Adnan dipertemukan kembali dengan Alina, gadis yang sama 6 tahun lalu. Satu kejadian membuat Alina bernadzar sesuatu. Dan Adnan adalah saksi hidup yang mendengarnya.
Rentetan kejadian demi kejadian seolah teratur sempurna untuk mengikat keduanya. Puzzle kehidupan Alina yang kelam dan penuh air mata mulai terkuak.
Dua hati dengan watak yang berbeda kini bersatu. Saling bertabrakan dan tak jarang beradu argumen.
Bagaimana kisahnya?
Apa mereka tetap bisa berjalan bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cietyameyzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah si kembar.
Jangan memandang rendah orang lain, jika dirimu saja belum bisa menjaga lisan. Sehingga, tanpa terasa banyak hati yang tersakiti.
💟💟💟
Seusai mengantarkan Alina, Adnan bergegas menuju rumah dua 'R'. Sebenarnya, saat di minimarket tadi Ia hanya singgah untuk membeli air minum. Tujuannya bukan duduk bersama Alina, melainkan untuk mengantarkan titipan bundanya ke orang tua si kembar.
Mobil Adnan meluncur kembali di jalanan. Ia tak ingin pulang terlalu larut malam. Cukup waktu 15 menit untuk sampai di depan rumah tantenya. Satpam rumah yang mengenali dirinya segera membuka pagar dan membiarkan Adnan masuk.
Mobil terparkir di depan, Adnan keluar dengan membawa satu bingkisan berisi kotak yang sedari tadi tersimpan di jok belakang. Langkahnya teratur ke arah pintu dan memecet bel. Tak berapa lama pintu terbuka, terpampanglah wajah Dika sembari tersenyum menyambut kedatangan sang keponakan.
"As-salamu'alaikum," ujar Adnan. Meraih tangan Dika dan mencium telapak tangannya.
"Wa'alaikum salam," jawab Dika.
"Maaf, Om. Aku kemalaman." Adnan sedikit menyesal.
Tak seperti Egi yang sedari kecil ia panggil Paman. Dika justru ia panggil dengan sebutan Om. Egi memang tak menyukai dirinya disebut Om. Entah apa alasannya? Adnan pun tak tahu. Ia hanya mengikuti jalan takdir yang sudah ada.
"Engga apa-apa. Ayo, masuk dulu," ajak Dika.
Adnan mengangguk, lalu tidak lupa memberikan bingkisan titipan sang Bunda. Di ruangan keluarga, ternyata Riki dan Riko masih bermain game. Kebiasaan keduanya sejak remaja dan sulit disingkirkan.
"Tuh, sepupumu masih ngulik sama ponsel," cetus Dika.
"Tantemu udah tidur duluan, lagi engga enak badan. Nanti, Om bilangin, kalau kamu datang ke sini. Makasih bingkisannya," sambung Dika.
"Iya, Om. Kata Bunda itu makanan kesukaan Tante sama Om. Maaf, katanya Bunda engga bisa jenguk Tante. Papa juga lagi engga enak badan di rumah," ungkap Adnan.
"Engga apa-apa." Seutas senyuman Dika perlihatkan. "Kalau gitu, Om pamit ke kamar dulu, ya. Takutnya tantemu butuh sesuatu."
Untuk kedua kalinya Adnan mengangguk tanda mengerti. Dika berjalan menjauh darinya, sedangkan Adnan bergabung dengan si kembar yang asyik berdua. Riki menyadari kehadiran Adnan, ia melirik sekilas pada sepupu sekaligus atasan di tempatnya bekerja.
"Nan, lo ngapain ke sini?" Mata Riki masih tak berniat menjauh dari layar ponsel.
"Sodara datang malah ditanya ngapain!" sungut Riko yang segera menghentikan permainannya dan menyimpan ponsel di meja depan.
Adnan berdecak, heran. "Kalian engga ada berubahnya. Umur udah 25 tahun, tapi hobi masih main game."
"Ya, daripada main cewek. Bisa digorok kita sama Mama," tukas Riki.
Riko memperhatikan Adnan. Lelaki yang usianya hanya beda satu tahun ini tampak dewasa dari mereka. Mungkin Adnan mengikuti jejak Paman Egi. Tumbuh jadi laki-laki bijak dan pandai menilai orang lain. Namun, untungnya tak sedingin paman mereka.
"Lo habis dari mana?" Riki seolah penasaran tentang kedatangan Adnan yang selarut ini. Biasanya lelaki itu, jika bertamu tidak lebih dari jam 21.00 WIB.
"Dari rumah," sahut Adnan singkat.
"Gue tau lo dari rumah, kalau dari hutan mah pasti lo orang hutan. Maksudnya, kagak biasanya lo namu selarut gini," jelas Riki.
