NovelToon NovelToon
Menikahi Anak Majikan

Menikahi Anak Majikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:33.9k
Nilai: 5
Nama Author: lara hati

Kania indira putri dipaksa menikah dengan anak Majikan yang sedang patah hati.
Padahal ia tahu sejak Awal bertemu Aran sangat membenci dirinya.

Dia kerap menjadi ajang pelampiasan kekasalan Aran.

Tapi apa hendak di kata karena hutang dan balas Budi Kania harus menerima takdir menjadi istri Seorang Aran Maheswara yang dingin dan angkuhnya tidak ketulungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lara hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tujuh Batal menikah

Silvia sudah bersiap mengenakan Kebaya putih pengantin. Wajahnya juga sudah di rias sangat cantik oleh perias profesional yang di sewa Aran.

" Nona cantik sekali sangat cocok mengenakan kebaya ini. Pengantin pria pasti akan terpesona saat melihat Anda." Puji mereka

Silvia hanya tersenyum menanggapi. Saat ini dirinya sedang berdebar- debar menunggu waktu. Sebentar lagi, dia dan Aran resmi menjadi pasangan suami istri yang sah secara hukum dan agama.

Tak ada celah bagi Keluarga Silvia untuk memisahkan mereka kembali.

Para tamu mulai berdatangan memenuhi Aula rumah keluarga Sanjaya.

Calon pengantin wanita di tuntun dan di dudukan di sisi Aran. Tidak hanya Aran yang terpesona oleh kecantikan Silvia tapi semua yang hadir memuji kecantikan calon istri Aran Maheswara.

Mereka duduk berhadapan di depan Empat orang penghulu yang akan menuntun Aran melakukan ijab kabul.

Dibelakang Aran, pasangan Suami istri Sanjaya tampak berbinar bahagia.

Berharap pernikahan ini tidak ada Kendala dan lancar kedepannya.

" Saya terima Nikah dan kawinnya Silvia Delisa binti Adiwijaya dengan mas kawin seperangkat Alat sholat dan uang Tunai...."

" Hentikan!!!"

Teriakan menggelegar itu itu mengejutkan semua orang.

Membuat mereka semua serempak menoleh ke arah pintu masuk utama Aula. Seorang pria memakai jas lengkap, penuh percaya diri berjalan masuk dengan muka kelam menahan amarah.

Dia di ikuti enam orang pria berbadan kekar dan berotot yang tampang sangar- sangar.

Kakinya berhenti di sisi Silvia menarik kasar gadis itu untuk berdiri di sisinya, matanya melotot galak pada para penghulu nikah.

" Pernikahan ini tidak sah dan tidak boleh di lanjutkan! Saya sebagai Ayah kandung Silvia Delisa tidak mengijinkannya."

Aran ikut berdiri yang di ikuti Sanjaya dan istrinya yang masih memasang wajah terkejut dengan kehadiran tamu yang tidak terduga sama sekali.

"Romo....!?" pekik Silvia tidak percaya.

Dia berdiri ketakutan di hadapan Pria itu.

Adiwijaya mencekal lengan Silvia, nyaris menyakitinya.

" Lepaskan aku, Romo. kumohon..."

"Tidak! kau harus Ikut bersama Romo, pulang ke rumah!"

Menarik paksa Silvia keluar bersamanya

Silvia meronta dan berusaha menahan langkahnya.

" Tunggu,Tuan Adi. Kita bisa bicarakan ini baik- baik" cegah Sanjaya.

Adi Wijaya tertawa mencemooh. Melihat tajam ke arah Sanjaya.

" Baik- baik, katamu!? kau ingin menikahkan putriku tanpa ijin. Apakah itu baik- baik namanya?"

"Om, tolong lepaskan Silvia.." Aran ikut bicara akan menarik Silvia kembali bersamanya

" Ijinkan kami menikah, kami saling mencintai.."

" Bajingan! Lepaskan putriku! kau tidak boleh menikah dengannya. Pria itu tetap kukuh pada pendiriannya.

" Ada apa sebenarnya? siapa pria itu?"

