Erisa mencintai seorang laki-laki dalam diam ketika duduk di bangku SMP namun pertemuan mereka hanya singkat karena laki-laki itu pindah sekolah hingga membuat Erisa tak bisa melihatnya lagi tapi tak sedikitpun merubah perasaan cinta Erisa.
Namun saat mereka masing-masing sudah sukses siapa sangka Erisa mendapat kenyataan pahit dan kekecewaan karena laki-laki yang menjadi cinta pertamanya akan menjadi kakak iparnya yang tak lain adalah suami saudara kembarannya.
Saudara kembar yang sebenarnya adalah orang lain, yang di urus dan di besarkan oleh kedua orang tuanya dari bayi hingga menuju ke jenjang pernikahan namun tak ada yang tau akan tentang kebenaran itu kecuali kedua orang tua mereka.
Akankah Erisa bisa menerima takdirnya dan mengikhlaskan cinta pertamanya?
Dan akankah identitas Erisa dan Elisa terbongkar?
Simak terus cerita mereka berdua di novel ini....
Selamat membaca 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hafizoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Waktu terus berjalan tanpa Elisa sadari saking dirinya menikmati pekerjaannya sebagai guru agama, kini Elisa sudah dua minggu mengajar di SMP Negeri 1 Pancasila bahkan semua murid sangat suka cara Elisa yang begitu sabar dan telaten mengajari mereka semua. Para dewan guru perempuan maupun laki-laki juga begitu kagum dengan Elisa, tutur kata yang sangat baik dan begitu ramah tak ada guratan kesombongan sedikitpun yang tanpa di Elisa membuat Elisa semakin menjadi guru favorit.
Rendi yang selama ini diam-diam memperhatikan Elisa juga ikut kagum meski hanya bisa memandangi Elisa dari kejauhan, kantin sekolah khusus para dewan guru saat ini selalu ramai jika jam istirahat. Rendi terus memandangi Elisa dari kejauhan sembari sesekali menyantap makanannya yang terhidang dihadapannya, pikiran Rendi dari tadi berkelana mungkin hari ini waktunya dirinya mengungkapkan apa yang selalu menganjal dihatinya selama ini.
"Maaf, Bu Elisa setelah ini ke ruangan saya ya" kata Rendi setelah makanannya habis menghampiri tempat duduk Elisa bersama dewan guru perempuan yang lain
"Ada apa ya Pak?" tanya Elisa bingung karena takut dirinya telah berbuat salah
"Nanti akan saya jelaskan di ruangan saya saja" jawab Rendi kemudian segera membayar makanan yang dimakannya barusan kepada ibu kantin
Rendi kembali melangkahkan kakinya setelah menyapa semua dewan guru yang ada di kantin ingin segera ke ruangannya tak sabar menanti kedatangan Elisa, tiba di dalam ruangannya Rendi langsung duduk di kursi kebesarannya sembari bersandaran di sandaran kursi berusaha merangkai kata-kata yang akan disampaikannya kepada Elisa nanti.
Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar tanpa mendengar suara siapa yang di ambang pintu, Rendi segera menyuruh orang yang mengetuk pintu itu untuk masuk karena dirinya sangat yakin bahwa yang ada di ambang pintu pasti Elisa. Ketika pintu terbuka dan menampilkan seorang perempuan yang sangat cantik dan teduh siapa lagi kalau bukan Elisa, perempuan yang telah bersembayam di lubuk hati Rendi dari pertama mereka bertemu hingga detik ini.
"Silahkan duduk bu" ujar Rendi ketika ELisa sudah berdiri dihadapannya yang hanya terpisah oleh meja kerja Rendi
Elisa sedikit gugup dan takut karena jika sudah berurusan dengan kepala sekolah artinya dirinya telah berbuat kesalahan yang sangat fatal, dengan tubuh sedikit gemetar serta keringat dingin Elisa mendudukan bokongnya ke kursi yang ada di seberang meja kepala sekolah sambil terus berusaha rileks. Tak berani untuk menatap mata kepala sekolah Elisa memilih menundukkan kepalanya menunggu kepala sekolah menjelaskan apa kesalahannya sehingga memintanya ke ruangan beliau.
"El..." panggil Rendi lembut membuat Elisa yang dari tadi menunduk langsung mendongakkan kepalanya
"Maaf Pak, ada apa ya?" tanya Elisa yang sedikit bingung dari panggil kepala sekolah memanggilnya dengan nama tanpa kata-kata formal
"Sebelumnya aku minta maaf, aku memintamu kesini ingin menyampaikan niat baikku kepadamu. Kita sama-sama sudah dewasa, aku ingin melamar kamu menjadi istriku. Meskipun kita baru kenal tapi aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kita bertemu, di bandara" jelas Rendi panjang lebar sembari berusaha mengatur degup jantungnya yang terpompa dengan sangat cepat
Elisa memandangi wajah Rendi sekilas kemudian kembali menundukkan kepalanya, terlihat di kedua bola mata Rendi bahwa dia benar-benar serius dengan Elisa. Elisa memejamkan kedua kelopak matanya mengingat waktu dirinya di bandara di mana dirinya baru kembali ke Jakarta dan saat Elisa sudah ingat dirinya baru tau bahwa Rendi adalah laki-laki yang tak sengaja bertabrakkannya waktu itu.
