NovelToon NovelToon
NIGHTMARE

NIGHTMARE

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:430k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dewinisme

Slowly Update!!

Berkedok sebagai jaminan hutang ayahnya, Ruma berhasil dijerat menjadi tawanan abadi oleh Rico Dzadakun. Alih-alih menjadikan Ruma salah satu penari striptis di club malam miliknya, Rico justru merasakan jatuh cinta bahkan pada pandangan pertama pada gadis itu.

Sementara dibawah pengawasan Rico Dzadakun, diam-diam Ruma mendamba sebuah aksi balas dendam atas mimpi buruk yang selama ini ia dapatkan dari pebisnis kriminal tersebut.

Ditengah obsesi Rico terhadapnya, akankah Ruma berhasil melancarkan aksi balas dendam yang selama ini ia inginkan? ataukah Ruma justru semakin terjebak dalam jeruji-jeruji cinta yang Rico lilitkan dilehernya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewinisme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Rico terbangun lebih awal pagi ini. Fajar belum sempurna menyingsing namun kedua bola matanya enggan terpejam lagi. Lelaki itu bangkit dari tempat tidurnya. Ia meraih jubah tidur dan memakaikannya pada tubuhnya yang polos. Suara dengkuran halus keluar dari mulut Meggy yang masih terlelap, Rico meliriknya sekejap sebelum ia berjalan menuju lantai bawah rumahnya.

Pergulatan erotisnya dengan Meggy membuatnya kehausan hingga rasa dahaga itu menuntut dirinya untuk bangun di dini hari yang dingin. Rico duduk di kursi pantry setelah mengambil minuman dari dalam kulkas. Ia meneguknya hingga habis setengah bagian. Untuk beberapa saat, Rico termangu seorang diri. Sorot matanya kosong menatap deretan botol minuman yang tertata rapi di sudut meja pantry.

Tak berselang lama, keheningan itu langsung ternoda oleh panggilan Meggy yang baru saja keluar dari pintu kamar. "Honey?" Meggy memastikan keberadaan kekasihnya.

Dengan malas wanita itu menuruni tangga, sebelah tangannya menggenggam erat ujung selimbut yang menutupi tubuh polosnya, sementara tangan yang lain mengangkat sedikit selimbut itu hingga ia bisa berpijak dengan benar pada anak-anak tangga.

"Honey?" Matanya mencari sosok Rico. Posisi pantry yang tersekat oleh tembok, membuatnya tak bisa menemukan lelaki itu.

"Aku disini" ujar Rico tanpa berpaling dari gelas minumannya. Meggy segera melangkah menuju sumber suara.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Meggy begitu ia melihat kekasihnya duduk seorang diri.

Rico menjawab dengan mengangkat sedikit gelas yang ia pegang. "Haus" sahutnya santai.

Meggy tersenyum. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Rico dari arah belakang, setelah sebelumnya ia mengencangkan simpul selimbut di sela dadanya agar tidak jatuh. "Aku khawatir kau akan meninggalkanku lagi" desah Meggy dengan mulut memberengut manja.

"Nightmare sudah tutup dini hari seperti ini" ujar Rico. "Lagipula aku pemilik club itu, kapan pun aku mau aku akan pergi kesana. Jadi berhenti menggerutu Meggy" Untuk kesekian kali Rico memperingatkan Meggy.

Mendengar intonasi suara Rico yang tegas, membuat Meggy mendesah dengan pasrah. Wanita itu tidak bisa mengabaikan kebenaran ucapan kekasihnya begitu saja. Rasa khawatir dan cemburu yang memenuhi hatinya, mendesak Meggy untuk bersikap kekanakan. Rico adalah pebisnis muda yang tampan dan digilai banyak wanita. Aura maskulin yang begitu menggoda mata kaum hawa, membuat Rico begitu mudah menjadi pusat dari fantasi-fantasi mereka. Tak sedikit wanita disana yang rela melemparkan dirinya sendiri pada Rico hanya untuk mendapat kesempatan menjadi kekasihnya, meski hanya satu malam. Hal itu lah yang selalu membuat Meggy terbakar oleh api cemburu, jiwa posesif dalam dirinya bergejolak setiap kali memikirkan Rico yang menghabiskan malam dengan wanita lain.

