Gisya Kayla Nursalsabila, seorang gadis pemilik 'Caca Bakery'. Ketika Ayahnya mengucapkan keinginan terakhirnya. Gisya hanya mampu menerima semua keinginan Ayahnya sebelum meninggal.
"Ayah, selamat Jalan Ayah. InshaAllah Caca akan memenuhi semua amanat Ayah." ucap Gisya dalam hatinya.
Perjodohannya dengan Zayn membawa Gisya pada luka hati yang mendalam. Zayn selalu menunda Rencana Pernikahan mereka.
"Maafkan aku Gisya, aku tidak bisa menikah dengan kamu. Aku mencintai oranglain, meskipun tak bisa dipungkiri aku juga ingin bersamamu." Batin Zayn.
Pada akhirnya, Gisya bertemu dengan Fahri. Seorang Tentara yang sama-sama dikhianati. Zayn menjalin hubungan dengan Santi, yang merupakan kekasih Fahri.
Gisya dan Fahri kemudian bertemu, dan menjalin sebuah hubungan.
"Mengalir aja ya, Bang! Gak usah saling genggam terlalu erat, takutnya nanti ada yang patah. Kalo Abang butuh aku, Aku akan selalu ada disamping Abang. Kalo Abang rindu, aku akan selalu ada disini. Dihati Abang. Hiduplah seperti sebelum kamu mengenal aku, Bang. Jangan jadikan keberadaanku sebagai beban dihidup kamu." Tutur Gisya.
"Abang yang harusnya berterimakasih, kamu sudah mau menjadi teman hidup Abang. You’re the one girl that made me risk everything for a future worth having. I just wanna say something, I Love you Gisya. That’s all." ucap Fahri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rindu Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. Kejutan dalam Kejutan
Selesai Sholat Maghrib, Gisya bersama Bundanya menuju ke Sky Line Resto untuk makan malam bersama dengan sahabat-sahabat Bundanya yang merupakan orangtua dari sahabat-sahabatnya. Memang sejak kecil, mereka selalu bersama-sama bahkan hingga kuliah. Hanya Jafran yang berbeda, karena memang Jafran memilih untuk menjadi seorang Pilot.
Fahri dan Andi yang memantau dari atas, sudah melihat jika rombongan keluarga Jafran dan yang lainnya sudah datang. Mereka sengaja saling menunggu, agar keatas bersama-sama.
"Bismillah, semoga semuanya dilancarkan oleh Allah," ucap Fahri sambil menepuk pundak Jafran.
"Aamiinn, duh deg-degan nih!" bukan Jafran yang menjawab, melainkan Andi.
"Heh! Aku yang ngelamar ko situ yang deg-degan," gerutu Jafran.
Yuliana sudah memasuki Cafe diikuti oleh Febri dan Gisya. Namun langkahnya terhenti, ketika melihat suasana tangga Cafe yang gelap dan hanya di terangi oleh lilin disepanjang jalan masuk.
"Ini Cafe mati lampu apa! Apa emang banyak yang ngepet? Banyak banget lilinnya!," keluh Yuliana sambil terus berjalan.
"Jalan aja terus, gak usah banyak ngedumel!" ucap Mami Lia sambil mendorong sang anak agar terus berjalan.
"Sabar napa, Mi! Gelap ini, kayak Mami gak doyan ngomel aja!" ketus Yuliana sambil berjalan menghentak-hentakan kakinya.
Namun saat dia mulai menyusuri lorong, satu persatu lampu mulai menyala. Dilihatnya foto-foto kebersamaan dirinya bersama Sang Kekasih. Yuliana sangat tersentuh, hingga hampir menitikkan airmatanya. Begitu juga dengan Febri dan Gisya serta semua keluarga yang hadir, begitu terbawa suasana. Diujung lorong Jafran sudah berdiri dengan gugup, sambil membawa sebuket Bunga Mawar Merah. Sementara Fahri dan Andi berada tepat dibelakang Jafran. Musik mulai dimainkan.
Dengarkanlah, wanita pujaanku.
Malam ini akan kusampaikan,
Hasrat suci kepadamu dewiku.
Dengarkanlah kesungguhan ini.
Aku ingin mempersuntingmu,
Tuk Yang Pertama dan Terakhir.
Jangan kau Tolak dan Buatku hancur,
Ku tak akan mengulang, tuk meminta.
