Semua orang bilang Dokter Sebastian Wijaya itu suci tanpa cela—dingin, jaga jarak, pewaris Amerta Medika yang tak pernah tersentuh perempuan mana pun.
Hanya Amaya yang tahu: pria itu bersih selama tiga puluh tahun, dan semua "kotornya" cuma untuk dia.
Amaya terlahir kembali sebagai tokoh utama sebuah novel siksaan—perempuan yang ditakdirkan dihancurkan pelan-pelan oleh kakak angkatnya, Selena, lalu mati mengenaskan. Kali ini, ia menolak jadi domba yang disembelih. Wajahnya manis seperti anak baik-baik; isinya, penata ulang permainan yang tak kenal ampun.
Masalahnya: tunangan hasil perjodohan keluarga adalah Nathan, si adik. Tapi yang membuatnya jatuh justru **kakak iparnya sendiri**—dokter bedah yang seharusnya tak boleh ia sentuh.
Di depan umum: "Koh Sebas." Di balik pintu: milik satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6
Kartu Bebas Hukuman Milik Selena
Keesokan paginya, ruang keluarga rumah Halim terasa lebih dingin daripada pendingin udara yang menyala.
Amaya duduk di sofa dengan kaki kanan ditopang bantal. Perban di paha masih kering, tetapi nyeri berdenyut setiap kali ia mengubah posisi. Karina sudah menaruh obat, air hangat, dan sepiring roti di meja seolah takut putrinya menghilang jika ditinggal terlalu lama.
Selena duduk di sofa seberang setelah diperbolehkan pulang dari observasi. Bekas infus masih ditutup plester. Nathan mengantarnya sampai pintu, lalu pergi ke kantor setelah menerima telepon dari Swasti Bio.
Robert berdiri ketika Meihwa memasuki ruangan.
"Ma."
Perempuan tua itu datang dari kediamannya di bagian lain Pondok Indah begitu mendengar polisi membawa Bi Nah. Rambutnya disanggul rapi, tongkat giok berada di tangan kanan, dan langkahnya tidak cepat tetapi membuat seluruh ruangan otomatis diam.
Amaya menyapa, "Oma."
Selena bangkit setengah berdiri perlahan. "Oma."
"Duduk. Kalian berdua sedang terluka."
Meihwa menempati kursi tunggal di tengah ruangan. Pengacara keluarga yang datang bersamanya menyerahkan salinan catatan pemeriksaan awal kepada Robert.
"Bi Nah diperiksa semalam," kata Meihwa. "Dia mengaku menaruh bubuk kacang itu atas kemauan sendiri."
Robert membaca cepat. "Alasannya?"
"Dendam karena bonusnya dipotong Selena bulan lalu. Katanya dia mau membuat Selena sakit supaya keluarga panik, lalu menyalahkan dapur."
Selena menutup mulut. "Aku bahkan nggak ingat pernah memotong bonusnya."
"Administrasi rumah mencatat potongan itu," ujar pengacara. "Bi Nah juga menolak menyebut orang lain. Keterangan sementaranya konsisten."
Amaya memandangi wajah kakak angkatnya. Mata Selena merah, tetapi di balik kesedihan itu ada ketenangan yang baru kembali. Bi Nah memilih memikul semuanya.
"Tetap saja itu penganiayaan," kata Robert. "Dia tahu Selena alergi. Bisa saja akibatnya lebih parah."
"Tidak ada korban jiwa. Selena sudah pulang, Amaya juga stabil." Meihwa mengetukkan ujung tongkat ke lantai. "Bi Nah sudah belasan tahun ikut keluarga ini. Sekali khilaf, masa kita hancurkan seluruh hidupnya?"
"Dia juga membiarkan Amaya dituduh."
"Dan sekarang rekamannya sudah membuktikan Amaya tidak bersalah."
Robert menatap ibunya tidak percaya. "Jadi Mama ingin kasusnya dihentikan?"
"Kita tidak bisa memerintah polisi menutup perkara," pengacara menyela hati-hati. "Namun keluarga dapat menyatakan tidak menuntut ganti rugi tambahan dan bersedia menempuh mediasi. Keputusan pidana tetap pada penyidik."