"kenapa pria itu membuat kekacauan di pesta pernikahan putra Tuan Sanjaya, bahkan dia membawa pengawal segala?"

Para Tamu mulai gelisah dan bespekulasi sendiri.

Rasa penasaran menjangkiti mereka bagai virus.

Adi Wijaya melihat Aran dan pasangan suami istri Sanjaya dengan tatapan menghunus dan dendam.

Dia mendengus, mengabaikan semua tatapan sinis yang di hujamkan padanya, dia hanya perlu membawa Silvia pergi bersamanya. Setelah itu semua selesai.

Aran menyusul Adiwijaya, Namun tak pelak langsung di hadang oleh para pengawal.

Silvia melihat Aran gelisah.

"Romo...." panggil Silvia berusaha melepaskan diri dari cekalan Adiwijaya, Ayahnya.

" Om, saya Mohon lepaskan Silvia! Anda tidak boleh memaksakan kehendak padanya" Aran mendorong tubuh salah satu pengawal dan menerobos melewatinya mengejar kekasihnya yang sudah siap di bawa pergi.

Dia maju dan berusaha keras menarik Silvia dari cengkraman Adiwijaya.

Adiwijaya tampak geram, berbalik menghadap lawan bicaranya.

" Bocah tengik..kau sudah membawa kabur putriku dan menyembunyikan nya selama 3 tahun, masih ada nyali bicara begitu padaku!."

Adiwijaya menyipitkan mata dengan wajah mencemooh.

" Sejak Awal aku tidak pernah merestui Putriku berhubungan dengan mu...Kau dan dia tidak sederajat.Sadar tidak!?"

" Maksud Om apa!? tidak sederajat itu bagaimana!?"

Aran merasa dia dan keluarganya jauh lebih kaya dan hebat dari keluarga Adiwijaya.

dari segi materi kekayaan, pergaulan, pendidikan dan relasi.

"Meski kalian kaya raya, tapi darah yang mengalir di tubuh kalian hanya darah rakyat jelata"

Aran tercengang.

" Rakyat jelata!?. Sekarang Jaman apa sih, Om...!? Biasanya orang- orang lebih memikirkan status, perilaku yang baik, agama dan pendidikan yang tinggi ketimbang gelar kebangsawanan semata. tidak jamannya lagi memikirkan gelar.

" Mungkin bagimu gelar itu tidak penting, tapi aku ingin mempertahan silsilah keturunan ku, darah murni kami tidak boleh bercampur dengan darah kalian rakyat jelata" tegas Adi Wijaya.

Situasi semakin memanas dan rumit, kekacauan ini sungguh membuat Sanjaya merasa malu.

" Tuan Adi...Duduklah dulu, kita bisa bicarakan Masalah ini dengan kepala dingin. Kasihan Aran dan Silvia mereka benar- benar tulus saling mencintai."

bujuk Sanjaya sambil tersenyum ramah.

Dia sendiri merasa bingung dengan pemikiran kolot Adi Wijaya.

Sanjaya banyak mengenal kalangan Bangsawan.

bahkan keluarga kerajaan Inggris saja saat ini menikahi rakyat jelata.

" Saya tidak tertarik bicara apa pun, Silvia, ayo pulang!" tegas Adiwijaya kembali menyeret paksa Silvia.

Silvia menjulurkan tangannya, dalam tangisnya ia mengiba pada keluarga kekasihnya

" Aran, Om sanjaya, Tante...! Tolong... Silvia nggak mau pulang...Silvia mau menikah dengan Aran, Aku cinta Aran...Romo lepasin Silvia..!" rengeknya dengan suara putus asa.

Aran ingin menolong tapi geraknya selalu terhalang

para body guard, yang terus mengurungnya di segala sisi.

Emosi Aran menjadi tidak terkendali tanpa segan Aran melampiaskan kekessalannya pada mereka.

Bak! Buk! Bak Buk!

Dan menghajar para Body guard Adiwijaya membabi buta.

Adiwijaya kaget menghentikan langkah dan berbalik melihat adegan perkelahian itu dengan tatapan geram.

