Saat kamu datang, hatiku masih penuh bertahta nama Carissa. Gadis cantik impian setiap pria, punya karir mandiri dan pintar.
Awalnya aku melihatmu sebagai gadis yang urakan, pecicilan, cerewet dan sangat menyebalkan dan bukan kriteria ku.
Namun..kisah kita membawaku pada jiwa yang lain. Kamu adalah wanita yang berbeda dari apa yang aku lihat. Kamu hanya bersembunyi pada kesakitan dan keluguan diri.
Kamu dan Carissa sungguh sangat berbeda. Perlahan nama Carissa menghilang dan berganti dengan namamu. Teriring doa terucap namamu. Dalam detak nadiku, ada dirimu
Love by Lettu Arben and Nadira Anjani.
Bersama dalam cinta Abrian dan Ariela ( Lilan )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Rumah baru.
"Sudah lama bang?" tanya Dira saat baru menutup pintu mobilnya.
"Nggak juga. Abang juga baru pulang"
"Besok benar kita mau masuk ke asrama?" tanya Dira memastikan.
"Iya.."
"Wah, Dira bisa sombong nih jadi istri Abang. Abang nggak takut Dira permalukan Abang?" kata Dira.
"Terserah kamu, kalau ada apa-apa Abang tinggal tarik kamu ke kamar" jawab Arben santai sambil memperhatikan jalanan.
"Abang mau pukul Dira?" tanyanya terkejut.
"Lebih dari itu sayang" senyumnya menyeringai licik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Tangan Arben mengarah ke wajah Dira. Istri Arben itu langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia mengira Arben akan memukulnya. Arben tersenyum geli melihat reaksi istrinya kemudian ia membelai lembut rambut istrinya.
Dira menurunkan tangannya dan kembali ke tingkahnya semula.
"Kalau Abang pukul Dira.. pasti Dira balas" ucapnya ketus.
"Oya??? Abang tunggu balasannya" kata Arben sambil mencubit pelan dagu Dira.
***
Arben dan Dira baru membeli beberapa barang dan bahan untuk mereka besok. Dira melihat ponselnya dan wajahnya terlihat sedih.
"Kenapa?"
"Papa dan mama keluar kota, di rumah jadi sepi" kata Dira.
"Ada Abang"
"Dira mau lihat rumah asrama aja bang, mama papa juga nggak di rumah. Kalau sama bibi nggak seru"
"Siap.." Arben pun melajukan mobilnya menuju asrama.
#
"Selamat sore!!!!" Sampai di gerbang Ksatrian para anggota memberi hormat pada Danki B.
"Sore.. Saya sudah masuk bawa istri ya!" ijin Arben sambil menyalakan lampu depan mobil karena hari sudah menjelang magrib.
"Siap!!!"
#
Dira melihat rumah itu sudah lengkap dengan perabotan. Ada beberapa koper dan rangsel milik Arben. Tak lupa foto pernikahan mereka sudah terpajang.
"Sholat dulu dek!! Selesai sholat Abang bantu benahi semua barang" kata Arben.
"Iya bang"
#
Arben dan Dira selesai sholat magrib dan mereka membereskan barang mereka hingga tak terasa waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Abang mandi saja duluan. Dira mau tata barang sedikit lagi" kata Dira. Arben pun beranjak dari tempatnya dan segera mandi.
Baru beberapa saat Arben mandi, lampu tiba-tiba saja padam. Dira yang memang takut gelap menjadi panik dan ketakutan.
"Bang...Abang!!!!!!" Dira menggedor pintu kamar mandi dengan kencang.
"Apa sich dek??" jawab Arben masih memakai sabun di bawah guyuran shower.
"Abaaangg.." teriak Dira sekali lagi.
Arben pun membuka slot kunci kamar mandi, Baru setengah terbuka pintunya, Dira sudah menubruk Arben yang jelas masih basah dan tidak memakai apapun disana.
"Takut bang..!!!" ucapnya berjingkat-jingkat belum menyadari kelakuannya. Secara refleks Arben memeluk Dira dan menariknya di bawah shower.
"Mandi sekalian ya!" ajak Arben.
"Iya.. " jawabnya dengan nada pelan tetap belum menyadari apa yang ia lakukan.
Tangan Arben membuka kancing baju Dira, lalu melepasnya hingga berjatuhan di lantai. Arben mengarahkan tangan Dira untuk merangkul lehernya hingga Dira berjinjit.