Tiba-tiba Meggy merundukkan kepalanya. Ia mempererat pelukan di leher Rico sambil mengecup mesra cuping telinga kekasihnya. Rico menyeringai seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Aku sangat mencintaimu, Honey. Itulah alasannya mengapa aku selalu saja menggerutu jika kau pergi ke Nightmaremu itu. Disana banyak wanita yang bisa saja menarik perhatianmu dan membuatmu melupakanku," ungkap Meggy setengah berbisik. Lidahnya menyusuri leher Rico dan mulai membuat rahang Rico menegang.

"Berhenti memikirkan itu ... Ada hal yang lebih mendesak daripada memikirkan wanita-wanita disana" ujar Rico yang mulai terpejam menikmati sensasi menggelikan yang lidah Meggy lakukan di area lehernya.

"Hal mendesak apa yang kau maksud?" goda Meggy pura-pura tak mengerti maksud ucapan kekasihnya. Jemarinya menyusuri pinggang Rico dan membuka simpul tali yang mengikat jubah tidur kekasihnya itu.

Rico diam. Benaknya terfokus pada denyutan keras yang berasal dari area bawahnya. Meggy terlalu pintar membuai Rico dengan semua hal vulgar yang bisa ia berikan. Kepalanya semakin merunduk menyusuri punggung yang telah ia bebaskan dari jubah tidur kelabu Rico, hingga memperlihatkan otot-otot balikat yang tampak mempesona. Rico kehilangan daya kendalinya, lelaki itu memilih memutar kursi pantry dan membuat Meggy berhadapan dengan tubuhnya yang setengah polos.

Meggy menyeringai ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Rico yang sudah berkabut oleh hasrat. Seringainya semakin lebar ketika melirik pusat Rico yang menegang dengan sempurna.

"Kau tahu maksudku, sayang" ucap Rico membuka simpul selimbut yang membalut tubuh Meggy.

Kedua tangan kekarnya langsung bergeriliya menyusuri tubuh Meggy yang berdiri polos di hadapannya. Sementara selimbut tipis tergeletak tak berdaya di kaki wanita itu. Meggy mengerang lirih, kedua matanya terpejam merasakan kenikmatan jemari Rico yang bergerak serampangan di sekujur tubuhnya yang mendidih.

Perlahan Rico mendorong kepala Meggy untuk semakin merunduk ke bagian bawahnya. Hal itu membuat Meggy harus berlutut di hadapan Rico dengan pasrah. "Lakukan apa yang harus kau lakukan, sayang"

Nada suara tegas Rico berpendar menggairahkan di telinga Meggy. Membuat saraf Meggy menegang dengan cara yang seksi. Sekelibat fantasi liar singgah di benaknya ketika berulang kali ia mendengar nada suara dominan yang Rico tunjukkan jika sedang dikuasai gairah. Puncak dadanya menegang hanya karena suara-suara itu. Tanpa banyak bicara, lidahnya mulai mengendalikan Rico. Membuat Rico mengerang bebas sambil menegadahkan kepalanya ke atas.

"Akh! Good girl" ujar Rico dengan suara mendesah.

🍁🍁🍁

Sambil berjalan menjauhi jendela patri di ruang kerjanya, Rico tampak serius kembali duduk di sofa sebelah rak-rak buku berada. Rico merasakan kilasan penuh harap akan apa yang telah Meggy ucapkan beberapa saat yang lalu setelah percintaan dini hari mereka usai.

