Rumah tangga diibaratkan sebuah perahu yang tengah berlayar di lautan lepas! Dimana suami sebagai nahkodanya, sementara isteri dan anak berperan sebagai penumpangnya. Nahkoda bertugas mengemudikan perahu agar perahu bisa sampai ditujuan dengan selamat, sementara penumpang akan mengikuti kemanapun perahu itu berlayar.
Terkadang dalam perjalanan berlayar kita dibuat bahagia dengan keindahan di lautan, angin sepoi-sepoi dan ikan-ikan yang berenang di lautan menjadi kebahagiaan yang akan kita dapatkan selama berlayar.
Lalu bagaimana jika ditengah perjalanan perahu dihadapkan dengan hantaman keras gelombang ombak dan juga badai di lautan?
Sama halnya dengan rumah tangga, gelombang ombak bisa kita artikan pihak ketiga atau wanita idaman lain.
Perahu akan bisa bertahan dari terjangan badai dan ombak besar, jika nahkoda sekuat tenaga mempertahankan kemudinya agar tetap seimbang, meski dihantam ombak dahsyat sekalipun. Tapi jika nahkoda memutuskan untuk tidak mempertahankan kemudi perahunya.
Maka yang akan terjadi adalah! Badan perahu akan retak lalu perlahan akan dimasuki oleh debit air laut yang semakin lama akan semakin menenggelamkan perahu hingga membuat PERAHU KARAM.
Begitu juga dengan rumah tangga, jika ditengah perjalanan dalam kehidupan berumahtangga, seorang suami tidak bisa tahan dengan godaan dari wanita lain, dan tidak mau mempertahankan pernikahannya!
Membiarkan wanita idaman lain untuk terus memasuki kehidupan rumah tangganya.
Maka yang akan terjadi adalah pernikahan itu akan hancur dan berujung dengan perceraian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopi_sopiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Tak lama, yang dinanti-nanti akhirnya sampai juga. Natasha pulang dari lokasi syuting bersama seorang laki-laki, masuk ke dalam rumah.
"Nah itu non Natasha, sama pacarnya!" ujar asisten rumah tangga.
Qiara pun memantapkan hati untuk segera menoleh kearah datangnya Natasha dan sang kekasih.
"Loh Bu Qiara? Ada apa ya?" tanya Natasha.
Rupanya pacar dari Natasha bukanlah Dimasta seperti yang sudah ada dalam pikiran Qiara.
"Oh, ini aku! Aku hanya ingin bicara sesuatu sama kamu!" kata Qiara.
Natasha pun meminta kekasihnya agar pergi ke kamar duluan, dan dia menemani Qiara untuk mengobrol.
"Sebelumnya aku mau minta maaf sama kamu Nat, mungkin ini konyol banget si aku sampai nyamperin kamu ke rumah kamu," kata Qiara.
"Aku ngerti ko Bu! Bu Qia, pasti curiga aku sama mas Dimas ada maen-maen gara-gara kejadian waktu itu kan?" tanya Natasha.
"Ya, tapi sekarang aku tau kamu engga mungkin ngelakuin itu," kata Qiara.
"Bu Qia, aku memang menyukai mas Dimas, aku care sama mas Dimas karena dia udah bantu karier aku sampai sejauh ini! Tapi gak pernah sedikitpun terbesit dalam hati aku untuk menyakiti hati perempuan manapun," kata Natasha.
"Iya Nat aku nyesel sudah berprasangka seperti itu sama kamu, aku lagi mumet aja ini pikiran!" kata Qiara.
"Terlepas ada masalah apa Bu Qia sama mas Dimas, tapi aku berani jamin sama Bu Qia. Sampai mati aku gak akan mungkin mau dengan suami orang Bu, kata Natasha.
Setelah mendapatkan penjelasan dari Natasha, Qiara pun pamit pulang karena tidak enak sudah membuat Natasha tidak nyaman seperti ini. Qiara memutuskan untuk kembali ke rumahnya dan berusaha lebih tenang lagi
Sesampainya di rumah! Qiara pun masuk ke dalam rumahnya, dilihatnya Dimasta tengah bermain dengan Wili dan Wilo, Qiara sampai terperanga mendapati Dimasta, dengan santai dan wajah tanpa dosanya tengah bermain bersama anak-anaknya.
"Mi, sini Mi!" teriak Wiliam.
Qiara pun sudah menunjukkan sikap kesalnya terhadap Dimasta.
"Kak, ajak main dulu adenya ya! Mimi mau bicara sama Papi," kata Qiara.
"Yah Mi, kan kita baru sebentar main sama Papi!" kata Wiliam.
"Nurut apa kata Mimi! Jangan pernah bantah, ngerti?" kata Qiara dengan mata melotot.
Membuat Wiliam dan Wilona berlarian menuju kamar mereka karena takut dengan tatapan penuh emosi Qiara.
"Mimi jahat!" teriak Wili dan Wilo.
"Loh sayang! Kamu apa-apaan si, itu anak-anak sampai ketakutan begitu, kamu melotot begitu si?" tanya Dimasta.
"Ikut aku ke kamar! Aku mau bicara sama kamu," kata Qiara.
"Ya udah bisa kan kita bicaranya di sini bareng anak-anak, kasian loh mereka lagi asyik-asyiknya main tadi!" kata Dimasta.
"Ke kamar sekarang! Atau aku buat di dalam rumah ini menjadi tempat yang engga nyaman lagi untuk kamu mas!" ancam Qiara.
Dimasta pun mengalah dan mengikuti Qiara masuk ke dalam kamarnya.
