Cantik namun sifatnya sangat liar!
Elleandra Caroline, seorang gadis yang dijuluki sebagai Rebellious Aphrodite! Gadis yang mempunyai segudang catatan kenakalan itu tiba-tiba mengalami sebuah kecelakaan saat melakukan balap liar.
Lalu, saat tersadar, dia telah berada dalam dunia novel yang berjudul All I Want is You. Novel yang menceritakan kisah antara dua karakter villain; Aiden Drake O'Reagan dan Cassiera Romano.
Namun, alih-alih menjadi tokoh utama yang kuat, Elleandra justru terbangun di dalam tubuh figuran bernama Elleanor Sezadly, putri bungsu keluarga Sezadly yang lemah, bodoh dan sering ditindas oleh tokoh utama wanita. Ditambah lagi, Elleanor juga dibenci oleh Louisa, adiknya sendiri, karena telah lancang mencintai seorang Aiden!
Elleandra yang tidak terima terlahir kembali sebagai tokoh yang lemah, dia dengan penuh tekad ingin mengubah takdir hidup Elleanor dan menjadi bintang utama dalam novel tersebut!
🌹pjg/bab ±1500 kt
🌹FOLLOW AUTHOR AGAR TDK KETINGGALAN UP
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adora belle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[RA] 04 : Keluarga Besar Sezadly
Mobil mewah yang Elleandra dan Kavian tumpangi memasuki kawasan Havenway. Havenway adalah nama untuk mansion milik keluarga Sezadly yang berdiri di atas tanah yang luasnya lebih dari 10 hektar.
Havenway memiliki halaman luas, taman yang indah serta banyak fasilitas mewah seperti kolam renang outdoor dan indoor, lapangan golf, ruang theater, perpustakaan pribadi, tempat gym pribadi, hingga beberapa helipad untuk landasan helikopter pribadi milik keluarga Sezadly.
Havenway juga memakai sistem keamanan yang canggih, jadi, tidak sembarang orang bisa memasuki kawasan Havenway begitu saja. Mereka yang ingin bertamu harus membuat janji terlebih dahulu, selain itu, mereka juga harus melalui beberapa protokol keamanan yang sudah diterapkan.
Mobil yang Elleandra dan Kavin tumpangi berhenti tepat di depan pintu utama mansion. Elleandra keluar lebih dahulu dari dalam mobil tanpa menunggu Kavin, membuat Kavin menatap gadis itu dengan tajam karena telah bertindak tidak sopan.
Sedangkan Elleandra? Dia tengah menatap dengan raut tanpa ekspresi ke arah dua laki-laki berbadan kekar yang berdiri di depan pintu mansion. Mereka adalah anggota keamanan yang menjaga Havenway. Di telinga mereka terpasang earpiece untuk berkomunikasi.
"Hmm. Ternyata, Elleanor beneran anak konglomerat," lirih Elleandra yang hanya bisa di dengar olehnya sendiri. Dia jadi penasaran dengan siapa saja yang menghuni mansion seluas ini.
Dari belakang, Kavin mengamati Elleandra yang terdiam dengan pandangan lurus ke depan. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu, Kavin jelas tidak mau repot untuk mencari tahu.
Dua penjaga laki-laki berbadan kekar tadi membukakan pintu lalu Kavin melangkah masuk ke dalam mansion lebih dulu, baru diikuti oleh Elleandra yang mengekor di belakang Kavin dengan raut malas.
Elleandra di suguhkan oleh indahnya desain Havenway yang bernuansa klasik. Havenway di dominasi dengan warna putih dan krem pastel, begitu mewah dan terkesan elegan. Ketika memasuki pintu utama, langsung terlihat dua buah tangga yang saling terhubung ke atas menuju sayap kanan dan sayap kiri Havenway.
Elleandra masih mengekori Kavin sembari sesekali melirik ke sekeliling, melihat isi mansion diam-diam.
Samar-samar, Elleandra mendengar suara beberapa orang yang mengobrol. Sepertinya Kavin membawa Elleandra mendekat ke arah sumber suara yang berasal dari ruang makan Havenway.