Rasa puas atas pencapaian misinya tergambar jelas dalam rona wajah cerah. Benaknya mengingat ucapan Meggy saat wanita itu hendak pergi karena seorang produser film menghubunginya untuk meminta Meggy datang ke suatu tempat. Meggy mengatakan bahwa acara pesta privat di Olympus Palace akan di majukan sesuai dengan kesepakatan pihak penyelenggara. Pesta kalangan jetset itu akan banyak kedatangan tokoh-tokoh terkemuka yang rata-rata dari mereka telah meminta Meggy untuk menyediakan barang, sebagai puncak dari acara hedon tersebut.

Peluang menjajaki kalangan atas semakin terbuka lebar untuk Rico. Begitu barang ilegal miliknya sampai di tangan gerombolan kapitalis, maka hanya dalam hitungan menit kekuasaan Rico dalam dunia bisnis gelap semakin besar. Mereka akan terjebak sedikit demi sedikit dan pada akhirnya mereka akan terikat pada Rico.

Drrrttt drrttt drrttt

Dering konstan dari ponselnya menggugah Rico untuk bangkit dari sofa dan berjalan menghampiri meja, tempat dimana ia meletakan benda pipih tersebut. Rico langsung tersambung dengan tangan kanannya.

"Ada apa?" tanya Rico sebagai kata sapaan pada Don.

"Istri Rudi datang ... Bersama anak gadisnya," ungkap Don di seberang sana.

Rico tak tahan untuk tidak menyeringai licik. Hari ini begitu banyak hal yang membuat hatinya puas berkali-kali. Kedatangan Luna tentu berkaitan dengan tertangkapnya Rudi. Rico hafal betul bagaimana Luna tidak bisa hidup tanpa suaminya itu.

Luna adalah salah satu pekerjanya dulu di Nightmare, sebelum akhirnya wanita itu berhasil membuat Rudi jatuh cinta padanya dan memutuskan untuk menikahi dirinya meskipun ia seorang janda beranak satu.

"Aku akan kesana" putus Rico pada akhirnya.

Lelaki itu melangkah keluar ruang kerjanya setelah ia memutus panggilan Don sepihak. Langkahnya begitu tenang dan santai ketika masuki kamar mandi dan mulai mempersiapkan diri menuju Nightmare. Siulan lirih terdengar dari bibirnya yang tipis. Ketiadaan Meggy di rumahnya, membuatnya dapat mengangkat kaki lebih cepat tanpa terkendala satu apapun.

Jalanan Ibukota yang jingga seolah menyambut kehadiran mobil mewahnya di tengah deretan mobil-mobil lain di jalanan. Tentu saat itu masih terlalu dini untuk menyambangi club malamnya, namun kehadiran keluarga tawanan sialan itu telah berhasil menggugah Rico untuk sesegera mungkin sampai di Nightmare.

Dua anak buah bertubuh kekar yang berada di depan pintu masuk club, langsung berdiri tegap sambil membungkukkan sedikit tubuhnya begitu Rico keluar dari dalam mobil. Tatapan Rico terfokus pada pintu club yang sudah dibukakan oleh salah satu pekerjanya itu. Kakinya melangkah melewati batas pintu tanpa sedikitpun berucap. Suasana sepi dan temaram langsung tergambar jelas ketika bola matanya berpencar keseluruh ruangan.

Aktivitas para pekerjanya belum dimulai saat itu. Nightmare masih dalam kondisi seperti tak berpenghuni.

"Tuan"

Rico menoleh pada Don yang berdiri di balkon lantai dua. Tangan kanannya itu langsung menuruni tangga menghampiri Tuannya di lantai dasar.

"Dimana mereka?" tanya Rico tanpa basa basi.

"Saya membawa mereka ke ruang bawah tanah. Luna mendesak ingin bertemu suaminya," ungkap Don.

Rico menganggukkan kepala. "Bagus. Biarkan dia melihat akibat dari perbuatan suaminya sendiri" ucap Rico dingin.