Para pengawal itu tersungkur di lantai. mereka lekas bangun bersiap membalas perbuatan Aran.

Sungguh, Adiwijaya tidak menduga Aran bertindak nekat dan sebodoh itu.

" Aran hentikan!" Teriak Silvia dan Nyonya Sanjaya bersamaan karena mencemaskan nya.

Tuan Sanjaya bergerak ingin menghentikan Aksi gila Aran di ikuti beberapa tamu pria lainnya. tapi

Aran mendorong kasar semua orang, Dia

menerobos kerumunan, kembali menyerang para Pengawal Adiwijaya tanpa Ampun.Tak terima di hajar, para Body guard itu melakukan Aksi balas. sehingga tak bisa di elakan terjadi baku hantam sengit disana.

Keadaan menjadi gaduh dan tidak terkendali, para tamu mulai panik, menjerit- jerit ketakutan.

" Aran..hentikan! kau bisa terluka..!"

Tuan dan Nyonya Sanjaya yang berusaha melarai pun di abaikan

Aran Tidak perduli dia harus bisa menyelamatkan Silvia dari kungkungan Ayahnya yang otoriter itu.

Aran tidak bergeming ketika petugas keamanan dan beberapa tamu menariknya menjauhi perkelahian. Dia tidak akan berhenti.

Hingga beberapa menit kemudian harus terkapar di lantai dengan bibir pecah mengeluarkan darah karena di hajar pria- pria kekar itu selain mereka semua tangguh, Aran kalah karena dia melwan mereka sendirian.

Silvia menangis, air mata mengalir deras di pipi mulusnya menatap kekasihnya kasihan. Tapi ia tidak bisa berbuat Apa- apa, Adi Wijaya memeganginya begitu ketat.

" Seram sekali..! kenapa jadi kacau begini sampai ada adegan baku hantam segala."

"Apakah itu orang tua, calon istrinya? sebenarnya apa yang terjadi?"

"Lebih baik kita tidak ikut campur"

Tamu mulai saling berbisik dan bergosip.

Adiwijaya menyeringai puas melihat Aran babak belur.

"Aku masih berbaik hati tidak melaporkan kau atas tuduhan penculikan dan menghasut putriku untuk kabur dari rumah. Jadi mulai saat ini dan seterusnya, menjauh dari Silvia untuk selamanya. " Adiwijaya menatap Aran dingin.

Adiwijaya menyeret paksa Silvia dan mengisyaratkan semua pengawalnya mengikutinya keluar dari rumah Sanjaya.

Melihat putranya Babak belur Nyonya Sanjaya berusaha membantu Aran berdiri.

" Sayang kau baik- baik saja?" Tanyanya prihatin

Aran tersenyum getir melihat mamanya.

Aran berusaha berdiri dengan di papah Mamanya, menyeka darah yang mengalir di bibir dengan gerakan kasar

Nyonya Sanjaya yang tidak bisa menahan luapan perasaan, mulai menangis dalam pelukan Aran.

Sanjaya berusaha menenangkan dengan memeluk pundak dan mengusapnya pelan.

Sebelum pergi, Adiwijaya menyerahkan putrinya pada salah satu pria kekar dan berjalan kembali mendekati Sanjaya.

Tanpa sungkan, Ia menarik kerah Tuan Sanjaya

Meski tubuhnya jauh lebih kecil dan pendek

tak menciutkan nyalinya.

"Katakan pada putramu untuk menjauhi putriku sejauh- jauhnya. Lain kali aku tidak menjamin untuk tidak memasukan nya dalam penjara bila ia nekat."

Sebenarnya Ancaman Adiwijaya tak memberi pengaruh apa- apa bagi Sanjaya. Hanya saja dia menahan diri untuk tidak ikut terpancing dengan sifat arogan dan sombongnya Adiwijaya.

Adiwijaya melirik Aran yang kembali bergerak ingin menghajarnya.

Pria itu mengangkat tangan dan berdehem pelan mencegah Aran

Sejak bayi, Silvia sudah di jodohkan.

Adiwijaya sudah mengikat janji dengan keluarga bangsawan lain, Raden Mas Suseno Adi ningrat.