"Lakukan itu," putus Meihwa. "Bi Nah dipecat dan tidak boleh kembali ke rumah mana pun milik Halim. Soal proses selanjutnya, biar hukum berjalan tanpa kita dorong untuk memperberat. Cukup sampai di sini."
Robert hendak membantah lagi. Karina menyentuh lengannya dan menggeleng pelan. Berdebat dengan Meihwa di depan anak-anak hanya akan mengubah satu masalah menjadi perang keluarga.
"Bagaimana dengan Maya?" Karina bertanya. "Dia yang paling dirugikan."
Meihwa memandang Amaya. "Kamu mau apa?"
Pertanyaan itu terdengar seperti tantangan, bukan perhatian.
Sejak tiba, Meihwa belum sekali pun menanyakan berapa jahitan di paha Amaya. Ia hanya memastikan Selena sudah bisa bernapas normal, memeriksa bekas infusnya, lalu membahas nama baik keluarga. Luka cucu kandungnya kembali menjadi catatan kaki dalam persoalan orang lain.
Amaya tidak lagi kecewa. Kekecewaan membutuhkan harapan, dan ia belum berniat memberikan kemewahan itu kepada siapa pun.
Amaya mengambil gelas air. "Kalau Bi Nah mengaku bertindak sendiri dan polisi belum menemukan bukti lain, aku ikut keputusan Oma."
Selena menatapnya, berusaha membaca jebakan.
Tidak ada.
Amaya memang tidak puas. Namun menyeret seorang asisten rumah tangga sampai berbulan-bulan hanya akan menghabiskan tenaga, sementara pemain utama masih duduk di depan matanya dengan tangan bersih.
Menjatuhkan Selena bukan pekerjaan semalam.
Ia punya kartu bebas hukuman yang dibentuk dari rasa bersalah Meihwa selama puluhan tahun.
Selviana, putri bungsu Meihwa, pernah meninggalkan keluarga demi menikah dengan Ferry Wibowo, laki-laki yang dianggap tidak sepadan. Meihwa menolak pernikahan itu, memutus hubungan, dan bersumpah tidak akan menerima putrinya kembali.
Selviana meninggal dalam kecelakaan bersama suaminya sebelum keduanya sempat berdamai.
Yang tersisa hanya Selena.
Meihwa mengangkat cucu luarnya ke rumah Halim, memberinya nama keluarga, pendidikan terbaik, dan seluruh kasih sayang yang tidak sempat ia berikan kepada Selviana. Setiap kesalahan Selena selalu bertabrakan dengan satu pikiran: jika ia menghukum anak itu, berarti ia sedang menyakiti putrinya untuk kedua kali.
Selena tumbuh memahami kelemahan tersebut.
Amaya juga memahaminya sekarang.
Karena itu, ia tidak akan terus menabrak dinding yang sama.
"Bagus kalau kamu bisa berpikir dewasa," kata Meihwa. "Keluarga tidak perlu memperbesar aib sendiri."
"Iya, Oma."
Amaya tersenyum patuh. Di dalam kepalanya, sasaran sudah berpindah.
Pusat R&D Bersama Adhikara dan Amerta akan segera memulai tahap baru. Dalam cerita lama, proyek itulah yang dipakai Selena untuk masuk ke lingkar inti perusahaan dan membangun citra sebagai penerus Halim.
Kasus Bi Nah boleh selesai setengah matang.
Proyek itu tidak akan jatuh ke tangan Selena.
Pertemuan keluarga berakhir menjelang siang. Robert masuk ke ruang kerja bersama pengacara. Karina membantu Amaya berdiri dan membawanya ke kamar untuk minum obat.
Selena tertinggal sendirian di ruang keluarga.
Di meja ada mangkuk buah. Ia mengambil sebuah jeruk, lalu menancapkan kuku ke kulitnya. Tekanannya begitu keras sampai membentuk deretan bulan sabit.
Delapan tahun ia selalu menang.
Kalah satu ronde tidak mengubah apa pun.
"Tunggu saja, Maya," bisiknya.