Kedua lelaki itu berjalan menuju ruang bawah tanah. Rico merundukkan sedikit kepalanya ketika memasuki pintu ruangan yang dibuat sengaja lebih pendek dari ukuran pintu normal. Don membiarkan Tuannya masuk lebih dulu sebelum akhirnya ia mengikuti dan menutup rapat pintu itu.

Sambil menegakkan dirinya, Rico berjalan melintasi lorong termaram dengan lampu-lampu kuning yang dipasang di sudut-sudut atas bagian tembok. Tak butuh waktu lama untuk kemudian kedua lelaki itu sampai di dekat penjara Rudi. Sambil menyeringai, Rico menatap lurus-lurus ke arah tiga manusia buruannya. Sorot matanya menajam ketika memperhatikan seorang wanita berparas cantik yang berdiri disamping Luna. Rico memiringkan kepalanya, demi mendapatkan gambaran yang jelas akan kemolekan gadis Rudi yang sedikit terhalang Luna itu.

"Ruma, kaukah itu?" Rico membatin sambil menatap ketiga orang yang kini menyadari kehadirannya.

"Rico!" seru Luna langsung berlari menghampiri Rico. "Maafkan kami" Luna bersimpuh di kaki Rico.

Rico melirik malas pada wanita di bawahnya. Suara isakan Luna terdengar sangat mengganggu pendengaran Rico. Ia menendangnya pelan.

"Menyingkirlah Luna, kau menghalangi jalanku" sergahnya dingin.

"Maafkan kami Rico. Tolong lepaskan suamiku" rintih Luna yang masih bersimpuh memegangi kaki Rico. Pegangan tangan Luna di dekat mata kaki Rico terasa seperti cengkraman yang cukup kuat.

"Lepaskan?!" Rico memastikan apa yang Luna ucapkan sambil menatap bola mata Luna yang basah. "Semudah itu kau memintaku melepaskan suami brengsekmu, huh?!" Rico menghentakkan kakinya kasar hingga Luna terjengkang ke arah belakang.

"Rico!! istriku sedang hamil" bentakan Rudi tak mempengaruhi Rico sama sekali.

Sorot mata Luna mengiba menatap Rico yang berdiri menjulang di hadapannya. Dari raut wajahnya, Luna sadar bahwa tidak mungkin Rico melepaskan suaminya begitu saja. Hutang-hutang suaminya bukanlah jumlah yang sedikit, Rico tidak akan mungkin membiarkan uang-uangnya hilang tanpa mendapatkan ganti rugi.

Rico melanjutkan langkahnya, ia berjalan lebih mendekat pada Rudi dan Ruma yang masih saling berpegangan tangan di antara sela jeruji besi. "Kasian sekali calon anakmu itu, dia akan lahir tanpa bisa melihat wajah ayahnya"

Rico menyeringai menatap Ruma yang bergetar melawan isak. Bulu mata lentik itu mengerjap beberapa kali, sementara bibir mungilnya terkatup rapat. Rico tertegun sesaat, raut wajah Ruma memercikkan sebuah rasa asing yang sulit diterka oleh dirinya sendiri.

"Kemana Yasmin? Kau tidak membawanya juga, Luna?!" tanya Rico tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Ruma.

Ekor matanya melirik jalinan jemari Rudi yang semakin mengerat pada jemari anaknya. Lelaki itu pasti tahu arti dari pandangan lekat yang ditujukan Rico pada Ruma.

"Yasmin--" Luna terbata seraya menghampiri Rico di depan penjara suaminya. Tangisnya terhenti begitu nama anaknya disebut Rico.

Rico menyunggingkan senyumnya mendengar nada suara Luna yang tampak kebingungan. "Kau tidak bermaksud menyelamatkan anakmu dengan mengorbankan anak tirimu, bukan?!" potong Rico disambut bola mata terbelalak Ruma dan Rudi. Lelaki itu hafal betul bagaimana sifat asli Luna.