Pantang bagi Adiwijaya melanggar janji yang telah di sepakati.

Bila Ia tidak menepati Janji, sama saja sedang mempertaruhkan harga diri.

Lagipula putra Suseno lebih pantas untuk Silvia karena mereka sederajat. Sama- sama berdarah biru.

"Tuan tolong..saya mohon.. biarkan mereka menikah anak- anak.kita saling jatuh cinta.

Saya janji putri anda akan hidup bahagia bersama Aran." ujar Sanjaya.

Meski sudah di permalukan Adiwijaya, Sanjaya menyingkirkan egonya demi membela kebahagiaan putranya.

Adi Wijaya malah menanggapinya perkataanya dengan sinis

" Tolong, Maafkan kami. Tidak ada niat melakukan pernikahan ini secara diam- diam, semua terjadi karena desakan Silvia yang menginginkan demikian. Kami hanya memikirkan perasaan mereka. mengingat sikap anda..."

" Diam..! " bentak Adiwijaya memotong Kalimat Sanjaya dengan suara dingin.

" Semua sudah usai. Silvia tidak akan pernah menikahi Putra Anda..permisi" Adiwijaya berbalik memberi isyarat pada pengawalnya untuk segera membawa Silvia secepat keluar dari kediaman Sanjaya.

Masih terdengar suara jeritan melengking Silvia sebelum mobil melaju pergi meninggalkan halaman rumah Mewah itu.

Aran berniat kembali mengejar dengan mengendarai mobilnya.

Tapi Sanjaya langsung meminta beberapa orang untuk memeganginya.

" Lepaskan aku harus mengejarnya, Pa..." teriak Aran geram sambil meronta dari kukungan Sanjaya

" Papa, Lepaskan aku!" teriak Aran semakin memaksa karena ia tak kunjung di lepaskan.

" Aku harus selamatkan Silvia, Papanya akan membawa nya pergi...!"Suaranya semakin melemah.

" Aran...! Relakan Silvia.."

" Merelakan apa maksud Papa!?"

Aran matanya bingung.

" Tak ada gunanya memaksa Silvia menikah denganmu, kau dan dia tidak berjodoh.

Biarkan Orang tuanya membawanya pulang."

" Tidak! kenapa papa bicara begitu!? kami saling mencintai. Papa kenapa tiba- tiba berubah begini? Aran berteriak dan terlihat sangat emosional.

Meski Aran menangis darah meminta Sanjaya menolong Silvia, pria itu tetap pada prinsipnya.

Sanjaya tidak suka sikap Adiwijaya yang suka meremehkan orang lain.

memandang diri lebih tinggi dari orang- orang di sekelilingnya

sungguh membuat darah Sanjaya mendidih.

Sanjaya bukanlah orang sembarangan,bisa saja dia membuat Adiwijaya terpuruk oleh ucapannya sendiri.

Tuduhannya tidak benar.

Silvia pergi keluar negeri bukan atas bujukan Aran atau keluarga Sanjaya.

Gadis itu pergi atas dasar keinginananya sendiri.

Sudah syukur Aran mau menjaga dan melindunginya atas nama cinta.

Silvia gadis pingitan yang hidupnya tidak bahagia karena dipaksa hidup sesuai keinginan orang tuanya yang otoriter

" Bawa Aran ke kamarnya dan Kurung dia!" Titah Sanjaya tanpa ekspresi.

Aran semakin terkejut.

" Papa...!!. Papa akan mengurungku..? yang benar saja!?"

Aran berteriak di sela di seret para satpam dan bebeoa pria lainnya yang membantu.

Cukup Sulit membawa Aran kekamarnya, selain tubuhnya yang tinggi tegap Aran juga memiliki ke ahlian bela diri yang cukup

handal.

" Maaf kan Papa, Aran. Aku tidak mau, kau membuat Masalah. Bisa saja kamu nekat membawa lari anak gadis orang dan menikahinya tanpa restu orang tuanya " Guman Aran melihat putra kesayangannya di seret paksa menaiki tangga menuju kamar pribadinya.

