NovelToon NovelToon
Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Beda Dua Puluh Tahun, Om Bramantyo Memujaku Seorang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Beda Usia
Popularitas:103
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

Malam itu, dengan kaki telanjang menembus jalanan Jakarta, Sekar nekat menghentikan sebuah mobil mewah… dan takdirnya berubah selamanya.

**Bramantyo Adiwangsa.** Empat puluh tahun, konglomerat paling disegani di ibu kota. Pria yang dingin pada dunia—tapi memungut gadis malang itu, memberinya rumah, nama, dan perlindungan yang tak pernah ia punya. Bertahun-tahun Om Bram menjaganya seperti harta paling rapuh miliknya.

Sampai gadis kecil itu tumbuh menjadi wanita. Dan berani mengucap kalimat yang mengubah segalanya:

*"Om… aku mencintaimu."*

*"Ini salah,"* tolaknya dingin. *"Om dua puluh tahun lebih tua darimu."*

Tapi bagaimana kalau pria yang paling keras menolaknya… justru pria yang paling tak sanggup melepaskannya?

Di antara gunjingan tetangga, penghinaan karena ia "cuma gadis pungut", mantan yang kembali dari 'kematian' untuk membalas dendam, dan satu kecelakaan yang merenggut sesuatu dari tubuh Om Bram selamanya—cinta mereka harus melewati badai yang tak pernah mereka bayangkan.

Dulu, Om yang menyelamatkannya. Kini, giliran Sekar yang bersumpah menyembuhkan pria itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6

Latihan Silat

“Kamu perlu belajar melindungi diri sendiri supaya tidak ada yang berani macam-macam lagi.”

Aku menatap Om Bram. “Om mau mengajariku?”

“Bukan saya.” Dia mengambil ponsel. “Ada orang yang lebih tepat.”

Keesokan paginya, kami datang ke sebuah padepokan pencak silat. Lantainya dilapisi matras, dindingnya dipenuhi foto pertandingan, dan suara telapak kaki menghantam sasaran terdengar sampai halaman.

Seorang pria berbahu lebar menyambut Om Bram dengan jabat tangan.

“Pak Bara,” kata Om Bram, “ini Sekar.”

Pak Bara memperhatikan cara aku berdiri, bukan pakaian atau wajahku. “Pernah latihan?”

“Belum.”

“Kenapa mau belajar?”

Aku teringat tawa anak buah Bang Jagur dan kamera ponsel di tangan teman Reno.

“Supaya bisa lari kalau harus lari. Melawan kalau nggak bisa lari.”

Pak Bara mengangguk. “Jawaban yang benar.”

Latihan pertama tidak mengajariku menendang. Aku belajar jatuh tanpa membentur kepala, menjaga keseimbangan, dan melepaskan pergelangan tangan dari cengkeraman. Pak Bara mengulang gerakan yang sama sampai lenganku pegal.

“Tenaga bukan yang utama,” katanya. “Kepala harus tetap dingin.”

Aku mengira bagian terakhir paling mudah. Ternyata aku salah.

Pada akhir sesi, Om Bram menungguku di bangku dekat pintu. Aku memperagakan cara melepaskan tangan dari cengkeraman dengan bangga. Deni bersedia menjadi lawan percobaan, lalu meringis ketika jarinya terpuntir.

“Pelan, Non. Saya masih butuh tangan ini buat mengetik.”

Aku langsung melepaskannya. “Maaf, Mas.”

Pak Bara mendengar dan menghampiri kami. “Jangan minta maaf karena berhasil melepaskan diri. Tapi ingat, tujuan latihan bukan membalas semua sakit hati.”

“Kalau orangnya menghina?”

“Kata-kata tidak selalu harus dijawab dengan pukulan.”

Om Bram berdiri. “Kalau pihak sekolah membiarkan penghinaan itu?”

Pak Bara menatapnya. “Orang dewasa yang menyelesaikan sistemnya. Anak ini belajar menyelamatkan dirinya.”

Dalam perjalanan pulang, Om Bram tidak banyak bicara. Sebelum turun dari mobil, dia memberikan sepasang pelindung tangan latihan.

“Om marah karena Pak Bara bicara begitu?”

“Tidak. Dia benar.”

“Berarti Om akan menyelesaikan sekolah?”

“Saya sedang menyiapkannya.” Dia menatapku lurus. “Sementara itu, jangan hadapi Reno sendirian.”

Aku berjanji. Saat itu aku benar-benar bermaksud menepatinya.

Selama tiga minggu berikutnya, hari-hariku terbagi antara pelajaran tambahan, sekolah, dan latihan. Skors tiga hari tetap kujalani karena Om Bram belum datang ke sekolah. Dia mengatakan kami perlu mengumpulkan bukti lengkap dan menunggu penyelidikan tentang laporan kekerasan yang belum resmi dimulai.

Di padepokan, tubuhku berubah lebih cepat daripada pikiranku. Kakiku lebih kuat. Napasku tidak langsung habis setelah berlari. Saat Pak Bara menangkap pergelangan tangan, aku bisa memutar dan melepaskannya tanpa panik.

Di sekolah, keadaan tetap sama.

