Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.
NO PLAGIAT!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Two Privileges
"Aku bersyukur kau masih selamat."
Mikayla tersenyum sinis. "Tentu saja, putra mahkota. Saya tak akan termakan tak-tik murahan Anda lagi," desis Mikayla. Ekspresinya berubah, ia menampilkan senyum manis dan menyambut uluran tangan Danial. "Kau memang tampan, pangeran Danial."
Danial menyeringai. "Calon suamimu ini memang tampan," ucapnya sombong.
Awalnya Mikayla diam namun tidak dengan hatinya. Putra mahkota termasuk salah satu orang yang bertanggung jawab atas segala yang terjadi malam itu. "Tapi menurut saya percuma kalau tampan dari segi wajah saja, pangeran." Mikayla melirik pria di sebelahnya, seringai kecil tersungging. "Karena menurut saya, pria yang tampan adalah ksatria pemberani, mampu membunuh banyak musuh di medan pertempuran. Bukan pria yang hanya berani membunuh wanita yang hampir menjadi istrinya sendiri," sindir Mikayla halus.
Danial menatapnya marah. Tangan pria itu mengepal kuat, siap untuk melampiaskan kemarahannya pada gadis sialan disebelahnya ini. Dia bukan Mikayla, Mikayla tak mungkin bisa seberani ini.
"Siapa kau? Walau kuakui mirip, tapi Mikayla tak secantik dirimu," tanya Danial dengan serius namun selama perjalanan menuju aula istana ia selalu menebarkan senyum pada orang yang menyapanya.
Siapa yang tidak berfikir demikian, Mikayla kali ini sangat berbeda. Rambut keperakannya yang dulu sangatlah pucat dan tak menarik kini tampak berpendar indah dibawah lampu kristal yang digantung menawan, wajahnya lebih berseri dengan kedua pipi yang merona, siapa sangka kalau putri Duke Stanley bisa secantik ini? Kecantikan yang bisa meratakan daratan seluruh kerajaan di Benua Erosh.
Dan Danial sangat bersyukur di dalam hati karena Mikayla sebentar lagi akan menjadi miliknya. Sebab kekasihnya sendiri tak secantik gadis ini.
"Saya tetap Mikayla, hanya saja mata Anda yang kotor itu tak bisa melihat saya sejak dulu," ucap Mikayla pedas. "Dan ingat, putra mahkota. Saya bukanlah Mikayla yang Anda kenal, jika Anda berharap ingin menginjakkan kaki di punggung saya, lebih baik lupakan niat seperti itu."
Danial terkekeh ironi. "Jangan sombong, nona karena sebentar lagi kau akan berada di bawah kaki ku setelah kita menikah. Aku jamin akan hal itu," ujarnya disertai seringai keji.
Sebelah alis Mikayla terangkat sinis. "Anda yakin kita akan menikah? Tunggu saja alur permainan dari saya, setelahnya Anda akan mengerti bagaimana rasanya dicampakkan."
Danial ingin menyahut, namun bertepatan dengan pintu aula utama sudah dibuka untuk mereka, ia mengurungkan niatnya. Danial menyukai Mikayla yang berbeda, mungkin ia tak perlu menyingkirkan gadis ini lagi. Ia juga tak perlu menikahi Amora. Ah, Mikayla bahkan jauh berkali lipat lebih cantik daripada putri Marquis Torand yang saat ini menatapnya tajam dibawah tangga aula.
Tentu saja Amora marah. Bukankah sebentar lagi ia akan menikah dengan Danial? Tapi kenapa Danial justru menggenggam tangan gadis yang hampir dibunuhnya?
Danial dan Mikayla berjalan bersama dengan anggunnya menuju ke hadapan Raja Peterson dan Ratu Lunia Stamford. Wajah mereka sama seperti yang terakhir Mikayla ingat dan sikap ratu masih sama penakutnya. Dulu Ratu Lunia takut dengan wajah garang Duke Stanley, tapi sekarang Mikayla dapat menganalisis kalau Ratu Lunia juga takut padanya. bahkan Ratu Lunia tak berani menatap manik tajam Mikayla yang memberikan hawa intimidasi.
"Yang Mulia Raja dan Ratu Kerajaan Armovin, kami memberikan penghormatan," Danial dan Mikayla menunduk hormat, setelah diperintahkan untuk berdiri tegak, barulah mereka kembali menatap Raja dan Ratu yang berada di atas takhta.
"Mikayla, itukah kamu? Sungguh sangat berbeda," ucap Raja Peterson dengan keterpukauan yang tak ditutup-tutupi.
Mikayla mengangguk. "Benar Yang Mulia, Saya Mikayla Stanley, putri pertama Duke Stanley," ucapnya tegas tak terbantah namun juga lembut. Aura yang sangat cocok untuk dijadikan seorang ratu.
Raja Peterson tiba-tiba bertepuk tangan dengan wajah bahagia. "Siapa sangka kalau putraku akan mendapatkan gadis secantik dirimu? Ah, aku tak akan pernah menyesal menjodohkan dirimu dengan putra mahkota!" ucapnya bangga. Dulu Raja Peterson tak pernah menyukai Mikayla. Ia pernah menjauhkan Mikayla dengan putranya sendiri agar mereka tak dekat. Mungkin saja kan akhirnya Mikayla memutuskan pertunangannya dengan Putra mahkota? Tapi itu dulu, dan malam ini Raja Peterson menarik semua ujaran kebenciannya pada Mikayla.
