"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri di Dalam Selimut
Sesi terapi yang menguras emosi itu akhirnya selesai setelah dua jam yang melelahkan. Jiro tertidur pulas di atas matras karena kelelahan fisik yang luar biasa pasca serangan kram hebat tadi. Wajahnya yang biasa memancarkan kebencian, kini tampak jauh lebih tenang saat terpejam, menyisakan jejak sisa air mata yang mengering di sudut matanya.
Senjani mengembuskan napas panjang sembari menyeka keringat di dahinya sendiri. Dia merapikan kembali pakaiannya yang sempat kusut akibat cengkeraman erat Jiro. Sebelum meninggalkan ruangan, dengan sangat hati-hati, Senjani menyelimuti tubuh suaminya dengan kain handuk hangat agar otot-otot paha yang baru saja menegang tidak kembali kaku.
Beristirahatlah yang cukup, Tuan Jiro," bisik Senjani lirih, menatap wajah suaminya sekilas sebelum akhirnya melangkah keluar dari ruang terapi dengan membawa tas peralatannya.
Namun, begitu Senjani menarik gagang pintu dan melangkah keluar ke koridor lantai dua, langkah kakinya mendadak terhenti. Jantungnya berdegup sangat kencang ketika melihat dua orang sudah berdiri tegak di sana, bersandar pada dinding koridor dengan tangan terlipat di dada.
Bu Kumala dan Grayson.
Kedua orang itu menatap Senjani dengan senyuman yang membuat bulu kuduk siapapun yang melihatnya berdiri. Rupanya, mereka sudah berdiri di depan pintu sejak tadi, mendengarkan setiap jeritan kesakitan dan percakapan intim yang terjadi di dalam ruang terapi.
"Wah, wah, wah, lihat siapa yang baru saja keluar," Grayson membuka suara terlebih dahulu, melangkah maju mendekati Senjani dengan tatapan mata yang penuh kilat kelicikan. "Nona Terapis yang sangat berani. Aku tidak menyangka, selain pintar berbicara di meja makan, kamu juga sangat pintar memanfaatkan situasi untuk mendekap tubuh sepupuku yang malang itu."
Senjani mengepalkan tangannya di samping tubuh, mencoba mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan profesional. "Tuan Grayson, Bu Kumala. Apa yang saya lakukan di dalam adalah prosedur terapi medis yang sah untuk mengatasi spasme otot pasien. Jika Anda berdua berniat menjenguk Tuan Jiro, untuk saat ini beliau masih tertidur karena kelelahan."
Bu Kumala melangkah maju, memotong jarak di antara mereka. Aroma parfum mahalnya yang menyengat langsung menusuk hidung Senjani. Wanita paruh baya itu menatap Senjani dari atas ke bawah dengan pandangan yang sarat akan rasa jijik.
"Jangan berlagak polos di hadapan saya, perempuan jalang," desis Bu Kumala, suaranya pelan namun penuh dengan penekanan yang mengancam. "Kamu pikir saya tidak tahu rencana busukmu? Kamu mendekati Kakek Baskoro dan berpura-pura menjadi malaikat penolong bagi Jiro, hanya karena kamu mengincar harta dan posisi di keluarga Nandotomo ini, bukan?"
"Maaf, Bu Kumala, tuduhan Anda sama sekali tidak mendasar," balas Senjani dengan berani menatap langsung ke dalam manik mata tante suaminya itu. "Saya menikah dengan Tuan Jiro semata-mata karena kesepakatan resmi dengan Kakek Baskoro, dan fokus utama saya di rumah ini hanyalah kesembuhan kaki suami saya."
"Suami?" Grayson tertawa terbahak-bahak, sebuah tawa mengejek yang menggema di koridor sunyi tersebut. "Kamu menyebut pria cacat yang bahkan tidak bisa buang air sendiri itu sebagai suamimu? Lucu sekali. Dengar, Senjani. Jiro itu sudah habis. Dia tidak lebih dari sekadar rongsokan di atas kursi roda. Mengapa kamu harus membuang-buang tenagamu untuk menyembuhkan orang yang sudah mati?"
Grayson maju satu langkah lagi, menundukkan kepalanya hingga berbisik tepat di samping telinga Senjani. "Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan baru? Berhentilah menerapi Jiro. Biarkan dia tetap lumpuh selamanya. Sebagai imbalannya, aku bisa memberikan uang sepuluh kali lipat dari apa yang Kakekku berikan kepadamu. Kamu bisa membawa ibumu berobat ke mana pun yang kamu mau tanpa harus melayani pria pemarah itu setiap hari. Bagaimana? Penawaran yang sangat menguntungkan, bukan?"
Senjani merasakan darahnya berdesir hebat mendengarkan penawaran menjijikkan dari Grayson. Rasa muak yang teramat sangat kental bergejolak di dalam dadanya. Bagaimana bisa seorang sepupu kandung dengan tega mengharapkan kemalangan seumur hidup bagi saudaranya sendiri demi seonggok takhta perusahaan?
Senjani mundur satu langkah, menjauhkan dirinya dari Grayson. Dia menatap Grayson dan Bu Kumala bergantian dengan tatapan mata yang dingin dan penuh penghinaan.