Reno menghapus sebagian pesan dari grup, tetapi tangkapan layarnya sudah beredar. Setiap kali guru tidak melihat, dia menggumamkan `simpanan` saat aku lewat. Aku melaporkan dua kali kepada Bu Ratna. Dia hanya menyuruhku tidak terpancing.

“Kalau kamu tidak membalas, dia akan bosan,” katanya.

Reno tidak bosan.

Pada Jumat siang, aku membawa nampan ke meja paling ujung kantin. Mira duduk bersamaku lagi, meski matanya masih sering memeriksa siapa yang melihat.

Reno datang bersama dua temannya.

“Sekarang lo sok jago, ya?” katanya.

Aku terus makan.

Dia menarik kursi di depanku dan duduk terbalik. “Om tua lo belum bosan?”

Mira berdiri. “Aku balik ke kelas dulu.”

Aku tidak menyalahkannya. “Pergilah.”

Reno melihat Mira menjauh, lalu tersenyum. “Lihat? Nggak ada yang mau dekat sama anak kayak lo.”

“Aku nggak mau bertengkar.”

“Takut dikeluarkan?” Dia mengambil kerupuk dari piringku dan meremukkannya di atas meja. “Harusnya lo ikut mati bareng orang tua lo. Nyokap gue nggak bakal sial kalau nggak perlu merawat lo.”

Suara kantin menjauh.

Aku mendengar Pak Bara di dalam kepala. Kepala harus tetap dingin.

“Jangan bawa orang tuaku.”

“Kenapa? Mereka juga mungkin malu lihat anaknya jadi pelacur kecil om tua.”

Aku berdiri.

“Tarik ucapanmu.”

Reno ikut bangkit dan mendorong bahuku. “Kalau nggak, lo mau apa?”

Tangannya bergerak lagi.

Tubuhku bereaksi lebih dulu. Aku menangkap pergelangannya, memutar, lalu menyapu kakinya seperti yang diajarkan Pak Bara. Reno kehilangan keseimbangan dan menghantam meja. Piring jatuh berderak.

Dia mengumpat dan menerjangku.

Tinju pertamanya melewati pipiku. Aku membalas dengan telapak ke dagu, lalu lutut ke perut. Dia membungkuk. Seharusnya aku mundur.

Namun kata-katanya tentang Ayah dan Ibu masih membakar kepalaku.

Aku memukul lagi.

Reno jatuh. Hidungnya mengeluarkan darah. Dia mencoba bangun, dan kakiku menendang sisi tubuhnya sebelum seseorang berteriak.

“Sekar, berhenti!”

Dua guru menarik lenganku. Seorang petugas kantin berdiri di antara kami. Darah menetes dari hidung Reno ke lantai putih.

Aku menatap kedua tanganku.

Pak Bara mengajariku agar bisa pulang dengan selamat. Bukan untuk membuat orang lain terbaring seperti itu.

“Dia patah tulang!” teriak salah satu teman Reno.

Guru menyuruh seseorang memanggil ambulans. Dalam kekacauan itu, cengkeraman di lenganku terlepas.

Aku berlari.

Aku melewati koridor, gerbang samping, lalu jalan yang tidak kukenal. Ponselku bergetar berkali-kali di dalam tas. Aku tidak melihat siapa yang menelepon.

Kalau Reno terluka parah, polisi akan datang. Om Bram akan menyesal menolongku. Pengadilan akan tahu aku anak bermasalah dan memindahkanku dari Puri Cendana.

Kakiku terus berjalan sampai gedung sekolah tidak terlihat lagi.

Menjelang sore, aku tiba di Kanal Banjir Timur. Dulu, sebelum Bu Win berhenti menyekolahkanku, aku sering bersembunyi di sisi kanal setelah dimarahi. Tempat itu tidak nyaman, tetapi tak ada orang yang mencariku di sana.

Angin dari air membuat seragamku lembap. Aku duduk memeluk lutut di bawah beton jembatan. Luka lama di lutut terbuka lagi setelah aku tersandung saat berlari.

Ponselku akhirnya mati.

Langit menjadi gelap. Suara kendaraan di atas jembatan berkurang satu per satu.

“Sekar!”

Aku menahan napas.

Langkah turun dari sisi tanggul. Deni muncul lebih dulu, kemejanya basah oleh keringat.

“Kami mencari ke halte, taman, dan jalan pulang lama Non,” katanya terputus-putus. “Pak Bram ingat Non pernah bilang suka bersembunyi dekat kanal waktu masih tinggal di Bekasi.”

Aku bahkan tidak ingat pernah menceritakan hal itu. Mungkin keluar di antara banyak jawaban ketika Fikri menyusun riwayat hidupku. Om Bram rupanya menyimpan bagian kecil yang sudah kulupakan sendiri.

“Pak Bram, di sini!” teriaknya.

Om Bram menyusul. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, tetapi napasnya berat seolah dia berlari jauh.

Aku semakin memeluk lutut.

“Maaf.”

Dia berhenti di depanku. “Berdiri.”

“Reno mungkin patah tulang.”

“Kita bicarakan di rumah.”

“Om akan mengembalikan aku?”

Ada rasa sakit singkat di matanya.

Om Bram berjongkok, lalu mengulurkan tangan.

“Ayo pulang.”

Aku menatap telapak tangannya yang terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!