Riko ikut menyimak, ia pun sama penasaran. Adnan tampak gugup, haruskah ia mengatakan yang sebenarnya? Lalu kenapa ia merasa gugup seperti ini? Bukankah ini hal yang biasa.
"Lo pacaran, ya?" tebak Riki. "Gue bilangin Om Rendy biar cepet dikawinin."
Riko memukul punggung Riki sedikit kencang. "Nikah, Bambang. Maen kawin aja. Emang si Adnan binatang."
Riki mendengus, kesal. Kembarannya ini selalu seenaknya saja memukul tubuh orang lain. "Sakit, Maemunah. Gue kasih tau Lia nih, biar lo diceramahin. Calon suaminya dipukul sembarangan."
"Calon suami apaan? Suruh ngelamar aja, entar-entar dulu. Keburu diembat kucing tuh si Lia!" ledek Riko.
"Wah, lo pikir Bebeb Gue ikan asin! Pakai diembat kucing segala!" ketus Riko.
"Nan, lo beneran abis pacaran?" Lagi-lagi pertanyaan itu diajukan. Bukan dari Riki, melainkan Riko.
"Engga!" tegas Adnan. "Engga ada kata pacaran dalam kamus hidup gue."
"Kamus lo ada kata nikah juga engga, Nan?" sela Riki.
"Jelas ada. Itu paling depan," sahut Adnan cepat.
Ketiga sahabat itu mengobrol sampai pukul 24.00 WIB. Banyak hal yang mereka bicarakan baik perihal pekerjaan ataupun tentang kehidupan masa depan yang belum pasti. Adnan pamit pulang, Riki yang sudah ngantuk kabur duluan ke kamarnya. Sedangkan Riko mengantar sepupunya sampai depan pintu.
"Nan, Gue tau Lo punya rahasia. Tapi, apa pun itu. Gue harap, bukan sesuatu yang buruk," cakap Riko saat Adnan hendak melangkah menuju mobil.
"Jangan suka nyimpan masalah sendiri. Kita bukan hanya sahabat. Tapi, juga sodara. Masalah Lo, masalah Gue dan Riki juga," lanjut Riko.
Adnan diam mematung. Daripada Riki, Riko memang yang paling peka. Ia bahkan sering tahu, jika ada keganjalan dari Adnan.
"In Syaa Allah, gue engga punya masalah," jawab Adnan.
"Nan, gue pikir, lo butuh sekertaris. Gue sama Riki engga bisa, karena udah punya tanggung jawab sendiri. Sebagai Direktur Utama, lo wajib punya sekertaris lagi setelah pensiunnya Pak Wahid. Lo mau repot sendiri selamanya?"
Benar kata Riko. Ia tak mungkin terus mengandalkan kemampuannya sendiri. Terkadang, saat pekerjaan menumpuk. Ia sering lembur sampai larut malam. Dan bundanya selalu mengingatkan akan hal tersebut.
"Kalau gitu, besok lo cariin gue sekertaris. Jangan cewek, gue agak risih diikutin ke mana-mana sama lawan jenis. Bukan gue nolak kehadiran mereka, cuma--." Perkataan Adnan terpotong.
"Gue paham. Kenapa lo engga nyari sekertaris sekalian dijadiin istri aja?" Riko menahan tawa di belakang.
"Engga ada hubungannya!" tukas Adnan. "Udah malam, Gue pamit pulang dulu. As-salamu'alaikum." Adnan melangkah cepat dan masuk ke mobil.
"Wa'alaikum salam," sahut Riko.
Mobil Adnan semakin menjauh dari rumah si kembar. Ia kembali mengukur jalanan untuk ketiga kalinya malam ini. Perkataan Riko terakhir terus teringang di telinga. Itu hal konyol baginya. Mana mungkin ia mencari sekertaris yang sekaligus menjadi istri di rumah? Bagaimana jadinya selama di kantor? Bisakah ia membedakan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan? Membayangkannya saja sudah ruwet.
Tiba-tiba bayangan Alina menari-nari di mata. Penampilannya yang arogan, keras kepala. Namun, bisa menjadi penurut saat ketakutan melanda terus mengusik syaraf otak Adnan. Gadis yang tak ia ketahui asal usul dan riwayat kehidupannya itu perlahan menerobos masuk ke sanubari terdalam.
Adnan sekuat tenaga menolak, akan tetapi wajah wanita itu takingin pergi. Seolah ia dan gadis tersebut memiliki ikatan batin yang kuat. Sehingga, Adnan selalu merasakan sebuah perasaan sakit saat bersamanya. Mengapa begitu? Ia pun tak tahu. Hanya garis takdir Allah-lah yang akan menjawab semuanya.
...****************...
BERSAMBUNG~~~
Jangan lupa kasih aku apa?
💐Klik tombol like💐
📝Tulis komentarmu📝
🌾Vote aku seikhlasnya🌾