Calista berasal dari keluarga yang mengalami dinamika kehidupan seperti kebanyakan orang. Papanya yang sabar dan berhati hangat, membuat keluarga Calista dapat bertahan. Tetapi banyak orang yang memanfaatkan kebaikan hatinya untuk mendapatkan keuntungan dengan menculasinya. Beruntung datang pertolongan dari sahabatnya, Tuan Lucas, sang konglomerat yang menyelamatkan tetapi harus ditukar dengan kebebasan Calista. Pernikahan mereka yang diawali dengan drama dan diikuti drama-drama berikutnya, membuat Calista semakin dewasa. Tuan Lucas mendidiknya menjadi seorang wanita yang ulung dalam berbisnis dengan mental baja dan percaya diri.
Rasa cinta muncul karena ketulusan Calista mengabdikan dirinya untuk suaminya walaupun ia tak mencintainya. Masalah muncul ketika ternyata Anak dari suaminya adalah sahabatnya di sekolah. Mantan isteri Tuan Lucas dan saingan bisnisnya menguji ketahanan mereka menghadapi masalah. Akankah Cinta Sang Mamah Muda dapat bertahan dan berakhir dengan indah? Langsung saja disimak. Jangan lupa tinggalkan jejak dalam karya perdana Winaka ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Papa dan Lintang menunggui Calista disisi tempat tidur. Mama terpaksa ke butik karena ada beberapa ibu pejabat yang akan memesan gaun untuk pernikahan salah satu koleganya. Walaupun hatinya masih cemas dengan keadaan Calista, tapi papa meyakinkannya untuk tetap berangkat ke butik.
Dokter Fadli, yang datang memeriksa Calista, mengatakan bahwa gadis itu mengalami depresi dan kemungkinan beberapa hari kurang istirahat dan makan yang tidak teratur. Tubuhnya lemah sehingga tidak kuat menahan goncangan batin. Maka tubuh Calista kini sedang merecovery tubuhnya, jadi untuk sementara tidak ada yang perlu dikuatirkan.
Menjelang sore, Calista tersadar dan melihat papanya tengah menggenggam tangannya erat. sedangkan disisi kirinya lintang tertidur dengan kepala berada dekat dibahunya.
"Cal ingin minum?" tanya papa melihat pada Calista dengan tersenyum. Calista mengangguk pelan. Dengan sabar papa sedikit menegakkan kepala putrinya dan membantunya minum.
"Cal makan, ya?" Kali ini Calista menggeleng.
"Kata dokter Fadli, Cal harus banyak makan biar tidak lemas. Cal sayang papa kan?" Calista hanya memandang papanya dengan sendu.
"Mau ya, papa suapin," bujuk papa lembut. Mau tak mau Cal akhirnya mengangguk. Tidak tega rasanya jika membiarkan papanya khawatir atas dirinya.
Papa mengambil nasi dan sop yang tadi dibuatkan oleh mama. Calista sangat suka dengan sop ayam jamur. Dengan bersemangat papa menyuapkan makanan itu sambil mengajak Calista mengobrol. Tidak disadari Calista, akal-akalan papanya berhasil membuatnya menghabiskan semangkuk sop dan sepiring kecil nasi.
"Cal, jika memang tidak ingin menikah dengan Tuan Lucas, papa tidak akan menerima bantuan dia. Lebih baik kita jual rumah ini dan butik mama untuk menutupi semua hutang kita. Papa akan mencari pekerjaan atau kita berdagang kecil-kecilan untuk hidup kita sehari-hari. Papa akan lakukan apapun asal Cal tidak menderita," ujar papa lembut dan terlihat airmata menitik di pipinya. Calista mendengar kata demi kata ucapan papanya. Terlihat kesungguhan dan kebulatan tekad diwajah tampan papa.
Calista terharu dan memeluk papanya sambil berkali-kali mengucapkan terimakasih. Lembut papa mengusap rambut halus putri yang berada dalam pelukannya itu.
"Kenapa bertangis-tangisan, sih?" tanya Lintang yang baru saja terbangun, "aku juga mau dipeluk dong"
Akhirnya mereka bertiga berpelukan untuk beberapa lama. Calista lega mendengar ucapan papanya. Harga dirinya telah kembali dan perasaan tergadai seakan tak bersisa lagi.
"Pa, karena putri tidurnya sudah terbangun, aku kembali ke kamar, yah, " pamit Lintang, yang segera melesat keluar setelah anggukan papanya. Calista diminta papa untuk tidur kembali.
Menjelang pukul 10 malam, Mama pulang dan segera menghampiri papa dan Calista di kamar. Mama lega mendengar penjelasan papa tentang keadaan Calista setelah diperiksa dokter.
"Ma, sebaiknya kita batalkan saja semua perjanjian kita dengan Tuan Lucas. Papa ga tega jika sampai mengorbankan kebahagiaan Calista. Bersyukur Calista tidak sampai bunuh diri karena depresinya. Biarlah kita kehilangan semuanya... asal jangan putri kita," Papa menangis dalam pelukan Mama, yang tiba-tiba kehilangan kata-kata. Lalu keduanya menangis bersama. Tetapi mama menangis karena masih belum memahami sepenuhnya maksud perkataan terakhir suaminya.
"Pa, maksud papa apa, sih?" Papa melepaskan pelukannya dan memandang mama.
"Lah, mama tadi menangis karena apa?"
"Karena mama ngga ngerti dan ketularan papa!" kata mama polos sehingga membuat papa gemas menoyor lembut kening mama.
"Kita jual rumah dan butik. Semoga bisa melunasi pinjaman kita. Nanti papa akan bicara dengan Tuan Lucas untuk membatalkan perjanjian kita. Biarkan dia mengambil semuanya, asal jangan kebahagiaan putri kita. Mama setuju, kan? " jelas papa. Mama mengangguk berkali-kali tetapi kemudian menangis lebih keras dari tangisan papa.
"Mama kali ini menangis karena apa?" tanya papa kaget dengan tangisan mama.
"Ngga apa-apa, Pa. Biarin mama nangis dulu. Karena butik itu mama rintis dari nol. Karya mama bahkan juga disukai di berbagai negara. Karena beberapa nyonya duta besar adalah langganan mama. Ngga apa-apa kan kalau mama nangisin semua itu?" kata mama dengan isakan tersisa.
Papa memeluk mama dan membiarkannya menuntaskan kesedihannya.
lanjutkan terus karyanya...
keren bngt ceritanya.. singkat.. gak smp ratusan bab.. tp terpatri di hati... thanks for all dearest...
🙏🥰💖👍💪👍💖🥰🙏