follow yuk ig : @riana.kristina
Sekuel "Di Antara Dua Hati"
Jangan lupa siapkan tissu🤧
Plakkk!!
Sebuah kisah yang berawal dari ciuman yang tidak terduga. Mengharuskan gadis bernama Cinta Yasmila Pratama melayangkan tamparan keras ke wajah tampan seorang Adipati Rangga Wijaya.
Pemuda yang selama ini menganggap para gadis hanyalah boneka barbie.
Hingga pada akhirnya mereka saling jatuh cinta, Rangga harus dihadapkan pada kenyataan pahit lantaran Cinta adalah adiknya sendiri.
"Apapun yang terjadi di antara kita, itu semua bukan salah cinta. Tidak ada yang bersalah jika kita saling mencintai."
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Apakah hubungan keduanya harus kandas lantaran adanya hubungan darah?
Penasaran? Ikutin kisahnya ya di,,
"Bukan Salah Cinta"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riana Kristina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Direktur Utama
Jantung Cinta tiba-tiba berdebar, kini dia berdiri di depan gedung yang menjulang tinggi nan megah yang ada di kotanya. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di sana.
Dia sendiri tidak percaya kalau dari sekian ratus orang yang melamar posisi Sekretaris untuk Direktur Utama, dia dipilih interview dan diterima. Padahal niatnya hanya iseng.
"Huft, aku pasti bisa!" Menyemangati dirinya. Dia menghela napas panjang dan memantapkan langkahnya memasuki gedung itu.
Sampai di lobby seseorang menyapanya, "Hai Sweetheart, kamu sedang apa di sini?"
Cinta mengenali suara itu dia langsung menengok ke sebelahnya, dan dugaannya benar.
Haish, kenapa cowok mesum ini bisa ada di sini? Apa dia juga bekerja di tempat ini? Pakaiannya rapi banget, batin Cinta.
Cinta memperhatikan penampilan Rangga dari atas hingga bawah. "Bukan urusan kamu," jawabnya ketus. Dia meninggalkan Rangga yang sudah membuka mulutnya, ingin berbicara lagi, dan masuk ke dalam lift. Rangga menerobos masuk tepat di saat pintu lift hampir menutup.
Kini hanya mereka berdua di dalam lift, Cinta mengambil ponselnya untuk mengalihkan perhatiannya. Sungguh berduaan dengan cowok mesum di ruangan tertutup seperti itu membuatnya merasa tidak nyaman. Dia bisa saja menggunakan tehnik judo yang di kuasainya untuk melawan Rangga jika pria itu ingin berbuat mesum padanya tetapi, dia tidak ingin melakukannya di sini. Ini adalah hari pertamanya bekerja akan tidak sopan bila dia membuat keributan.
"Ehem." Rangga berdehem, memecah keheningan di antara mereka. "Kamu kerja di bagian apa?" Mencoba berbasa-basi. Dia melirik Cinta yang sibuk dengan ponselnya.
"Kalau orang nanya gak sopan lho kalau gak dijawab," cibir Rangga.
"Sekretaris," jawab Cinta malas, tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel di tangannya.
"Sekretaris apa?" Rangga bertanya lagi dengan raut harap-harap cemas.
"Sekretaris Direktur Utama." Kali ini melirik kesal ke arah Rangga.
"Bhahahaaa ...." Rangga tertawa kencang, "serius?"
"Hm,"
"Aku jadi pingin tau, apa kamu juga akan membanting atasanmu jika dia menyentuhmu?" Rangga mengerling ke arahnya dengan senyum yang sulit diartikan, lalu keluar dari lift lebih dulu.
Cinta mencoba mencerna maksud ucapan Rangga barusan.
Apa mungkin Direktur Utama di sini semesum dia? Tanpa terasa tengkuknya meremang. Kemudian, Cinta menuju bagian personalia, tempat dia interview kemarin. Setelah menandatangani surat kontrak kerjanya, Manager personalia lalu mengantarnya menuju ruangan Direktur Utama.
