NovelToon NovelToon
Bertahan atau Lepaskan!

Bertahan atau Lepaskan!

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Poligami / Tamat
Popularitas:942k
Nilai: 4.5
Nama Author: ibu ditca

Menjadi satu-satunya perempuan yang di cintai pasangan adalah keinginan mutlak seorang istri. Namun apa jadinya jika ternyata semua itu hanya impian belaka?

Menikah tidak hanya sekedar menerima kekurangan dan kelebihan pasangan, tapi juga menerima keluarga pasangan. Orang tua pasangan mu, orang tuamu pula.

Alby Gunawan, seorang pria tampan yang memperistri Shabia Ayu harus di hadapkan dengan pilihan yang sulit. Ibunya yang sudah sakit-sakitan membutuhkan banyak biaya, tapi dia tak mampu membiayainya. Hingga pada akhirnya ia menikahi Silvy Hartama, anak dari majikannya yang memiliki kekurangan. Majikannya memberikan imbalan sebuah jaminan untuk mengobati sang ibunda.

Bagaimana nasib pernikahan Alby dan Bia ? Apakah Alby bisa bersikap adil terhadap kedua istrinya???

Apakah yang akan Bia lakukan jika tahu dirinya bukan satu-satunya perempuan yang di miliki suaminya???


Ditambah lagi kehadiran Febri, sang mantan? Bagaimana kelanjutan hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ibu ditca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 7

Alby

"Pagi non!", aku menyapa majikanku.

"Heum!", sahut Silvy. Dia tampak memperhatikan penampilan ku yang lebih rapi di banding kemarin.

"Kalo kaya gini kan ga malu-maluin jalan sama gue!", kata Silvy membuka pintu mobilnya sendiri.

Aku yang baru menyadari pun buru-buru menutup pintu mobilnya.

"Maaf non!", kataku.

Tapi sepertinya dia tak menggubris ucapanku.

"Oh ya, nanti pulang dari kampus anterin gue ke toko buku"

"Baik non!"

.

.

.

"Assalamualaikum Mak Titin!"

"Walaikumsalam, eh... Salamah, kadie!", panggil Mak.

"Sibuk naon Mak?", tanya Salamah sambil duduk di sebelah Mak.

"Teu sibuk nanaon", sahut Mak sambil tersenyum.

"Aya perlu jeng neng Bia, Aya teu Mak?", tanya Salamah.

"Aya di jero. Sakedeng nyak?!", kata Mak masuk ke dalam rumah.

Aku sedang menjahit daster ku yang sobek, mau di buang sayang. Masih layak dan bisa di pakai lah.

"Neng!", panggil Mak.

"Ya Mak!", kataku menyahuti panggilan Mak.

"Aya Salamah di tukang!"

(Ada Salamah di belakang)

"Ada perlu sama Bia Tah Mak?", tanyaku sambil melipat daster ku.

"Iya."

Aku dan Mak pun menuju ke teras belakang.

"Teh....!", sapaku pada teh Salamah.

"Neng Bia, keur sibuk?", tanya teh Salamah yang duduk di kursi panjang.

"Ngga lah teh, biasa lah ngerjain apa gitu biar ga suntuk aja."

"Kalo gitu Mak ke kamar ya, mau tiduran dulu. Yuk Salamah, Mak tinggal!", pamit Mak.

"Manga Mak...!", sahut Salamah. Aku pun mengangguk mengiyakan pamitan Mak.

"Teteh ada perlu sama Bia?", tanyaku. Teh Salamah sepuluh tahun lebih tua dari ku.

"Itu neng, besok teh peringatan setahun meninggalnya bapak. Bisa teu, neng Bia bantuin masak di rumah?"

"Oh...yasinan gitu ya teh?"

"Muhun neng. Kumaha?"

"Insyaallah bisa teh."

"Alhamdulillah!", ucap Salamah.

"Tapi...saya mah cuma takut masakan saya ngga sesuai selera sama lidah orang sini teh!"

"Mana ada gitu, masakan neng Bia mah enak. Udah terbukti juga. Neng mah suka merendah gitu!", puji teh Salamah.

"Jangan terlalu memuji gitu teh, tambah geer saya nya !", kataku terkekeh.

"Hahaha neng Bia mah...oh iya neng, ngomong-ngomong udah kenal belom sama tetangga yang baru nempatin rumah wa Mus?", tanya teh Salamah. Aku menggeleng.

"Lho...kan maneh anu kamari bebersih rumah wa Mus?", tanya Salamah penasaran.

"Iya teh, tapi saya ngga ketemu orangnya. Mungkin pulangnya malem. Saya kan beberes sebentar juga selesai, sore udah di rumah."

"Owh... itu, dia tuh komandannya Cecep di Koramil", terang Salamah padaku.

Jadi, benar itu mas Febri? Dia dinas di sini?

"Kenalan atuh neng. Sama tetangga!", ajak Salamah.

"Hah? Ah...iya teh lain kali, lagi pula kan suami saya ngga di rumah. Ngga enak kalo nyamperin laki-laki lain, ntar di kira saya keganjenan lagi hahaha!"