"Ibu ... Apa maksudnya?" tanya Ruma dengan nada suara bergetar.

"Kau jahat, Luna" desis Rudi menatap tajam wajah tertunduk istrinya. Dia tahu kemana arah pembicaraan itu bermuara.

"Ayah ... Apa maksudnya?" Ruma yang tak mengerti menatap Ayahnya. Sementara Rudi tertunduk lemas sambil menggelengkan kepalanya. Isakan terdengar jelas oleh telinga Ruma. Hal itu membuat Ruma semakin tak mengerti.

"Kau akan menjadi milikku, Ruma. Hutang Ayahmu, terbayar dengan tubuhmu"

Ucapan Rico yang tiba-tiba, merasuk dalam rongga kepala Ruma yang kecil. Menyusup dalam setiap lipatan lobus temporal yang kemudian tersimpan sebagai memori mengerikannya di masa yang akan datang. Bola mata bening itu membulat menatap Rico dengan tatapan penuh ketakutan.

Bibirnya bergetar dengan pandangan buram menatap wajah murung ayahnya. "Ayah..."

🍁🍁🍁

1
Ita Listiana
sungguh aq suka banget sama semua novelmu yg tamat yg aq baca, aq suka bahasamu thor, gk bertele" gk kayak drama ikan terbang muter" gk jelas, tapi kenapa yg baca cuma dikit ya?? btw sukses terus buat othor semangat terus buat berkarya. dan novelmu yg ngegantung tolong dilanjutkan dong thor../Drool//Grin/
Greenenly
ya ampun..sangat menyedihkan sekali, aku menangis pilu😭
Made Ayu
Kecewa
Made Ayu
ini sdh kesekian x baca ulang tetep suka 😍
Fe☕
Alur cerita ringan , enak dibaca

bbrp kalimat yg digunakan memabukkan berasa baca karya sastra 👌

mksh Author
tetap semangat berkarya ✒️📱
Cia²
👍👍
sherly
terbaik
sherly
mantull
sherly
part ini paling mengelikan.. asli Thor sampai ngakak pas si Rico ngk mau nyamar malah komplain
sherly
woh
sherly
ini karyamu yg ke 3 yg aku baca Thor dan beneran smuanya bangus pakai banget .. kisah cinta dimana si cowok beneran sayang banget sama pasangannya.. msh blm bisa move on dr sabiel dan Laura, Raka dan raya eh ternyata Rico dan ruma ngk kalah bucin
sherly
keren thor
sherly
seru
sherly
keren banget
sherly
ceritanya bagus, penulisan dan kata2nya luar biasa..
sherly
ngeri ya
sherly
bahasamu Thor sungguh luar biasa
Sang Dewi: terima kasih kaka.. aku baca setiap komen kaka, dan terharu hihi.. makasih banyak sudah mampir 🙏😉
total 1 replies
sherly
ini yg ke 3 karyamu yg aku baca thorr... semoga keren juga seperti yg lain
Hanifah Ifah
rico kamu hrs hati2 jg sm meggy dan ayahnya lucas..... mreka ingin balas dendam
Wanda Sukma
aku yakin ini novel bagus, karna bs dilihat dr pemilihan kosa katanya autor memiliki wawasan luas.
tp aku heran dg algoritma noveltoon ini, knp novel2 receh yg alur ga jelas arahnya mau kemana dan blundet ga masuk akal justru bisa di up, sdngkan novel yg rata2 bagus sprti ini justru ga di up.

krn sblm aku baca aku paasti lihat dulu komen2 jika ada 1 komen yg buruk sdh pasti alurnya emng buruk. tp dikomen ini baik dan menarik jd aku baca.

sejauh ini masih suka sih, semangat thor meski ga trending yg penting ttep berkarya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!