💫 Sebelum baca 👉 Azka & Anna, ada baiknya mampir ke season 2 ( Cinta Masa Kecil Presdir Cantik ) 💫
.
.
Season 3 :
Di alun-alun kota Lubuk PAKAM, berlari sepasang bocah kembar berusia 5 tahun. Melihat ada seorang pria dewasa sedang duduk termenung, Azka mendekati pria dewasa tersebut, dan berkata:
" Paman yang jelek, dan orang dewasa yang penuh dengan banyak tekanan dalam hidup. Kenapa kau terlihat murung? Apakah kamu sedang memikirkan hutang yang belum kau bayar? "
Melihat kembarannya berkata seperti itu, Anna menarik tangan Azka, dan berkata :
"Abang, Mama biyang tidak boyeh berkata kasar kepada orang yang lebih tua. Cekalang Abang harus minta maaf sama Om Jeyek ini!"
Pria dewasa itu tidak menjawab, ia hanya menatap dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa bocah perempuan ini memiliki bola mata sama seperti wanita ia cintai 6 tahun lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07. Papi akan buktikan
Setelah mendengar keterangan dari Aulia, Azzuri mengernyitkan dahinya, ia memikirkan siapa wanita bernama Zalfa Hanin, seorang model, berada di kota Paris.
Ada sekitar 10 menit Aulia, dan Azzuri duduk dalam diam, sudah dapat melihat wajah Zalfa. Azzuri langsung menatap wajah sedih, kesal, dan menahan emosi, tersimpan di wajah cantik Aulia.
“Kenapa kamu diam. Oh…ternyata wanita itu berkata benar tentang siapa kamu!” tuduh Aulia, membuyarkan lamunan Azzuri.
“Tidak, itu semua tidaklah benar. Semenjak aku mengenal kamu, dan menikah dengan kamu. Aku sudah tidak pernah berhubungan lagi dengan wanita manapun, aku juga sudah tidak pernah tidur dengan wanita manapun. Terakhir aku tidur bersama wanita, itu hanya dengan kamu, Aulia!” jelas Azzuri jujur.
“Bohong! Kamu pasti berbohong. Kamu pasti rela berbohong demi mengambil Azka dan Anna dari ku, ‘kan?” tuduh Aulia kembali, kedua matanya terlihat berkaca-kaca, tangannya juga terlihat gemetar.
“Aulia, tolong dengarkan penjelasan ku. Aku dan Zalfa tidak pernah mempunyai hubungan apa pun. Aku pun mengenalnya karena dulu kami pernah berjumpa di salah satu pertemuan, dan aku sudah lupa itu pertemuan apa. Tapi yang jelas aku dan dia tidak memiliki hubungan apa pun,” ucap Azzuri jujur.
Aulia menarik nafas berulang kali untuk menenangkan hati dan pikirannya. Setelah merasa tenang, Aulia melihat Azzuri, “Sekarang apa tujuan kamu menjumpai kami di sini?” tanya Aulia memastikan maksud kedatangan Azzuri.
“Sudah 5 tahun aku mencari kamu seperti orang gila. Tiada hari, jam, detik, menit, dan tahun yang aku lalui tanpa memikirkan kamu. Gimana anak-anak kita tanpa adanya aku di samping kamu. Dan apakah kamu bisa merawat bayi kembar itu dengan sendirinya, pasti kamu merasa sangat lelah ‘kan?” Azzuri mengulurkan tangannya, “Aulia, inti kedatanganku ke sini. Aku ingin mengajak kamu, dan anak-anak kita untuk tinggal bersama. Aku janji akan menebus, dan mengganti waktu 5 tahun itu dengan kebahagiaan.”
“Maaf, tapi sayangnya aku tidak merasa lelah dan capek mengurus anak-anak sendirian. Sekarang aku juga sudah nyaman menjalani hidup sebagai Ibu tunggal,” Aulia berdiri, tangannya mengulur ke pintu, “Mari, aku antar kamu sampai ke depan pintu,” ucap Aulia mengusir Azzuri secara halus.
“Aulia, aku mohon. Berikan aku kesempatan untuk menebus semuanya,” pinta Azzuri, ia berlutut di hadapan Aulia.
Aulia tidak memperdulikan permintaan Azzuri. Aulia menyerong kakinya sedikit, ia melangkah menuju pintu, membuka kunci dan membuka pintu. Betapa terkejutnya Aulia saat membuka pintu terlihat Azka, dan Anna berdiri di luar pintu dengan tatapan bingung memandang Aulia, dan Azzuri masih berlutut.
“Papi kenapa berlutut?” tanya Azka.
“Mami juga kenapa tadi ceperti malah cama Papi?” sambung Anna bertanya kepada Aulia.
Aulia terdiam, ia merasa bersalah karena sudah berbicara dengan nada tinggi, membuat Azka, dan Anna mendengar perdebatan mereka.
Azzuri berdiri, ia perlahan berjalan mendekati Azka, dan Anna, “Azka, dan Anna. Kalian kenapa ke sini?” tanya Azzuri mengalihkan pembicaraan, dan berhenti di hadapan Azka dan Anna.
Azka, dan Anna melihat secara bersamaan ke Aulia, lalu kembali melihat Azzuri berdiri di hadapan mereka.