Satu keyakinan hatiku ini,
Akulah yang terbaik untukmu.
Dengarkanlah, wanita impianku.
Malam ini akan kusampaikan,
Janji Suci, Satu Untuk Selamanya.
Dengarkanlah kesungguhan ini.
Aku ingin mempersuntingmu,
Tuk Yang Pertama dan Terakhir.
Jangan kau Tolak dan Buatku hancur,
Ku tak akan mengulang, tuk meminta.
Satu keyakinan hatiku ini,
Akulah yang terbaik untukmu.
Lirik lagu dari Yovie&Nuno mengiringi langkah Yuliana yang berjalan menghampiri Jafran. Yuliana terus menghapus airmata haru yang mengalir dipipinya. Jafran berlutut ketika Yuliana sudah ada berada didepannya dan memberikan Bucket Bunga Mawar Merahnya.
"Ulil, Ulet pucukku yang imut. Maukah kamu menjadi pendamping hidupku, menghasilkan Ulil-Ulil yang lucu untukku. Yuliana Puteri Mardiana, Will you Marry me?" ucap Jafran yang kesulitan membuka kotak Cincin yang berada disakunya.
"Si Apan mah ngerusak suasana, masa ngelamar bahasanya gitu amat, anak siapa sih?" bisik Umma Nadia pada Bunda Syifa.
"Hush! Anak kamu itu!" ucap Bunda Syifa yang membuat mereka menahan tawanya.
Akhirnya kotak Cincin itu terbuka, Yuliana hanya terdiam mematung. Dia masih sangat terkejut.
"Hmm.. Jadi gimana ulet pucukku, Will you Marry me?" tanya Jafran membuyarkan lamunan Yuliana.
"Yess I will merpatiku!" jawab Yuliana sambil berhambur memeluk Jafran.
"Eh, eh, eh belom mahrom udah peluk-peluk aja!" ucap Umma Nadia.
"Maaf Umma, keceplosan!" ucap Jafran sambil memperlihatkan deretan giginya.
"Yaa Allah, anak Mami satu-satunya udah dilamar orang!" ucap Mami Lia sambil berhambur memeluk sang putri satu-satunya.
"Mamiii, anak Mami kan nambah! Nanti juga aku kan jadi anak Mami," celetuk Jafran sambil merangkul tangan Mami Lia.
"Eh iya Mami lupa, hehehe. Itu bujang tampan yang dua itu ajak juga makan, Ayo Nak!" ajak Mami Lia.
"Hampir setahun gak ketemu, kok kamu makin Sweet banget sih, Ay! Melelehkan akunya," puji Yuliana.
"Coklat kalii ah meleleh," ucap Ibu-ibu Rempong berbarengan, membuat semuanya tertawa.
Fahri dan Andi pun menghampiri mereka. Bukan hanya Yuliana, tapi Febri dan Gisya pun terkejut dengan kehadiran Andi dan Fahri. Bagaimana bisa mereka saling mengenal? Itulah yang ada dibenak keduanya. Jafran mempersilahkan mereka untuk menikmati hidangan yang sudah dipesankan.
"Ayo semuanya, selamat makan!" ucap Jafran pada semua orang.
"Jadi gimana kamu jelasin semua ini Ay?" tanya Yuliana pada Jafran.
"Hehehehe, jadi gini yank. Kemaren waktu aku telpon, aku udah ada di Bandung. Pas kebetulan di Toko, Umma ngenalin aku sama pacarnya Febri. Dari situ aja kita tukeran nomer Hp!" ujar Jafran yang membuat Febri tersedak.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Febri menatap tajam Jafran, Mama Rini selaku ibu Febri pun ikut tersedak.
"Gimana, gimana Pan? Coba jelasin lagi sama Mama, soalnya ini anak gadis satu Mama suruh kenalan sama anak temen Mama gak pernah mau!" ucap Mama Rini melihat kearah Febri dan Andi.
Keadaan menjadi canggung, wajah Andi pun terlihat memucat mendengar ucapan dari orangtua wanita yang dicintainya. Fahri hanya bisa menepuk bahunya untuk menenangkan.
"Apaan sih, Rin! Kebiasaan bikin anak orang snewen," ucap Bunda Syifa mencubit paha Mama Rini.
