Siapa bilang seorang suami tidak bisa bertanggung jawab dan adil pada kedua istrinya. Ada kok sebagian suami yang bisa adil dengan kedua istrinya.
Abimana Baratama, seorang pengusaha yang memiliki ketampanan dan sangat menyayangi kedua istrinya yaitu Aisyah Nandaratna dan Zahra Jasmine.
Awalnya Abi tak menerima tentang pernikahan kedua ini. Abi terlalu mencintai Aisyah tapi Aisyah juga menginginkan Zahra untuk menjadi madunya.
Aisyah berpikir jika Zahra masuk dalam kehidupan Abi, suaminya itu bisa lebih bahagia daripada bersamanya.
Apakah Abi bisa bertanggung jawab dan adil pada kedua istrinya. Atau malah hanya mencintai disatu pihak saja.
Baca terus novelku disini....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tyatul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Aisyah
Happy reading
Setelah selesai bebersih dan menata barang barangnya Aisyah memutuskan untuk keluar. Tadi Bunda bilang untuk ke ruang tamu menemui tamu tamunya.
"Kenapa ya Bunda?" tanya Aisyah yang sudah duduk di salah satu sofa itu.
"Bunda meminta pertimbangan dari kamu. Kedua Tuan ini ingin mengadopsi salah satu dari anak anak panti, gimana menurut kamu?" tanya Bunda pada Aisyah.
"Bagaimana kriteria anak yang ingin kalian adopsi, apa setelah kalian mengadopsi anak kami kalian akan menjaga dan merawat dia dengan sepenuh hati kalian. Menganggap anak anak kami seperti anak kandung kalian? Apa Kalian bisa tidak membeda bedakan anak kami?" tanya Aisyah dengan tegasnya.
Sebagai seorang ibu dan juga seorang kakak untuk adik adiknya Aisyah harus memastikan jika anak anaknya bisa tumbuh dengan baik jika bersama orang tua angkatnya.
"Begini Nona, kami ingin mengadopsi anak berusia 4-5 tahunan terserah itu laki laki atau perempuan. Karena orang tua kami mengingkan seorang cucu sedangkan kami belum menikah," jawab Kenzi pada Aisyah. Entah kenapa aura Aisyah membuat ia tak bisa salah kata jika seperti ini.
"Jadi kalian mengadopsi anak untuk dijadikan cucu oleh orang tua kalian?" tanya Aisyah dan dianggukkan mereka.
Nino tak mampu berucap apa apa, ia masih mengagumi Aisyah yang ada di depannya ini. Aura kecantikan Aisyah terpancar sampai ke hatinya. Belum pernah ada wanita yang bisa membuat hatinya berdebar seperti ini. Bahkan ia sudah berkonsultasi ke dokter apa dia ini tak menyukai wanita tapi sekarang semua itu terbantahkan karena ia menyukai Aisyah dari pandangan pertama.
"Semua ada ditangan Bunda. Aku ngikut apa kata kata Bunda."
Bunda mengangguk dan memanggilkan anak anak yang berusia 4-5 tahun. Di sana ada 4 anak, Tiara, Nora, Siska, dan Dino. Tatapan Kenzi mengarah ke Tiara yang sangat cantik walau tidak memakai pakaian mewah.
"Ini anak anaknya Tuan. Kalian bisa memilih salah satu dari mereka Tuan. Atau kalian mengingkan dua?" tanya Bunda pada mereka berdua.
"Aku mengingkan anak yang dipinggir itu, dia cantik aku suka," ucap Kenzi menunjuk Tiara.
Tiara menatap Bunda dan Mamanya bingung, kenapa ia ditunjuk seperti itu? Apa dia punya salah pada mereka.
"Tiara sayang sini nak, deket Mama," panggil Aisyah yang langsung di turuti oleh Tiara.
Sedangkan Bunda langsung menyuruh anak anak yang lain untuk kembali bermain.
"Kenapa Ma?" tanya Tiara menatap Aisyah dengan lucu.
Sebenarnya sudah sedari dulu Aisyah ingin mengadopsi Tiara tapi ia tak bisa karena apa? Karena ia dan suaminya sama sama sibuk. Ia sibuk di sekolah sedangkan Abi sibuk di kantornya hingga membuat Aisyah mengurungkan niatnya.
"Tadi Om sama Om itu ingin mengadopsi kamu jadi anak mereka, kamu diajak tinggal di rumah mereka. Apa Tiara mau?" tanya Aisyah dengan lembut.
"Tiara diajak mereka, apa nanti Tiara bisa mendapatkan banyak mainan dan punya Mama dan Papa baru?" tanya Tiara dengan lucu.
"Nanti kalau Tiara menjadi anak Om, Tiara bisa mendapatkan apa yang Tiara mau. Nanti kita bertemu Nenek dan Kakek ya," ucap Kenzi dengan lembut. Ia jatuh hati pada gadis kecil yang datang bersama Aisyah tadi.
"Seriusan om?" tanya Tiara dengan semangat.