Manager itu mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum akhirnya terdengar suara dari dalam yang menyuruh mereka untuk masuk.
Begitu masuk ke dalam ruangan, Cinta langsung takjub melihat ruangan yang besar dan mewah itu. Dia melihat papan kecil di atas meja kerja yang bertuliskan, Direktur Utama.
"Selamat pagi, Pak. Saya mengantar Cinta, yang akan menjadi sekretaris, Bapak." Manager itu berbicara pada pria yang berdiri di depan jendela dengan membelakangi mereka.
Cinta merasa mengenali pria itu, tapi dia segera membuang pikirannya.
Tidak mungkin! batin Cinta.
"Terima kasih, kau boleh tinggalkan kami sekarang!" jawab sang direktur tanpa menoleh ke arah mereka.
Cinta tertegun kembali saat mendengar suaranya, dia merasa suara itu tidak asing di telinganya. Tidak sering. Ya, beberapa kali dia merasa mendengar suara itu.
"Baiklah Pak, saya permisi." Manager itu menganggukkan kepala sebentar, lalu keluar dan menutup pintu tanpa suara.
Begitu mendengar suara pintu ditutup, sang direktur langsung berbalik ke arah Cinta. ****! Cinta merasa ini kesialan terbesar dalam hidupnya. Lagi-lagi dia harus bertemu pria mesum ini. Parahnya lagi, sekarang dia adalah atasannya. Rasanya dia ingin mengundurkan diri sekarang juga tetapi, sayangnya dia sudah terlanjur menandatangani kontrak.
Ya Tuhan, kenapa dia lagi?
Cinta merasa tubuhnya menegang, dia mulai berkeringat, padahal AC di ruangan itu sudah menyala dengan suhu rendah. Dia mulai gusar saat Rangga menghampirinya, memikirkan apa yang akan Rangga lakukan padanya. Rangga adalah atasannya sekarang, apa pria itu akan menggunakan kuasanya untuk berbuat tidak senonoh padanya?
...****************...
"Duduk!" Rangga tersenyum dan mempersilakan Cinta duduk di kursi depan meja kerjanya sedangkan dia duduk di kursi kebesarannya.
"Terima kasih Pak," jawabnya gugup. Cinta lalu mendudukkan dirinya di kursi yang ditunjuk Rangga tadi.
"Cinta Yasmila Pratama." Rangga menatap gadis di hadapannya, "aku rasa kita tidak perlu berkenalan lagi, bukankah kita sudah sangat saling mengenal?" sambungnya sembari mengulum senyum.
Sementara Cinta hanya menundukkan wajahnya.
"Aku hanya ingin tau apa alasanmu melamar kerja di perusahaan ini? Bukankah kalian sudah punya restoran sendiri?"
Cinta mengangkat sedikit wajahnya. "Sebelumnya terima kasih karena sudah memberi saya kesempatan untuk bekerja di sini, sebenarnya saya ingin banyak belajar dari perusahaan ini, karena perusahaan ini sangat hebat dan sudah memiliki banyak cabang di mana-mana."
"Wow, kamu sangat pandai memuji rupanya." Rangga terkekeh pelan, "tapi aku akan lebih senang jika kamu menjawab kalau pemimpin perusahaan ini sangat tampan dan aku ingin memilikinya." Lagi-lagi Rangga tersenyum menggoda.
Hm, mulai deh!
Cinta menghela napas, mencoba bersabar menghadapi tingkah nakal atasannya.
"Maaf Pak, saya tidak pernah berpikir ke arah itu." Cinta mencoba tersenyum dan menampilkan dimples di kedua pipinya.
"Senyummu sangat manis," puji Rangga.
"Terima kasih Pak,"
Rangga kemudian bangkit dan duduk di atas meja. Dia menatap Cinta yang masih menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa menunduk terus? Hei haahaaa, jangan bilang kamu nervous," cibir Rangga.
"Maaf Pak, apa saya bisa mulai bekerja sekarang?" ujar Cinta, mengabaikan cibiran Rangga.