"Terimakasih Yang Mulia, sebuah kehormatan bagi saya," balas Mikayla merendah. Ia berusaha tersenyum manis agar Raja tersengat racunnya. Sedikit lagi Raja Peterson akan terperangkap.
"Aku menyukaimu, calon menantu," Raja tersenyum senang. Ia menatap Ratunya yang duduk disebelah kanan raja. "Bagaimana ratuku? Menurutmu hadiah apa yang cocok diberikan untuk calon menantu kita ini."
Ratu Lunia menatap gadis manis yang membuat hatinya menghangat. Melihat Mikayla, ia jadi menginginkan anak perempuan untuk menemani sisa hidupnya di istana. "Kurasa permata dan berlian pun tak akan sanggup menandingi kecantikannya, Yang Mulia. Lupakan perkara bunuh diri, kita seharusnya memberikan hadiah yang istimewa," sahut Ratu Lunia.
Raja terheran-heran dengan ucapan istrinya. "Hadiah istimewa seperti apa maksudmu?"
Ratu Lunia tersenyum. "Aku akan memberikan dua hak kebebasan untuk Mikayla." ucapnya santai namun hanya ia dan Raja yang dapat mendengar.
Raja awalnya sedikit tidak setuju. "Kau yakin, bagaimana jika dia melakukan hal yang salah?"
"Apa kau yakin dia akan melakukan kesalahan? Coba lihatlah dia," ucap sang ratu. Raja Peterson menelisik gadis yang tak jauh darinya. Di matanya Mikayla hanyalah gadis polos yang tak mungkin menyalahgunakan kepercayaan dirinya juga ratu.
Raja Peterson mengangguk setuju. "Baiklah, lagipula selama ini Mikayla tak pernah membuat onar. Aku mempercayaimu."
Raja Peterson bangkit dari takhtanya yang megah. Ia berucap lantang. "Wahai rakyatku semua. Malam ini merupakan malam yang paling kuharapkan sepanjang hidupku, dimana Putra mahkota akan segera menikahi Putri dari Duke Stanley, Mikayla Stanley sebagai istrinya. Maka dari itu, aku sebagai raja di daratan Armovin akan memberikan hadiah teristimewa untuk calon menantu kami," Raja belum melanjutkan kalimatnya namun kasak-kusuk bangsawan lain memenuhi seantero ruangan. Banyak bangsawan yang menolak hadiah istimewa itu diberikan kepada Mikayla, si gadis ceroboh. Dan di keluarga Torand hampir saja mengamuk saat ia tak melihat pembelaan dari putra mahkota. Bukankah Danial ingin bersama Amora?
"Aku memberikan hadiah istimewa kepada Mikayla Carolyn Stanley berupa dua kebebasan, dua keinginannya akan dipenuhi olehku sendiri!" suara Raja Peterson menggema dipenjuru istana.
Marquis Torand yang turut hadir pun dibuat marah. Danial sama sekali tak membela klan Torand? Ia harus bertindak cepat.
"Yang Mulia!" tantang Marquis Torand. Amora sudah berada di dekapannya, tengah menangis tersedu-sedu. "Saya meminta keadilan atas putri Torand!"
"Keadilan apa yang kau maksud, Marquis? Aku tak pernah menjanjikan apapun untuk putrimu," sahut Raja dengan elegan. Ia kembali duduk setelah memberikan hadiah yang begitu besar pada Mikayla.
Marquis terdiam. Urusannya dengan putra mahkota, bukan dengan raja. "Tolong pikirkan lagi keputusan Anda. Jika gegabah, bukan hanya Anda yang dicopot dari takhta, tapi Armovin juga akan tenggelam!"
Sejenak fokus raja dan seisi ruangan tertuju pada Marquis. Daripada mendengarkan bangsawan berdebat tentang dirinya, pelan-pelan Mikayla menyelinap keluar menuju taman sebelah barat. Ah, dia jadi mengingat kejadian malam itu.
Mikayla mendongak. Langit cerah bertabur bintang dengan bulan yang bulat penuh memanjakan matanya sampai Mikayla betah menatap benda langit itu berlama-lama. Mikayla memilih untuk duduk di bangku taman sekaligus menghirup udara segar yang berasal dari embun bunga mawar. Sayangnya hal itu tak berlangsung lama sesaat setelah seorang lelaki bersurai cokelat gelombang dengan wajah yang tampan duduk disampingnya.
"Nona Mikayla, Apakah Anda membutuhkan teman?"
Mikayla refleks menarik pedangnya yang tersimpan rapi. Mikayla terbelalak saat menyadari bahwa sebuah batu merah darah paling besar yang berada di pedangnya menghilang.
"Saya pengawal Anda, nona. Saya lah batu merah darah terbesar di pedang Anda." ia tersenyum menawan. "Saya akan datang disaat anda membutuhkan saya. Kapan dan dimana pun."