"Iya sayang, mau jadi anak Om?" tanya Kenzi mengulurkan tangannya.
Aisyah yang melihat itu tersenyum, semoga Tiara bisa bersama orang yang tepat. Dapat mencintai dan menyayangi dia sepenuh hati mereka.
Setelah dipastikan jika Tiara setuju, mereka mengurus surat surat tentang adopsi Tiara.
Sedangkan Aisyah dan Nino kini sedang berada di ruang tamu ditemani dengan segelas teh dan cemilan.
"Nona Aisyah," panggil Nino pada Aisyah.
"Panggil saja Aisyah," jawab Aisyah dengan pelan.
"Oke oke, Aisyah. Benar namamu Aisyah? Kenalkan namaku Nino," ucap Nino.
Sedangkan Aisyah yang tidak ingin tahu itu hanya tersenyum. Ia tak bisa berbasa basi dengan orang yang baru ia kenal.
"Hmm."
Cuek sekali Aisyah ini, Nino tak habis pikir ada yang bersikap cuek dengan dirinya. Padahal cewek cewek lain ingin selalu menatap dirinya dan memilikinya. Tidak ada yang seperti Aisyah di dalam hidupnya.
"Asiyah," panggil Nino.
"Kenapa Tuan?"
"Panggil Nino saja," jawab Nino dengan senyum manisnya. Aisyah yang tak suka itu hanya mengangguk.
"Aku ingin menjadi teman dekatmu boleh? Aku menyukaimu sejak pandangan pertama. Boleh aku mencintaimu?"
Jantung Aisyah berdetak kencang, apa apaan ini. Mereka baru saja bertemu dan laki laki ini langsung mengucapkan cinta? Aisyah saja tak kenal siapa laki laki ini. Tampan sih iya, tapi ia tak suka. Suaminya saja lebih dari segalanya.
"Maaf Tuan, saya sudah mempunyai suami. Lagipula saya tidak suka dengan Tuan."
"Tapi jika aku ingin memilikimu apa itu tidak boleh?" tanya Vino dengan senyum nakalnya.
Tanpa Aisyah tahu, Vino adalah seorang player, pacarnya ada dimana-mana tapi tak ada yang diseriusin. Bahkan ada yang sampai hamil tapi Vino tak mau tanggung jawab.
"Tidak boleh, karena saya sudah milik suami saya. Bahkan kalaupun suami saya tiada saya juga tak akan menikah dengan Anda," jawab Aisyah dengan tegas.
Vino yang merasa direndahkan oleh ucapan Aisyah itu, tak terima.
"Siapa suami kamu sampai membuat kamu menolakku? Apa dia lebih kaya dari aku?" tanya Vino dengan sombong.
"Andai kamu tahu, aku ini donatur panti asuhan ini juga. Bahkan setiap bulan aku selalu menyumbang 50 juta perbulan. Dan kau dengan bodohnya malah menolakku."
"Suami kamu pasti miskin tapi kamu berlagak sok jual mahal karena tak ingin dipandang sebelah mata. Aku yakin suami kamu juga memiliki wanita lain dibelakang kamu."
"Kamu juga dasar wanita munafik kamu, pasti kamu juga menerima tawaran laki laki tua diluar sana untuk memuaskan n**su dan juga kamu porotkan. Kamu saja terlalu munafik dan sok suci jadi cewek," ucap Vino yang sangat melukai hati Aisyah.
Suaminya saja tak pernah mengatakan hal seperti ini padanya tapi kenapa Vino yang notabene adalah orang baru itu membuat hatinya sakit seperti ini.
"Maaf Tuan. Anda tak kenal dengan saya, bahkan kita cuma orang asing. Jangan sekali kali Anda menghina suami saya dengan mulut kotormu itu. Bahkan jika dibandingkan suamiku lebih baik 1000 kali lipat daripada Anda," tegas Aisyah langsung bangkit dan berlalu menuju kamar.
Bunda dan Kenzi yang melihat itu menatap Vino.
"Ada apa ini?"
"Dia wanita murahan. Dengan mudahnya dia menolakku hanya karena sudah punya suami. Memangnya siapa suami wanita tadi?" tanya Vino dengan angkuhnya.
Bunda yang tahu Aisyah marah karena hal ini langsung menghadap Vino. Ia juga tak terima jika menantunya direndahkan seperti itu.
"Abimana Baratama. Kamu pasti tahu nama itu kan? Itu adalah suami putri asuhku itu, mereka menikah 4 bulan yang lalu. Jadi saya harap Anda tidak lagi merendahkannya jika tak mau berurusan dengan keluarga Baratama!!"
Mereka berdua terkejut saat tahu jika Aisyah itu adalah istri dan seorang pengusaha kaya raya di kota itu bahkan bisa di bilang salah satu pria kaya di negeri ini.
Bersambung
Syok gak tuh si Vino.
Semangat terus untuk bunda bunda hebat....
enthlah...trserah emak mo di bawa kmna...tu cinta segitiga aisah..