Rangga menghentikan tawanya, "Tentu, kamu sudah boleh keluar. Ruanganmu yang di sebelah pintu masuk ruangan ini. Aku akan menelpon Lina untuk memberitahu tugas-tugasmu."
"Baik, terima kasih Pak, saya permisi." Cinta bangkit lalu menganggukkan kepalanya sebentar sebelum keluar ruangan itu.
...****************...
Cinta berdiri lemas di depan pintu ruangan Rangga. Dia tidak pernah menyangka yang dikenalnya cowok mesum adalah anak pemilik perusahaan tempatnya bekerja sekarang. Dengan langkah gontai, dia menuju ruangannya lalu mendudukkan pantatnya dengan malas.
"Kenapa harus dia sih!" gerutunya. Cinta menangkup keningnya
"Hai, kamu Cinta ya?" sapa seseorang.
Cinta menoleh lalu bangkit dari duduknya, "Iya, Kakak siapa ya?" tanyanya. Cinta menatap wanita yang terlihat lebih tua darinya.
"Aku Lina, dari bagian personalia." Lina mengulurkan tangannya ke arah Cinta.
"Owh Cinta, Kak." Cinta membalas uluran tangan Lina.
"Sudah pernah bekerja sebelumnya?" Mereka lalu duduk kembali.
"Belum Kak, saya baru lulus."
"Owh pantesan kamu terlihat muda sekali."
"Kakak, sudah lama bekerja di sini?"
"Kalau di kantor pusat sudah hampir lima tahun, kalau di sini baru enam bulan. Kantor ini, 'kan baru beroprasi setahun lalu," jelas Lina.
"Owh," Cinta hanya mengangguk.
"Sudah siap belajar tentang tugas-tugas kamu?" Tersenyum ke arah Cinta.
"Siap Kak," jawabnya yakin.
Lina lalu menjelaskan tugas-tugas yang harus Cinta kerjakan mulai dari menyusun jadwal dan mengatur agenda untuk direktur, menyiapkan tempat rapat, menerima dan membalas telpon, mengelola administrasi, menyortir, dan memfotokopi dokumen.
Cinta mengangguk mendengar penjelasan Lina, sampai akhirnya telepon di mejanya berbunyi.
"Halo, selamat siang, dengan Cinta di sini, ada yang bisa dibantu?" sapanya ramah.
"......."
"Baik Pak," jawabnya lemah lalu meletakkan kembali gagang telepon itu di tempatnya.
"Siapa?" tanya Lina.
"Pak Adipati,"
"Semangat ya, tugas pertama kamu akan di mulai. Semua sudah aku jelaskan, rasanya sudah cukup. Kalau nanti masih ada yang belum kamu pahami telepon saja ke ruanganku ya."
"Terima kasih Kak, atas bantuannya."
"Sama-sama, semangat!" Mengepalkan tangannya.
Cinta mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan Rangga, entah kenapa dia merasa gugup setiap memasuki ruangan itu.
"Maaf Pak, ada apa memanggil saya?"
"Ini kerjaan buat kamu, bereskan hari ini juga. Besok ayahku akan datang untuk memeriksanya." Rangga menunjuk tumpukan map di atas mejanya.
"Semuanya, Pak?" Cinta melongo menatap tumpukan map di atas meja kerja Rangga.
"Of course!"
"Baik Pak," sahutnya lemah. Cinta mengangkat tumpukan map itu, lalu berpamitan ke ruangannya. Dalam hatinya dia menggerutu.
Sialan! Dia mulai mengerjaiku!
Sementara Rangga tertawa penuh kemenangan begitu Cinta keluar dari ruangannya.
Aku akan membuatmu bermalam di sini bersamaku!
bersambung....
Makasi buat yang udah mampir ke cerita aku, ikuti terus ya🤭 Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, ditunggu vote, like, n comentnya😁makasih🤗*
thor tolong y sembunyikan cinta sampai dia melahirkan dan bikin rangga prustasi berat