Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LUKA YANG TERBUKA
Balai desa berangsur-angsur sepi. Warga bubar dengan langkah gontai dan kepala tertunduk. Tidak ada lagi sorak-sorai kemenangan yang riuh, yang tersisa hanyalah rasa canggung yang pekat. Beberapa orang sempat ingin mendekati Kirana untuk meminta maaf, namun urung begitu melihat Ibu Sumi masih sesenggukan di pelukan putrinya.
Kirana menuntun ibunya keluar dari balai desa yang mulai dimatikan lampunya oleh penjaga. Langkah Ibu Sumi terasa begitu berat, seolah beban emosional yang baru saja menghantamnya telah menyedot seluruh sisa tenaga di tubuh tuanya.
Sepanjang jalan setapak menuju rumah, hanya suara jangkrik dan langkah kaki mereka yang memecah keheningan malam. Kirana merangkul pundak ibunya yang ringkih, mencoba menyalurkan kehangatan yang ia sendiri hampir kehabisan.
Begitu sampai di rumah, Ibu Sumi langsung duduk di kursi panjang ruang tamu. Matanya menatap kosong ke lantai semen yang bersih. Kirana berjalan ke dapur, mengambilkan segelas air putih hangat, lalu berlutut di depan ibunya.
"Minum dulu, Bu," ucap Kirana lembut.
Ibu Sumi menerima gelas itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Setelah meminumnya beberapa teguk, ia menaruh gelas itu di meja, lalu menggenggam kedua tangan Kirana. Air matanya kembali meluncur deras.
"Nduk..." Suara Ibu Sumi serak, sarat akan rasa sakit yang teramat sangat. "Kenapa kamu tidak pernah cerita sama Ibu? Apa benar... apa benar kamu seburuk yang ada di foto-foto itu? Apa benar kamu menjual diri, Kirana?"
Kirana memejamkan mata sejenak. Dadanya sesak. Rahasia kelam yang selama bertahun-tahun ini ia kubur dalam-dalam di dasar hatinya, malam ini terpaksa harus ia bongkar di depan wanita yang paling ia hormati.
"Bu... Kirana tidak pernah berniat menjadi perempuan seperti itu," kata Kirana, suaranya mulai bergetar. Ia menatap lurus ke dalam mata ibunya yang basah. "Dua tahun lalu, waktu Kirana pamit ke kota karena diajak bekerja di restoran oleh orang yang mengaku bernama Broto ,dan ada Wiwin juga teman sekolah Kirana yang menjadi korban Bu dan sampai saat ini dia berada disana ... Broto ternyata itu membohongi semua gadis gadis desa Bu .
Ibu Sumi terkesiap, tangannya semakin kencang mencengkeram jemari Kirana.
"Kirana ditipu, Bu. Di tengah jalan, ponsel dan KTP Kirana diambil. Kirana dikurung di dalam truk bersama beberapa gadis lain," lanjut Kirana dengan air mata yang mulai menetes bebas di pipinya. "Kirana terjebak sindikat perdagangan manusia. Kami dibawa ke Valerion, lalu... lalu Kirana dijual ke tempat bordil di Distrik Amethyst."
Mendengar kata 'dijual' dan 'bordil', Ibu Sumi langsung menutup mulutnya. Tubuhnya berguncang hebat. Isak tangisnya pecah menjadi raungan yang tertahan. Hatinya hancur berkeping-keping membayangkan anak gadis yang dirawatnya dengan penuh doa dan kesucian, harus mengalami kepahitan itu di kota orang.
"Gusti Allah... Astagfirullah al-adzim, Kirana..." ratap Ibu Sumi sambil memukul dadanya sendiri. "Kenapa nasibmu semalang itu, Nduk? Kenapa Ibu tidak tahu... Kenapa Ibu malah makan dari uang hasil penderitaanmu..."
"Bukan begitu, Bu, dengarkan Kirana dulu," potong Kirana cepat, memeluk lutut ibunya agar wanita itu berhenti menyakiti diri sendiri. "Uang yang Kirana kirim ke Ibu, uang yang dipakai untuk tebus tanah dan biaya berobat Ibu, itu bukan uang hasil menjual diri."
Ibu Sumi mendongak dengan wajah sembap dan mata merah, menatap anaknya dengan bingung.
"Di tempat kotor itu, Kirana menolak mati. Kirana belajar bergerak cepat. Kirana tahu tempat itu sering didatangi pejabat dan pengusaha korup seperti Tuan Surya,juragan jaya ayahnya Baskara," jelas Kirana dengan kilatan mata yang mendadak menajam. "Kirana mengumpulkan rahasia mereka, merekam transaksi busuk mereka, dan menjebak mereka satu per satu. Kirana menguras uang Tuan bramasta . Dari sanalah uang itu berasal, Bu. Kirana menghancurkan mereka dari dalam."bukan uang hasil jual diri Bu.
Ibu Sumi tidak bisa berkata-kata lagi. Rasa sedih, bersalah, dan ngeri bercampur aduk di dalam dadanya. Ia menarik Kirana ke dalam pelukan yang sangat erat, menangis sejadi-jadinya di pundak sang anak.
"Maafkan Ibu, Kirana... Maafkan Ibu yang ringkih dan penyakitan ini. Kalau saja Ibu tidak sakit, kalau saja bapakmu masih ada, kamu tidak akan pernah mencicipi neraka itu," bisik Ibu Sumi di sela tangisnya yang memilukan.
Kirana hanya bisa mempererat pelukannya, ikut menangis pelan. Luka lama itu kini terbuka lebar, namun di balik rasa perihnya, ada kelegaan karena tidak ada lagi kebohongan di antara mereka.
Keesokan paginya, suasana desa terasa berbeda. Ketika Kirana berjalan menuju warung depan untuk membeli beberapa kebutuhan dapur, obrolan ibu-ibu yang biasanya riuh mendadak berhenti begitu melihat kehadirannya.
Ada tatapan-tatapan sinis dan bisik-bisik miring yang masih tersisa dari orang-orang yang terlanjur termakan gengsi. Gosip bahwa Kirana adalah "perempuan bekas kota" sudah menyebar luas secepat angin. Namun, Kirana mengabaikan semua pandangan itu. Ia membayar belanjaannya dengan tenang, lalu berbalik untuk pulang.
Namun, langkahnya terhenti saat Pak RT menghadangnya di persimpangan jalan dengan wajah sungkan.
"Kirana," panggil Pak RT, meremas pinggiran capingnya dengan canggung. "Bisa bicara sebentar?"
"Ada apa, Pak RT?"
"Mengenai kejadian semalam... atas nama warga desa, saya mau minta maaf karena warga gampang dihasut orang luar seperti Baskara," ucap Pak RT tulus. "Tapi saya mau memastikan satu hal, apakah benar dokumen yang dibawa Baskara semalam itu tidak berlaku?"
Kirana mengangguk tipis. "Benar, Pak. Secara hukum, posisi gilingan padi desa aman. Tapi jangan lengah. Baskara itu tipe orang yang menghalalkan segala cara. Jika dia gagal lewat jalur hukum, dia akan menggunakan cara-cara kotor lainnya. Entah itu menyabotase gilingan padi, atau meneror warga."
Pak RT menelan ludah, wajahnya mendadak tegang. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Perketat penjagaan di gilingan padi malam hari," jawab Kirana tegas. "Dan untuk warga... katakan pada mereka, jika mereka masih menganggap saya kotor, silakan. Tapi jangan korbankan keselamatan desa hanya karena sibuk menghakimi masa lalu saya."