Bagaimana perasaan mu, ketika kau di jual oleh keluarga mu demi beberapa lembar uang?. Bahkan ketika kau tak memiliki siapapun, selain mereka. Sakit bukan?
Itulah yang di alami Rachel, gadis yang dari kecil di adopsi oleh keluarga Darwin dari panti asuhan.
Mereka membesarkan gadis itu di bawah tekanan, dan berbagai macam penderitaan. Yang ada dalam benak mereka, hanyalah kebahagiaan Carene. Gadis yang lahir tak lama setelah Rachel di adopsi.
Keluarga Darwin bahkan tega menjual anak angkatnya itu kepada keluarga Kim James. Demi menutupi skandal yang dibuat oleh Carene dan putra tunggal Kim James.
Di keluarga Kim, Rachel mengalami berbagai macam siksaan dan penderitaan. Bahkan gadis itu hampir meregang nyawa di tangan Ayud Jonathan, laki-laki yang telah menghamili Carene.
Akan kah pada akhirnya Rachel berhasil menemukan kebahagiaan nya?
Atau dia memilih menyerah dan selamanya menjadi orang yang kalah?
Novel ini menceritakan tentang perjuangan berat yang harus dilalui oleh Rachel untuk menemukan kebahagiaan nya.
Beberapa adegan di dalamnya, sukses membuat hati tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duri manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IPK BAB VII - Pindah Rumah -
...Ayud POV...
Aku tidak akan peduli dengan wanita itu, gadis b*doh, wanita tak tahu diri. Lagipula kan memang salahnya juga, menjadi kambing hitam atas sesuatu yang tidak dia lakukan. Biarkan saja dia menunggu disitu sampai pagi.
Setelah pertengkaran yang hebat dengan kakek Liam, aku semakin membenci wanita itu. Gara-gara dia, kakek Liam membayar orang di rumah untuk mengawasi semua gerak-gerik ku. Hidupku seakan berada di penjara.
Kakek Liam memberiku syarat yang tak bisa ku tolak. Aku bisa menduduki posisi CEO di perusahaan nya, asalkan aku memperlakukan Rachel dengan baik. Meski aku membenci wanita itu, aku tak punya pilihan lain.
Aku akan melakukan semua yang ku inginkan pada wanita itu. Lagipula wanita b*doh mana yang mau-maunya menanggung kesalahan orang lain. Dia juga tidak akan berani mengadukan semua yang ku kulakukan pada kakek.
Pagi itu, aku sengaja mengajak nya untuk menemaniku pergi. Orang suruhan kakek tak mungkin mengizinkan ku untuk pergi sendirian apalagi setelah pertengkaran itu. Satu-satunya kunci kebebasan ku adalah wanita itu.
Aku sengaja menyuruhnya menunggu di situ, seperti orang gila. Sementara itu, aku mendatangi kekasihku, Haera. Ya, kau tahulah laki-laki sepertiku, tidak mungkin memiliki hanya satu kekasih saja.
Mungkin sikapku kepadanya agak kejam tapi itu sudah sangat wajar baginya kan?. Dia yang memilih meletakkan dirinya di posisi itu. Aku hanya membantu nya, untuk menikmati peran barunya itu dengan sempurna.
Tak mungkin juga si buruk rupa akan bersanding dengan si tampan, itu hanya terjadi dalam novel dan karya-karya fiksi. Sangat lucu rasanya jika gadis itu mengharapkan hal yang sangat tak mungkin terjadi itu .
Malam ini, aku dan Haera bermesraan layaknya pasangan yang lama tidak bertemu. Dulu kami bertemu hampir setiap hari, namun tentu saja itu tak bisa terjadi lagi. Kakek Liam membayar mata-mata yang setia 24 jam mengawasi ku.
Aku sengaja memilih bertemu dengan kekasihku itu di taman, menghindari kamera paparazi yang haus akan berita. Haera itu gadis yang manis, dan yang lebih penting pelayanan nya kepada ku benar-benar sangat memuaskan.
Bagiku, dunia ini adalah tempat bersenang-senang yang sempurna. Wanita adalah salah satu keindahan yang bisa mewujudkan nya. Tak ada yang lebih menarik dari seorang wanita, selain tubuh mereka.
Kubuka mata dengan berat sekali sambil memicingkan sebelah mataku. Cahaya matahari, yang masuk melalui kisi-kisi kamar milik kekasihku ini sangat menyilaukan kornea mataku. Pagi begitu cepat sekali datang.
