"Dua jiwa bersimpul merah.
Tujuh kehidupan dan tujuh kematian.
Bencana, hanya dapat dihentikan oleh sang pengelana."
Dari tiupan angin yang mengumandangkan laguan dari sang takdir, dari tempat terdalam dimana kegelapan terlelap, sepasang tangan yang terikat benang mera menggenggam sepetak cahaya. Dari tempat paling tidak terduga, sang pengelana akan datang untuk membawa sang cahaya, dan bersama melampaui batas dari keabadian sang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilleMoone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06 | Jika Takdir Mengizinkan
Ketika fajar menyingsing, orang-orang dari kelompok Ular Hitam masih dalam kekangan rantai sihir. Mereka tak bisa menggunakan sihir dan kabur karena saling terikat. Dinding pelindung milik Kalara masih melingkupi bangunan itu, hingga menghilangkan segala kemungkinan mereka dapat kabur dari tempat itu.
Di halaman itu, matahari menyorot anak-anak yang kini berbinar bahagia ketika bisa melihat matahari kembali setelah beberapa lama terjebak dalam ruang gelap. Namun disisi lain mereka merasakan kesedihan saat melihat Kalara nampak putus asa menyembuhkan Asela yang sudah meninggal belum lama.
"Kumohon!" rapal Kalara diambang keputusasaannya.
Binatang-binatang sihir yang ada disana mendengar kesedihan Kalara. Mereka perlahan mendekati dan mengelilingi Kalara. Kelinci besar didepan Kalara memancarkan cahaya hijau remang ditubuhnya. Cahaya itu perlahan bersatu dengan cahaya ditangan Kalara. Binatang lain menyusul tanpa keraguan.
Kalara mendongak, "Kalian, ..."
"Ini adalah roh hidup kami. Kami memberikan sedikit dari roh hidup kami untuk anak ini." Kata kelinci.
"Kenapa?" lirih Kalara.
"Karena ia pantas hidup."
Kalara yang mendengarnya mengalihkan tatapannya pada Asela. Cahaya dengan berbagai warna itu berkumpul dan menyatu menjadi satu warna yang asing. Cahaya itu merasuk kedalam tubuh Asela. Cahaya memendar pelan dari tubuh Asela dan menghilang.
"Ugh," Asela meringis pelan sembari bergerak membuka kelopak matanya.
"Ah! Syurlah kamu sudah bangun." Kata Kalara dengan wajah yang menunjukkan kelegaan.
Asela menatap sekelilingnya dan terkejut melihat banyak hewan besar disekelilingnya. Ia nyaris menjerit jika Kalara tak menenangkannya. "Mereka telah menyelamatkanmu, Asela. Mereka baik, jangan takut ya?"
"Ah! Te-terima kasih banyak sudah menyelamatkan hidupku. Aku tak tahu harus membayar dengan apa."
Asela mencicit sambil menunduk. Melihat itu, Kalara berbisik pada cincinnya, "Minette. Apa menurutmu ada sesuatu yang bisa kita berikan pada mereka sebagai balas budi?"
Seakan mendengar balasan, Kalara kembali berbisik. "Ya, darimana kamu belajar menjadi tamak? Berikan mereka sesuatu. Semua!"
"Terima kasih, Minette," bisik Kalara ketika cahaya keemasan samar merambat keluar.
Cahaya itu memendar dan menciptakan masing-masing sebuah segel di dahi mereka. Segel itu kemudian menghilang secara perlahan. Semua merasa panik, termasuk Vermel yang mendapat segel yang sama. Mereka menatap Kalara yang membuka suaranya.
"Jangan khawatir. Itu adalah segel Kesempatan Hidup. Ketika kalian dalam bahaya, segel itu akan melindungi kalian dari serangan seperti apapun, bahkan yang mematikan. Namun segel itu hanya bisa digunakan sekali. Tapi, aku harap kalian tak sampai menggunakannya~"
Ucapan dan senyuman tulus Kalara membuat semua binatang sihir itu tertegun. Binatang-binatang sihir liar itu sering diperlakukan dengan semena-mena. Manusia sering menangkap dan menggunakan mereka secara ilegal.
"Suatu hari nanti, kita pasti akan berjumpa lagi. Kalara," ucap binatang sihir berbentuk rubah didepannya dengan suara yang makin memelan saat tubuhnya bercahaya dan seakan tersapu angin.
Binatang sihir lainnya bergerak pergi. Ketika Kalara menjentikkan jarinya dan menghilangkan kubah pelindung itu, semua binatang sihir memutuskan kembali ke wilayah mereka masing-masing. Sementara beberapa anggota bawah kelompok kelelawar menampilkan wajah frustasi. Kalara bangkit berdiri dan menyaksikan matahari yang makin lama makin naik dan memancarkan cahaya yang maha agung. Ia tersenyum.
"Bukankah akan sulit membawa mereka semua kak?" tanya Kalara menatap Levi.
Levi bergumam, "Tidak."
Levi mengambil sebuah plakat batu dengan batu sihir ditengahnya dan mengarahkannya pada mereka. Plakat itu memancarkan cahaya kemerahan dan menyerap para pria besar itu kedalamnya. Dalam hitungan detik, semua sudah terserap kedalam kalung.