Tiba-tiba ada getaran aneh di hati Elisa membuatnya merasakan ketenangan, Elisa tak menyangka doa sang ibu berapa minggu yang lalu kini telah di ijabah oleh MAHA KUASA. Elisa senang ada laki-laki yang mau langsung melamarnya tanpa ada pendekatan seperti orang-orang di luaran sana, namun justru yang seperti ini yang di inginkan Elisa seorang laki-laki gentle yang langsung menyampaikan niat baik mengajaknya menikah bukan mengajaknya pacaran.
"Bismillahirohmanirohim, iya saya terima lamaran bapak. Saya tunggu kedatangan bapak ke rumah saya menemui kedua orang tua saya" kata Elisa dengan keyakinannya dari lubuk hatinya yang paling dalam dirinya menerima lamaran dari Rendi
"Terima kasih, secepatnya aku usahakan menemui kedua orang tuamu" kata Rendi begitu senang mendapat lampu hijau dari Elisa
"Kalau tidak ada yang di sampaikan lagi, saya permisi pak. Tidak baik bukan mahrom harus berada dalam ruangan tertutup seperti ini berlama-lama" kata Elisa beranjak dari tempat duduknya
"Ohh iya, silahkan" jawab Rendi mempersilahkan Elisa untuk keluar
Elisa langsung bergegas keluar dari ruangan kepala sekolah dengan jantung yang berdegup kencang seperti habis lari maraton, Elisa sangat senang akhirnya dirinya di pertemukan dengan jodohnya yang insyaallah akan menjadi imamnya yang baik menuntunnya untuk terus berada di jalan yang benar. Apalagi selama dua minggu mengajar di SMP Negeri 1 Pancasila, Elisa sedikit tau tentang Rendi dan sering memperhatikan Rendi yang selalu menjadi imam di mushollah ketika sholat dzuhur berjama'ah pernah juga Elisa diam-diam mendengarkan Rendi mengaji.
Elisa kembali ke kursi tempat dirinya kerja, dirinya ingin melanjutkan pekerjaannya memeriksa buku tugas murid-muridnya yang diberinya tugas seminggu yang lalu. Lumayan banyak tumpukkan buku tugas murid-muridnya di atas mejanya, dengan telaten dan teliti Elisa mulai memeriksa satu persatu dan tentunya memberi nilai terbaik serta sebuah tulisan motivasi di bawah nilai yang diberinya itu agar murid-muridnya tetap semangat untuk menuntun ilmu.
"Bu Elisa, gimana tadi pas di ruang kepala sekolah. Ibu kena marah gak?" tanya Putri guru bahasa indonesia yang menjadi sahabat Elisa semenjak mengajar di SMP Negeri 1 Pancasila
"Gak kok, aman" jawab Elisa sembari tersenyum mengingat lamaran yang singkat tadi
"Ohh syukurlah, aku kira Bu Elisa di marahi oleh kepala sekolah" kata Putri legah mendengar Elisa tidak di marahi oleh kepala sekolah namun ada yang mengganjal di hati Putri ada urusan apa kepala sekolah sampai meminta Elisa ke ruangan beliau
Ahh tanpa ingin tau lebih lanjut, Putri memilih berlalu dari hadapan Elisa ingin segera ke ruang kelas dimana dirinya harus mulai mengajar. Elisa bersyukur Putri langsung pergi tanpa bertanya lebih lanjut lagi, Elisa tidak tau juga harus menjawab apa jika Putri bertanya sangat detail apalagi dirinya tak terbiasa berbohong. Elisa kembali melanjutkan pekerjaannya yang sedikit lagi, apalagi setelah ini dirinya harus masuk ke kelas untuk kembali mengajar.
Bunyi bel pergantian mata pelajaran, Elisa segera beranjak dari kursi kerjanya sembari membawa buku paket bahan dirinya mengajar. Elisa melangkahkan kaki keluar dari ruang kantor menuju ke ruang kelas yang akan dimasukinya untuk mengajar, Elisa terus melangkahkan kaki di koridor sekolah sembari tersenyum sepanjang perjalanan menikmati suasana sekolah yang tentram dan nyaman ditambah dengan hatinya yang saat ini sedang berbunga-bunga.
jangan lupa mampir juga di karyaku
"Mencintaimu dalam DIAM"