follow Ig 👉 dindin_812
New Adult romance
WARNING!!! Sebelum baca siapkan hati, karena dijamin bakal kesel, baper, tegang dan lain lain.
Setting di London.
Jovanka adalah seorang gadis manja, ia memiliki paman bernama Jody yang begitu sangat menyayangi dirinya sejak kecil. Entah hanya sebuah perasaan sayang terlalu besar atau apa, membuat Jovanka sering merasa cemburu jika sang paman dekat dengan wanita lain.
Hingga suatu ketika karena akal bulus seseorang, membuat Jovanka dan Jody mengalami tragedi satu malam. Jovanka yang tidak ingin Jody merasa bersalah pun memilih pergi, tahu jika tidak mungkin baginya bisa bersama adik sang mamah, meski bunga-bunga cinta tumbuh di hatinya.
Namun, siapa sangka dibalik itu semua, Jovanka tidak tahu kalau Jody ternyata bukanlah adik kandung sang mamah. Lalu bagaimana kisah mereka selanjutnya? Baca selengkapnya di sini.
Pict from Pinterest editing by Din Din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6- Kabur bagai dejavu
Jovanka memasang wajah cemberut, sikunya ia gunakan untuk bertumpu di meja dan telapak tangannya ia gunakan untuk menyangga dagunya. Jovanka terus memperhatikan pamannya yang sedang memasak, entah kenapa lengkungan muncul perlahan di bibirnya.
"Siap!" ucap Jody yang tengah menuangkan nasi goreng ke atas piring.
Mendengar ucapan Jody, Jovanka buru-buru menghilangkan lengkungan di bibirnya, ia kemudian memasang wajah datar.
"Ayo makan!" pinta Jody yang meletakkan sepiring nasi goreng plus telur mata sapi ke meja di hadapan Jovanka.
Jovanka hanya memandang masakan Jody, meski ia merasa tergoda dengan aroma nasi goreng itu, namun ia mencoba menahannya karena gengsinya.
Jody menarik kursi disebelah Jovanka, ia kemudian duduk disana.
"Kenapa tidak di makan? Bukankah kamu lapar?" tanya Jody yang heran karena Jovanka sama sekali tidak menyentuh makanan yang ia buat.
"Hump! Siapa yang lapar!" jawab Jovanka seraya melipat tangannya kedepan dada.
Meski bilang tidak tapi perutnya berkata lain, perutnya terus bernyanyi hingga membuat Jody ingin tertawa.
"Yakin tidak lapar! Ya sudah, aku saja yang makan," kata Jody.
Jody menarik piring berisi nasi goreng yang ada di hadapan Jovanka, kemudian ia menyendok nasi itu meniup serta memakannya.
"Hmmm, ternyata masakanku enak juga ya," Jody memuji diri sendiri.
Jovanka terlihat kesal, gadis itu menggelembungkan pipinya, ia tidak menyangka pamannya itu tidak mencoba merayunya tapi malah memakan makanan yang seharusnya untuknya.
"Buka mulutmu!" pinta Jody.
Ia siap menyuapi Jovanka, satu sendok nasi sudah siap menghampiri bibir mungil gadis itu. Jovanka masih menjaga gengsinya, namun ia juga kelaparan, apalagi setelah mencium aroma masakan Jody membuat perutnya semakin bernyanyi.
Dengan cepat Jovanka melahap suapan Jody, namun secepat kilat ia juga mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Jody tampak tersenyum melihat tingkah Jovanka, ia menyendok lagi nasi dari piring kemudian menyuapi Jovanka lagi.
Tanpa terasa satu piring nasi goreng itu habis, tapi Jovanka masih tidak mau bicara. Jovanka berdiri dari kursinya hendak kembali ke kamarnya, namun Jody menarik tangannya agar duduk kembali di kursinya.
"Aku ngantuk!" ucap Jovanka terdengar malas.
"Jo! Bukannya Paman mau cepat-cepat pergi, tapi banyak pekerjaan yang harus Paman tangani," jelas Jody mencoba memberi pengertian pada Jovanka.
Jody memegang tangan Jovanka agar gadis itu tidak pergi dulu sebelum memaafkan dirinya.
"Pergi tinggal pergi, kenapa harus menjelaskannya padaku, aku juga tidak perduli," kata Jovanka ketus.
Gadis itu menarik tangannya dari genggaman Jody, kemudian melipatnya di depan dada.
"Yakin tidak perduli?" tanya Jody memastikan.
"Pergi saja! Tidak kembali juga tidak apa-apa," jawab Jovanka.
Gadis itu langsung berdiri dan berlari menuju kamarnya. Jody hanya bisa menghela nafas tidak mengerti kenapa Jovanka sampai semarah itu padanya.
***
Keesokan harinya Jody sudah siap untuk berangkat, ia ingin berpamitan dengan Jovanka namun gadis itu tidak membukakan pintu ketika jody mengetuk pintu itu berulang kali.
"Jova belum mau membuka pintu?" tanya Michelle pada Jody yang masih berdiri di depan pintu Jovanka.