Entah kenapa kalau bersama dengan wanita ini, rasanya waktu begitu cepat sekali berlalu. Bisa dikatakan dari sekian banyak gadis yang ku tiduri hanya Haera yang setidaknya membuatku merasa nyaman.
Kenyamanan ini membuatku lupa kalau kemarin aku pergi bersama gadis b*doh itu.
"Kemana dia sekarang", batinku.
Bisa gawat kalau kakek Liam tahu aku tidak bersama dengannya sejak semalam. Ku kucek mataku dan ku raih ponsel milikku. Aku menekan nomor bi Sri dan ada bunyi beep disana, tanda telepon ku telah tersambung.
Bi Sri mengangkat telepon nya dan aku memburu nya dengan pertanyaan,
Rachel ada di rumah bi?", aku bertanya
Bi Sri menjawab dari seberang sana,
"Ada tuan, nyonya ada dirumah".
Aku memburu nya lagi dengan pertanyaan,
"Mama ada?".
Bi Sri menjawab dengan cepat,
"Nyonya besar pergi tuan".
Aku menarik nafas lega, baguslah. Artinya tadi malam orang tuaku tak tahu kalau aku melanggar aturan kakek.
"Kalau Papa Mama tanya, bilang aku di kantor ya bi".
Bi Sri mengiyakan permintaan ku dan segera telepon itu ku tutup.
Tentu saja gadis itu takkan berani mengadukan apapun kepada kakek. Awas saja kalau dia berani mengatakan apapun tentangku. Mengingat tentang gadis itu, benar-benar merusak mood dan hari-hariku.
Ku lirik Haera yang sedang tidur manis di sampingku. Ia begitu cantik, senyumannya bisa meluluhkan aku setiap saat. Aku senang bersamanya, tetapi tentu saja tak ingin terlibat hubungan jangka panjang dengan nya.
Laki-laki sepertiku mana cocok untuk hidup berkeluarga. Aku membelai rambutnya dengan mesra dan ia menggeser kan tubuhnya.
"Haera sayang aku harus pergi sekarang. Nanti kita ketemu lagi ya".
Aku berbisik di telinganya, lalu berangkat ke kantor. Semoga aku secepatnya bisa kembali dari kantor dan datang kesini lagi. Aku setiap hari selalu dibuat rindu oleh seorang Haera, caranya melayaniku sungguh membuatku mabuk.
"Ah, dasar. Pesona wanita penghibur memang memabukkan", batinku.
Ketika aku ingin menaiki mobilku untuk menuju kantor tiba-tiba HP ku berbunyi. Ternyata itu panggilan dari kakek Liam. Aku mengangkatnya dan terdengar nada suara nya yang sama sekali tidak ramah.
"Kamu di mana?" tanyanya,
Aku menguap malas.
"Di mana lagi, tentu saja aku mau ke kantor. Ada apa kek?",
Aku bertanya dengan malas. Ia membentak ku,
"Pulang sekarang. Ada yang ingin kakek sampaikan padamu".
Aku menghela nafas,
"Tapi aku ini harus bekerja kek dan ini sudah hampir sampai kantor. Ada urusan apa yang begitu penting?. Bukannya bisa dibicarakan nanti, setelah aku pulang atau di telepon ini saja?".
Tampak nya kakek tak mendengarkan kata-kata ku sama sekali.
"Pulang sekarang, atau kakek yang akan menyeret mu dengan paksa dari sana".
Akhirnya aku mengalah, dan memilih mengikuti keinginan kakek.
"Baiklah. Apalagi ini, jangan-jangan wanita itu memberitahukan yang tidak-tidak kepada kakek. Awas saja aja dia".
Setengah jam kemudian, aku sampai di rumahku. ku dapati kakek Liam, wanita itu, Papa dan Mama duduk di ruang tamu. Wajah mereka terlihat serius. Aku membuka sepatuku dan duduk di samping kakek Liam.
"Ada apa ini?,
Tanya ku. Belum sempat aku memperbaiki letak duduk ku, kakek Liam sudah memburuku dengan pertanyaan nya,
"Dari mana saja kamu?".
Aku menatap kakek Liam dengan sebal, lagi-lagi pertanyaan ini.
"Iya dari mana lagi, aku kan mau ke kantor. Tapi kan tidak jadi karena kakek memanggilku ke sini, ada apa?".