"Aww! Bukan mau bikin snewen, cuman gak mau ni anak gadisku dighosting! Masa HTS kan gak lucu!" ketus Mama Rini.
Andi mulai memberanikan diri untuk berbicara.
"Maaf Bu, nama saya Andi. Sebelumnya saya dan Dinda Febri sudah lama saling mengenal. Hanya saja saya belum berani mengungkapkan, karena beberapa hari yang lalu kami baru bertemu. Saya seorang TNI AD Bu, saya akan ditugaskan kemanapun sesuai perintah pusat. Saya takut jika Dinda Febri tidak bisa menanti kepulangan saya. Karena saya juga tidak bisa memprediksi berapa lama kami bertugas." tutur Andi menjelaskan dirinya.
"Saya tau tugas TNI itu seperti apa, yang saya ingin tau apakah benar kamu mencintai anak saya? dan menerima segala kekurangan yang ada dalam diri anak saya?" tanya Mama Rini.
"Saya tidak memperdulikan itu Bu, semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Bagi saya, Dinda Febri mencintai saya dan mau menerima profesi saya. Saya sudah sangat bersyukur, Bu." tutur Andi dengan tegas.
"Kalo gitu, saya tunggu bulan depan! seminggu sebelum Jafran menikah. Kamu lamar anak saya, bagaimana?" Tantang Mama Rini.
"InshaAllah saya siap bu!" ucap Jafran tegas.
"Tunggu, Mama main nyuruh lamar gak nanya pendapat Ebi dulu?" kesal Febri.
"Lah emang kamu gak mau dilamar, Biw?" tanya Bunda Syifa.
"Ya mau Bun," ucap Febri malu-malu.
"Heleh si Udang banyak drama!" ucap Jafran dan Yuliana bersamaan.
Malam itu mereka berbincang-bincang, Yuliana yang sudah resmi akan menikah bulan depan. Begitupun juga Febri yang sudah resmi menyandang status Calon Istri dari Andi. Gisya ikut merasa sangat bahagia, tapi dalam hati kecilnya dia sangat terluka. Bahkan hampir semua orang yang ada disana tidak menyadarinya, hanya Bunda Syifa dan Fahri yang melihat kesedihan dalam mata Gisya.
"Biw, aku ke toilet dulu. Toiletnya disebelah mana ya?" tanya Gisya pada Febri.
"Dilantai 2 Ca, mau aku anter?" tawar Febri.
"Gak usah! Aku sendiri aja," ucap Gisya sambil berlalu.
Bunda Syifa hanya bisa menatap putrinya, hatinya terasa ngilu dengan apa yang menimpa Gisya. Harusnya Gisya dan Zayn sudah resmi menjadi suami istri dari 2 tahun yang lalu.
Gisya berjalan menuju toilet, tapi langkahnya terhenti ketika melihat orang yang sangat dikenalnya. Bagai ditusuk belati, hati Gisya terasa sangat pedih. Hatinya dipenuhi oleh kekecewaan. Gisya mengambil ponselnya dan memotret kebersamaan Zayn bersama seorang gadis. Ya! Orang itu adalah Zayn, yang berstatus calon suaminya. Gisya semakin yakin untuk memutuskan perjodohan yang diamanatkan Ayahnya.
"Ternyata ini yang namanya kejutan dalam kejutan! Aku membantu memberi kejutan, tapi aku juga mendapat kejutan!" ucap Fahri yang berdiri dibelakang Gisya.
"Astaghfirullohaladzim, Bang Fahri ngagetin!" Kesal Gisya memegang dadanya karena kaget.
Fahri tidak menjawab ucapan Gisya, dia berjalan menuju meja dimana Zayn dan gadis itu berada. Dengan santainya, Fahri duduk dihadapan keduanya.
"Ternyata ini alasan kamu tidak bisa dihubungi," ketus Fahri membuat keduanya tersentak kaget.
"Ba-bang Fahri," ucap Santi tergugup.
"Kenapa kaget? Tenang aja, aku kesini cuman mau bilang makasih. Makasih sudah menunjukkan sifat asli dirimu yang sesungguhnya," ujar Fahri dengan tegas membuat Santi gemetaran.
"Jadi dia kekasihmu yang tentara itu?" tanya Zayn pada Santi dan dia hanya menganggukkan kepalanya.
