenak, seperti ada percikan kecil yang tak terlihat.

Sari kemudian berdiri. “Sampai disini dulu perkenalannya kita. Makan yuk, sudah jamnya makan siang.”

“Oh ya yuk. Nggak sadar rupanya waktu berjalan begitu cepat,” sambung Dameer.

“Yuk Mbak,” ujar Falisha.

Yang lain hanya mengangguk pelan, mengikuti ajakan itu, sementara suasana perlahan kembali mencair meski sisa-sisa ketegangan masih terasa di udara.

...🌱🌿🌿🌿🌿🌿🌱...

1
Yani Cuhayanih
Ko ada lllakiyg langka suka sama cewe matre kayak zahra....thor masih punya stock gk aku juga mo cowo kayak abyan hahaha
Yani Cuhayanih
ini acara nikahan yg paling aneh bin ajaib bisa dapet suami kayak opa ...gk mesti pdkt dulu langsung sah.....hebaaat
Alexa Juliana
Waahh Zahra koma 2 bulan...Tp syukurlah dia selamat dan bangun dalam keadaan baik2 saja..
Alexa Juliana
Kematiaj yg terlalu mudah buat Cherly, harusnya dia di siksa ala2 mafia dulu sampai dia meminta kematiannya sendiri..Duuuhhh knp aku juga psikopat yaaa?Efek sebel dan kesal sama si Cherly..
Alexa Juliana
Hadeuh si Zahra ini keras kepala juga, jalan saja sdh mulai susah Krn perut hamilnya malah pengen ke pasar tradisional, blm lg ancaman dr si ulat bulu yg pasti lg nunggu lengahnya buat ngelancarin aksinya..
Alexa Juliana
Msh berharap klo Zahra hamil bayi kembar, apalagi Hanum anaknya kembar jd biar tambah seru aja, blm nanti anak dr Falisha dan Mika semakin rame aja rumah utama..
Alexa Juliana
Klo klrg sdh ngumpul adaaaa ajaaaa bahan pembicaraan yg bikin seru..
Alexa Juliana
Fadeeeelll kamu dimana? Itu ulat bulu lepas dr pengawasan kamu, sampai2 udh nemplok aja meluk Mas Abyan..
Alexa Juliana
Berarti saat Zahra di culik itu kecebong sdh tumbuh..Alhamdulillah kecebongnya kuat, kualitas premium jd g kenapa2..
Alexa Juliana
Ishh Zahra katanya perawat tp g tau yg namanya Couvade Syndrome..
Alexa Juliana
Semoga saja Zahra benar2 hamil cuma gajala kehamilannya Abyan yg ngerasain..😁
Alexa Juliana
Ternyata Cherly ga metong...Hmmm berarti selama ini Abyan menangisi dan maratapi org yg salah sampai di rawat di RSJ..Kasihan Abyan ditipu mentah2, untung ada Fadel yg membongkar kebusukan Cherry..
Alexa Juliana
Tuuhhh kaannn bnr yg nyelamatin Zahra saat di culik adalah Mas Abyan, tp g nyangka juga ternyata dia punya geng mafia yg di pimpin oleh Fadel, sepupunya...
Alexa Juliana
Ngebayangin para suami yg ditinggal istrinya liburan, mana lama lagi 2 Minggu kelimpungan2 deh..dan udh pasti para suami pun nyusul para istri...😁😁
Alexa Juliana
Kartu unlimited..
Alexa Juliana
Makan malam Thor bukan sarapan malam..
Alexa Juliana
Mrk yg unboxing knp aku yg nahan nafas yaaa? 🤭😄
Alexa Juliana
Kenapa bukan Zen yg jd wali nikahnya Mika, kan dia kakak kandungnya Mika?
Alexa Juliana
Baca novel ini berasa baca buku hariannya Zahra deh..🤭🤭
Alexa Juliana
Abyan dan pasukannya yg nolong Zahra and the geng, makanya mata Zahra di tutup..lalu dianya pingsan..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!