Lagi-lagi kakek Liam menyanggah jawaban ku,
"Jangan bohong. Semalam kamu tidak ada di rumah kan?. Istrimu pulang sendirian. Laki-laki seperti apa kamu ini?. Laki-laki beristri tidak mungkin meninggalkan wanitanya sendirian di tengah jalan. Dan kemana kamu semalam?".
Aku menatap tajam ke arah wanita itu, ia menunduk dengan wajah b*dohnya itu. Aku kesal sekali melihat nya.
"Lagi-lagi kamu pergi menemui selingkuhan mu ya?. Mau jadi apa kamu ini?".
Aku terkejut dan mendongak ke arah kakek,
"Apa maksud kakek?. Apa yang telah kulakukan?, jangan percaya cerita karangan wanita itu kek. Apa yang kamu katakan pada kakek ku? Jangan terlalu suka mengarang cerita".
Aku memojokkan wanita itu karena rasa takut di dalam hatiku yang kian menjadi rasanya. Ia menunduk, lagi-lagi dengan wajah b*doh nya itu. Kakek Liam tampak menarik nafas nya sambil mengelus dada.
"Tidak, dia tidak memberitahukan apa-apa pun pada ku. Orang-orang suruhan kakek yang memberitahu semua nya. Kemana saja kamu? bagaimana kalau terjadi hal-hal buruk pada istri mu?".
Aku bergumam dalam hati,
"Biarkan saja apapun terjadi padanya. Memang nya apa peduliku".
Kakek Liam mendekati ku,
"Dengar, kakek tidak menyuruhmu menikahi wanita ini dengan alasan membenarkan semua kelakuan b*doh mu itu. Sekarang, tinggal bersama istrimu di rumah yang sudah kakek belikan".
Aku kaget,
"Memang nya kenapa kalau aku tinggal di rumah ini?".
Kakek Liam menatap mataku,
"Selama kamu masih tinggal bersama kedua orang tuamu, kamu tidak akan pernah belajar hidup mandiri. Sudah saatnya kamu harus kerja sendiri, jangan main-main lagi".
Ia mengalihkan pandangannya kepada gadis itu,
"Nafkahi istrimu dan jangan terus bergantung kepada orang tuamu. Berapa lama lagi kamu akan hidup begitu?. Asyik dengan wanita-wanita tidak jelas di luar sana, mengulang kesalahan yang sama?. Pikirkan tentang masa depan mu".
Kakek Liam menceramahi ku dengan sederetan fakta, yang membuatku sesak. Sesak karena hal tersebut benar adanya dan aku sangat malu untuk mengakuinya.
"Ah kakek sudahlah. Kakek kan tahu pria seperti apa aku ini?. Aku benar-benar tak cocok berumah tangga kek".
Aku mencoba merayu kakek agar hatinya sedikit melunak. Namun, ia malah kembali memarahiku dengan fakta-fakta yang amat menyakitkan.
"Iya kakek tahu seperti apa dirimu itu, laki-laki tak berguna yang selalu menjadi beban keluarga, sumber masalah. Laki-laki yang tak bisa apa-apa tanpa bantuan keluarga, laki-laki yang suka berfoya-foya.
Sakit sekali rasanya hatiku mendengar perkataannya,
"Seperti apapun dirimu di masa lalu, itu harus kamu tinggalkan. Sekarang, kamu itu sudah beristri dan kamu harus bertanggung jawab sepenuhnya kepada istrimu. Statusnya sekarang adalah istri mu, nafkahi dia".
Ia diam beberapa saat kemudian melanjutkan,
"Bukankah yang diketahui publik bahwa kamu itu sudah menikah, lalu mau apa lagi?. Sekarang kakek tidak mau mendengar adanya bantahan atau apapun itu. Kemasi barang-barang mu dan tinggal di rumah yang sudah kakek siapkan".
Aku mati kutu, tak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Aku menatap orang tua ku meminta pembelaan dari mereka, namun sepertinya mereka tak berdaya menghadapi kakek yang memiliki kuasa dan segalanya.
Aku melirik tajam kearah Rachel dan lagi-lagi wanita itu hanya bisa tertunduk,
"Dasar tukang ngadu", batinku.
Kakek membentak ku,
"Dengar tidak? kemasi barang-barang mu dan ikut kakek sekarang". perintah kakek padaku.
Aku mengangguk, sebal sekali rasanya.
"Iya iya baiklah. Dasar cerewet".
Aku pergi meninggalkan laki-laki itu dan mengemasi barang-barang ku. Di susul wanita itu juga mengemasi barang-barang miliknya.
...Ayud POV End...