“Mendengar suara Mami sangat kuat, abang dan adek merasa kuatir. Tapi setelah kami sampai di sini, dan tidak sengaja menguping pembicaraan Mami, dan Papi. Kami….” Azka menghentikan ucapannya, tatapan penuh tanya memandang lurus ke atas, ke wajah Azzuri terlihat kusut, “Apa benar Papi berselingkuh?” sambung Azka mulai menanyakan hal tak sewajarnya dengan usia masih kecil sepertinya.
Aulia, dan Azka terkejut, sejenak mereka saling pandang. Mereka merasa bersalah atas kecerobohan mereka membahas masa lalu, sampai-sampai tidak bisa mengontrol suara, menyebabkan Azka dan Anna mendengar percakapan seharusnya tidak boleh di dengar oleh anak seusia Azka dan Anna.
Azzuri jongkok, kedua tangannya mengelus rambut Azka, dan Anna, “Sayang, Papi hanya bisa berjanji pada kalian berdua jika Papi tidak berselingkuh, dan hanya Mami kalian berdua, wanita yang selalu hidup di dalam pikiran dan hati Papi,” jelas Azzuri berusaha meluruskan pikiran buruk Azka dan Anna kepadanya.
“Apa Papi bisa membuktikannya?” tanya Azka, nada bicara dan pikiran seperti orang dewasa.
“Iya, Papi akan membuktikannya,” sahut Azzuri lembut.
Melihat Aulia hanya diam dengan raut wajah bersalah, Anna mendekati Aulia, mengambil tangan kanan Aulia, lalu mengambil tangan kanan Azzuri dan menyatukan tangan Aulia, dan Azzuri.
“Papi…Mami, adek mau, Papi dan Mami cekalang bebaikan. Jangan malah-malah lagi. Kalau malah-malah, nanti Owoh (Allah) akan malah cama Papi dan Mami. Jadi, jangan malah lagi, ya?!” bujuk Anna berusaha menyatukan kedua orang tuanya.
“Iya, benar kata adek Anna. Bukannya Mami selalu mengajarkan kami berdua untuk saling memaafkan kepada orang yang pernah jahat sama kita. Tapi kenapa sekarang malah Mami yang berbuat seperti itu kepada Papi,” sambung Azka mengingatkan perkataan Aulia.
‘Ya Allah, kenapa anak-anakku lebih dewasa dari aku. Ya Allah, maafkan aku, maafkan Mami, nak,’ batin Aulia merasa bersalah.
Aulia menarik nafas panjang, sudah merasa lega, Aulia mengangguk, “Iya, Mami akan memaafkan Papi,” sahut Aulia terpaksa demi anak-anak nya.
“Yea…” teriak girang Anna.
Melihat Anna dan Azka terlihat senang, Azzuri dan Aulia saling pandang, bibir mereka tidak sengaja saling melempar senyum. Begitu sadar, Aulia langsung membuang wajahnya.
‘Aulia, aku akan membuktikan kepada kamu jika aku tidak berselingkuh, dan Zalfa bukanlah Istri ku. Buat kamu Zalfa, akan aku pastikan, karir dalam dunia permodelan kamu akan kandas. Siapa pun orang yang sudah menghancurkan, dan membuat hati Aulia terluka. Aku pastikan orang itu tidak akan selamat. Jangan macam-macam kepadaku!’ sumpah Azzuri di dalam hati.
Zalfa Hanin, kenapa kamu sangat tidak takut kepada Azzuri. Seharusnya kamu tahu siapa Azzuri Mahendra. Kedua orang tuanya saja rela dia habisi, apalagi kamu orang lain. Bersiaplah kamu akan kehancuran diri kamu sendiri karena sudah merusak rumah tangga Azzuri, dan menghancurkan hati Aulia.
Bagi seorang wanita sudah merusak rumah tangga orang lain, memang seharusnya mendapatkan hukuman.
“Papi boleh menanyakan sesuatu tidak?” tanya Azzuri kepada Anna dan Azka.
“Boleh…boyeh,” sahut Azka dan Anna serentak.
“Sekarang umur kalian sudah 5 tahun, apa abang Azka, dan adek Anna sudah masuk TK?” tanya Azzuri.
“Hem,” sahut Anna mengangguk.
“Sudah Papi,” sahut Azka.
“Wah..bagus kalau seperti itu,” puji Azzuri.
“Papi…Papi ingin lihat nilai adek?” tanya Anna bersemangat.
“Tentu,” sahut Azzuri.
“Ayok…ayok…Papi ikut adek,” ajak Anna semangat, tangan mungil nya menarik beberapa jari tangan Azzuri.
Azzuri pun berdiri, mengikuti langkah mungil dari putri nya, di susul Aulia, dan Azka dari belakang. Anna, Azzuri, Azka, dan Aulia terus berjalan menuruni anak tangga, menuju kamar mereka di sebelah ruang Tv keluarga.
“Kita mau ke mana?” tanya Azzuri.
“Ke kamal, adek dan abang,” sahut Anna.
Anna menghentikan langkah kakinya di depan pintu kamar, kedua tangan mungil mendorong handle pintu. Terlihatlah kamar tidak terlalu besar, di dalamnya terdapat 2 ranjang berukuran 4 kaki dengan masing-masing warna kesukaan Azka, dan Anna. Di sudut ruangan terdapat 2 rak buku bertingkat, dan hanya menyisakan 5 meter ruangan kosong di dalam kamar. Hati Azzuri teriris melihat keadaan Istri dan kedua anaknya.