NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Sesampainya di mal megah pusat kota, David merangkul pinggang Mili dengan posesif, menuntunnya masuk ke dalam sebuah butik haute couture ternama yang langsung menutup pintunya untuk umum demi menyambut kedatangan sang CEO.

"Pilihkan semua pakaian terbaik yang cocok untuk istri saya. Mulai dari pakaian resmi, kasual, hingga gaun tidur," perintah David dingin namun tegas kepada para pelayan butik.

Para pelayan dengan sigap dan cekatan langsung memilah-milah koleksi gaun dan pakaian eksklusif.

Namun, saat salah seorang pelayan menunjukkan selembar lingerie sutra tipis dengan renda transparan yang begitu terbuka, mata Mili seketika membelalak lebar. Pipinya langsung memerah padam.

"Ini... ini untuk apa?" tanya Mili polos, menunjuk kain tipis di tangan pelayan dengan jemari yang sedikit gemetar.

David melangkah mendekat, berdiri tepat di belakang Mili, lalu berbisik sangat dekat di telinga istrinya dengan suara berat yang dalam.

"Itu untuk kamu gunakan... saat menemani aku disaat aku kedinginan."

Mili kedip-kedip polos. Mengabaikan maksud terselubung dari ucapan suaminya, Mili hanya mengangguk kecil.

"Oh... begitu ya," gumamnya jujur, sama sekali tidak memahami arti sebenarnya dari kalimat yang baru saja diucapkan oleh David.

David hanya menyunggingkan senyum miring yang tertahan, membiarkan kepolosan istrinya tetap utuh untuk sementara waktu.

Setelah puas memborong seluruh keperluan Mili hingga bagasi mobil dipenuhi kantong-kantong belanjaan mewah, David membawa Mili menikmati udara malam.

Mereka berkendara menuju sebuah restoran eksklusif di tepi pantai.

Suasana pantai yang tenang malam itu diselimuti angin sepoi-sepoi dan deburan ombak yang merdu.

Di atas meja makan yang dihiasi lilin-lilin kecil di pinggir pantai, David dan Mili menikmati makan malam bersama.

Mili menatap pendar cahaya lampu yang memantul di atas permukaan air laut dengan binar bahagia.

Di hadapan hidangan lezat dan pria yang kini melindunginya, Mili merasa malam ini adalah malam paling hangat yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.

Malam makin larut ketika mobil mewah David kembali berhenti di pelataran rumah.

Setelah para pelayan memindahkan puluhan kantong belanjaan ke dalam kamar utama, Mili melangkah masuk dengan perasaan penuh dengan kegembiraan.

Ia membuka satu per satu kotak pakaian yang dibelikan oleh suaminya.

Tatapannya kemudian tertuju pada satu kantong khusus berisi gaun tidur tipis berenda transparan yang tadi sempat ditanyakannya di butik.

Teringat ucapan David bahwa pakaian itu berguna saat suaminya kedinginan, Mili tersenyum polos.

Ia membawa lingerie tersebut ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka pelan.

Ceklek.

Mili melangkah keluar dengan canggung. Kain sutra transparan itu melekat pas di tubuhnya yang ramping, memamerkan lekuk tubuhnya yang indah di bawah pendar lampu kamar yang temaram.

"David, bagus nggak?" tanya Mili polos sambil merapikan kain di bagian pinggangnya.

David yang sedang berdiri di tepi ranjang melepas jam tangannya seketika membeku.

Matanya menatap sosok di hadapannya tanpa berkedip.

Kilatan gelap dan liar mendadak menyala di balik manik matanya yang tajam—sisi gila yang selama ini ia tekan sekuat tenaga.

Tanpa basa-basi atau kata sepatah pun, David melangkah lebar penuh dorongan impulsif.

Ia langsung menerjang istrinya, mengungkung tubuh kecil Mili ke dinding terdekat.

Tangan kokohnya mencengkeram tengkuk Mili, lalu mendaratkan ciuman yang teramat brutal dan penuh hasrat liar di bibir wanita itu.

"Sssshh... Sakit, David!" ringis Mili terbata-bata, meremas kemeja David dengan napas terengah dan rasa terkejut yang luar biasa.

Rintihan kesakitan Mili bagaikan tamparan keras yang menyengat kesadaran David.

Pria itu seketika menarik tubuhnya mundur, melepaskan cengkeramannya dengan napas yang memburu berat.

Ditatapnya bibir Mili yang memerah dan raut ketakutan yang samar di wajah istrinya.

Menyadari ia nyaris kehilangan kendali dan membiarkan "monster" di dalam dirinya melukai Mili, David mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ia membalikkan badan dengan tergesa-gesa dan melangkah cepat keluar dari kamar, membanting pintu dengan rapat.

