Aisyah, seorang gadis cantik dari keluarga yang sederhana. Diumurnya yang ke 17 tahun, ia harus menerima kenyataan bahwa kedua orang tuanya harus bercerai, dan itu sangat melukai hatinya. Sangat sulit baginya untuk mencerna apa yang telah terjadi kepada kedua orang tuanya.
Diumur Aisyah yang terbilang masih remaja kecil, Aisyah harus memikul beban yang sangat berat. Ia harus menjadi tulang punggung keluarganya.
Bagaimanakah nasib seorang anak seumuran dia harus memikul tanggung jawab seberat ini?
Simak terus kisahnya hanya di Noveltoon.
Follow ig author ya
@rafizqi0202
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rafizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Membiasakan Diri
“Aisyah” Seru ibunya dari belakang. Aisyah dengan cepat mengusap air matanya, lalu menetralkan suaranya yang serak karena tadi sempat terisak.
Aisyah berbalik badan, “Iya Buk” Jawabnya.
Buk Hesti menautkan kedua alisnya, menatap Aisyah dengan raut wajah menyelidik.
“Aisyah menangis?” Tanya Buk Hesti lembut.
“Gak buk. Aisyah hanya kelilipan aja tadi pas bersih-bersih kamar” Jawab Aisyah berbohong dengan terkekeh kecil. Menyembunyikan kesedihannya yang sangat menyiksa dirinya.
Buk Hesti terus menatap mata Aisyah dengan sangat dalam, seketika Aisyah terlonjak kaget dikala ibunya tiba-tiba memeluk tubuhnya dengan erat.
“Maafkan ibu nak. Beban ini pasti sangat menyakiti perasaanmu” Ucap ibu tulus. Ya, begitulah seorang ibu, besarnya ketulusannya dalam menyayangi anak-anaknya sehingga membuat ia lebih peka akan apa yang terjadi di sekitarnya. Termasuk perasaan anak-anaknya.
Mendengar itu, suara tangis Aisyah pun pecah. Tidak kuasa lagi menyembunyikan rasa sakit ini.
Aisyah yang mungil membenamkan wajahnya didalam dekapan tubuh ibunya yang tinggi, meluapkan segala kesedihannya dengan menangis didalam dekapan ibunya.
Buk Hesti pun juga ikut terisak mendengar tangisan Aisyah yang sangat memilukan itu, hatinya bagai diiris oleh sembilu yang tajam, Sangat menyakitkan.
“Ya Allah! Kuatkan lah hati anakku. Berikanlah ia kekuatan dalam menjalani cobaan ini ya Allah” Doa Buk Hesti didalam hatinya.
”Maafkan Aisyah buk” Ucap Aisyah dengan masih menangis terisak disana.
Buk Hesti melepaskan pelukannya lalu menatap wajah anaknya dengan penuh kepiluan. Kedua tangan Buk Hesti memegang kedua pipi anaknya dengan lembut, membuat Aisyah menengadahkan wajahnya keatas.
“Ini semua salah ibu Nak. Jangan menyalahkan dirimu. Ibu tau ini berat, namun kita harus sabar dan ikhlas. Ini adalah takdir yang Allah berikan untuk kita, kita harus menerimanya dengan hati yang sabar” Ujar Buk Hesti.
“Tersenyumlah. Jangan memikirkan ayahmu lagi, disini akan ada ibu yang akan selalu ada untukmu. Ibu juga akan menjadi ayah untuk kalian semua.” Sambung Buk Hesti lagi dengan deraian air mata.
Aisyah mengangguk pelan, “Iya buk” Jawab Aisyah lirih. Buk Hesti tersenyum lalu mengusap kedua pipi anaknya yang penuh dengan air mata.
“Sudah, ayo kita makan!” Ajak ibunya kemudian. Aisyah hanya bisa mengangguk, lalu mengikuti tarikan tangan ibunya yang membawanya menuju meja makan sederhana yang berada di dapur.
Aisyah menarik kursi kayu itu lalu mendaratkan bokongnya disana, nampak kedua adiknya sudah menunggu sejak tadi di meja makan. Tidak ada suara yang keluar, melihat wajah sembab antara Aisyah dan ibunya sepertinya Emi dan Rido bisa merasakan kepedihan yang dirasakan Aisyah dan juga ibunya.
Setelah selesai acara makan-makan. Mereka semua pun kembali ke kamar masing-masing.
Sudah hampir dua bulan mereka berpisah bersama ayahnya, entah bagaimana kabar ayahnya mereka pun juga tidak tau.
Mungkin dengan cara membiasakan diri tanpa seorang ayahlah pilihan yang paling tepat saat ini.
****
Keesokan harinya.
Setelah berpikir semalaman, akhirnya Aisyah berubah pikiran. Dia yang awalnya ingin berhenti sekolah, segera membatalkan niatnya dan mengubah rencananya yang sempat ia rencanakan sebelumnya.
Aisyah berjalan kearah dapur, disana sudah ada ibunya yang sedang memasak.
“Buk” Seru Aisyah. Ibunya sedikit menoleh, “Ada apa Aisyah?” Tanya ibunya lembut.
“Aisyah ingin jualan di sekolah buk. Aisyah juga bisa belajar disana nyambi jualan untuk kebutuhan kita setiap hari” Jelas Aisyah.
Buk Hesti menghentikan kegiatannya, lalu berbalik menghadap anaknya.
“Kamu yakin Nak? Apa kamu gak malu sama teman-teman kamu” Tanya ibunya memastikan.
“Iya buk, Aisyah yakin kok” Jawabnya mantap.
“Emang mau jualan apa?” Tanya ibunya lagi.
.
.
.
.
Bersambung.
aku di tinggal ayah dan ibu semenjak berpisah aku dan sodara" ku di rawat nenek kakek dari ibu singkat cerita aku sudah berumah tangga dan punya anak dua lalu ayah ku datang sudah sakit keras gagal ginjal aku rawat di bawa ke rumah sakit bergantian sama sodara" ku yg sekota kadang adik ku yg bawa ke rumah sakit untuk cuci darah seminggu dua kali kalou pulang bapak tetap mau ke rumah ku ga mau tinggal di anak yg lain terus yg 2 lagi kakak dan adik laki" ku tinggal nya di Kalimantan
kakak dan adik ku ngirim uang buat keperluan bapak kita gotong royong saling menjaga bapak..
aku suka kesel kalou ingat ibu tiri dan anak dari bapak mereka semua membuang bapak ku ketika bapak sakit keras😭 ko ada yah perempuan sekejam ibu tiri ku kirain di novel saja😂 sebelum bapak menghembuskan napas terakhir nya beliou mengaku bahwa menyesal karna telah menelantarkan kami anak" nya kalou inget bapak sekarang saya cuman bisa berdoa
bapak belum lama pergi belum ada 100 hari Al-Fatihah buat bapak ku🤲😭🙏