Arini harus merelakan masa mudanya dengan menikah. Terpaksa dia menerima tawaran menjadi istri ke dua demi mendapatkan biaya untuk operasi neneknya. Namun pengorbanannya sia-sia. Neneknya meninggal pasca operasi. Namun pernikahan yang sudah terjadi tidak bisa di sudahi. Karena Arini masih harus mengandung benih dari lelaki yang sudah menjadi suaminya. Jika dia sudah melahirkan, baru boleh pergi dari kehidupan Alex dan Mila sang istri pertamanya. Karena itu syarat yang Mila berikan kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amallia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode.7
Alex dan keluarganya baru duduk di meja makan. Mereka akan sarapan bersama. Devan melihat Bi Ijah yang sedang berkutat membersihkan dapur.
''Bi, apa bibi melihat Arini?'' tanya Devan. Kebetulan jarak dapur dan ruang makan dekat jadi BI Ijah bisa mendengar suara Devan.
''Arini sudah berangkat kerja sejak tadi, Den.'' jawab BI Ijah.
''Kerja? Memangnya Arini kerja dimana?'' tanya Devan.
''Bilangnya sih kerja di warung nasi dekat lampu merah,'' ucap Bi Ijah.
Mendengar bahwa Arini bekerja membuat Alex menghentikan makannya. Dia sama sekali tak tahu jika Arini bekerja. Perasaan dia sudah menitipkan sedikit uang untuk kebutuhan Arini kepada Mila. Namun kenapa Arini sampai kerja segala? Apa mungkin uang darinya itu kurang untuk kebutuhan Arini. Alex bertanya-tanya dalam hatinya.
''Coba nanti Devan ke tempat kerja Arini deh,'' kata Devan.
''Dev, kamu tidak usah terlalu perhatian sama Arini. Lagian dia itu bukan siapa-siapa di rumah ini,'' ucap Bu Susan.
''Devan tidak perhatian kok, Mah. Hanya saja Devan itu kasihan lihat dia, seperti sedang ada masalah,'' ucap Devan.
Devan memang tak tahu jika Arini adalah istri ke dua kakaknya. Karena tidak ada yang memberitahukan kepadanya. Sengaja Alex melarang semua yang ada di rumah itu untuk memberitahu Devan. Karena jika tahu maka Devan pasti akan marah dan mengira jika Alex mempermainkan hati wanita.
Bu Susan diam, tak lagi mengatakan apa pun. Kini mereka mulai melahap makanan mereka menyusul Alex dan Mila yang sudah makan duluan.
Alex meninggalkan ruang akan duluan karena sudah selesai sarapan. Mila mengikuti suaminya yang hendak pergi ke kamar.
''Mas, apa Mas Alex akan langsung pergi ke kantor?'' Mila melihat suaminya yang sedang mengambil tas kerjanya.
''Iya, sayang. Pagi ini Mas ada meeting penting, jadi harus berangkat lebih awal ke kantor,'' jawabnya.
''Yah, padahal aku ingin bermesraan dulu sama Mas Alex,'' Mila tampak mengerucutkan bibirnya.
''Maaf ya, sayang. Ini memang urgen. Oh iya Mas hampir lupa, itu kenapa Arini pakai kerja segala? Memangnya uang yang Mas kasih ke dia tidak cukup ya?'' tanya Alex.
Seketika Mila terdiam mendengar perkataan suaminya. Selama ini jatah uang dari suaminya untuk Arini tidak pernah dia kasih. Dia pakai sendiri uang itu.
''Mila tidak tahu, Mas. Mungkin saja Arini itu boros, jadi uang yang dari Mas tidak cukup,'' jawabnya.
Alex memang tak terlalu suka kepada Arini. Dia juga selalu bersikap ketus. Namun bukan berarti dia tega menelantarkan Arini yang sedang mengandung anaknya. Alex yang memang super sibuk dengan pekerjaannya, dia tidak tahu bagaimana istri dan mertuanya memperlakukan Arini.
Setelah berpamitan kepada istrinya, kini Alex berlalu pergi berangkat ke kantor.
Alex mengingat perkataan Bi Ijah yang mengatakan jika Arini bekerja di warung nasi dekat lampu merah. Kini Alex menghentikan mobilnya di pinggir jalan karena ingin menghampiri Arini.