"Syukurlah kamu sudah tau hubungan kami, aku sudah lelah bersembunyi selama 2 tahun ini." ucap Zayn yang tidak menyadari kehadiran Gisya disana.
"Wah, ternyata sudah lama ya kamu seperti ini. Ternyata orangtua kamu hanya alasan! Sungguh murahan sekali kamu Santi," geram Fahri.
"Jaga mulutmu! Mulai sekarang lepaskan dia! Aku yang akan menikahinya!" bentak Zayn pada Fahri.
"Tapi lepaskan juga aku!" teriak Gisya memberanikan diri menghampiri mereka. Zayn sangat terkejut, terlebih melihat Gisya, Bundanya serta yang lainnya disana. Apalagi mereka merekam semua ucapan Zayn.
"Ca-caca! Aa bisa jelasin Neng," ucap Zayn panik dan menghampiri Gisya.
"Stop!! Jangan mendekat A, sudah cukup semuanya A. InshaAllah Caca sudah ikhlas, cukup A Zayn menyakiti hati Bunda dan Caca. Mulai saat ini saya Gisya Kayla Nursalsabila, membatalkan perjodohan denganmu Zayn Fadillah!" teriak Gisya dan langsung berlari keluar.
Mereka mengejar Gisya, namun sayangnya ketika Gisya berlari ada sebuah minibus yang melaju kencang.
Braaakkkkkk!!
Tubuh Gisya terpental karena tertabrak oleh minibus.
"Caca!! Gisya!!" teriak semua orang.
Zayn yang ikut mengejar Gisya terkulai lemas, dia menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Gisya. Terbayang kejadian 2 tahun lalu ketika Ayah Gisya mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Ayah Zayn.
"Ebiii!! Cepet bawa mobil," teriak Bunda Syifa frustasi.
"Kamu tenang dulu, Fa. Kita bawa Gisya kerumah sakit sekarang." ujar Umma Nadia memeluk Bunda Syifa.
Jafran melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dalam mobil tak hentinya Febri, Yuliana dan Bunda Syifa berdo'a.
Fahri masih terdiam menatap tajam kearah Santi. Zayn kembali kedalam dengan wajah yang lesu.
"Mulai saat ini, aku dan kamu berakhir. Terimakasih atas pengkhianatan ini." geram Fahri pada Santi.
Sedangkan Santi, hanya diam tertunduk sambil menangis. Karena dia tau jika Gisya mengalami kecelakaan.
"Dan kamu! Laki-laki bodoh! Melepaskan berlian demi batu kerikil," tunjuk Fahri bergantian pada wajah Zayn dan Santi.
Fahri dan Andi bergegas pergi dari sana untuk menyusul ke Rumah Sakit. Sebelumnya Fahri sudah menelpon polisi untuk menahan Sopir yang menabrak Gisya. Sepanjang perjalanan, Fahri hanya terdiam. Sesampainya disana, dia melihat Bunda Syifa yang sedang menangis dipelukan Febri. Fahri sangat merasakan sakit yang Gisya rasakan.
"Bu, maaf atas kejadian tadi." ucap Fahri sambil berlutut didepan Bunda Syifa.
"Kamu gak salah, Nak. Kamu dan Caca korban keegoisan mereka. Sudah berdiri, Nak." ucap Bunda Syifa.
"Maaf semuanya, kami harus kembali ke Markas." tutur Andi setelah mendapatkan panggilan dari pusat.
"Semoga Caca lekas sembuh, sampaikan salam kami pada Gisya bu," tambah Andi.
"Bunda harus kuat demi Gisya," ucap Fahri tiba-tiba, ia mencium tangan Bunda Gisya lalu berpamitan pergi.
"Dinda, Mas pergi dulu. Jaga dirimu Dinda, Mas akan kembali lagi nanti." ucap Andi lalu mencium kening Febri.
"Hati-hati Mas, do'aku selalu menyertaimu." ucap Febri memeluk Andi sejenak.
Meskipun bukan pertamakali Andi berpamitan, tapi saat ini rasanya berbeda. Mungkin karena saat ini mereka sudah bertemu dan menjalin hubungan dengan status yang jelas.
Bagaimana keadaan Gisya?
Bagaimana kehidupan Fahri?
Tetep pantengin terus yaaa!
panik komandan fahri😁