Aran Dilempar ke ke dalam kamar dan mereka mengunci pintu nya

"Papa, Mama! Buka pintunya...Aku mohon. biarkan aku nyusul Silvia!!"

Aran terus saja berteriak- teriak dan menggedor pintu sekencang- kencangnya seolah ingin merobohkan pintu itu.

Para tamu yang merasa situasi tak kondusif satu demi satu dengan sopan pamit uundur diri.

Tentu saja setelah sebelumnya di paksa berjanji untuk tidak menyebarkan berita kekacauan pernikahan putra tunggal Sanjaya ke publik.

Orang tua mana yang tidak sedih melihat putranya kecewa.

Begitu juga dengan orang tua Aran.

"Papa yakin mengurungnya di kamar? Apa, dia akan baik- baik saja?. Bagaiman jika dia melakukan sesuatu yang buruk nanti.

pikirannya sedang kacau, di biarkan sendirian begitu. takutnya Aran..."

" Aran tidak bodoh, Ma." Sahut Sanjaya.

" Biarkan dia tenang dulu, bila di biarkan bebas, dia akan nekat mendatangi rumah Silvia dan mengamuk di sana. Papa takut Adiwijaya tak mampu menahan Amukan Aran. Keluarga itu tak pantas menjadi besan kita"

" Tapi Silvia gadis yang baik, Pa."

" Aran tidak akan bahagia hidup bersamanya." tegas Sanjaya.

" Papa lelah, Sebaiknya kita istirahat di kamar. suruh mereka membereskan semua kekacauan di rumah ini"

titah Sanjaya.

Sejak pagi hingga malam nya tak ada satu pun yang berani masuk ke kamar Aran.

Pria itu masih labil dan gampang emosional.

Sepanjang hari yang dilakukannya hanya berteriak dan mengumpat.

Berpisah dengan

Silvia membuatnya menjadi temperamental

1
Nathan Mahsuri
lanjutt
Susanti
sudah ngak nulis LG ya thorr, sehat kak
Elly Supar
penasaran euy
Irene
mana nih up nya
Irene
ditunggu up nya
Glastor Roy
up
Uni Rasid
lanjut up thor
Imanuelsitorus Imanuelsitorus
lanjut dong kak
Ina Yuni Novika S
kapan up lagi Thor.... masih penasaran sama kisah Aran dan Kania.... semangat dan sehat ya thor
Ina Yuni Novika S
lanjut Thor.... menunggu saat Aran bucin dan ditinggal kabur sama Kania.... penasaraannn
Farida Wahyuni
lama ga up kaka?.udah februari tp belum ada bab yg baru..semoga kaka authornya sehat2 terus.
Farida Wahyuni
akhirnya ada jalan kania lepas dari tuan muda sombong. lepaskan aja kania, aran. apalagi kalau kamu tdk suka atau benci sama dia. cari sj silvia, kamu bisa nikahin aja dia setelah jadi janda.
Farida Wahyuni
kania jangan mudah jatuh cinta sama aran, biarkan aran yg duluan jatuh cinta, biar mampus dia udah hina2 kanian lalu jatuh cinta, hehheh bakal lucu nih jadinya kalau gini.
Rabiatul Addawiyah
Ayoo Lee ambil Kania dr Aran.. biar Aran ga sombong merasa paling ganteng, dan ngga semena-mena terhadap Kania.
Lanjut thor
Rabiatul Addawiyah
Aran gemblung... kasian istrinya hanya dijadikan pelayan..
Lanjut thor
💕KyNaRa❣️PUTRI💞
cih tidak ada nya menghargai istri .......meskipun tak punya harta tpi jngan di hina
Farida Wahyuni
yah cuma up 1 bab, aku penasaran dg aran dan kania, ga sabar liat mereka jatuh cinta😊
Sincan Rivai
lanjut
Rabiatul Addawiyah
wah up jg thor 👍👍 ditunggu trus kelanjutan novelmu ya thor...
Semangat thor
Farida Wahyuni
kok belum update ya kaka? aku udah nunggu2 bgt nih. semangat ya kaka author.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!