"Yang akan sulit adalah membawa mereka sekaligus. Puluhan anak dan semuanya mungkin berasal dari daerah yang berbeda." Kata Levi.
Kalara tersenyum lebar, membuat Levi tertegun. "Masalah itu serahkan saja padaku."
"Bagaimana caramu membawa mereka?" tanya Levi.
Kalara mengangkat tangan kirinya. Cahaya keemasan muncul dari cincin, dan membentuk banyak sekali bola hitam terbang dengan ukuran yang cukup besar, seukuran anak-anak itu. Bola-bola hitam itu mengambang setinggi satu meter diatas tanah.
Anak-anak segera bertanya-tanya tentang benda apa itu.
"Anak-anak. Yang ingin pulang dan bertemu ayah ibu kalian boleh masuk ke bola ini. Setelah masuk, pikirkan dimana rumah kalian. Percaya padaku, besok kalian akan sampai dirumah kalian masing-masing." Ucap Kalara.
Penjelasan Kalara membuat mereka terkagum.
"Jadi, selamat tinggal~" Kata Kalara sembari tersenyum.
Ketika anak-anak itu melihatnya, mereka menangis dan memeluk Kalara. Mengucapkan terima kasih dan mengatakan mereka berhutang budi pada Kalara.
Salah seorang anak bertanya, "Akankah kami bisa bertemu kakak lagi?"
"Mungkin saja." Jawab Kalara.
Anak yang lain bertanya, "Ketika kita bertemu dengan kakak, kami ingin memanggil nama kakak."
Kalara tersenyum, "Baiklah. Nama kakak, Kalara. Kalara Io."
Levi menatap Kalara dan membatin, "Jadi namanya Kalara?"
Anak-anak itu mulai naik. Mengambil makanan ringan dari cincin penyimpanannya, Kalara membagikan sejumlah kecil makanan kepada mereka agar dalam perjalanan mereka tidak kelaparan. Setelah semua anak masuk kedalam bola hitam yang tampak semi-transparan itu, mereka mengucapkan tempat asal mereka masing-masing.
Kalara melambaikan tangannya.
"Kami tak akan melupakan kak Kala dan kakak tampan selamanya!" ucap mereka hampir bersamaan.
Mendengar julukan untuk Levi, Kalara terkekeh kecil. Ketika semua bola sudah melayang setinggi 30 meter, bola hitam itu melesat dengan kecepaan rata-rata dan berpencar keseluruh penjuru arah, untuk kembali ketempat dimana mereka masing-masing berasal.
"Baik, kami juga harus segera kepenginapan." Kata Kalara sembari bergerak menaikkan Asela keatas piringan hitam.
"Tunggu." Suara Levi membuat Kalara menoleh.
Levi menatap cincin Kalara, "Bisakah kami mencoba taruhanmu semalam? Lupakan taruhannya, biarkan Vermel mencoba melawan binatang sihirmu."
Kalara menyunggingkan senyuman dan menatap Vermel, "Apa kamu yakin?"
"Ya. Saya ingin melihatnya," kata Vermel dengan yakin.
Kalara mengangguk, cahaya keemasan itu mambawa tubuh Vermel terserap kedalam cincin.
Kalara bergerak mendudukkan dirinya diatas bola hitam yang membawanya naik perlahan. Disisinya, bola hitam yang lebih kecil membawa Asela didalamnya.
Sepuluh detik berlalu dalam sekejab, cahaya keemasan membawa sosok pemuda rupawan berambut putih dengan ujung berwarna ungu diujung dengan balutan kain putih bersimpuh sambil menunduk ditanah.
Levi terkejut saat melihat sosok manusia Vermel. Pasalnya, Vermel cukup tak menyukai bentuk manusianya. Bentuk manusianya terlihat lemah, karena itu dia tak pernah mau berubah dan hanya sekali berubah dalam ratusan tahun.
"Ada apa?" tanya Levi pada Vermel.
"Ma-Maafkan saya tuan." Ujar Vermel.
Levi menyadari bahwa Vermel tak bisa mengatakan sesuatu tentang apa yang dilihatnya. Pemuda itu mendongak keatas dan mendapati Kalara mengulas senyuman padanya. Senyuman manis dengan mata yang tulus.
"Sampai bertemu lagi, kak~"
"Apa kita bisa bertemu lagi?" tanya Levi pada Kalara.
Kalara tersenyum kecil, "Jika kita ditakdirkan bertemu lagi, maka kita pasti akan bertemu lagi."
Setelah mengatakan itu, piringan hitam Kalara makin naik dan melesat pergi. Meninggalkan bangunan ditengah hutan itu. Levi menatap jejak langit yang berwarna biru.
"Maafkan saya tuan." Kata Vermel dengan tubuh yang sedikit bergetar.
Levi menatapnya sesaat, "Tidak apa. Ayo kembali."
Vermel yang mulai bisa menenangkan dirinya perlahan bercahaya dan menjadi seekor burung Phoenix kembali. Sayapnya dibentangkan dengan lebar sebelum Levi menaiki Vermel yang membawanya pergi dari sana dengan cepat.
"Jika itu takdir, kita akan bertemu lagi. " Batin Levi.
gak ketebak