Saat Elleandra dan Kavin sampai di depan pintu ruang makan yang tertutup, Kavin menghentikan langkahnya dan hanya berdiri di depan pintu membuat Elleandra yang di belakang Kavin juga ikut memberhentikan langkahnya.
Elleandra mengernyitkan alisnya. "Kenapa berhenti?"
Kavin tidak menjawab pertanyaan Elleandra, membuat gadis itu berdecak pelan dan memilih mendekat ke arah Kavin.
Saat tangan Elleandra tergerak untuk menyentuh pegangan pintu, Kavin langsung menepis tangan Elleandra dengan kasar.
Elleandra mendelikkan mata dengan tajam. Dia baru saja ingin mengumpat ketika suara yang berasal dari dalam langsung mengalihkan atensi Elleandra, membuat Ellandra sepenuhnya fokus untuk mendengar percakapan orang yang berada di dalam ruang makan yang tertutup.
"Kamu selalu berhasil membuat Ayah bangga, Lou!" Thomas Sezadly, lelaki paruh baya berusia 44 tahun itu menatap putri bungsunya, Louisa Sezadly, dengan tatapan bangga yang terlihat jelas.
"Ayah jangan terlalu memuji." Louisa tersenyum cerah.
"Itu semua juga karena kamu memang anak yang berbakat, Lou. Dan kali ini, kamu berhasil memenangkan tempat pertama Eve's National Piano Competition." Roseia mengelus puncak kepala Louisa dengan sayang.
"Terima kasih pujiannya. Louisa sangat senang dan bangga. Semua itu berkat dukungan Ayah dan Ibu," kata Louisa sembari menyuap menu sehat untuk sarapan yang disiapkan khusus untuknya yaitu semangkuk oatmeal yang dicampur susu, chia seed dan sedikit peanut butter lalu diberi toping irisan buah segar dan organic seeds. Louisa harus menjaga pola makannya. Semua makanan yang dia makan harus berdampak baik untuk kesehatan tubuhnya.
Louisa adalah putri bungsu keluarga Sezadly. Saat ini gadis itu berusia 16 tahun. Satu tahun di bawah Elleanor dan dua tahun di bawah Kavin; sang putra tunggal keluarga Sezadly.
"Em, Ayah, Ibu? Di mana Kak Kavin? Lou belum melihatnya sejak tadi." Tanya Louisa pada Thomas dan Roseia.
Raut wajah Thomas yang tadinya memancarkan aura hangat kini berubah menjadi agak dingin.
Roseia yang menyadari perubahan Thomas segera menatap putri kesayangannya dan memberikan seulas senyum tipis.
"Kavin sedang menjemput Elleanor. Hari ini, anak pembuat masalah itu kembali dari rumah sakit." Roseia menjelaskan secara singkat. Terlihat sekali bahwa dia enggan membicarakan Elleanor.
"Ibu, jangan berbicara seperti itu! Kak Elle pasti tidak bermaksud melakukan semua itu. Ini salah Louisa karena tidak bisa mengerti bagaimana perasaan Kak Elle. Louisa menyesal Ibu. Maafkan Louisa." Louisa menundukkan wajah dengan mata berkaca-kaca.
"Louisa, Ayah tau jika kamu sangat menyayangi kakakmu, tapi Elleanor sudah menyakiti dirimu. Seharusnya dia bisa bersikap lebih dewasa dan bijak dibanding kamu!" Thomas berkata dengan wajah menggelap suram.
Louisa menatap Thomas dengan raut menyesal. "Ayah, jangan marah. Maafkan Louisa karena sudah membuat suasana hati Ayah menjadi buruk."
"Lihat? Kamu lagi-lagi menyalahkan dirimu! Anak baik, jangan terlalu melembutkan hati jika ada yang menyakitimu." Roseia tersenyum hangat sambil mengenggam tangan Louisa dengan penuh kasih.
Apa yang dilakukan Roseia membuat kedua sudut bibir Louisa terangkat. Netra Louisa menatap intens tangan Roseia yang menggenggam hangat jemarinya.
