Malam itu Alea terbangun setelah menangis sepanjang hari karena Rey, sang kekasih yang tak datang ke acara pernikahan mereka. Alea berharap semuanya adalah mimpi buruk namun siapa sangka saat ia bangun dan membuka mata, itu lebih dari mimpi buruk
" Aku suamimu!" Begitu terkejutnya Alea dengan pria yang sedang duduk manis menampilkan senyum smirk yang menyebalkan untuk Alea, ia merasa kunang-kunang berputar dikepalanya
Bagaimana bisa presdir baru ditempatnya bekerja kini menjadi suaminya? Apa yang harus Alea lakukan dengan pria yang pernah menjadi cinta satu malamnya itu?
Ikuti kisahnya ➡️
Jangan tinggalkan jejak, like, rate dan vote
Salam hangat Author 🌞
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami?
🍃🍃🍃🍃
1 bulan berlalu begitu cepat. Tak terasa hari ini hari pernikahanku bersama Rey. Kami mengatur semuanya hanya berdua tanpa campur tangan dari siapapun dan hari ini adalah puncaknya dimana kami akan meresmikan hubungan kami selama dua tahun ini
Sudah selama satu bulan juga aku tak pernah bertemu pria itu. Dia tidak pernah lagi menghubungiku sejak terakhir kali dia menghubungiku. Kami bahkan tak pernah bertemu lagi, mungkin karena divisiku dilantai dua sementara dirinya dilantai paling atas yaitu lantai 30. Cukup jauh dan aku bersyukur atas itu
Dengan kebaya putih vanila yang membalut tubuhku. Aku keluar kamar dan disambut dua bridesmide yang menungguku. Mereka terus memujiku, mereka bilang aku cantik dengan pakaian pengantin
Dengan sedikit senyum aku melangkah memasuki ballroom hotel dimana acara sakralku dan Rey akan diadakan. Yang menjadi aneh bagiku, kenapa Rey tak ada? Seharusnya dia menyambutku kan seperti mempelai pria yang lainnya?
Aku mengedarkan pandangan pada ibu dan mencoba mencari jawaban. Tapi wajah ibu sangat muram membuatku segera mendekat
" Bu."
" Nak Rey belum datang, coba kamu hubungi dia." Perintahnya lalu aku mengangkat wajah. Kulihat semua orang menatapku
" Keluarganya bagaimana?"
" Mereka juga tidak ada." Jawabnya membuatku sedikit khawatir lalu melihat jam ditangan ibu, Rey ternyata sudah telat satu jam
" Sebentar, aku akan mencoba menghubungi Rey." Ucapku lalu kembali memutar tubuh, aku melangkah dengan pelan menuju lift menuju yang lumayan jauh dari sana kembali ke kamar pengantinku dan Rey berada
Sejujurnya aku sedikit malu dengan keterlambatan Rey dan berpikir mungkin jalanan saat ini sedang macet parah. Kuambil ponselku dalam tas kecil dan menghubungi Rey, sayangnya nomer pria itu tidak aktif
Lalu kukirimi pesan berulang bertanya dimana keberadaannya
Sampai setengah jam aku menunggu tapi Rey sama sekali tak membalas pesanku. Aku menghubungi lagi tapi sekali lagi ponselnya mati
Tring
Tring
" Iya bu!"
" Alea, dimana Rey. Ini sudah dua jam. Semuanya sudah tidak sabar. Pak penghulu juga akan segera pergi karena akan menikahkan yang lainnya juga." Tubuhku mendadak melemas dengan perkataan ibu, sebenarnya dimana Rey? Kenapa dia tidak datang? Apa dia baik-baik saja?
" Alea."
" Alea." Kudengar ibu masih memanggilku tapi kuabaikan, rasanya airmataku sudah tak bisa kubendung. Aku menghempaskan tubuhku pada ranjang yang dipenuhi kelopak bunga dan menangis
" Rey dimana kamu!"
" Rey jangan membuatku khawatir!
" Rey, ini pernikahan kita. Pernikahan yang kamu impikan. Kenapa belum datang juga? bukankah kamu yang paling bersemangat?
Sekali lagi kucoba mnghubungi Rey, ponselnya kali ini aktif tapi Rey tak menjawab bahkan membalas pesanku. Entah sampai berapa kali aku menghubungi Rey sampai aku merasa lelah dan tak sengaja tertidur. Lelah karena menangis dan karena semalam aku sangat gugup hingga tak bisa tidur membuat mataku terasa sangat berat
Entah berapa jam aku tertidur, aku terbangun saat mendapat sentuhan lembut pada pipi kananku. Aku berpikir itu adalah Rey, dan ketidakhadiran Rey dalam pernikahan kami adalah mimpi buruk
Tapi saat kubuka kedua mataku yang terjadi lebih dari mimpi buruk
" Apa yang bapak lakukan disini?" Tanyaku setengah terkejut pada pria yang kini duduk disisi ranjang disamping tubuhku, wajahnya sangat menyebalkan dengan senyum smirknya
Dan lebih menyebalkan lagi karena tak menjawab ucapanku, malah mengedikan bahunya acuh. Sejak dulu pria itu memang tak punya adab sama sekali, buktinya pria itu pergi begitu saja setelah mengambil apa yang paling berharga dariku
Segera kutepis jemari kekar itu dan aku langsung bangun." Apa bapak tuli?" Tanyaku seakan tak perduli kalau pria yang kini didepanku itu adalah atasanku
" Aku suamimu, menurutmu apa yang kulakukan dikamar pengantin kita?"
