Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teka Teki
Sudah hampir 1 minggu Alya dan Siska bergelut dikantor Dimas, walau status magang tetapi Mereka melakukan semua tugas dengan baik seperti layaknya karyawan lain. Teman satu ruanganpun sangat senang dengan keberadaan Mereka disana.
"Siska dipanggil keruangan Pak Heru sekarang ya." Ucap Berta senior dalam ruangannya.
"Baik mbak Berta." Jawab Siska segera menuju ruangan Pak Heru diujung lorong dekat pintu masuk.
Tok .. Tok .. Tok ..
"Masuk." Jawab Heru.
"Ada keperluan apa Bapak memanggil Saya." Ucap Siska yang berdiri didekat pintu.
"Silahkan duduk Siska. Ada yang mau Saya infokan."
Siskapun duduk di kursi depan Pak Heru.
"Siska bisa tolong buatkan kebutuhan launching produk ini." Heru memberikan dokumen. "Berapa hari lagi akan Kami bawa ke kantor P di Jogja." Jelasnya.
"Baik Pak, saya akan coba buatkan." Jawab Siska menerima Dokumen yang diberikan.
"Oke. Kamu bisa kembali lagi ke meja Mu." Titah Heru.
"Baik Pak, Saya permisi." Pamit Siska.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Dilain tempat Alya sedang serius menatap layar komputer membuat design produk. Tiba - Tiba suara getaran dari ponselnya mengalihkan pandangan.
Ddrtttttt ...
(Siapa ya! private number. Gumamnya)
📞 Alya
"Assalamualaikum, dengan Siapa ini?"
📞 +628137878....
"Al siang ini ada waktu? Kita bisa makan siang diluar?"
Bukannya menjawab justru lelaki disebrang telfon sana menghujani pertanyaan kepada Alya.
📞 Alya
"Maaf ini dengan Siapa?" Nada bicara Alya sedikit meninggi.
📞 +628137878....
"Oh ya maaf, lupa memperkenalkan diri. Ini Saya Dimas."
Deg !!!
Tiba-tiba Alya terdiam, mengatur nafas yang mulai tidak beraturan.
(Ada apa ya kak Dimas mengajak keluar. Apa masalah di Jogja masih ingin dibahas. Batinnya).
📞 Alya
"Bisa kak" . Lolos saja ucapan Alya mengiyakan ajakan Dimas. Upss .. ia menutup mulutnya dengan telapak tangan.
📞 +628137878....
"Ok Al, jam 12 Saya tunggu di lobby."
📞 Alya
"Eh jangan lobby Kak, Saya enggak enak dengan karyawan lain. tunggu di halte sesudah kantor saja Kak."
📞 +628137878....
"Hmm.. Ya sudah Saya tunggu di halte."
Dimas menutup sambungan telfon, terlihat senyuman tipis diwajah orientalnya. Ia kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda, menyelesaikan segera mungkin. Karena siang ini Ia akan keluar bersama Alya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, Alya segera meraih tas ransel dan berlalu meninggalkan ruangan tanpa memperdulikan Siska yang dilewati begitu saja. Siskapun menatap aneh kepergian temannya itu.
(Syukurlah belum ada di halte. Kalau sudah duluan datang tidak enak kan sampai terlihat karyawan yang keluar melihat mobil atasannya menunggu di halte. Gumam Alya.).
Ia berjalan ditrotoar dan duduk dibangku tunggu halte. beberapa menit kemudian mobil sport hitam sudah menepi didepan halte. Kaca mobil dibuka, terlihat Dimas tersenyum kearahnya dan menganggukan kepala untuk meminta Alya masuk kemobilnya.
Brummmm ...
Mobil melesat di jalan Sudirman menuju Kota. Disepanjang jalan Alya hanya terdiam mengikuti kepergian arah mobil Dimas yang membawanya entah kemana.
"Sudah sampai Al, ayok turun." Ucap Dimas.
Alya membuka safety belt dan membuka pintu, pandangannya mengedari tempat dimana Mereka berhenti sekarang. Saat ini mereka berada diparkiran gedung Fatahilla, Alya mengekori langkah Dimas menuju cafe tempo dulu. Siang itu cukup ramai dipadati pengunjung, Dimas memilih bangku yang sudah dipesan sebelumnya.
"Mau pesan apa Al?" Tanya Dimas.
"Aku pesen nasi goreng seafood dan es lemon tea kak." Jawabnya.
"Pesankan yang sesuai wanita ini minta, dan Saya buatkan Hot coffe latte." Ucap Dimas.