'Kak Elle, apa kau lihat ini? Aku menang lagi,' batin Louisa dengan perasaan puas. Wajahnya masih menunjukkan ekspresi lugu seolah-olah dia adalah gadis polos dengan hati bersih yang suci tanpa dosa.
Tapi, tidak ada satu pun yang bisa menebak sifat Louisa yang sebenarnya karena gadis itu begitu lihai memainkan ekspresi dan kata-katanya.
Louisa baru berusia 16 tahun tetapi dia tumbuh menjadi gadis pintar yang sangat manipulatif.
Sedangkan di sisi lain, Elleanor yang mendengar semua isi percakapan itu hanya bisa mematung di tempat. Dalam diamnya, gadis itu mengernyitkan alis sambil menyeringai geli. Sekarang, dia paham akan menghadapi manusia seperti apa jika dia tinggal di mansion ini.
'Dasar bocil sok keras. Tunggu aja giliran lo mampus di tangan gue!' Elleandra membatin dengan perasaan jengkel luar biasa.
Kavin mengamati raut Elleandra yang terlihat seperti menahan marah. Lalu, Kavin tersenyum miring.
"Kenapa? Lo marah Elle? Tapi, sayangnya lo nggak berhak buat marah." Kavin menatap remeh Elleandra yang kini juga tengah memandangnya.
Elleandra berdecih. "Lo pikir, lo berhak ngomong gitu ke gue?"
"Lo makin ke sini makin kurang ajar ya, Elle?" Kavin menatap Elleandra dengan tajam. "Seharusnya lo merasa bersalah atas apa yang udah lo lakuin ke Louisa!"
Atas apa yang udah lo lakuin ke Louisa?
'Memang apa yang udah si Leanor lakuin ke Louisa?' Elleandra membatin penuh tanya.
Sial.
Perkataan Kavin membuat Elleandra terdiam lama. Gadis itu masih belum mengetahui masalah apa yang terjadi antara Elleanor dan Louisa hingga membuat Elleanor di benci oleh ayah, ibu, kakak serta adiknya yang manipulatif itu.
Namun, Elleandra tidak boleh terlihat kalah di mata Kavin. Elleandra selalu menang dalam segala hal. Dia tidak boleh terlihat lemah di hadapan manusia seperti Kavin yang begitu menyebalkan dimatanya. Jadi, dia akan terus mencoba memenangkan argumen walau dia belum mendapat petunjuk mengenai masalah ini dari Elleanor yang sekarang tubuhnya ditempati Elleandra.
"Lo pikir lo udah jadi sosok kakak yang baik buat Louisa?" Tanya Elleandra dengan raut tenang.
Elleandra menggeleng.
"Walau gue nggak ingat apa yang udah terjadi antara gue dan Louisa, boleh aja lo anggap gue bukan sosok Kakak yang baik buat dia," kata Elleandra.
"Tapi, Kav, bukannya seharusnya lo juga harus sadar diri, ya? Lo tau karena apa?"
Elleandra menatap dingin ke arah Kavin, membuat Kavin sedikit tertegun. Kavin masih saja terkejut dengan perubahan sikap Elleanor yang begitu drastis. Adiknya sekarang memiliki sifat yang begitu angkuh dan berani. Entah ke mana perginya Elleanor yang tidak pandai bicara dan selalu menunduk jika bertemu dengannya.
"Karena lo juga bukan sosok kakak yang baik buat gue."
BRAK!
Lalu dengan berani, Elleandra membuka pintu ruang makan dengan kasar. Membuat Kavin terkejut dan juga orang yang berada di dalam ruang makan mengalihkan atensi mereka ke arah datangnya suara gaduh berasal.
Sedetik kemudian, semua yang berada di ruang makan menatap tertegun ke arah Elleandra.
pdahal lbh bagus tokoh dingin kek dia gini ga banyak omong lgsg dgn tindakan.
kalo pun mau memaki2 atau apala ya sekali2 ini hampir tiap ketemu ngandelin bacot.