Pintu kayu tebal berukir di ujung koridor remang terdorong kasar.

David melangkah masuk ke dalam ruangan terlarang itu dengan napas yang memburu hebat dan mata berkilat liar.

Amarah pada dirinya sendiri membakar dada—amarah karena ia nyaris melukai sosok suci yang seharusnya ia lindungi.

Tanpa membuang waktu, David melepaskan kemejanya secara kasar, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka.

Ia mengambil cambuk kulit tebal yang tergantung di dinding batu.

Dengan rahang mengeras rapat, David melayangkan cambuk itu menghantam punggungnya sendiri.

CRAKKK!

Rasa sakit yang menyengat langsung menjalar, namun David tak berhenti.

Satu, dua, tiga cambukan bertubi-tubi ia hantamkan ke kulitnya sendiri demi membungkam "monster" gila di dalam dirinya.

Darah segar mulai merembes, memperparah bekas-bekas luka lama.

Hingga akhirnya, pandangannya menggelap, napasnya tersengal habis, dan tubuh tegapnya roboh tak berdaya menghantam lantai dingin, pingsan di dalam kegelapan ruangan itu.

Sementara itu, di kamar utama yang luas, suasana mendadak hening dan terasa hampa.

Mili berdiri mematung di samping tempat tidur. Jemari lenturnya perlahan naik, mengusap lembut bibirnya yang masih terasa sedikit memar dan panas akibat ciuman intens dari David beberapa saat lalu.

Itu adalah ciuman pertamanya, sebuah sentuhan yang begitu asing namun berhasil menghentak dadanya.

Mili memegangi dadanya sendiri, meresapi debaran hebat yang bertalu-talu tanpa henti.

"Kenapa, jantungku berdetak kencang sekali?" gumam Mili pelan, suaranya nyaris berbisik di tengah keheningan malam.

Matanya menatap lurus ke arah pintu kamar yang tertutup rapat.

Ada rasa cemas dan kebingungan yang membuncah di hatinya.

Mengabaikan rasa sakit kecil di bibirnya, Mili duduk di tepi ranjang dengan gaun tidur tipisnya, terus menatap pintu itu dalam diam—berharap dengan sangat agar suaminya segera kembali dan memeluknya lagi.

Kesadaran David perlahan kembali seiring rasa nyeri menusuk yang membakar seluruh punggungnya.

Pria itu merintih pelan saat menggerakkan tubuhnya yang kaku di atas lantai marmer dingin kamar rahasia.

Luka cambukan baru menimpa bekas-bekas luka lama yang belum sepenuhnya pulih, meninggalkan memar kebiruan dan darah tebal yang mulai mengering melekat di kulitnya.

Dengan napas tersengal dan pikiran yang berselimut kekacauan, David bersandar pada dinding batu.

Bayangan raut ketakutan di wajah Mili saat ia menciumnya secara brutal semalam kembali menghantam benaknya bagaikan godam.

Rasa bersalah dan ketakutan mendalam akan "sisi monster" dalam dirinya kini kian mencengkeram erat.

Ia tidak boleh mendekati Mili. Ia adalah ancaman bagi kepolosan istrinya sendiri.

Dengan tubuh bergetar hebat, David memakai kembali kemejanya yang bernoda darah secara asal-asalan, mengabaikan gesekan kain yang menyengat lukanya.

Pria itu melangkah tergesa-gesa keluar dari ruangan gelap tersebut.

Namun, dalam kepanikan luar biasa dan kelelahan fisik yang menyiksa, David melupakan aturan paling krusial di rumah itu: ia lupa mengunci kembali pintu tebal kamar rahasia.

Grendel besi tua itu tak terpasang sempurna; pintu kayu berukir itu hanya tertutup sedikit renggang, meninggalkan celah tipis yang gelap.

Tanpa membuang waktu untuk membersihkan diri secara maksimal atau mengganti pakaiannya dengan benar, David mengambil ponselnya dan menelepon sekretarisnya dengan suara parau.

"Jonas... siapkan mobil sekarang. Kita berangkat ke kantor detik ini juga," perintahkan David singkat, memutuskan sambungan sebelum Jonas sempat bertanya.

David berjalan mengendap menuruni tangga utama, sengaja melangkahi kamar utama tempat Mili berada demi menghindari tatapan sang istri.

Ia takut jika menatap mata polos Mili pagi ini, pertahanannya akan hancur atau kejahatannya akan terbongkar.

Dengan wajah pucat pasi dan kemeja yang menutupi punggung berdarah, David melangkah keluar menembus dinginnya udara pagi, meninggalkan kediamannya sebelum Mili sempat terbangun.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!