Pertanyaan yang tak bisa dipercaya
" Apa bapak sudah gila?" Tanyaku setengah membentak
Aku tak menanggapi lagi perkataannya dan langsung berlari menuju pintu. Terburu-buru menuju lift dan kutekan tombol menuju balroom hotel dimana tempat pernikahanku dan Rey diadakan
Aku mengelus dada dan langsung menghampiri kedua orangtuaku dan kedua kakak lelakiku yang masih duduk dimeja bundar. Mereka sedang makan sambil berbincang, entah apa yang mereka bicarakan aku tak mendengarnya. Sementara para tamu undangan yang tadi memenuhi ballroom hotel sudah tak nampak, hanya dari kalangan keluargaku saja yang masih setia disana
Dan tidak ada adabnya pria itu masuk kedalam kamarku. Darimana dia tahu kalau aku dan Rey menikah hari ini, setahuku aku tak mengundang banyak teman-teman satu kantorku, hanya yang kebetulan satu divisi denganku dan Rey saja yang kami undang
" Pak, ibu apa Rey benar-benar tidak datang?" Tanyaku dengan suara pelan dan merasa malu pada semuanya
Mendengar suaraku, ibu, bapak dan kedua kakakku menoleh. Wajah mereka tampak merasa kasihan padaku
" Duduklah!" Perintah ibu menepuk kursi kosong disebelahnya
" Bu."
" Lupakan Rey." Perintahnya dengan wajah sedih
" Dia hanya seorang pria pengecut yang tak datang dihari pernikahan kalian, apapun alasannya dia pria yang sangat brengsek!" Kakak pertamaku tampak marah, wajah sendu itu mulai memerah karena marah
" Dia sudah membuat kamu dan keluargamu malu." Kini kakak keduaku ikut-ikutan marah
Apa yang sebenarnya terjadi? Kemarin-kemari Rey sangat bersemangat dengan pernikahan kami lalu kenapa dia jadi seperti ini. Aku sangat khawatir takut terjadi sesuatu padanya
" Mungkin Rey punya-"
" Jangan membelanya!"potong kakakku bersungut-sungut sembari menggebrak meja
" Kakak, sejak awal Rey yang mengajakku menikah-"
" Apa kamu melakukan kesalahan?" Tiba-tiba ibu memotong perkataannku
" Kamu membuat kesalahan dan Rey jadi tidak mau menikahimu?" Cecarnya padaku, bukan mengobati rasa sakit hatiku semua orang kini malah mencehcarku habis-habisan seolah akulah yang salah disini
" Aku tidak melakukan itu." Sautku menggelengkan kepala, sejujurnya ada satu hal yang aku belum ceritakan pada Rey, tapi bukankah Rey bilang akan menerima segala kekuranganku?
" Sudahlah mau bagaimana lagi, ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu." Sautnya lalu mengelus punggungku, mungkin merasa iba karena kedua mataku yang berkaca-kaca
" Kamu harus menerima semuanya dengan lapang dada nak, meskipun kamu tidak mencintai suamimu-"
" Apa maksud bapa?" Tanyaku menatap bapa
Ibu dan bapa saling melirik dan menghela nafasnya
"Karena kami tidak mau menanggung malu dengan ketidakhadiran Rey. Seolah-olah kamu tidak diinginkan, bagaimana bisa anak secantik dirimu dipermalukan seorang pria-"
" Ibu apa maksud ibu?" Aku mulai membentak sembari berdiri hingga kursiku terlempar kebelakang
" Suamimu, meskipun bukan Rey tapi kamu harus belajar untuk mencintainya. Lagipula dia sangat tampan!" Aku benar-benar tercengang dengan perkataan ibu, bisa-bisanya mereka melakukan ini tanpa sepengetahuan dan seijinku. Jadi apa yang dikatakan pria itu benar, dia suamiku sekarang. Sebenarnya apa motif pria itu menikahiku, jelas-jelas kami adalah orang asing
" Bukankah kalian sangat keterlaluan!" Teriakku mulai marah, untungnya ballroom hotel itu sudah tidak ada siapapun hanya tinggal keluarga-keluargaku saja
" Jangan menyalahkan ayah dan ibu, salahkan saja pacarmu itu kenapa dia tidak datang ke pernikahan kalian? Benar-benar tak bertanggung jawab, jika aku bertemu dengannya akan kuhajar dia habis-habisan." Gerutu kakak pertamaku lagi yaitu Angga, dia adalah orang yang paling menyayangi dan memanjakanku meskipun dia sudah punya keluarga sendiri
Tubuhku melemas tak menentu, kedua lututku rasanya tak bertulang hingga kedua tanganku memegang meja. Rasanya sakit, sakit karena Rey yang tidak datang ke pernikahan kami, padahal jelas-jelas pria itu yang sangat menginginkan pernikahan kami1
" Bu." Panggilku saat ibu mencoba menggandengku, sebagai seorang ibu tentu beliau sangat khawatir dengan kondisiku sekarang. Ia pasti merasakan apa yang kurasakan, tidak hanya sebagai seorang ibu namun juga sebagai seorang wanita
Sambil berjalan lagi digandeng ibu aku memikirkan banyak hal, apa aku salah, apa yang terjadi sehingga Rey tidak datang. Atau pria itu mengalami kecelakaan atau apalah, setidaknya dia harus menghubungiku bukan? agar aku tahu dan tak mati penasaran seperti ini
-
Jangan lupa vote!
-
bener2 lho. nasib perempuan dibuat rendah banget di novel. hanya dijadikan istri yg tersakiti. capedeee
terinspirasi ikan terbang banget blm lagi penuh dgn pelakor. seakan masalah rumahtangga selalu peremuan terobsesi.
Aku mampir
Salam kenal 💐❤️