"Ya ampun neng, sama tetangga sebelah masa ngga kenal. Cuma kenal aja ngga masalah kali, apalagi sesama orang Jawa. Berasa saudara gitu!"

Aku menampilkan senyum sedikit terpaksa.

"Eh...ya ampun teh, dari tadi ngobrolin ngga nawarin minum ke teteh!", kataku sambil berdiri.

"Ishhh...ngga usah, teteh ge balik."

"Maaf ya teh, jadi ngga enak!"

"Apaan sih, ngga usah gitu neng. Jangan lupa besok pagi ke rumah teteh ya neng!", Salamah mengingatkan ku.

"Iya teh, insyaallah!", sahutku.

Teh Salamah pun berpamitan pada ku. Aku sendiri masuk ke dalam kamar ku. Masih jam dua siang, aku bisa tiduran sambil memainkan ponselku.

Tak ada pesan dari A Alby. Mungkin dia sibuk saat ini.

.

.

.

[Jemput gue jam tiga]

Silvy mengirimkan chat pada Alby. Alby yang sedang membantu teh Mila mengangkut barang belanjaan nya pun terhenti.

"Kenapa Jang?", tanya teh Mila.

"Non Silvy minta di jemput jam tiga."

"Ya udah atuh jalan ayeuna. Dari pada ngoceh-ngoceh ngke!", pinta teh Mila.

"Tanggung teh, dikit lagi kok ini!", ujar Alby. Setelah semua barang-barang belanjaan teh Mila masuk rumah, Alby bergegas menuju garasi untuk menjemput majikannya.

Jalanan tidak terlalu macet, belum jam tiga Alby sudah berada di parkiran mobil universitas.

Silvy berjalan beriringan dengan Anika. Keduanya tampak tertawa bersama-sama.

"Hyuuuh....cewek cacat masih berani unjuk gigi di sini!", sindir Vega yang berjalan bersama Malvin. Malvin pun hanya tersenyum sinis. Silvy yang merasa di sindir pun menatap tajam kepada sepasang pengkhianat itu.

"Ngga usah di ladenin Vy!", ujar Anika mengusap bahu Silvy.

"Apa Lo Nik?Dasar penjilat Lo! Gue tahu Lo masih mau temenan sama dia karena Lo butuh di jajanin kan sama dia?", tunjuk Vega pada Anika. Tapi Anika tak mau ambil pusing mendengar ocehan mantan sahabat nya itu.

Silvy dan Anika tetap berjalan menjauh dari sepasang kekasih laknat itu.

"Btw... kira-kira ada ngga ya cowok yang mau sama cewek cacat kaya lo?", sindir Malvin.

Silvy yang mendengar cemooh mantan kekasih nya pun terbawa emosi. Wajahnya merah padam dan tentu saja kesal.

"Jual mahal sih!", sindir Vega lagi.

"Mending jual mahal, dari pada Lo di obral!",pekik Anika yang justru terpancing amarah nya.

"Heh!", hardik Vega.

"Anika bener kok. Mending jual mahal dari pada di obral, lagian belum tentu kan Malvin jadi suami Lo besok!", kata Silvy menyeringai.

"Lo...Lo!", hardik Vega lagi.

"Lo tuh udah cacat masih aja blagu cuiiih....!", Vega meludah sembarangan di hadapan Silvy dan Anika.

Silvy menarik nafasnya dalam-dalam. Ingin rasanya menjambak cewek yang tidak tahu diri itu.

"Sayang...habis lulus besok kita akan menikah kan ya?", tanya Vega bergelayut manja pada lengan Malvin.

"Tentu saja beib!", Malvin mencolek dagu kekasihnya itu. Vega pun tersenyum merasa menang.

Silvy meraih ponselnya, lalu menghubungi sebuah nama di kontak telponnya.

[Sayang, kamu sudah di parkiran kan? Jemput aku dong sayang...]

Suara Silvy terdengar sangat manja. Sedangkan orang yang di hubungi justru merasa bingung.

[Halo...non, non Silvy salah telpon ya?]

[Ngga, cepetan sayang kamu ke sini. Aku di pintu keluar gedung fakultas kok]

Panggilan itu langsung di matikan sepihak oleh Silvy. Mau tak mau Alby pun menghampiri majikannya yang terlihat sedang berkumpul dengan beberapa temannya.

Sebelum Alby menyapa, Silvy lebih dulu menyambut kedatangan nya.

"Sini sayang!", Silvy bergelayut manja pada Alby. Alby yang kebingungan pun hanya menuruti perintah majikannya.

"Sayang, kamu udah nungguin dari tadi ya?", tanya Silvy mesra. Anika yang tak paham pun turut merasa bingung, siapa laki-laki tampan yang bersama sahabatnya.

"I...iya", Alby menjawab tergagap.

"Itu sayang, mereka pengen kenal sama kamu, calon suami ku!", Silvy menekankan kata calon suami.

Hah????!!! Alby tidak tahu harus berbuat apa.