Degub jantung Arben tak beraturan saat dada mereka saling menyentuh. Arben mengecilkan pancaran shower nya agar lebih halus. Tubuhnya menegang, pikiran dan hatinya beradu. Ia mengingat saat berdua dengan Carissa yang membuatnya begitu rindu. Tapi kali ini rasanya berbeda. Entah mengapa ia begitu tergoda, ingin sekali rasanya merasakan kehangatan istrinya.
Bibir Arben m*****t bibir Dira, istrinya itu melawan, tentu saja Arben tak melepasnya begitu saja. Tangannya yang nakal mulai mencari yang diinginkan. Sekali lagi Dira menolak.
"Jangan pegang, jangan senggol bang!" tolak Dira.
"Kenapa sayang??"
"Sebelum umur 21 tahun Dira nggak boleh dekat sama laki-laki"
"Dira sayang.. itu sebelum kamu menikah, sekarang kamu sudah nikah sama Abang. Masa nggak boleh?" kata Arben dengan kesal.
"Nggak boleh. Kata papa bisa bengkak tiba-tiba. Lagi pula Abang punya pacar, Dinda juga" ucapnya.
"Cckk... Ada aja lah alasan mu ini" Arben menyambar lagi bibir Dira.
Tak lama lampu menyala dengan terang.
hwaaaaaaa... Abaaaaaaaanngg.....!!!!!!!
Dira langsung menunduk menutupi tubuhnya. Ia ketakutan saat melihat Arben begitu 'gagah' dihadapannya.
#
Dira terisak di dalam kamar. Arben mendekati istrinya.
"Abang minta maaf sudah membuatmu takut, tapi kamu sendiri lho yang nerobos masuk waktu Abang lagi mandi"
"Kenapa Abang nggak pakai baju?" tanya Dira dengan kesal.
"Abang khan mandi. Masa pakai baju? Kamu aja yang nggak peka" jawab Arben. Dira terdiam menyadari kalau memang dia yang salah tapi gengsi untuk mengakui.
"Abang yang salah, Abang juga cium dan peluk Dira"
Arben berdehem bingung harus darimana mulai bertanya atau menjelaskan semua ini.
"Kamu pura-pura atau sungguh nggak tau dek?" Arben menatap tajam mata Dira. Dira duduk dan menghapus air matanya.
"Tentang apa bang?"
"Kalau kamu nggak pura-pura, kenapa kamu bisa di club malam sama Desta?" tanya Arben dengan sabar.
"Minum bir bang" jawab jujur Dira.
"Kenapa kamu minum itu?"
"Kalau sudah dewasa harus minum bir, bisa merokok, bisa goyang di diskotik"
"Astagfirullah hal adzim" batin Arben seakan menjerit. Dadanya bagai terhantam, entah mengapa hati Arben terasa sangat sakit sekali.
"Papa tau??"
"Nggak lah, Dira khan nggak boleh pergi sama laki-laki kecuali om ajudan yang diminta papa menemani dan antar jemput bang" kata Dira.
"Hmm.. dek, apa Desta pernah berbuat seperti yang Abang lakukan tadi?" tanya Arben hati-hati.
"R A H A S I A" ucapnya angkuh membuat Arben menjadi gusar.
Sungguh Arben sangat kesal mendengar pengakuan istrinya, tapi mau bagaimana lagi! Perkenalannya dengan Dira bahkan belum seumur jagung.
"Abang cemburu ya?" tanya Arben.
"Nggak, buat apa cemburu? Mau di lihat dari sisi manapun tetap Abang yang menang. Abang suamimu dan Abang yang berhak atas diri kamu" jawab Arben.
Dira bangun dari duduknya dan berjalan keluar kamar. Mata Arben tak berkedip melihat Dira memakai hemnya yang nampak kebesaran. Nampak lekuk tubuh istrinya berbayang di dalamnya.
"Uugghh.. nggak kuat nih lama-lama" ucapnya sambil mengusap dadanya berkali-kali.
#
"Cari apa?" tanya Arben yang melihat Dira sedang merazia isi lemari es.
"Dira lapar bang, Abang nggak punya bahan makanan ya"
"Ya Allah dek, iya Abang nggak punya bahan makanan. Abang khan tidur di Mess, nggak disini"
"Kita keluar cari makan yuk bang!!" rengek Dira.
"Dengan pakaian seperti itu?" tanya Arben.
"Memang kenapa?" tanya Dira.
"Nggak usah mancing perkara. Kamu mau Abang tumbling di kamar????"
.
.
.
semangat Thor bkin kita jedag jedug trus 💪