Alex menatap ada dua warung nasi di pinggir jalan. Dia melihat-lihat siapa tahu ada Arini disana. Ternyata Arini ada di salah satu warung itu. Alex masuk ke dalam warung, menghampiri Arini.
"Rin," ucapnya memanggil.
Arini yang sedang mengelap meja, dia menoleh ke sumber suara. Dia tersenyum menatap kedatangan suaminya.
"Kak Alex, ada apa?" tanya Arini.
"Saya ingin bicara berdua denganmu. Ayo ikut saya sebentar!" Ajaknya.
"Sebentar, Kak." Arini izin sebentar kepada pemilik warung. Setelahnya, dia mengikuti suaminya.
Devan melihat Arini dan Alex masuk ke mobil yang sama. Kebetulan tadi Devan langsung pergi untuk menemui Arini. Devan menghentikan mobilnya, memperhatikan mobil kakaknya yang berjarak beberapa meter di depan. Dia memperhatikan mereka dari dalam mobilnya.
'Kenapa Ka Alex mengajak Arini masuk ke mobil. Lalu kenapa Kak Alex tidak menjalankan mobilnya? Lalu apa yang sedang mereka lakukan?' Devan bertanya-tanya dalam hatinya.
Alex menatap Arini yang duduk di sampingnya.
"Rin, sebenarnya kenapa kamu harus bekerja segala? Memangnya uang untuk kebutuhanmu yang selalu saya berikan tidak cukup untukmu?" tanya Alex.
Tentu Arini heran mendengar perkataan suaminya. Karena selama ini dia tak pernah menerima seperpun uang dari Alex.
"Tapi saya tidak per .... " ucapan Arini terhenti saat mendengar dering ponsel milik Alex.
"Sebentar! Saya angkat telepon dulu," Alex langsung mengangkat telepon yang ternyata dari asistennya. Asistennya mengingatkannya dengan pertemuan penting pagi ini.
Setelah menerima telepon, Alex kembali berbicara kepada Arini.
"Rin, nanti saja saya bicara lagi sama kamu. Sekarang saya harus segera ke kantor karena ada pertemuan penting," ucap Alex.
"Baik, Kak. Kalau begitu saya keluar dulu mau lanjut kerja," Arini tersenyum menatap Alex, kemudian membuka pintu mobil dan keluar.
Setelah melihat mobil milik Alex pergi dari sana, kini Devan mengemudikan mobilnya dan memarkirkannya tepat di depan warung makan tempat Arini bekerja.
"Cantik, rajin sekali," Devan memuji Arini yang sedang memakai celemek ke tubuhnya
Mendengar ada yang berbicara, Arini menoleh ke samping.
"Kak Devan kok kesini? Mau beli apa?" Tanya Arini.
"Aku tidak mau beli, tapi mau melihat yang jualan," jawabnya.
Arini menatap ke arah ibu warung yang sejak tadi bertingkah centil karena melihat kedatangan Devan.
"Kak Devan mau melihat Bu Tuti?" Arini belum tahu maksud perkataan Devan, jika dirinyalah yang menjadi alasan Devan datang kesana.
"Bukan, tapi mau melihat kamu," jawabnya.
"Ada-ada saja."
Di tengah-tengah obrolan mereka, Bu Tuti datang dan mencari perhatian kepada Devan.
"Mas tampan, aduh pujaan hati Tuti," Bu Tuti yang berstatus janda, bergelayut manja di tangan Devan.
"Maaf, Bu. Jangan pegang-pegang!" Devan melepaskan diri dari pegangan tangan Bu Tuti.
"Jangan panggil Bu dong, panggil saja Miss Tuti," ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Devan merasa risih dengan sikap Bu Tuti kepadanya.
'Niat hati ingin berbicara berdua dengan Arini, tapi malah ada pengganggu,' batin Devan.
"Rin, saya pulang saja ya. Nanti kita bicaranya di rumah. Saya permisi dulu," setelah mengatakan itu Devan berlalu pergi dari sana.
"Baik, Kak." Arini memperhatikan Devan yang pergi dengan terburu-buru. Dia tahu jika sebenarnya Devan terlihat kurang nyaman dengan keberadaan Bu Tuti.
