NovelToon NovelToon
Garis Yang Tak Kupilih

Garis Yang Tak Kupilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Deru mesin mobil yang halus membuyarkan keheningan di sudut warung es Pak Bagyo.

Jarum jam tepat menunjukkan pukul sepuluh pagi.

Puja berdiri dari kursi kayu, menyapu pandangannya ke arah enam sahabatnya yang menatapnya dengan binar mata penuh rasa cemas sekaligus doa.

"Aku pergi dulu ya, Teman-teman..." bisik Puja pelan.

Norma menggenggam jemari Puja erat-erat sebelum melepaskannya.

"Ingat pesan kami, Ja. Bicara baik-baik. Jangan dipendam sendiri."

Puja mengangguk tipis, melangkah keluar meninggalkan warung yang menyimpan seluruh jejak masa lalunya.

Kaca mobil hitam itu perlahan turun ketika Puja mendekat.

Di balik kemudi, Jeffry menatapnya dengan raut wajah yang tetap teduh dan tenang.

"Sudah selesai acaranya, Puja?" tanya Jeffry lembut sewaktu Puja membuka pintu depan dan mendudukkan diri di sampingnya.

"Sudah," jawab Puja singkat, menyandarkan kepalanya ke sandaran jok sembari melempar pandangan ke luar jendela.

Mobil melaju membelah jalanan desa yang mulai dihangatkan pendar matahari siang.

Di dalam kabin, keheningan sempat kembali menyergap.

Jemari Puja bertaut kaku di atas pangkuan, meremas ujung jilbabnya sendiri.

Nasihat para sahabatnya terus bergema di kepalanya: Bisakah kamu mencoba bicara padanya secara jujur? Siapa tahu dia mau mengizinkanmu untuk tetap melanjutkan kuliah?

Puja menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang berserakan.

"Ustadz... Maksudku, Mas..." panggil Puja lirih, suaranya sedikit bergetar.

Jeffry melirik singkat melalui spion tengah, lalu memberikan perhatian penuhnya meski matanya tetap fokus menatap jalanan di depan.

"Iya, Puja? Ada apa?"

"Aku... aku mau bicara hal penting," ucap Puja, memberanikan diri menatap wajah samping suaminya.

"Silakan, Puja. Katakan saja, aku mendengarkan," balas Jeffry tenang, menurunkan kecepatan laju mobil agar percakapan mereka terasa lebih rileks.

Puja menelan ludah, tenggorokannya mendadak terasa kering.

"Soal kuliahku... Aku mendapatkan ijazah dengan nilai sempurna. Sejak dulu, impianku cuma satu: kuliah psikologi di Yogyakarta. Aku ingin jadi psikolog, Mas."

Kalimat itu akhirnya terucap. Puja menahan napasnya, menunggu respons pria di sampingnya dengan dada yang berdebar kencang.

Ia bersiap untuk kemungkinan terburuk—penolakan dingin atau ceramah tentang kodrat wanita di rumah tangga.

Namun, tidak ada dengusan atau nada menghakimi dari Jeffry.

Pria itu justru mengangguk pelan, raut wajahnya tetap tenang dan penuh rasa hormat.

"Aku tahu, Puja. Abah sempat bercerita sedikit tentang prestasimu di sekolah," tutur Jeffry pelan, suaranya begitu sejuk.

"Lalu, apa yang ada di pikiranmu sekarang?"

"Aku ingin tetap berangkat ke Yogyakarta," potong Puja cepat, ketegasannya kembali membumbung.

"Aku tahu kita sudah menikah, tapi apakah aku harus mengubur cita-citaku begitu saja? Apakah pernikahan ini berarti seluruh usahaku selama tiga tahun terakhir tidak ada artinya?"

Jeffry menepikan mobilnya di bawah rindangnya pohon asam di tepi jalan yang sepi.

Pria itu mematikan mesin, lalu memutar posisi tubuhnya menghadap Puja.

Tatapannya teduh, menyiratkan kedalaman rasa memahami yang tak pernah Puja duga sebelumnya.

"Puja," panggil Jeffry lembut, memanggil nama istrinya dengan penuh penekanan santun.