"Hahaha Lo beneran calon suami Silvy? Lo terlalu tampan buat cewek model Silvy.Lo mau gitu sama cewek cacat begitu?", Vega tersenyum menghina.

Tapi Silvy tak mau kalah, dia menunjukkan gigi putih nya.

"Tentu saja, biarpun gue cacat tapi gue masih virgin. Gue ga obral sana sini, apa lagi sama kekasih sahabatnya sendiri. Ya...kami saling melengkapi lah, dia terima kekurangan gue dan gue juga terima kekurangan dia yang cuma staf papa ku di kantor. Bukan begitu sayang?", Silvy mencubit pinggang Alby. Alby yang terkejut pun mengangguk pelan.

"Em.. iya benar!", kata Alby yang lagi-lagi tergagap.

Malvin melihat kemesraan mantan kekasihnya dengan laki-laki yang lebih tampan dan dewasa darinya pun merasa kesal sendiri.

"Yuk sayang, kan habis ini kita mau beli cincin pernikahan kita!", Silvy bergelayut manja di lengan Alby.

"Iya...!", sahut Alby pelan.

"Anika, sorry...gue balik sama calon suami dulu ya!", kata Silvy pamitan pada sahabat nya. Vega merasa kalah satu langkah dari Silvy lagi. Di matanya, Silvy selalu saja lebih beruntung. Dia pikir, setelah merebut Malvin dari Silvy tidak ada lagi pria yang mau dengan nya. Tapi ternyata dia salah, justru Silvy mendapatkan pria dewasa yang tampan.

"Sorry juga Vega... Malvin, kami pergi dulu. Bye....?", silvy melambaikan tangannya sembari menggandeng Alby.

"Lo , ikutin aja permainan gue!", bisik Silvy di telinga Alby. Alby pun mengangguk pasrah dengan permintaan majikannya itu.

Sesampainya di mobil, Silvy masih tetap menggandeng lengan Alby.

"Maaf non!", kata Alby melepaskan tangannya dari Silvy.

"Oh...its okay!", Silvy pun melepaskan tangannya.

Silvy membuka pintu depan sedangkan Alby membukakan pintu belakang.

"Gue mau di depan, lihat anak-anak masih liatin kita!"

Alby pun sekarang paham. Silvy pura-pura menyerahkan ranselnya pada Alby. Alby pun menerima ransel itu lalu meletakkan nya dibangku belakang.

Usai meletakkan ransel itu, Alby memutar dan duduk di belakang kemudi.

Suasana hening di sepanjang perjalanan.

"Jadi ke toko buku non?", tanya Alby.

"Ngga. langsung pulang. Gue capek!", sahut Silvy kembali ketus.

Alby yang paham tadi hanya sandiwara di hadapan teman-temannya Silvy pun tak membahas nya lagi.

Kendaraan pun menuju ke kawasan perumahan mewah dimana Silvy tinggal.

1
Sri Wahyuni
ceritanya bagus banget koq mak,terus berkarya mas.semangat!!!!
Jade Meamoure
ini novel koq banyakan pake bahasa daerah ya padahal bagus tapi aq yg gak ngerti bahasa ini maaf...
Sulfia Nuriawati
dendam yg buat byk org tersakiti, hartama dah tua bkn berdamai tp menebar racun utk org lain, bgs nya dy yg mati spy anak ya g sombong jg ego tingkat dewa
Nafa Azzam
sangat seru ceritanya
Endang Supriati
dlm kehidupan nyata! laki2 klu tdk cinta dgn ibunya!!!!!!!! boro2 sayang saMa anaknya. banyak suami yg sdh tdk cinta sama ibunya,!! ansknya di telantarin,dicuekin bahkan ada yg sibuang.
Endang Supriati
si bia munafik juga ya! klu sy waktu si aby telpon cerita kondosi si silvt. aku jawab ! bagus lah karma nya balasan dr Allah, mudah2an mati semua!!! setelah mereka mati, ibunya yg namanya titin juga mati!!! terus buat kamu mudah2an mati kelindas truck!! langsung tutup.
Endang Supriati
engga cinta silvy hamil!!
Endang Supriati
zholim banget nikah didepan istrinya, mudah2an ibu titin malah kejang2 liat si abi nikah lagi.
biar sadar si aby...tdk ada gunanya uang utk ngobatin si titin.
Octa Neyland
/Good//Ok//Heart/
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
sumpah ini cerita seru banget woy... kayak naik egg roll,, eh roller coster maksutnya🤣🤣🤫🤫
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bacanya aku pake nada lagi,, berrrpeluuukaaann🤣🤣🤣
Erneztya Ayoda
Menangis di bab ini /Sob//Sob/
Erneztya Ayoda
Luar biasa
andi hastutty
masyaAllah Thor udah tamat sukses dan sehat slalu Thor untuk berkarya
andi hastutty
hahahha untung nama anakku pendek ngga seperti jalan tol 😂🤣🤭
andi hastutty
hahahha
andi hastutty
mau brojol syukurlah
andi hastutty
masyaAllah pengennya hamil kembar juga hehehe
andi hastutty
hehhehe mulai posesif
andi hastutty
alby mulailah terima Amara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!