.....
....
Alex yang baru pulang kerja di sambut hangat oleh Mila.
"Selamat datang, Mas. Biar Mila yang bawakan tasnya," Mila mengambil tas kerja suaminya.
"Terima kasih, sayang." Alex merengkuh pinggang istrinya. Mengajaknya untuk pergi ke kamar.
"Sama-sama, suamiku." Jawabnya.
Kali ini Mila menjalankan tugasnya dengan baik sebagai seorang istri. Sengaja dia melakukan apa yang di sarankan oleh ibunya. Itu semua dia lakukan agar suaminya semakin mencintainya. Mila juga sudah mengurangi pekerjaannya sebagai model.
Mila duduk di pinggir ranjang sambil menunggu suaminya yang sedang mandi. Saat melihat pintu kamar mandi terbuka, Mila bergegas mendekati suaminya.
"Mas, biar Mila bantu Mas pakai baju ya," Mila menggandeng satu tangan istrinya. Mengajaknya untuk mendekati ranjang, dimana pakaian ganti yang sudah dia siapkan tergeletak disana.
Alex tersenyum sambil memperhatikan istrinya yang begitu perhatian kepadanya. Jarang-jarang istrinya memperlakukannya semanis ini. Biasanya istrinya hanya sibuk dengan pekerjaannya sebagai model.
"Istriku, Mas semakin cinta sama kamu," setelah berpakaian rapi, Alex memeluk istrinya dengan erat.
Mila tersenyum menyeringai di dalam pelukan suaminya. Jika sikap suaminya seperti ini, terlihat sekali jika suaminya tak akan pernah berpaling darinya.
''Aku juga cinta sama Mas Alex,'' ucap Mila sambil melepaskan pelukan itu.
Ke duanya saing bertatap muka dengan jarak yang sangat dekat.
''Sayang, Mas mau keluar sebentar ya mau ambil minum,'' kata Alex.
''Biar Mila saja yang ambilkan Mas,'' tawarnya.
''Tidak usah, sayang. Biar Mas ambil sendiri, kamu tunggu disini saja ya,'' Alex mengecup singkat kening istrinya. Lalu dia bergegas pergi keluar dari kamar.
Mila tersenyum senang sambil menatap kepergian suaminya.
Alex yang bilangnya akan pergi ambil minum, tapi nyatanya dia malah menghampiri Arini.
Alex berdiri di depan pintu kamar Arini. Baru juga akan mengetuk, tak jadi saat melihat pintu itu sudah terbuka dari dalam.
''Mas Alex, ada apa?'' tanya Arini saat melihat sosok Alex sedang berdiri di depan kamarnya.
''Rin, bisakah kita bicara sebentar?'' Alan bertanya meminta persetujuan.
''Boleh, Kak.'' jawabnya.
''Mari ikut saya ke taman belakang. Kita bicara disana saja.''
Arini mengikuti Alex yang sudah melangkah duluan.
Alex dan Arini duduk bersebelahan. Alex langsung mengatakan apa yang sejak pagi ingin dia katakan namun belum sempat.
''Rin, saya mau melanjutkan pembicaraan tadi pagi yang sempat tertunda. Saya kasihan lihat kamu jika harus bekerja dengan kondisi kamu yang sedang hamil muda. Sekarang saya ingin bertanya, apa uang yang selalu saya titipkan untukmu lewat istri saya itu tidak cukup untuk kebutuhanmu?'' tanya Alex.
''Uang apa? Selama ini saya tidak menerima uang apa pun,'' Arini berkata sesuai kenyataan.
''Kamu yakin tidak menerima uang itu? Setiap satu minggu sekali saya selalu memberikan uang untuk kamu, namun lewat istri saya."
''Saya benar-benar tidak menerima uang itu, Kak.''
Alex terdiam, dia bingung harus percaya kepada siapa. Apa yang di katakan oleh Mila berbeda dengan perkataan Arini.
Mila yang sedang berdiri di depan jendela kamar, tak sengaja melihat suaminya yang sedang duduk berdua dengan Arini.
''Ternyata Mas Alex keluar buat menemui Arini, bukan mau ambil minum. Pantas saja keluarnya lama sekali,'' gumam Mila sambil mengepalkan satu tangannya.