Jody hanya menganggukkan kepalanya, ia sedikit merasa bersalah pada Jovanka.
"Ya sudah, nanti masalah Jovanka biar kakak yang bicara dengannya, kamu segera berangkat saja kalau tidak kamu akan ketinggalan pesawat," kata Michelle mengingatkan.
"Baik," Jody mengiyakan.
Dengan langkah sedikit berat Jody pun pergi meninggalkan pintu kamar Jovanka, padahal dia berharap bisa melihat gadis kesayangannya itu sebelum pergi.
***
Jody sudah sampai di bandara dan sudah selesai Check in, dengan menenteng tas kerjanya Jody masuk ke dalam pesawat, ia mencari kursi penumpangnya. Begitu menemukan kursinya ternyata dia memiliki teman duduk, Jody tidak terlalu memperhatikan, ia hendak menaruh tasnya di bagasi pesawat, hingga ia melihat sebuah tas yang tampak tidak asing baginya.
Jody menatap gadis yang menjadi teman duduknya itu, gadis aneh yang memakai kacamata hitam dan masker menutupi sebagian wajahnya. Merasa mengenali gadis itu, Jody membuka paksa kacamata dan masker yang di kenakan gadis itu.
Dengan perasaan tidak percaya serta hampir berteriak Jody menggosok keningnya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Jody.
"Hai, Paman!" sapa Jovanka seraya menyeringai ke arah Jody.
"Astaga, Jo! apa yang kamu lakukan?" tanya Jody yang masih tidak percaya jika Jovanka ada di dalam pesawat.
"Apalagi! Aku mau ke London dan ikut bekerja di perusahaan milik Mama," jawab Jovanka percaya diri.
"Tidak! Kau harus pulang,"tolak Jody.
Jovanka tidak percaya jika pamannya menyuruhnya pulang, Jody meraih tangan Jovanka bermaksud mengajaknya turun, namun sepertinya sudah terlambat, para pramugari sudah menutup pintu kabin pesawat serta mereka meminta para penumpang agar berada di kursi mereka.
"Sudah terlambat," kata Jovanka yang senang.
Jovanka menarik tangannya dari Jody, kemudian memakai sabuk pengamannya. Jody pun terpaksa duduk dan mengikuti instruksi pramugari, ia menatap ke arah Jovanka yang tengan asyik menatap keluar jendela menikmati proses Take Off pesawat itu.
"Kau pergi tidak memberitahukan Mama mu, menurutmu bagaimana ekspresinya sekarang?" tanya Jody.
Mendengar pertanyaan Jody, Jovanka langsung menatap pamannya itu lalu kemudian dengan santai ia menjawab, "pasti Mama sekarang sedang berteriak."
***
Benar saja, Michelle terdengar berteriak kebingungan mendapati kamar putrinya kosong. Jimmy yang baru saja masuk setelah memasukkan mobilnya ke garasi pun berlari menemui istrinya yang berteriak dengan keras.
"Bibi, kamu tidak melihat Jovanka?" tanya Michelle pada pelayan rumahnya dengan panik.
"Tidak, Nyonya! Dari tadi pintu itu terkunci," jawab pelayan rumah Michelle.
Michelle tampak memegangi kepalanya karena merasa pusing dan bingung, ia baru kembali dari Bandara setelah mengantar Jody bersama Jimmy, Michelle bermaksud memberitahukan putrinya jika Jody sudah pergi dengan membuka kamar Jovanka menggunakan kunci cadangan, namun ia terkejut karena putrinya tidak ada dalam kamar.
"Ada apa?" tanya Jimmy yang baru sampai di depan kamar Jovanka.
"Lihat saja!" jawab Michelle.
Michelle terduduk lemas di kursi kamar Jovanka, tangannya tak henti memegangi kepalanya.
Jimmy yang menyadari Jovanka tidak ada disana pun menghela nafas panjang.
"Bukankah jelas ada keturunannya," goda Jimmy.
Michelle yang meras pusing pun semakin kesal mendengar pekataan Jimmy.
"Mau menyindirku?" tanya Michelle.
Jimmy tertawa terbahak-bahak, dulu Michelle kabur dari rumah demi mencari dirinya, kini putrinya yang ikut kabur entah kemana.
"Aku akan menghubungi Jody untuk memastikan apa Jovanka mengikutinya," kata Michelle yang kemudian berdiri serta meraih gagang telfon di kamar Jovanka.
Jimmy memeluk pinggang Michelle, kemudian mengambil gagang telfon yang sudah berada di tangan Michelle dan meletakkannya kembali.
"Percuma sayang, saat ini ponselnya pasti di matikan karena ia sedang dalam pesawat," jelas Jimmy.
"Aku lupa," sahut Michelle yang tersadar.
"Jika dia bersama Jody kita tidak perlu khawatir, biarkan dia bebas. Minta pada Jody untuk memberinya pekerjaan agar dia bisa mandiri," saran Jimmy
"Bagaimana jika dia tidak bersama Jody?" tanya Michelle yang masih ragu akan keberadaan putrinya.
"Aku yakin seratus persen dia mengikuti Jody," jawab Jimmy