"Pernikahan dalam Islam tidak pernah bertujuan untuk mematikan impian seorang wanita, apalagi memadamkan cita-cita mulia untuk menuntut ilmu."

Puja tertegun, matanya berkaca-kaca menatap sosok di hadapannya.

"Menjadi psikolog adalah niat yang sangat mulia," lanjut Jeffry.

"Banyak orang di luar sana, bahkan santri-santri kita kelak, yang membutuhkan pendampingan kesehatan mental dan jiwa. Ilmu itu akan sangat bermanfaat."

"Lalu, Mas mengizinkanku kuliah?" desak Puja penuh harap, tak sanggup menyembunyikan binar kebahagiaan yang mendadak menyeruak di dadanya.

Jeffry tersenyum tipis, mengusap pelan kemudi mobilnya sebelum kembali menatap Puja.

"Aku tidak pernah melarangmu menuntut ilmu, Puja. Tapi, kita perlu membicarakan bagaimana teknisnya. Kita sekarang sudah berkeluarga, dan tanggung jawab kita berubah."

"Maksud Mas?"

"Yogyakarta dan tempat ini cukup jauh. Jika kamu berkuliah di sana, bagaimana dengan tempat tinggalmu? Bagaimana kita menjalani pernikahan ini?" Jeffry bertanya bukan untuk menyudutkan, melainkan dengan nada diskusi yang dewasa.

"Apakah ada universitas di dekat sini atau di kota sebelah yang menyediakan program psikologi yang sama bagusnya? Atau, jika memang harus di Yogyakarta, bagaimana kita mengatur waktu dan komunikasinya? Kita harus memikirkan jalan tengah yang tidak mengorbankan impianmu, namun juga tidak merusak ikatan pernikahan kita."

Mendengar kata-kata Jeffry, pertahanan emosi Puja seketika goyah.

Tidak ada paksaan, tidak ada penindasan. Pria yang selama ini ia benci dan tuduh sebagai perusak mimpinya justru menjadi orang pertama yang memvalidasi cita-citanya dan mau mencari solusi bersama.

Rasa bersalah mendadak menyusup ke sudut hati Puja atas prasangka buruk yang ia simpan selama ini.

"Mas, serius tidak melarangku?" bisik Puja ragu, air matanya perlahan menetes menembus pipi.

Jeffry mengulurkan tangannya, mengambil saputangan bersih dari saku bajunya, lalu menyerahkannya pada Puja.

"Aku suamimu, Puja. Tugasku adalah menjadi penyokong impianmu, bukan penjara bagi usahamu. Asal kamu jujur dan kita bisa membicarakan semuanya baik-baik, aku akan mendukungmu."

Puja menerima saputangan itu, menyapu air matanya sembari menunduk dalam-dalam.

Untuk pertama kalinya sejak hari kelulusan, gumpalan sesak yang menghimpit dadanya perlahan terurai, digantikan oleh berkas harapan baru yang mulai menyala di tengah takdir yang tak disangkanya.

"Sekarang hapus air matamu, kita cari makan siang dulu. Setelah itu nanti kita bicara dengan Abah," ucap Jeffry lembut, menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan.

Puja menganggukkan kepalanya pelan. Perlahan ia menyapu sisa-sisa air mata di pipinya menggunakan saputangan yang diberikan suaminya.

Ada kehangatan asing yang menjalar di relung dadanya—sebuah perasaan lega yang tak pernah ia sangka akan hadir secepat ini.

Jeffry kembali menyalakan mesin mobil, lalu melajukan kendaraannya menyusuri jalanan kota yang kian ramai.

Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, mobil hitam itu melambat dan berbelok ke area parkir sebuah rumah makan lesehan bernuansa tradisional dengan saung-saung kayu di atas kolam ikan.

Suasana di sana begitu asri dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk lalu lintas.

"Kita makan di sini saja, ya? Tempatnya cukup tenang," ujar Jeffry seraya mematikan mesin mobil.

"Iya, Mas," jawab Puja penurut, untuk pertama kalinya memanggil suaminya dengan panggilan 'Mas' secara spontan tanpa keraguan.

Jeffry yang mendengar panggilan itu sempat tertegun sejenak.