"Terima kasih atas penawaran Anda yang luar biasa murah itu, Tuan Grayson," ucap Senjani, suaranya terdengar sangat lantang dan berwibawa. "Tapi maaf, harga diri saya sebagai seorang fisioterapis dan seorang manusia tidak bisa dibeli dengan uang haram Anda. Tugas saya adalah menyembuhkan Tuan Jiro, dan saya pastikan, dengan mata kepala Anda sendiri, Anda akan melihat pria yang Anda sebut 'rongsokan' itu berdiri dan menendang Anda keluar dari perusahaan ini."
Wajah Kevin seketika berubah menjadi merah padam karena murka. Dia mengangkat tangan kanannya, bersiap untuk mencengkeram bahu Senjani. "Kamu perempuan kurang ajar—"
"Grayson! Cukup!" Tegur Bu Kumala dengan cepat, menahan lengan putranya. Bu Kumala melirik ke arah kamera CCTV yang terpasang di ujung langit-langit koridor. Dia tahu, jika mereka melakukan kekerasan fisik di sini, Kakek Baskoro tidak akan tinggal diam.
Bu Kumala menarik Grayson mundur, lalu menatap Senjani dengan senyuman dingin yang sangat mengerikan.
"Baiklah, Nona Senjani yang suci dan setia," ucap Bu Kumala berbisik penuh ancaman. "Mari kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan di rumah ini dengan kesombonganmu itu. Ingat, di rumah besar ini, kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja. Jangan sampai, niatmu yang ingin menyembuhkan orang lain, justru berakhir dengan dirimu sendiri yang menjadi mayat."
Setelah melontarkan ancaman yang mengerikan itu, Bu Kumala membalikkan badannya dan berjalan pergi meninggalkan koridor, diikuti oleh Grayson yang sempat memberikan isyarat memotong leher dengan jarinya ke arah Senjani sebelum menghilang di balik belokan tangga.
Tubuh Senjani mendadak lemas seketika setelah kedua orang itu pergi. Dia bersandar pada dinding koridor, napasnya tersengal-sengal menahan rasa takut yang menjalar sedari tadi. Dia tahu bahwa Bu Kumala dan Grayson tidak sedang menggertak. Mereka adalah duri di dalam selimut keluarga Nandotomo yang siap melakukan apa saja demi menyingkirkan Jiro.
...----------------...
Malam harinya, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Atmosfer di dalam kamar pengantin masih sedingin malam sebelumnya, namun ada sesuatu yang sedikit berbeda. Jiro sudah kembali berada di atas ranjang, duduk bersandar pada tumpukan bantal dengan sebuah laptop di pangkuannya, memeriksa laporan keuangan perusahaan.
Senjani berjalan mendekat dengan membawa sebuah nampan kecil yang berisi segelas susu hangat dan beberapa butir obat tablet. Sesuai dengan instruksi dari dokter rumah sakit, Jiro harus meminum obat pelemas otot dan vitamin saraf ini setiap malam sebelum tidur.
"Tuan Jiro, ini waktunya Anda minum obat," ucap Senjani dengan lembut, ia meletakkan nampan tersebut di atas nakas di samping ranjang.
Jiro tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Letakkan saja di sana. Aku bisa meminumnya sendiri nanti."
Senjani tidak langsung pergi. Dia mengambil botol obat tersebut, lalu mengernyitkan alisnya saat melihat warna tablet di dalamnya. Sebagai seorang terapis yang terbiasa berinteraksi dengan obat-obatan pasien, dia memiliki ingatan visual yang sangat kuat terhadap bentuk dan warna obat medis.
Tunggu... obat pelemas otot Tuan Jiro seharusnya berwarna putih pekat dengan garis di tengahnya. Kenapa obat yang ada di dalam botol ini warnanya sedikit lebih kekuningan dan permukaannya halus? batin Senjani penuh curiga.
Senjani mengambil satu butir tablet tersebut, mendekatkannya ke arah hidung untuk mencium aromanya. Ada bau kimia yang sedikit menyengat dan berbeda dari obat yang biasa dia berikan kepada pasiennya di rumah sakit dulu. Bulu kuduk Senjani mendadak meremang. Dia teringat dengan ancaman Bu Kumala tadi siang di koridor lantai dua.
"Kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja..."
Apakah Bu Kumala dan Grayson sudah mulai bergerak? Apakah mereka sengaja menukar obat-obatan Jiro dengan sesuatu yang berbahaya untuk merusak saraf kakinya secara permanen, atau bahkan untuk mengakhiri hidupnya secara perlahan?
"Apa yang sedang kamu lakukan, Senjani? Kenapa kamu mengendus-endus obatku seperti seekor anjing?" tanya Jiro dingin, akhirnya menutup laptopnya dan menatap Senjani dengan dahi berkerut heran melihat gelagat aneh istrinya.
Senjani menatap obat di tangannya, lalu menatap Jiro dengan pandangan mata yang sangat serius dan tegang. Dia tahu, jika dia salah bicara tanpa bukti, Jiro pasti akan menganggapnya gila atau menuduhnya sedang memfitnah keluarganya sendiri. Namun, jika dia membiarkan Jiro meminum obat ini, nyawa suaminya berada dalam bahaya.
Senjani mengepalkan tangannya kuat-kuat, mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya malam ini.
"Tuan Jiro," ucap Senjani, suaranya bergetar namun sarat akan keseriusan yang mematikan. "Sebaiknya jangan meminum obat ini lagi. Obat Anda... telah ditukar oleh seseorang."