"I-ini ada apa si Qia? Kamu tuh beda gini sikapnya," kata Dimasta.
"Mas cukup! Kali ini biar aku yang bicara," kata Qiara dengan nada tinggi.
"Kamu engga ada minta maaf atas apa yang sudah kamu lakukan sama aku dan anak-anak gitu?" tanya Qiara.
"Minta maaf? Aku bikin salah apa Qia, sampai kamu semarah ini sama aku?" kata Dimasta.
"Mas, kamu masih tanya kamu salah apa? Oke aku jelaskan, kamu pasang kedua kuping kamu itu dengan benar mas. Pertama kamu ngilang selama tujuh hari mas, tujuh hari tanpa kabar ke aku dan anak-anak," kata Qiara.
"Ya aku bisa jelasin," kata Dimasta.
"Stop! Dan yang kedua kamu udah bohongi aku mas, tega kamu mas! Labuan bajo, labuan bajo bulshit mas, kamu engga ada ke sana! Kamu pembohong mas!" kata Qiara.
"Oke aku ngaku salah Qia, handphone aku ilang, jadi aku ga bisa ngasih kabar kamu! Dan soal labuan bajo itu Qia, saat di jalan menuju bandara aku ditelepon temen bisnis aku karena dia sudah pesan tiket untuk aku nemenin dia ikut fashion show di Paris," kata Dimasta.
"Mas,mas, kamu itu anggap aku bodoh, atau anggap aku orang gila si mas? Jelas-jelas kita teleponan saat kamu bilang baru sampai di labuan bajo, sekarang kebohongan apa lagi ini?" tanya Qiara.
"Iya aku akui itu bohong! Aku gak mau kamu khawatir kalau tau aku berpergian jauh ke Paris, jadi ya udah aku bilang aja aku labuan bajo, padahal itu aku lagi transit pesawat," kata Dimasta yang kembali berdalih.
"Cukup mas! Percuma bicara dengan pembohong seperti kamu, aku tau ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari aku mas, aku gak akan lagi bertanya sama kamu! Karena aku tahu, maling mana ada yang mau ngaku!" kata Qiara.
"Apa tadi kamu bilang? Kamu mengatakan maling sama suami kamu sendiri Qia? Kamu benar-benar nguji kesabaran aku banget ya!" kata Dimasta.
"Loh kok aku? Nguji kesabaran kamu? Kamu mas, kamu yang udah bohong, dan aku tau mas, kamu sedang menutup-nutupinya sekarang!" kata Qiara.
"Udahlah, aku baru pulang dan aku capek! Sampai di rumah kelakuan isteri aku seperti ini, marah-marah ga jelas dan emosi terus padahal aku udah jelasin semuanya," kata Dimasta lalu pergi meninggalkan Qiara.
Qiara sampai tak habis pikir dengan pembelaan yang dilakukan oleh Dimasta, padahal sudah jelas-jelas berbohong tapi masih bisa sok merasa paling terdzolimi. Di dalam kamarnya Qiara menangis menahan perih dihatinya.
Kalau Natasha bukanlah wanita yang disembunyikan oleh Dimasta! Lalu siapa wanita yang tidak punya hati nurani itu? Qiara merasa sangat menyesal karena ulah Dimasta, membuatnya membentak Wili dan Wilo hingga membuat mereka ketakutan padanya.
"Engga boleh sampai seperti ini! Jangan gara-gara mas Dimas aku dibutakan dan membuat anak-anakku tidak bahagia di rumah ini." Kata Qiara lalu menyeka air matanya.
Qiara lantas keluar kamarnya! Lalu menuju kamar Wiliam dan Wilona untuk meminta maaf karena sudah membentak dan melotot pada kedua anaknya itu.
Sesampainya di dalam kamar, Wili dan Wilo langsung berlari dan menutupi diri mereka masing-masing dengan selimut karena tak ingin melihat Qiara.
"Mimi kesini mau minta maaf sama kakak sama Ade, tadi Mimi lagi pusing terus kecapean jadinya Mimi engga sengaja ngebentak kakak sama Ade. Mimi sedih deh udah ngelakuin itu sama kalian," kata Qiara.
Namun Wiliam dan Wilona masih enggan untuk membuka selimut yang menutupi keduanya.
"Padahal kan manusia itu pasti pernah melakukan kesalahan, begitu juga dengan Mimi. Apa Mimi engga berhak mendapatkan maaf dari kakak sama Ade? Mimi sedih banget kalau kakak sama Ade udah engga sayang lagi sama Mimi, apalagi sampai engga mau ngeliat Mimi," kata Qiara berusaha merayu Wiliam dan Wilona.
Wiliam dan Wilona pun akhirnya luluh lalu membuka selimut mereka dan melihat Qiara tengah bersedih. Wili dan Wilo pun segera memeluk Qiara.
"Mi, jangan sedih! Kaka sama Ade sayang sama Mimi, kita engga marah kok sama Mimi," kata Wili.
"Maafin kakak sama Ade ya Mi, tadi Ade sama kakak yang udah buat Mimi pusing," kata Wilo.
Ketiganya lalu berpelukan, Qiara berusaha agar terlihat baik-baik saja didepan anak-anaknya, padahal ingin sekali Qiara bercerita tentang kebohongan Papi mereka yang benar-benar membuat mental Qiara down berat.
Mohon dukungannya untuk like komen dan vote ya🤗
memang ya pelakor semakin di depan
cerita enak' di baca
pisah adalah jalan yang terbaik.
yang menabur benih kejahatan dia juga yang menuai hasilnya siapa yg berselingkuh dia juga yg nemuin kehancuran dihidupnya.