"Loh kak Dimas enggak pesan makan?" Tanya Alya heran.
"Saya mengajak makan siang tidak harus pesan makan juga kan! cukup melihat Kamu makan saja." Jelas Dimas.
Alya hanya tersenyum kecut dan mengalihkan pandangannya keluar jendela, karna tatapan Dimas sungguh membuatnya tidak karuan.
Selesai Alya mengahabiskan makanan, Mereka kembali menuju kantor. Dibenak Alya terheran dengan ajakan Dimas tiba-tiba dan tidak ada hal penting yang dibicarakan. Sore hari lepas magrib, Alya baru tiba dirumah orang tuanya.
"Assalamualaikum." Ucap Alya dari luar.
"Waalaikumsalam." Jawab orang dari dalam.
"Alya sini nak sebentar, duduk dekat ayah bunda." Ajak Hasa.
"Iya yah." Jawab Alya.
"Maaf ya nak baru sampai sudah diminta untuk ngobrol. Ayah Bunda mau minta tolong sama Kamu sabtu ini kosongkan waktu ya, ada teman Ayah mau main kerumah. Kamu bantu Bunda siapkan persiapan makan-makan dirumah Kita. Karna anak dari salah satu teman Ayah ini akan dikenalkan ke Kakak Mu Tyas." Jelas Alya.
"Baiklah yah, Alya kosongkan waktu dihari Sabtu nanti. Sekarang Alya kekamar dulu ya mau bersih-bersih. Udah harum tak sedap hehe." Alya berjalan masuk kedalam kamarnya.
Ayah hanya tersenyum melihat tingkah anak keduanya, dari kecil Alya selalu terlihat riang dan penurut. Sedangkan sifat Tyas lebih pendiam.
"Lihatlah anak - anak Kita sudah besar ya Rahma?" Tanya Hasan lalu menoleh kearah istrinya.
"Iya Mas, tak terasa diantara Mereka akan diboyong oleh Lelaki yang baru dikenalnya nanti. Walau begitu Kita sebagai orang tua harus ikhlas, karena setiap manusia dewasa yang sudah cukup lahir batin akan melanjutkan ibadahnya sebagai seorang muslimah. Insya Allah Aku sudah belajar ikhlas." Jelas Rahma yang begitu tegar.
Ddrtttttt ..
Suara getaran ponsel Alya diatas nakas, segera Ia meraihnya.
📞 Alya
"Assalamualaikum sis."
📞 Siska
"Waalaikumsalam Al. kamu tadi kenapa makan siang buru-buru keluar tanpa pami? dicuekin pula Aku nih." Cerocos Siska disebrang sambungan telfon disana.
📞 Alya
"Maaf ya Sis ada urusan mendadak tadi."
Alya berbohong dengan perkataannya. Ia tidak ingin Siska salah paham terhadap dirinya.
📞 Siska
"Aku kira ada hal serius apa. Ya sudah Aku tutup telfonnya. Sampai ketemu besok Al. Assalamualaikum."
📞 Alya
"Sampai ketemu besok Sis. Waalaikumsalam."
Setelah menutup telfon dari Siska, dilihatnya ada pesan masuk. Ketika dibuka ternyata itu dari Raka.
📱 Raka
Al sabtu ini ikut Aku buat sketsa di Bandung bisa?
📱 Alya
Maaf Ka enggak bisa, sudah ada janji lebih dulu sama Ayah Bunda.
📱 Raka
Baiklah Al, maaf ya ganggu waktu istirahatmu. Semoga magangnya lancar. Semangat 👍.
📱 Alya
Makasih Ka.
Alya meletakkan ponselnya kembali diatas nakas, Ia merebahkan tubuhnya sambil memandang langit kamar yang redup. Fikirannya dihantui oleh banyangan Dimas.
(Astagfirullah .. Aku tidak boleh memikirkan lawan jenis yang bukan muhrim Ku. Batin Alya).
Tak lama Alyapun tertidur menuju alam bawa sadar, dengan penghantar suara jangkrik diluar rumah. Suasana tenang nan asri menjadi damai bagi Siapa saja yang berkunjung ataupun menginap dikediaman Hasan. Seluruh anggota keluarga sudah terlelap tak terkecuali kelinci peliharaan keluarga Mereka yang dengan nyenyaknya tidur didalam kandang dibawah pohon cerry. Tak lama kota Bogor diguyur hujan, menggantikan suara jangkrik dengan sautan suara kodok yang berlari dalam guyuran hujan malam itu.
.
.
.
Renata nya Thor