Binar matanya meredup hangat, menyimpulkan senyum tipis yang sarat akan kebahagiaan kecil. Mereka berdua melangkah turun dan berjalan menuju salah satu saung di sudut area.

Seorang pelayan menyambut ramah dan memberikan buku menu.

Jeffry menyerahkan menu tersebut kepada Puja. "Pilihlah apa yang ingin kamu makan. Dari kemarin kamu belum makan dengan tenang, kan?"

Puja menatap lembaran menu itu, lalu mendongak menatap Jeffry.

"Sama seperti Mas Jeffry saja."

"Baiklah, kita pesan gurame bakar, tumis kangkung, dan es jeruk untuk minumnya," tutur Jeffry pada pelayan yang mengangguk sigap lalu berlalu.

Sambil menunggu hidangan datang, hembusan angin sepoi-sepoi membelah dedaunan di sekitar saung.

Keheningan di antara mereka tak lagi terasa kaku dan menekan seperti sebelumnya, melainkan berganti menjadi kecanggungan manis yang hangat.

"Terima kasih ya, Mas..." bisik Puja breaking the silence, menunduk menatap jemarinya yang saling bertaut di atas meja kayu.

"Untuk apa, Puja?"

"Untuk, tidak memadamkan mimpiku. Dan untuk mengerti perasaanku, padahal sejak kemarin aku bersikap sangat kasar pada Mas Jeffry," aku Puja jujur, rasa bersalah kembali menyenggol dadanya.

Jeffry menggelengkan kepala pelan. "Aku bisa memahami keterkejutan dan rasa sakitmu, Puja. Menikah secara mendadak dan harus mempertaruhkan cita-cita di usia semuda ini tentu bukan hal yang mudah. Aku justru minta maaf karena takdir ini membuatmu merasa terbebani."

Pernyataan dewasa dan ketulusan Jeffry makin meluluhkan benteng pertahanan yang Puja bangun sejak kemarin.

Di mata Puja kini, Jeffry bukan lagi sosok asing yang merebut masa depannya, melainkan seorang suami berwibawa yang siap menjadi pelindung dan teman hidupnya.

Tak lama kemudian, hidangan makan siang tersaji hangat di meja.

Mereka makan bersama dalam ketenangan. Setiap perhatian kecil yang diberikan Jeffry—seperti menyodorkan piring, menuangkan air minum, hingga memastikan Puja makan dengan cukup—membuat Puja meresapi arti keikhlasan dalam ikatan baru mereka.

Usai menyantap makan siang dan menyelesaikan pembayaran, Jeffry menatap Puja dengan pendar mata yang mantap.

"Sudah siap pulang untuk bicara dengan Abah?" tanya Jeffry lembut.

Puja menghela napas panjang, mengukir senyum tipis yang mantap di bibirnya.

"Siap, Mas. Apapun hasilnya nanti, aku percaya pada Mas Jeffry."

Jeffry tersenyum penuh kehangatan, mengangguk lega.

Mereka pun bangkit dan kembali ke mobil, bersiap menghadapi babak baru: meminta restu Kyai Ali demi impian Puja dan masa depan pernikahan mereka.

1
Manis
mohon koreksi biar nggak bingung
my name is pho: sudah kak
terima kasih koreksinya
total 1 replies
Manis
Ningsih jg kayanya bukan istri keduanya abah Ali deh, tapi ibunya ningrum
Manis
Ningrum di awal2 kan sepupu Jefry bukan adik tiri
Nha_A
ini yg mantunya siapa sih sebenarnya? si laki bangun menyambut mertua, si perempuan mau bangkit dari t4 tidur nyambut mertua,gimana konsepnya itu?
Manis
aslinya berjilbab nggak sih? paragraf bawah katanya berhijab
my name is pho: berhijab kak
terima saja koreksinya 🙏
total 1 replies
LIANI LA BUNGA YANI
lanjuuttttttttt kak
LIANI LA BUNGA YANI
aku suka noveeelnyaaa😍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
sri hastuti
jangan keras kepala puja, siapa tau jefry bisa mau mengerti dan sayang sm km , hrs ada keterbukaan, blm tentu kl km gak menikah ibu tirimu setuju km kuliah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!